KESAH.ID – Air sungai itu warna-warni tergantung dari sumber utama airnya. Idealnya bening, tidak berwarna karena bersumber dari mata air. Tapi sumber utama sungai lainnya adalah air permukaan, air hujan yang tidak tertangkap atau meresap dalam tanah. Airnya akan membawa serta berbagai material lain terutama tanah yang tererosi. Air sungai akan berwarna tanah, kecoklatan. Sumber air sungai lainnya adalah air limbah yang kemudian akan menimbulkan warna tertentu karena proses fisika, kimia dan biologi di dalam air.
Masyarakat di sebuah desa sisi selatan Bukit Menoreh gempar, air sungainya berubah warnanya dari yang biasanya bening menjadi merah merona, mirip sirup.
Mereka mulai bergunjing, tanda-tanda apa ini, karena baru pertama kali terjadi selama mereka meninggali desa itu.
Untung sebelum desas-desus berkembang dan orang mau khawatir dengan dugaan soal ini serta itu datanglah serombongan orang. Disertai Pak Kepala dan Pamong desa lainnya, yang datang itu ternyata mahasiswa dan dosen dari sebuah universitas yang sedang melakukan penelitian.
Air sungai itu berwarna karena sengaja diberi warna untuk meneliti aliran air sungai bawah tanah. Para peneliti itu ternyata mewarnai air di anak sungai yang ada dalam sebuah gua, tujuannya untuk mengetahui kemana arah aliran air anak sungai dalam gua itu.
Andaikan para peneliti tidak segera datang untuk memberikan keterangan yang menenangkan warga maka bisa dipastikan air sungai yang berubah warna itu bakal ditafsirkan bukan-bukan oleh masyarakat.
Masyarakat karena kurangnya informasi dan pengetahuan memang kerap mengembangkan jawaban yang amat mistik atau berbau tahayul atas apa yang mereka kira merupakan sebuah fenomena.
Hari Selasa, 14 Mei 2024 lingkungan seputar hilir Sungai Karang Mumus juga gempar. Melalui sosial media masyarakat menyebarkan fenomena air sungai yang berwarna hijau. Informasi dalam rupa video juga menunjukkan adanya kecipak-kecipak di air karena ikan meloncat-loncat.
Suasana makin seru karena ada juga yang melakukan live dengan narasi penuh semangat, mirip reporter olahraga saat melakukan siaran langsung melaporkan sebuah pertandingan di babak final.
Narasipun tak terkendali, tidak ada yang bisa mengontrol pesan yang tersebar melalui media sosial.
Salah satu yang paling ajaib adalah self reported yang menyatakan “Ini baru terjadi sekali seumur hidup saya, Karang Mumus seperti ini,”
Jelas ini narasi lebay walau diucapkan oleh orang yang mengaku dari lahir hingga sekarang tinggal di tepi Sungai Karang Mumus.
Nuansa amaze dan excited itu bukanlah hal yang sebenarnya. Bahkan dari sisi lain bisa jadi cerminan betapa kita yang dekat dengan lingkungan Sungai Karang Mumus tidak benar-benar mengenal dan memperhatikan sungainya.
Bulan lalu media sosial dan media massa sudah ada yang memberitakan warna air Sungai Karang Mumus yang menghijau. Tidak heboh waktu itu karena tidak bersamaan dengan pasang dari Sungai Mahakam.
Sementara hijau hari Selasa ini menjadi menghebohkan karena bersamaan dengan datangnya air pasang dari Mahakam. Makanya ada ikan-ikan Mahakam yang masuk ke Sungai Karang Mumus. Alhasil ikan-ikan itu menjadi puyeng lalu merangsang warga untuk ramai-ramai menangkapnya.
Di hari-hari biasa, ketika pasang dari Mahakam tinggi adalah biasa di tepian Sungai Karang Mumus orang yang memancing bisa mendapat ikan Patin dengan ukuran cukup besar.
Karena banyak ikan yang belingsatan dan menjadi mudah ditangkap, sebagian warga yang merasa sudah senior di Samarinda dengan enteng menyebut Bangai. Bangai yang berasal dari kata bangar adalah fenomena yang dulu akrab dengan lingkungan warga Samarinda di sekitar sungai.
Bangai adalah sebutan ketika banyak ikan di sungai mabuk, setengah pingsan bahkan mati pada saat air sungai berwarna coklat kemerahan dan berbau busuk. Maka ada yang menerangkan bangai secara singkat sebagai air busuk.
BACA JUGA : Tarif Parkir
Yang cinta maupun yang benci pada Karang Mumus namun sama-sama memperhatikannya bakal paham kalau air sungai Karang Mumus itu warna-warni.
Air normal atau kondisi dominannya berwarna buthek atau kecoklatan. Coklatnya akan semakin intens saat hujan.
Warna kecoklatan ini warna normal karena memang begitu rata-rata warna air sungai di Indonesia karena sedimen tersuspensinya tinggi. Tanah di Indonesia memang mudah tercuci, tererosi. Maka sungai yang salah satu sumber airnya adalah air pemukaan cenderung akan berwarna kecoklatan.
Namun saat asupan air permukaan berkurang, lama tidak turun hujan dan sedimennya mengendap airnya lama-lama akan menjadi jernih.
Di titik tertentu pada masa tertentu, air sungai Karang Mumus bisa saja jernih.
Namun ketika hujan tak turun-turun, sumber air sungai Karang Mumus berubah. Di bagian tengah dan hilir air yang banyak masuk ke badan sungai adalah air got, parit, saluran pembuangan rumah tangga, industri kecil dan aktivitas pusat ekonomi seperti pasar. Ada beberapa pasar yang dekat dengan aliran Sungai Karang Mumus.
