KESAH.ID – Sampah plastik meski coba dikreasi dengan berbagai cara tetap saja kurang signifikan hasilnya, kita masih terus menjadi bangsa nomor satu penghasil sampah plastik. Menunggu masyarakat berubah dan sadar jelas lama maka pemerintah mesti segera mengambil alih tanggungjawab itu jika tak ingin di jaman Indonesia Emas nanti kita masih jadi bangsa tas kresek.
Dalam dua abad terakhir luas daratan Singapura bertambah dari 578 km persegi sebelum merdeka, hingga kini mencapai 719 kilometer persegi. Hebatnya Singapura melakukan hal itu tanpa invasi untuk mencaplok wilayah negara tetangga.
Pertambahan luas Singapura dilakukan dengan reklamasi yang dimulai sejak jaman kolonial, sesaat sesudah Stanford Raflles mendarat di Singapore River. Diyakini Singapura akan terus memperluas wilayahnya dengan reklamasi karena kebutuhan lahan yang terus bertambah.
Dua negara tetangga yakni Indonesia dan Malaysia mempunyai andil juga jasa besar dalam memperluas wilayah Singapura karena pasir yang dipakai untuk mereklamasi berasal dari kedua negara itu.
Kabarnya di Bangka Belitung ada pulau kecil yang hilang karena aktivitas pengerukan pasir laut untuk diekport ke Singapura.
Usaha Singapura untuk memperluas wilayahnya bukan hanya melalui reklamasi. Dikenal sebagai salah satu negara terbersih di Asia ternyata Singapura juga berhasil membuat pulau yang berasal dari sampah.
Pulau yang dijuluki Garbage of Eden ini bernama Semakau. Ketika nama pulau ini muncul dalam peta, masyarakat Indonesia sempat menyuarakan keberatan, menganggap Singapura telah mencaplok pulau milik Indonesia.
Usut punya usut ternyata nama Semakau dipakai oleh dua pulau berbeda, satu berada di wilayah Indonesia dan satu di wilayah Singapura.
Karena sama, kini pulau Semakau yang merupakan bagian dari wilayah Batam disebut dengan nama Semakau Panjang. Sementara yang di Singapura tetap memakau nama Semakau saja.
Pulau Semakau Singapura ini merupakan Tempat Pembuangan Sampah Akhir satu-satunya di Singapura yang secara bertahap kemudian menjadi daratan bahkan sebagian sudah menghutan.
Di Singapura sampah yang tidak didaur ulang akan dibakar di incinerator. Energi panas yang dihasilkan dari proses pembakaran dipakai untuk menghasilkan listrik. Sementara abu sisa pembakaran akan diangkut dan kemudian dipakai untuk menimbun lautan yang telah diberi pagar beton pembatas di Pulau Semakau.
Abu hasil pembakaran yang dipakai untuk menimbun laut itu lama kelamaan akan menjadi daratan dan kemudian layak untuk ditanami. Blok yang telah penuh dengan timbunan itu kemudian akan ditanami hingga lama kelamaan akan bertumbuh menjadi hutan.
Dengan tumbuhnya rerumputan dan pepohonan di pulau yang berlokasi kurang lebih delapan kilometer di bagian selatan Singapura ini kemudian mengundang berbagai macam burung dan binatang lainnya untuk menetap. Keragaman hayati di pulau yang berasal dari abu sisa pembakaran sampah ini kemudian meningkat.
Bayangkan jika Indonesia melakukan hal yang sama, berapa pulau akan tercipta?.
Tapi tak perlu meniru Singapura untuk membuat pulau karena jumlah pulau di Indonesia sudah banyak nanti malah repot menjaganya.
BACA JUGA : Honda Terdepan
Data yang didapat dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional milik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat jumlah sampah di Indonesia mencapai 18 juta ton per tahun. Hampir dua puluh persennya adalah sampah plastik. Dan sampah bekas atau sisa makanan mencapai 40 persen lebih.
Dan sepertiga lebih sampah yang dihasilkan oleh warga Indonesia belum diolah, dibiarkan begitu saja atau tersebar dan mencemari tanah, serta kawasan perairan. Padahal slogan “Jangan Buang Sampah Sembarangan” sudah mulai digelorakan sejak puluhan tahun lalu.
Selain gagal mengedukasi warganya dalam mengelola sampah, Indonesia hingga hari ini gagal pula dalam merumuskan satu cara yang paling ampuh untuk menyelesaikan persoalan sampah. Produksi sampah terus menumpuk namun proses membuang sampah secara terpilah masih gagal diwujudkan.
Prinsip yang mau dijunjung dalam pengelolaan sampah di Indonesia memang mulia yakni partisipasi, keterlibatan dan tanggungjawab bersama untuk mengatasi persoalan sampah. Hasilnya Indonesia menjadi salah satu dari negara pembuang sampah plastik ke laut terbesar di dunia.
