KESAH.ID – Di jalan raya dua pabrikan motor dari Jepang terus bersaing untuk memperebutkan tahta penguasa jalanan. Honda dan Yamaha silih berganti merebut perhatian dari pembeli. Setelah bersaing di kelas matik gambot, kini Honda dan Yamaha bersaing di kelas scooter retro nan stylish serta mewah. Kita tunggu siapakah yang lebih menarik pembeli antara Filano dan Stylo.
Vespa adalah kendaraan bermotor pertama yang saya pakai untuk curi-curi belajar setelah bertahun-tahun saya diberi tugas untuk memanasi mesin dan membersihkan businya.
Mesin motor dulu memang berbeda dengan mesin motor sekarang, mesti dipanasi setiap paginya biar kalau dipakai mesinnya tidak blebek-blebek.
Demikian juga bahan bakarnya, bensin dulu mengandung banyak timbal sehingga pembakarannya tak bagus akibatnya businya sering kotor lalu susah dihidupkan.
Hingga SMA, saya kemudian wira-wiri menaiki Vespa Super berwarna hijau keluaran tahun 70 yang dibeli oleh bapak dari tetangga sebelah rumah.
Tapi sesekali saya juga naik motor jenis lainnya. Yang paling sering mereknya Honda entah jenis bebek atau motor lanang.
Vespa sejak dulu memang bergengsi, tapi yang paling banyak lalu lalang jelas Honda. Sampai-sampai orang sering bertanya Hondamu apa?. Dan jawabannya Honda Yamaha atau Honda Suzuki. Honda jadi sebutan kendaraan bermotor roda dua, bukan merek.
Sejak saya lahir hingga sekarang Honda masih saja menunjukkan dominasinya. Honda meski dari Jepang seperti terlahir untuk orang Indonesia. Dari dulu kelebihan Honda seperti tidak terkikis, irit bensin, mesin bandel, model tak membosankan dan harga jualnya tetap tinggi.
Merek lainnya hanya sesekali men-jeda kejayaan Honda. Seperti Yamaha saat RX berjaya. Seperti namanya Yamaha RX pernah menjadi raja seperti namanya RX King.
Memasuki tahun 80, dominasi Honda sempat juga diganggu oleh motor Bintang Terang atau lebih dikenal dengan nama Binter. Motor ini sebetulnya merupakan rebranding dari Kawasaki. Yang terkenal waktu itu Binter GTO dan Binter Merzy.
Tapi popularitas Binter tidak lama karena sang pemilik yakni Eddy Tanzil tersandung korupsi. Binter pun menghilang seperti Eddy Tanzil yang berhasil lolos dari penjara dan melarikan diri ke luar negeri hingga tak diketahui keberadaannya sampai sekarang.
Merek lain yang menjadi petarung Honda sejak lama adalah Suzuki. Di Indonesia beberapa motornya sempat menjadi legenda. Di kelas motor bebek nama Suzuki Tornado, Suzuki Shogun dan Suzuki Satria begitu ternama.
Namun setelah itu Suzuki seperti tenggelam, satu persatu dealernya menghilang. Meski belum pamit dari Indonesia, kini Suzuki menjadi merek motor dari Jepang yang paling kembang kempis di Indonesia.
Di tingkat global penjuaan Suzuki juga tak bertumbuh. Hingga meski motor Suzuki yang ditunggangi Johan Mir berhasil menjadi juara dunia 2020, setahun kemudian Suzuki pamit dari gelaran Moto GP. Motornya juara tapi tak laku.
Dominasi Honda juga semapt diganggu oleh kedatangan Motor China. Motor yang harganya murah dan bentuknya tak ketinggalan jaman. Tapi booming Jialing dan teman-temannya tak bertahan lama. Kelemahan jaringan penjualan, teknis dan suku cadang membuat masyarakat ragu membelinya.
Honda tetap tak tergoyahkan, Super Cub, Astrea, Kharisma, Supra, CB, CG, Win, GL tetap merajai jalanan di seantero Indonesia.
BACA JUGA : Pecco Ambyar
Era motor kopling kemudian berpindah ke motor matic. Sebenarnya yang mulai mengenalkan skutik atau skuter matik adalah Vespa. Skuter matik pertama yang diluncurkan oleh Vespa di Indonesia adalah Corsa 125.
Namun kehadiran Corsa 125 belum mampu memicu trend matik, salah satunya karena harga. Vespa sejak dahulu terkenal sebagai motor yang mahal harganya. Meski diinginkan banyak orang tapi kebanyakan tak mampu membelinya.
Trend motor matik kemudian menggeliat ketika Yamaha mengeluarkan Yamaha Nouvo ditahun 2002. Lalu disusul dengan seri Mio di tahun 2003. Honda kemudian ikut serta dengan meluncurkan Honda Vario 110 beberapa tahun kemudian. Dan setelah itu disusul oleh seri Honda Beat.
Pada masa era matik perdana ini sebuah produsen motor dari Taiwan ikut bermain untuk meramaikan. Kymco, produsen motor asal Taiwan membawa skuter 4 tak bertransmisi matik.
Motor yang tinggal di gas lalu jalan kemudian makin populer. Terutama pada kelompok ibu-ibu yang sering jumping atau jegagik-jegagik waktu melepas tuas kopling. Dengan motor matik perjalanan lancar jaya, jarang-jarang ada kejadian terhenti di tengah tanjakan karena lupa menurunkan posisi kopling.