Asupan air limbah yang banyak mengandung limbah domestik maupun limbah sabun ini jika masuk ke badan sungai pada waktu sungai miskin air baru akan teroksidasi dan terurai di badan sungai. Air sungai Karang Mumus kemudian akan cenderung berwarna kehitaman dan menebarkan bau beraroma busuk tipis-tipis, seperti aroma amoniak, agak menyengat hidung.
Jika kondisi ini lama bertahan, maka sebutan untuk Karang Mumus berubah menjadi Sungai Hirang.
Di bagian lain saat asupan air baru berkurang karena tak turun-turun hujan, air sungai Karang Mumus akan berubah warna menjadi kehijauan. Hijau beneran bukan karena memantulkan warna rerumputan atau pepohonan di kanan kirinya.
Air akan berwarna kehijauan karena subur. Ada banyak nutrisi di dalam air yang berasal dari cemaran entah pupuk dari lahan-lahan di sekitar sungai atau limbah domestik yang kemudian diurai oleh mikroorganisme dalam air.
Kadar mineral dan nutrien dalam air kemudian meningkat, proses ini dikenal dengan istilah Eutrofikasi. Kondisi eutrofik ini akan memperbesar peluang alga serta tumbuhan air berukuran mikro untuk tumbuh dengan pesat atau blooming.
Terjadi ledakan pertumbuhan dalam air, jika yang mengalami blooming adalah organisme mikro berwarna hijau air akan hijau, jika yang berkembang berwarna biru air akan biru.
Di Sungai Karang Mumus biasanya eutrofikasi terjadi di segmen tengah kearah hilir, bagian setelah Bendungan Lempake.
Kenapa Selasa lalu yang kehijauan adalah bagian hilir, kemungkinannya karena dorongan air dari hulu karena hujan. Dan bersamaan itu ada air pasang dari Sungai Mahakam sehingga air hijau tertahan di hilir Sungai Karang Mumus.
Blooming alga serta mikro organisme lain di dalam lain akan menyebabkan kondisi air menjadi miskin oksigen tersuspensi. Air juga akan mengandung racun karena saat mekar alga mengeluarkan senyawa beracun. Pertumbuhan alga dan organisme lainnya juga akan mempengaruhi ph air, air cenderung menjadi asam.
Biota air yang kebetulan ada di area tersebut kemudian menjadi megap-megap, belingsatan karena lingkungan yang tidak berkesesuain dengan kondisi biologisnya. Bukan hanya mabuk, tapi bisa pingsan bahkan kemudian mati.
Inilah yang membuat warga di sekitar Sungai Karang Mumus senang karena panen ikan. Kesenangan yang muncul karena Sungai Karang Mumus menderita.
BACA JUGA : Honda Terdepan
Dalam sekejap saja euforia ‘tangkap ikan’ berhenti karena hujan deras mengguyur Samarinda. Ikan dan biota airnya segera bersuka karena datang air baru yang ditumpahkan dari langit.
Gelontoran air dari hulu pun tak lama mencapai hilir Sungai Karang Mumus karena aliran airnya sekarang lancar jaya setelah segmen bagian bawah Bendung Lempake dilebarkan.
Euforia di media sosial segera berganti menjadi keluhan bahkan umpatan karena titik-titik tertentu di bagian hilir kemudian tergenang, banjir.
Dan feed media sosial segera berganti, berisi postingan yang berebut mengabarkan titik genangan.
Sayapun terjebak banjir karena saat hujan lebat itu turun saya tak segera meninggalkan Lubuk Sawah.
Tapi tak apa, karena dalam kesialan masih saja ada keuntungan. Rumah tempat saya berteduh, tuan rumahnya sedang berencana mengadakan selamatan sehabis isya. Saya yang tertahan kemudian malah ditahan untuk tak segera pulang saat air mulai surut.
Meski agak keki karena bercelana pendek saat duduk bersila mengelilingi ambengan selamatan, umba rambe yang disiapkan perlahan menghapus rasa itu. Nasi liwet, urap, orak arik tempe, ayam joper panggang dan lodo, aroma dan rasanya lebih menggoda ketimbang rasa di hati.
Dan malam itu berakhir dengan kekenyangan, karena saat menunggu hujan reda sepiring singkong ubi dan bergelas kopi telah lebih dulu mengelontor kedalam perut.
Saat berteduh sambil ngopi dan nyemil singkong ubi ada seseorang yang menelepon bertanya soal air hijau Karang Mumus itu. Saya terangkan saja dugaan saya berdasarkan logika eutrofikasi.
Karena lewat telepon dan terganggu oleh hantaman bulir hujan diatas seng, saya tak leluasa menerangkan. Terlebih lagi saat ditanya bagaimana mengatasi masalah itu.
Jadi saya jawab singkat saja, perubahan warna air sungai apapun warnanya diluar warna normalnya akan bisa diatasi jika kita mampu menjaga kualitas, kuantitas dan kontinuitas airnya.
Dan terbukti dana milyardan atau bahkan trilyunan yang dianggarkan serta direncanakan untuk terus dianggarkan lewat program mengatasi banjir dan normalisasi Sungai Karang Mumus tidak berhubungan langsung dengan peningkatan kualitas, kuantitas dan kontinuitas air sungai Karang Mumus.
Begitu saja saya kira, kalau ingin kesah-kesah yang lebih panjang dan dalam ya silahkan ajak saya ngopi-ngopi. Saya ngopi, kalau ada mau ngeteh, ngeboba atau ngesusu silahkan saja.
note : sumber gambar – IDNTIMES








