KESAH.ID – Paska pandemi layanan yang tadinya rajin membakar uang mulai harus mengetatkan pengeluaran untuk pemasaran dan penjualan. Berbagai macam kemudahan, diskon, subsidi dan lainnya mulai dihilangkan. Layanan yang tadinya dianggap memanjakan kemudian mulai terasa ‘mahal’ dalam kondisi tertentu. Meski begitu akan tetap ada kebiasaan yang bertahan namun dengan model yang berbeda dari sebelumnya.
Sejarah ekonomi dimulai dari pertukaran, seseorang punya sesuatu dipertukarkan dengan sesuatu yang dipunyai oleh orang lain jika kebutuhan keduanya klop. Namun lama kelamaan mencari yang cocok menjadi sulit atau merepotkan.
Seseorang yang punya beras namun butuh ikan belum tentu bisa bertukar dengan orang yang punya ikan namun ternyata butuhnya kayu bakar.
Persoalan pelik ini kemudian diatasi dengan kemunculan alat tukar yang kini dikenal sebagai uang. Dengan alat tukar yang mempunyai nilai tertentu dan diterima oleh semua pihak, ekonomi makin mengeliat, perdagangan meningkat karena transaksi menjadi semakin mudah.
Orientasi produksi berubah, bukan untuk memenuhi kebutuhan sendiri agar bisa dipertukarkan melainkan memenuhi kebutuhan pasar.
Pasar lahir untuk mempertemukan produsen dan konsumen.
Secara keilmuan dalam ekonomi kemudian muncul ilmu pemasaran.
Pada masa awal pemasaran berfokus pada produk. Yang besar dihargai mahal, yang kecil murah. Harga ditentukan oleh produknya.
Di Indonesia kita pernah mengenal istilah ‘Bangkok’ untuk menyebutkan segala sesuatu yang lebih besar dari pada umumnya. Seperti Ayam Bangkok, Jambu Bangkok, Pepaya Bangkok dan lainnya. Dengan ukuran yang lebih besar dari sejenisnya, yang dilabeli ‘Bangkok’ harganya lebih mahal.
Industrialisasi, penemuan teknologi produksi kemudian melahirkan produk-produk massal. Produsen butuh pasar yang lebih besar. Produksi yang besar mesti diserap oleh pasar. Maka penjualan menjadi tujuan.
Fokus para produsen kemudian tidak hanya menghasilkan produk yang bagus atau dibutuhkan oleh konsumen, melainkan juga mulai memperhatikan harga, sistem distribusi, tempat penjualan dan juga promosi untuk memperkenalkan produknya. Lahir teori pemasaran modern yang sering disebut sebagai 4 P {product, price, place dan promotion}.
Aspek pemasaran kemudian menjadi lebih luas, tidak hanya berfokus pada produk dan harga belaka. Konsumen mulai dipancing, diberi iming-iming. Tidak selalu yang dihasilkan oleh produsen adalah sesuatu yang dibutuhkan, produsen mulai menghasilkan sesuatu yang diinginkan.
Muncul pasar-pasar modern, pasar yang menarik dan memudahkan konsumen untuk membeli berbagai kebutuhan dengan mudah, nyaman bahkan menyenangkan.
Era ini ditandai dengan kemunculan supermarket, yang kemudian menjadi hypermarket dan mall serta trading centre. Perkembangannya dimulai dari sekitar tahun 80-an.
One stop service, ruang yang mempertemukan antara kebutuhan dan keinginan dalam satu tempat.
Kurang lebih 20 tahun kemudian muncul kecenderungan baru, pasar tidak lagi memanggil orang berkumpul melainkan mendekati kumpulan orang.
Muncul yang disebut sebagai convenience store, yang melupakan resizing dari supermarket atau hypermarket menjadi mini market yang menyediakan kebutuhan konsumen dan kemudian mendekati konsumen dengan mendirikan gerainya di keramaian atau permukiman-permukiman padat.
Berada di keramaian, konsumen bisa setiap saat pergi membeli sesuatu tanpa harus meluangkan waktu khusus seperti ketika ingin pergi ke mall atau hypermarket. Convenience store juga melengkapi dengan makanan minuman siap saji serta tempat untuk sejenak menikmatinya, atau nongki tipis-tipis.
Salah satu pionernya adalah Seven Eleven atau yang lebih kecil lagi Circle K. Namun kini yang populer adalah jaringan Indomaret, Alfamart dan lainnya.
