KESAH.ID – Puskesmas adalah salah satu penanda penting dunia layanan kesehatan dasar di Indonesia. Saking populernya, Puskesmas bahkan sering menjadi penanda geografis. Jawaban dekat, disebelah kanan, kiri, depan, belakang Puskesmas kerap terdengar jika seseorang bertanya alamat. Kini Puskesmas kembali diperbincangkan karena warga teramat doyan ke rumah sakit karena di-cover oleh JKN. BPJS Kesehatan pun defisit dan berharap Puskesmas kembali jadi garda depan layanan kesehatan masyarakat.
Sewaktu kanak-kanak dulu, saya termasuk bocah yang suka sekali sekolah. Belum umurnya sekolah saya sudah ikut-ikutan sekolah. Saat masuk TK pertama kali, saya dianggap murid bawang kopong. Tapi karena teman-teman lainnya masuk SD, sayapun ikut.
Di SD tentu saja saya murid beneran, bukan ikut-ikutan. Peraturan umur waktu itu mungkin belum seketat sekarang sehingga ya diterima saja, toh SD-nya juga SD di desa, belum ada education wacth.
Sebenarnya agak sengsara juga kalau masuk sekolah masih belum cukup umur. Apalagi perawakan saya waktu itu kurus kerempeng sehingga sering dipanggil kertas.
Termuda, kurus, kecil membuat saya sering diolok-olok, tapi nggak berani membalas. Tapi nggak apa-apa, itu tidak terlalu menganggu saya. Yang terpenting saya pergi sekolah, ada banyak teman dan bisa bermain.
Namun sesekali ada masanya saya malas ke sekolah. Jadi cari-cari alasan untuk tidak pergi. Biasanya saya akan terus berbaring di tempat tidur dan waktu dibangunkan baru saya bilang nggak mau sekolah karena kepala pusing atau sakit perut.
Alasan itu manjur hingga kelas dua SD. Tapi setelah itu setiap kali mau cari alasan untuk tidak masuk sekolah karena tidak enak badan, bapak saya langsung menyodorkan kartu kuning. Saya disuruh pergi ke Puskesmas. Jaraknya memang tak jauh dari rumah.
Bapak saya guru, pegawai negeri yang selain diberi jatah beras bulanan juga diberi kartu kuning. Kartu ini sakti kalau dibawa ke Puskesmas untuk berobat. Yang kuning-kuning waktu itu memang sakti meneruskan kesaktian regim yang terus bertahan karena kemenangan partai kuning di pemilu.
Jika sakit hanya alasan karena malas masuk sekolah, setelah disodori kartu kuning sayapun bangun, mandi dan ganti baju pergi ke sekolah. Tanpa pergi ke Puskesmas, bapak saya tak mau menulis surat ijin untuk guru di sekolah.
Puskesmas dulu memang populer, layanannya lebih ramah dibanding klinik atau rumah sakit. Untuk saya sendiri Puskesmas juga tak terlalu menakutkan dibanding mantri, dokter praktek atau rumah sakit.
Kalau pergi ke Puskesmas tak selalu harus disuntik. Lain cerita dengan pergi ke mantri atau dokter, suntikannya besar-besar, dari logam.Lihat jarumnya saja sudah ngeri.
Yang lebih menakutkan terkadang untuk mensucihamakan, jarumnya dibakar.
Kalau rumah sakit kenangan yang kurang menyenangkan adalah antrian sewaktu mau periksa, biasanya panjang sekali. Selain itu menyenangkan saja terutama ketika membezuk orang sakit asal sakitnya nggak parah-parah amat.
Bahkan ketika kuliah di Sekolah Tinggi berasrama, pergi ke rumah sakit selalu menyenangkan, seperti piknik karena keluar dari asrama.
Jika badan terasa kurang enak dan diijinkan untuk pergi periksa ke rumah sakit berharap akan dirawat disana. Tapi harapan itu tak pernah terwujud karena para dokter selektif dalam menentukan siapa yang perlu dirawat dan siapa yang tidak.
Biarpun ngebet minta dirawat biar bisa istirahat, dokter tak akan mengiyakan jika dia meyakini hanya perlu rawat jalan.
Dulu jumlah bed di rumah sakit memang terbatas, belum seperti sekarang dimana rumah sakit makin lama makin seperti hotel saja.
BACA JUGA : Karang Mumus Hijau
Lama kelamaan Puskesmas atau Pusat Kesehatan Masyarakat menjadi tak populer. Di saat layanan kesehatan lain berlomba untuk memberi pelayanan prima, layanan Puskesmas memang makin ketinggalan.
Disana-sini terdengar keluhan tentang pelayanan Puskesmas, mulai dari dokternya hingga para petugas medisnya. Intinya, pelayanan mereka kurang berkelas. Memang bisa dipahami, Puskesmas tak seperti Rumah Sakit atau klinik swasta lainnya yang punya layanan kelas-kelas, sampai VVIP.
