KESAH.ID – Persaingan antar pedagang hewan korban makin ketat. Untuk memenangkan persaingan pedagang mesti memakai cara kreatif yang terbukti efektif. Dan menyewa jasa SPG untuk memenangkan persaingan menjadi salah satu cara yang akhir-akhir ini berkembang. Testimoni dari beberapa pedagang menunjukkan dengan menyewa SPG, dagangan mereka laris manis.
Beberapa sore lalu sewaktu hujan membasahi seantero Kota Samarinda, saya menunggu hujan reda sambil ngopi di sebuah rumah yang terletak diatas ketinggian pada sisi kanan jalan Mugirejo kearah Lubuk Sawah.
Bulir hujan yang jatuh ke atap seng memang cukup menganggu obrolan sore yang ditemani oleh segelas kopi tubruk yang kami hack dengan setetes cuka kayu agar rasanya smoky dan sedikit fruity. Tetesan cuka kayu memang manjur, segelas kopi robusta terasa jadi ke-arabika-arabika-an.
Kopi kapal api jadi terasa ala-ala Kopi Toraja, begitu kata sang empunya rumah yang rajin mengulik limbah untuk dijadikan pupuk pembenah tanah, perangsang tumbuh tanaman dan lain-lain.
Seorang teman lainnya kemudian menunjukkan layar hpnya sambil berkata “Saya akan mendatangkan ini dari Banten,”
Di layar hp terlihat video kambing, kambing kacangan namun terlihat punya potensi postur besar.
“Sebagian mau saya pelihara dan sebagian lainnya dijual untuk hari raya kurban,” lanjutnya.
Oh, iya Idul Adha atau hari raya kurban memang tak lama lagi. Di jalanan yang saya lalu juga mulai kelihatan kandang-kandang, lapak yang dipasangi spanduk menjual hewan kurban. Spanduk lainnya yang berisi ajakan untuk iuran membeli hewan korban juga mulai terpasang dimana-mana.
Maka rencana mendatangkan kambing dari luar Kalimantan Timur nampaknya memang pas. Kalau bisa datang beberapa hari sebelum hari raya, pasti tak sulit untuk menjualnya. Dan yang lebih penting lagi, pasti cuan.
Saya teringat cerita teman lainnya yang tahun lalu dapat untung beliung karena mendatangkan Kambing dari Jawa Timur untuk dijual sebagai hewan kurban.
“Beli kambing termurah yang nggak laku di pasar hewan disana lalu bawa kesini, pasti untung,” ujar kawan saya itu.
Dan dari ceritanya dari seratusan kambing yang dibawa setelah berburu dari pasar hewan satu ke pasar hewan lainnya, dia bisa untung berlipat dari modal yang dikeluarkannya.
Dari situ saya tahu kenapa orang Samarinda lebih suka mendatangkan Kambing daripada memeliharanya.
Konon, Kambing hanya dicari untuk aqiqah dan kurban. Sedangkan untuk konsumsi kurang besar. Jadi yang dimaui pembeli adalah Kambing yang harganya murah, dibawah 3 juta.
Dengan harga seperti itu memelihara kambing lalu menjualnya jadi tak menguntungkan.
Inilah yang menjadi tugas para social marketer untuk meningkatkan konsumsi daging kambing di Samarinda agar berternak Kambing menjadi usaha yang menguntungkan. Jika tidak niscaya yang berkembang adalah pedagang Kambing, bukan peternak.
Tapi memang benar, menjual hewan ternak untuk korban di hari lebaran haji memang paling menguntungkan. Beberapa tahun lalu saya pernah mendengar kiat dari mahasiswa lulusan terbaik UGM yang tidak memilih berpolitik namun bertani.
Yang dikembangkannya adalah pertanian integratif, model pertanian yang dulu lazim dipraktekkan oleh masyarakat Nusantara namun kemudian lenyap karena modus pertanian komoditas sehingga petani cenderung melakukan budidaya tanaman sejenis.
Sang petani muda itu mengajarkan model pertanian yang memungkinkan petani mendapat uang harian, mingguan, musiman dan tahunan lewat integrasi tani ternak.
Olehnya ternak seperti Kambing atau Sapi dijadikan mesin. Mesin pemakan limbah atau sisa pertanian, dan mesin penghasil pupuk untuk lahan pertanian.
“Ternak juga tabungan, jangan cepat-cepat dijual. Waktu terbaik menjual ternak adalah menjelang hari raya kurban. Kita akan memperoleh harga terbaik,” ujarnya.
BACA JUGA : Tas Kresek
Dalam Kitab Injil ada satu kisah tentang Yesus yang marah-marah kepada para pedagang hewan kurban di lingkungan Bait Allah.
Yesus marah karena para pedagang hewan kurban membalut kebaikan dengan kejahatan. Mereka memang membantu menyediakan hewan kurban yang diperlukan untuk peribadatan, namun melakukan perbuatan tercela karena melakukan penipuan dan kolusi dengan para Imam Kepala untuk keuntungan pribadi.
Lingkungan Bait Allah yang merupakan tempat peribadatan jadi kehilangan kesucian karena berubah menjadi pasar.
