KESAH.ID – Urusan parkir sering masih dianggap urusan sepele. Padahal ada banyak persoalan yang bahkan terbilang kronis karena dibiarkan berlarut-larut. Bagi banyak orang persoalannya bukan sekedar nominal, karena yang jauh lebih menyakitkan adalah perasaan diperlakukan tidak adil. Membangun keadaban dalam perparkiran menjadi sesuatu yang mendesak untuk dilakukan.
Ajaran untuk jangan melewatkan kesempatan nampaknya begitu merasuk dalam darah dan daging masyarakat Indonesia. Saking tertanam begitu dalam bahkan sekecil apapun kesempatannya selalu akan dimanfaatkan. Istilahnya gunakan kesempatan walau dalam kesempitan.
Dalam budaya Jawa ada istilah nulung mentung atau menolong tapi memukul. Jenis kelakuan seperti ini biasa dilakukan oleh tukang palak. Pura-pura menolong tapi kemudian meminta imbalan yang besar.
Contohnya pada saat tertentu di sebuah tempat akan terjadi keramaian, keramaian yang tidak biasanya. Banyak orang datang dengan kendaraan sehingga butuh tempat parkir. Nah parkir dadakan ini yang sering kali melahirkan tukang palak, menarik ongkos parkir dengan tidak sewajarnya. Yang ngotot untuk membayar dengan harga biasa akan diintimidasi.
Fenomena tukang parkir memalak masyarakat terjadi dimana-mana. Beberapa diantaranya viral karena tersebar luas melalui media sosial.
Seperti kisah pada salah satu minimarket di daerah Karawang menjelang lebaran yang lalu. Uang parkir yang biasanya 2 ribu dinaikkan sepihak oleh juru parkir menjadi 15 ribu.
Dalam sebuah video yang diupload oleh netizen terlihat tukang parkir memaksa pelanggan minimarket untuk membayar 15 ribu. Tentu saja timbul keributan. Mendengar ribut-ribut, pegawai minimarket keluar dan mencoba menengahi dengan mengatakan parkir biasanya hanya 2 ribu.
Tapi dalam video itu tukang parkirnya tetap ngotot meminta lebih. Dia menurunkan tarif parkir menjadi menjadi goceng, lima ribu.
Usut punya usut, juru parkir itu memeras pelanggan dengan alasan THR, tunjangan hari raya.
“Setahun sekali aja ribut, kayak nggak pernah muda,” ujar tukang parkir itu sebagaimana terekam dalam video.
Ternyata menaikkan uang parkir dengan alasan THR juga dilakukan oleh seorang sekuriti. Kejadiannya di salah satu lokasi area parkiran liar sebuah pusat perbelanjaan di Tangerang Selatan.
Absurb benar, alasan hanya setahun sekali kemudian menjadi pembenaran untuk memalak orang.
Dari Yogya lain lagi ceritanya. Ini tentang retribusi untuk rombongan peziarah di makam raja-raja Imogiri.
Di makam yang terbagi dalam wilayah makam kesultanan dan kasunanan itu biasanya rombongan ditarik retribusi masing-masing 50 ribu.
Namun akhir April lalu ada seorang peziarah yang mengeluhkan seusai berziarah dirinya ditarik retribusi 500 ribu, pada masing-masing wilayah makam dimintai 250 ribu.
Sontak saja dirinya kaget dan kemudian membagikan pengalamannya yang merasa diperas itu ke media sosial.
Padahal pihak keraton mengatakan tidak ada retribusi untuk pengunjung makam atau peziarah. Di kompleks makam Imogiri, pengunjung atau peziarah hanya diwajibkan untuk memakai pakaian adat Jawa jika memasuki makam. Untuk itu ada perkumpulan abdi dalem yang menyewakannya.
Retribusi, entah itu punggutan parkir, kebersihan, penerangan jalan, masuk ke area tertentu sebenarnya lazim saja diperlakukan karena ada layanan dari satu pihak ke pihak lainnya.
Pemerintah akan ikut campur dalam menentukan besarannya lewat berbagai peraturan. Namun tidak semua mematuhinya, hingga kemudian retribusi kerap menimbulkan kegaduhan.
BACA JUGA : Smoke Liquid
“Parkir itu cuan, waktu menjelang lebaran sehari saya bisa dapat 700-an,” ujar seorang teman yang baru tahu nikmatnya jadi tukang parkir dadakan.
Menjelang lebaran orang cenderung tak mau cari ribut, toko, warung atau tempat belanja yang tadinya tak memunggut parkir tidak bakal disoal kalau tiba-tiba muncul tukang parkir dadakan.
Terlebih lagi jika juru parkirnya rendah hati, mau membantu memarkirkan motor atau mengeluarkan motor yang terjepit diantara motor pengunjung lainnya yang masih asyik berbelanja.
Soal juru parkir, saya punya kenangan yang baik di beberapa titik parkir yang ada di Kota Samarinda. Salah satunya di sekitar pasar pagi, dulu sekali. Saya menganggapnya sebagai salah satu juru parkir terbaik, karena dia mengatur kendaraan yang diparkir.