Lagi pula, Puskesmas memang bukan layanan medis utama. Tugas dan fungsi utama Puskesmas lebih diarahkan untuk upaya kesehatan tingkat pertama, dengan lebih mengupayakan kegiatan promotif dan preventif.
Jadi jangan mengeluh lalu marah-marah kalau datang ke Puskesmas belum jam 12 sudah tutup loketnya. Bukan berarti mereka malas terima pasien, namun ada tugas lain menanti misalnya penyuluhan dan lain-lain di luar puskesmas.
Jam kerja Puskesmas bukan dari pagi sampai sore, tapi bisa jadi 24 jam. Hanya saja tak semuanya dilakukan di gedung Puskesmas, karena edukasi dan advokasi kesehatan selalu dilakukan on the spot. Bisa di kelurahan, balai desa, kecamatan, sekolah dan lain-lainnya.
Makanya kalau mendengar ada keluhan tentang layanan Puskesmas, salah seorang teman saya sering naik darah lalu bertanya “Kamu tahu apa kepanjangan Puskesmas?”
Yang ditanya pasti nggak menjawab, karena pertanyaan itu merupakan penghinaan. Persis sama ketika kita tanya apa lagu kebangsaan Indonesia. Pastinya semua orang Indonesia tahu jadi nggak perlu jadi bahan pertanyaan, kecuali kita adalah pejabat yang basa-basi bertanya lalu kalau ada yang menjawab akan diberi hadiah, hadiahnya sepeda.
Karena pertanyaannya tak ada yang sudi menjawab, teman sayapun memberi jawabannya sendiri.
“Puskemas itu singkatan dari pusing, keseleo dan masuk angin,” katanya.
Saya selalu tertawa mendengar kepanjangan itu. Jawabannya sangat related dengan pengalaman dulu-dulu saat cari modus untuk tak pergi sekolah.
Pusing, sakit kepala, sakit perut, masuk angin, badan pegal dan seterusnya adalah deret alasan ditambah dengan ekpresi memelas agar dipercaya.
Tapi selalu saja bapak akan bilang “Pergi ke Puskesmas sana,”
Untuk urusan kuratif, Puskesmas memang tepat sebab obatnya ringan-ringan saja. Bukan obat terbaru yang mereknya mentereng. Obat di Puskesmas adalah obat generik.
Sayangnya obat generik sering yang harganya tentu saja lebih murah kerap dianggap obat yang tidak mujarab, murah artinya kurang manjur.
Padahal tentu saja tidak demikian. Obat generik menjadi lebih murah karena tak perlu lagi membayar paten. Karena bukan penemuan baru maka juga tak perlu membayar biaya penelitian. Selain itu obat generik juga tidak memerlukan biaya promosi dan pemasaran.
Di luar itu, harga obat generik biasanya ditentukan juga oleh pemerintah.
Tapi sekali lagi jangan khawatir akan kemanjurannya, sebab obat-obat itu telah teruji bahkan lebih teruji dibanding obat-obat hasil inovasi baru.
BACA JUGA : Tas Kresek
Dengan didirikan Badan Pelayanan Jaminan Sosial, masyarakat semakin rajin berobat. Berbekal kartu keanggotaan BJPS Kesehatan, masyarakat dengan mudah mengakses layanan kesehatan. Dan konon menyebabkan BPJS mengalami defisit.
Agar masyarakat tak sedikit sakit lalu ke rumah sakit, Puskesmas pun kembali dilirik sebagai bagian dari strategi untuk mencegah agar defisit BPJS Kesehatan tak makin membengkak.
Penguatan kembali Puskesmas menjadi langkah yang mendesak. Agar citra Puskesmas sebagai tempat pengobatan pusing, keseleo dan masuk angin hilang.
Puskesmas mestinya dijadikan garda depan dalam meningkatkan mutu kesehatan dan layanan kesehatan yang prima sehingga orang tak berbondong-bondong ke rumah sakit.
Konon jika lebih dari 5 persen pemegang kartu BPJS Kesehatan ke rumah sakit, BPJS bakal auto defisit.
Sistem Jaminan Kesehatan Nasional yang melakukan pembayaran berdasarkan klaim jika tak lancar akan membuat layanan untuk pemegang kartu BPJS Kesehatan menjadi menurun atau cenderung tidak ramah.
Kita telah mendengar banyak keluhan tentang pasien yang dipulangkan sebelum waktunya, jam pelayanan rawat jalan yang diperpendek, rawat inap menjadi rawat jalan, diminta membayar selisih yang seharusnya merupakan manfaat bagi peserta, klaim palsu dan lain-lain.
Puskesmas bisa menjadi garda terdepan agar masyarakat tidak selalu berbondong-bondong ke rumah sakit. Namun tentu saja persepsi masyarakat atas Puskesmas harus dirubah, citra Puskesmas dipulihkan.
Dengan demikian Puskesmas tidak lagi hanya dianggap sebagai layanan kesehatan yang obatnya hanya untuk keluhan pusing, keseleo dan masuk angin.
note : sumber gambar – UNAIR