Tanda-tanda jual beli hewan korban untuk keperluan ritual keagamaan saat ini juga mulai dirasuki oleh model pemasaran profan. Pedagang bukan bersaing untuk merebut pembeli dengan menunjukkan kambing, sapi atau kerbau yang paling bersih, paling sehat dan seterusnya.
Bisa mendapat untung yang baik dalam kesempatan menjelang perayaan Idul Adha, para pedagang kini mulai bersaing merebut pembeli dengan menggunakan Sales Promotion Girls.
Seorang pedagang kambing kurban di daerah Bantul, Yogyakarta mengaku meski Idul Adha masih sebulan lagi, dagangan kambingnya laris manis. Pedagang itu merekrut 3 SPG cantik untuk menjajakan kambingnya.
Tahun lalu, pedagang itu mengaku bisa menjual 130 ekor kambing, namun kini Idul Adha belum tiba denan bantuan SPG sudah bisa menjual 160 ekor.
Dan untuk menambah omzetnya, cara yang lazim dipakai oleh marketplace ditiru yakni dengan membebaskan ongkos kirim. Pedagang kambing yang juga punya warung sate dan gule itu masih menambah bonus dengan mengratiskan makan sate dan gule di warungnya untuk pembeli.
Pembeli yang umumnya bapak-bapak awalnya kaget dengan kehadiran SPG, tapi lama kelamaan senang juga karena ditemani melihat-lihat kambing.
Tren memakai SPG untuk meningkatkan penjualan sebenarnya sudah mulai sejak beberapa tahun lalu. Yang memulai adalah pedagang sapi, SPG-nya tampil seperti koboi dan dilengkapi dengan tablet untuk menunjukkan koleksi sapi serta harganya.
Strategi menjual hewan kurban dengan memakai SPG ini mulai menuai kritik. Hal ini diakui oleh seorang penjual di Bantul. Dia tak menyalahkan pihak yang mengkritik dan juga tak berupaya untuk membela diri.
Meski begitu, suara miring atau kritikan itu tak membuatnya menghentikan hewan kurban dengan memakai SPG.
Di halaman facebooknya, seorang akademisi ternama dari Universitas Gajah Mada mengakui bahwa menjual hewan kurban dengan memakai SPG adalah ide yang kreatif dan terbukti efektif.
Namun ada yang dikhawatirkan olehnya, jika SPG-nya berpenampilan seperti gambar yang diunggah bersama statusnya maka yang akan terjadi adalah fenomena ‘Bandot beli Kambing’.
BACA JUGA : Obat Puskesmas
Untuk Indonesia, sumbangan ekonomi religi cukup besar. Dinamika ekonomi yang berkaitan dengan hari-hari besar keagamaan sungguh terasa.
Ambil contoh pada bulan Ramadhan, penjual makanan dan minuman makin semarak. Dulu orang berjualan semata untuk membantu mereka yang tidak sempat mempersiapkan sajian buka puasa. Namun lama kelamaan lapak pasar Ramadhan dibuat agar yang berpuasa tak perlu repot-repot mempersiapkan hidangan untuk berbuka.
Dan karena dagangan buka puasa laku serta menguntungkan, banyak orang kemudian ikut serta berjualan. Pasar Ramadhan ada di mana-mana.
Perkembangan pasar Ramadhan yang terakhir bahkan semakin menunjukkan jika yang berburu takjil bukan hanya yang berpuasa. Kaum non muslim pun ramai-ramai berbondong-bondong menyerbu pasar Ramadhan. Saking antusiasnya, sampai-sampai yang berpuasa sering tak kebagian.
Jualan hewan kurban juga menguntungkan. Dan yang namanya untung pasti menggiurkan untuk banyak orang. Karena yang berjualan makin banyak, sementara waktu berjualannya pendek maka persaingan antar pedagang menjadi ketat.
Untuk memenangkan persaingan, pedagang mesti melakukan inovasi yang sifatnya persuasif sehingga menarik minat pembeli.
Dan memakai jasa SPG untuk mempromosikan dagangan menjadi satu pilihan yang masuk akal. Penampilan SPG di kandang hewan akan cenderung kontras sehingga menarik perhatian yang melihatnya.
Dengan ketrampilan publik speaking yang dimiliki oleh SPG, mereka juga bisa menerangkan dagangannya secara lancar sehingga bisa mempersuasi pembeli untuk menjatuhkan pilihan.
Soal penampilan, SPG selama ini memang digambarkan sebagai gadis cantik dengan penampilan seksi. Seperti yang sering ditunjukkan dalam pameran mobil, motor atau penjualan rokok. Padahal tidak selamanya SPG harus tampil sexy dengan baju yang seperti kurang bahan.
SPG bisa saja tampil elegan, seperti penyanyi dangdut kekinian yang tetap bisa mengajak pengemarnya bergoyang tanpa harus memancing dengan goyang-goyang yang berlebihan dan kostum yang menunjukkan kelebihan tonjolan tubuh penyanyinya.
Yang paling penting, semoga dengan kehadiran SPG di lapak-lapak penjual hewan kurban semangat masyarakat untuk berkorban semakin meningkat.
note : sumber gambar – KONTAN