“Taruh saja nda usah dikunci stang,”
Dan saya tak perlu mencari-cari tempat longgar untuk memarkir kendaraan.
Nanti saat mau pulang dia akan bertanya “Yang mana?”
Tinggal tunjuk saja dan dia akan mengeluarkan kendaraan dari barisan sambil bertanya “Kearah mana?”
Juru parkir terbaik lainnya ada di Pasar Subuh, Samarinda. Perilakunya mirip-mirip, namun agak lebih ramah sedikit. Mungkin sikapnya dipengaruhi oleh cuaca, udara pagi memang lebih menyenangkan ketimbang panasnya siang hari.
Pergi ke suatu tempat dengan membawa kendaraan lalu disambut oleh juru parkir yang cekatan dan tidak ugal-ugalan selalu menjadi awal yang baik untuk menikmati aktivitas keseharian.
Tapi tak semua juru parkir baik. Tak sedikit diantara mereka yang bikin kecewa terutama untuk mereka yang sedang hendak bersenang-senang.
Di Samarinda, dulu ketika tepian Sungai Mahakam ramai menjadi tempat tongkrongan sering kali terdengar berbagai keluhan perihal ongkos parkir yang ditetapkan oleh juru parkir liar. Kini jarang terdengar karena areanya sedang direnovasi.
Keluhan lain yang sering juga muncul adalah juru parkir tuyul. Pemunggut uang parkir di minimarket yang membebaskan biaya parkir sebagai bagian dari layanannya.
Di tempat ini biasanya ketika pelanggan datang tidak nampak tukang parkir yang menyambut dan membantu menata kendaraan, namun begitu selesai belanja dan hendak pulang tiba-tiba saja ada yang berdiri dekat kendaraan dengan ekpresi meminta uang parkir.
Yang lebih ajaib lagi adalah munculnya tukang parkir di gerai ATM pada jalan-jalan tertentu. Yang tidak rutin mengambil uang di ATM itu biasanya akan terkaget-kaget. Terlebih jika tak punya uang kecil.
Uang 2 ribu bukan uang besar untuk kebanyakan orang, tapi bisa saja orang tetap sakit hati karena merasa terpaksa untuk membayarkannya. Sakit hati bukan karena nominal melainkan karena merasa diperlakukan tidak adil.
BACA JUGA : Pecco Ambyar
Dalam kehidupan bersama, parkir adalah bagian dari layanan publik pada warga. Maka selayaknya hal ini menjadi perhatian serius dari pemerintah karena banyaknya persoalan yang melingkupinya.
Bayangkan jika sebuah daerah sedang mengetolkan pariwisata, mengharapkan banyak orang datang dan suka tinggal menikmati berbagai daya tarik daerah itu lalu terganggu oleh juru parkir yang tarifnya seperti pemerasan.
Satu dua orang yang merasa tak puas lalu berceloteh di media sosial bakal mencoreng muka sebuah daerah hingga kemudian orang enggan untuk datang.
Syukurlah pemerintah Kota Samarinda beberapa waktu terakhir ini menjadikan urusan kenyamanan dan keamanan parkir menjadi salah satu perhatiannya. Pemerintah Kota Samarinda tengah getol menertibkannya.
Yang ditertibkan bukan hanya parkir liar, parkir yang sering memakan jalan atau fasilitas publik lainnya sehingga menggangu kenyamanan pengguna lainnya.
Sebagian caranya memang terlihat agak janggal pada mulanya. Seperti trotoar yang kemudian dipasangi tiang-tiang.
Untuk menghindari tarif yang tidak sesuai dengan yang ditentukan, Pemerintah Kota Samarinda juga berencana menerapkan pembayaran parkir non tunai. Namun cara semacam ini hanya akan efektif pada area-area parkir otonom atau penyelenggaraan parkiran yang dilakukan oleh pusat perbelanjaan, stadion, rumah sakit dan lainnya, bukan di jalanan umum.
Ada juga layanan biaya parkir tahunan. Tapi kebanyakan orang juga enggan karena tetap masih akan membayar parkir di tempat tertentu. Pun juga tidak semua tempat parkir dijaga oleh petugas resmi. Tanda parkir tahunan pasti tak berlaku ketika memarkir kendaraan untuk menonton pertunjukkan jaranan. Ikatan Pemuda Setempat pasti tetap akan menarik biaya parkir tunai.
Masih banyak pekerjaan rumah dalam urusan parkir ini dan mungkin memang sulit untuk menghapus keberadaan parkir liar dan parkir dadakan. Hanya saja yang paling penting adalah memastikan tidak ada penjajahan dan pemalakan karena semena-mena menentukan ongkos parkir yang gila-gilaan.
Urusan parkir ini relevan dengan semangat Kota Samarinda yang ingin menjadi pusat peradaban. Lingkungan parkir yang ramah, aman dan adil adalah salah satu cerminannya.
Keadaban dalam parkir adalah layanan, memberi rasa aman dan nyaman bagi mereka yang menitipkan kendaraannya. Uang bukan tujuan, andaikan terkumpul banyak cuan itu adalah bukti terima kasih dari masyarakat yang puas dengan layanannya.
note : sumber gambar – SUARA