Saya pernah berupaya untuk berpartisipasi dalam mencegah sampah plastik agar tak berceceran di lingkungan. Lewat Sekolah Sungai Karang Mumus saya memperkenalkan pembuatan ecobrick, bata dari sampah plastik kemasan.
Tujuan utama ecobrick adalah memperpanjang pemanfaatan plastik kemasan sekali pakai dengan memadatkannya dalam botol dan kemudian diinstal menjadi berbagai macam perkakas yang berguna sesuai dengan kreatifitas masing-masing.
Sambutan atas ecobrick lumayan mengembirakan, banyak kelompok tertarik dan kemudian rajin membuat. Namun setelah gairah membuat ecobrick ditindaklanjuti dengan lomba, perlahan ecobrick-pun sirna.
Soal mengatasi sampah plastik, pemerintah daerah juga mengeluarkan kebijakan pembatasan terutama di pusat perbelanjaan atau mini market. Pelangan dipaksa untuk membawa tas belanja sendiri atau membayar jika perlu tas plastik.
Namun kebijakan itu meski dipuja-puji disana-sini ternyata tak menurunkan populasi sampah tas kresek. Di warung, kios dan pasar-pasar tradisional lainnya tas kresek tetap merajalela.
Pertumbuhan dunia pariwisata dan ekonomi kreatif terutama dalam sub sektor kuliner juga menyuburkan sampah plastik. Di tempat-tempat wisata dan tempat lainnya menjamurnya kedai kuliner kekinian juga melahirkan banyak sampah plastik. Semua kemasan yang dipakai kebanyak plastik, terlebih jika kedainya melayani take away.
Meski plastik termasuk sampah yang paling potensial dan mudah untuk didaur ulang tetapi sistem untuk mengumpulkan plastik bekas ke instalasi daur ulang sampai sekarang belum ditemukan yang paling efektif.
Disana-sini ada banyak kreasi untuk daur ulang atau menghasilkan kreasi dari sampah plastik. Sebagian mungkin sudah diganjar dengan penghargaan baik di tingkat nasional maupun internasional.
Beberapa kompetisi bahkan mengisyaratkan para pengkarya untuk memakai sampah plastik, misalnya lomba fashion. Tapi tetap saja rancangan pemenangnya juga tak diproduksi secara massal.
Jadi walau banyak lomba fashion dari plastik bekas, jumlah sampah plastik tak berkurang secara signifikan.
BACA JUGA : Karangmumus Hijau
Bagaimana memanfaatkan sampah terutama sampah plastik secara massal untuk menghasilkan produk yang bisa dinikmati seluruh masyarakat tetap menjadi sebuah pekerjaan rumah yang besar.
Kabarnya sudah ada temuan teknologi pengolahan yang memungkinkan sampah plastik dijadikan sebagai campuran aspal untuk infrastruktur jalanan.
Mestinya ini yang kemudian dipilih dan kemudian diseriusi karena kebutuhan kita akan aspal masih tinggi mengingat banyak daerah yang infrastuktur jalanannya kurang baik.
Apalagi menurut penemunya, aspal yang diberi campuran plastik akan mencegah pembentukan lubang dan membuat jalanan lebih tahan lama. Lapisan plastik cari akan mengisi ruang antara kerikil dan aspal, sehingga membuat air hujan tak bisa merembes dan merusak jalan.
Semua kelebihan ini kabarnya sudah diuji coba di kawasan pabrik petrokimia yang ada di Bogor. Jadi tunggu apa lagi, tunggu sampai semua masyarakat sadar dan mengumpulkan ke pabrik pengolahan aspal?.
Sekali lagi membangun partisipasi masyarakat jelas merupakan tujuan mulia, namun apabila setelah puluhan tahun tak juga tercapai, pemerintah mestinya berada di garda depan untuk mengambil alih tanggungjawab itu.
Silahkan saja pemerintah mendorong partisipasi masyarakat dengan menumbuhkan kelompok atau komunitas sadar sampah, seperti komunitas-komunitas sadar lainnya. Namun tetap saja harus ada satu kerangka yang kuat dan model yang akurat untuk menyapu bersih sampah, mulai dari sampah plastik.
Kalau Singapura melakukan angkut dan bakar semua, lalu abunya dipakai untuk menimbun lautan. Indonesia harus menyapu bersih platik dengan mengangkut, mencincang dan kemudian mencampurkan dengan aspal untuk membangun infrastruktur jalan dari Sabang sampai Merauke.
Terus saja beralasan ini dan itu, niscaya sampai tahun 2045 nanti kita masih tetap menjadi bangsa tas kresek.
note : sumber gambar – KOMPAS