Era motor matik menandai kebangkitan Yamaha. Mio merajai jalanan sampai kemudian Yamaha dengan percaya diri meluncurkan slogan “Yamaha Semakin Terdepan, Yang Lain Makin Ketinggalan”. Valentino Rossi dan Komeng menjadi bagian ikonik dari slogan ini.
Slogan ini mendunia karena dipakai menjadi bagian dari livery motor balap di Moto GP. Tiga motor yang populer di Indonesia yakni Yamaha, Honda dan Suzuki mencantumkan selogan berbahasa Indonesia di motor balapnya.
Motor Yamaha tampil dengan slogan Semakin Di Depan, Honda menulis Satu Hati atau One Heart dan Suzuki mencantumkan Nyalakan Nyali.
Persis sama yang terjadi di arena balap yang akhirnya menyisakan persaingan Yamaha dan Honda, di pasar Indonesia Suzuki juga tersingkir.
Yamaha yang berani mengatakan Yang Lain Makin Ketinggalan memang terbukti mulai mewarnai jalanan. Hanya saja Honda tak tinggal diam. Setelah menyaingi Mio dengan Beat, Honda berhasil memukul Yamaha lewat seri skutik retro. Honda Scoppy jauh lebih populer dari Yamaha Fino.
The power of dreams Honda memang sulit untuk dikalahkan. Vario, Scoopy dan Beat tercatat sebagai motor yang paling banyak mengaspal di jalan raya. Honda yang berasal dari negeri bekas penjajah nyatanya bisa Satu Hati dengan masyarakat di bekas negara jajahannya.
Yamaha kemudian meluncurkan slogan baru, Gass Poll.
Berbekal motor matik gambot, Yamaha kembali merajai jalanan. Nmax dan Aerox yang berasal dari seri keluarga maxi kencangnya gak ada lawan. Seolah motor itu diciptakan untuk tidak bisa pelan di jalanan.
Saking merajanya Nmax di jalanan kemudian memunculkan julukan sebagai Motor Ormas.
Di balapan Moto GP Yamaha juga meraja ketika sang raja lintasan yang menaiki Honda cidera parah. Fabio Quartaro berhasil meraih gelar juara dunia Moto GP. Hanya kejayaan dilintasan balap itu tak berlangsung lama karena dikudeta oleh Ducati.
Namun pasar Indonesia tetap tenang karena Ducati bukan saingan untuk kendaraan jalanan keluaran Jepang.
Honda mencoba memangkas pergerakan Yamaha yang berusaha merebut pasar bukan hanya dengan Nmax dan Aerox tapi ada juga Freego, Lexi dan Mio Gear. Melawan Nmax, Honda mengeluarkan PCX, cukup berhasil. Namun Honda tetap berusaha mempertahankan pasar dengan andalan lamanya, Vario, Beat, Scoppy yang terus diperbaharui, juga berupaya merebut pasar perempuan muda lewat Genio.
Honda juga bermanuver di kelas touring matik dengan mengeluarkan Honda ADV dan Forsa.
Satu hati nampaknya masih terdepan terutama di kelas harga yang sesuai kantong rakyat.
BACA JUGA : Tarif Parkir
Perang Jepang di jalan raya Indonesia masih berlanjut. Kali ini yang paling menonjol adalah persaingan antara Honda dan Yamaha dalam kelas skutik retro premium.
Mulanya Yamaha mengeluarkan Fazzio lalu segera disusul oleh Filano.
Honda dikabarkan akan meluncurkan Honda Giorno yang didesain oleh desainer Italia. Selain itu ada juga Scoppy Vantagio, yang lampunya membulat di setang ala-ala Vespa.
Namun yang muncul di Indonesia adalah Honda Stylo.
Filano dan Stylo berhadap-hadapan, menjadi perang next level antara Honda dan Yamaha dalam kelas motor stylish. Keduanya merupakan pencapaian desain motor harian yang mengedepankan kemewahan. Filano dan Stylo sama-sama masuk kategori skutik premium karena harganya hampir menyentuh angka 30 jutaan.
Gaya keduanya memang semakin mendekati model klasik Vespa. Sampai-sampai ada netizen nyinyir yang bilang “Daripada beli Filano atau Stylo mending beli Vespa skutik walau second,”
Kaum mendang-mending memang suka begitu. Suka membandingkan dengan alasan yang sangat subyektif karena masih merasa scooter adalah motor khas Italia.
Orang Indonesia walau rajin berinternet ria masih saja menganggap Vespa buatan Piaggio sebagai satu-satunya scooter di dunia, padahal ada Lambreta, Bajaj, Royal Alloy, Scomadi dan lainnya. Bahkan kalau dari sisi harga, Vespa bukanlah yang termahal dibandingkan dengan Scomadi.
Bagaimanapun juga Honda masih di hati orang Indonesia dan Yamaha berupaya untuk Gass Poll karena keduanya punya sejarah panjang membangun merek. Jaringan penjualan dan purna jual Honda serta Yamaha sangat luas. Dan bengkel partikelirnya juga ada di mana-mana, mesin kedua merek ini sangat dikenal oleh mekanik di Indonesia.
China berhasil memproduksi skutik matik premium dengan harga yang jauh lebih murah. Tapi siap-siap saja kalau ada masalah maka kita akan punya masalah baru karena pusing mencari tempat untuk mengatasi masalah tersebut.
note : sumber gambar – OKINEWS