BACA JUGA : Jangan Remehkan Kekuatan Sembako
Kemunculan jaringan convenience store dan minimarket menandai kecenderungan perilaku baru konsumen serta perkembangan marketing dan penjualan dari para produsen.
Kemudahan dan kenyamanan kemudian menjadi salah satu prioritas selain harga. Tempat yang strategis atau lokasi premium bukan lagi keutamaan. Sebab akses dan kepemilikan kendaraan telah semakin memudahkan masyarakat pergi kemana-mana.
Mall, hypermarket, trade centre dan lainnya berpola mengajak orang atau mengumpulkan orang. Untuk pergi konsumen mesti meluangkan waktu atau berencana.
Sementara jaringan convenience store dan minimarket justru mendekat ke konsumen dan melakukan downsizing supermarket. Barang yang dijual di minimarket adalah yang dibutuhkan sehari-hari oleh masyarakat, yang bisa diecer. Jumlah pegawainya juga lebih sedikit dan lain-lain sehingga operasional lebih rendah.
Walau begitu jika digabungkan, minimarket yang tersebar di berbagai wilayah dalam satu kota, bisa melebihi satu hypermarket.
Dibalik fenomena ini sebenarnya ada perubahan paradigma dalam pemasaran dan penjualan, minimarket mulai memasuki model pemasaran yang non tradisional karena mulai memasukkan pengalaman atau perilaku konsumen sebagai bagian dari marketing dan penjualan. Jaringan minimarket melakukan branding.
Tujuannya adalah membangun loyalitas pembeli, begitu perlu apa konsumen langsung ingat minimarket. Konsumen diusahakan menjadi pelanggan, datang berulang.
Dengan menjadi pelanggan maka konsumen kemudian akan turut menjadi pemasar. Jika mendengar atau melihat teman, kerabat, saudara atau siapapun yang butuh sesuatu, maka konsumen akan menyebut “beli saja di ….. “.
Bahkan convenience store yang menyediakan makanan dan minuman siap saji serta meja dan kursi untuk nongkrong sejenak berhasil menumbuhkan komunitas nongki-nongki, nongkrong di convenience store sampai menjadi sebuah ritual bagi konsumen tertentu dan rekan sebayanya.
Hingga kemudian muncul kelompok nongkrong di Seven Eleven, Circle K dan lain-lain.
Kemunculan internet dan perkembangannya kemudian membuat elemen yang disebut sebagai branding makin menguat. Bisnis tidak lagi berfokus pada produk, harga, tempat maupun promosi melainkan lebih berfokus pada perilaku pelanggan, baik perilaku yang bertumbuh secara organik maupun perilaku yang diarahkan lewat kampanye tertentu.
Konsumen menjadi semakin dimanjakan dengan layanan pesan antar lewat berbagai macam aplikasi yang menyatukan berbagai fungsi. Mulai pemesanan, pengantaran hingga pembayaran. Kesemuanya berada dalam satu genggaman.
BACA JUGA : Phone Snubbing, Dunia Kita Seluas 5 Inci
Dengan fokus mengakuisi pasar, meningkatkan jumlah pemakai, bisnis layanan konsumen berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik dalam melayani konsumen agar menjadi yang terdepan.
Layanan marketplace, ecommerce, delivery order dan lain-lain bersaing dengan cara membakar uang. Bukan hanya sekedar memberi diskon melainkan juga mensubsidi konsumen bahkan terkadang memberi ‘uang’.
Model ini mengantikan layanan yang dulu sering disebut sebagai fremium, mengratiskan fitur tertentu namun kemudian memunggut bayaran jika konsumen yang puas ingin layanan lebih.
Dengan dukungan atau investasi dari para pemilik modal, bisnis online jor-joran membakar uang untuk menumbuhkan budaya baru di kalangan konsumen. Jika budaya itu sudah terbentuk kemudian baru diberlakukan skema untuk mengembalikan modal dan meraih keuntungan.
Pandemi Covid 19, bisa disebut sebagai salah satu faktor yang memicu budaya baru dari baik pada produsen maupun konsumen. Pesan antar kemudian menjadi kebiasaan baru yang kemudian bertahan hingga sekarang karena infrastrukturnya telah terbentuk.
Dengan jumlah konsumen yang mulai membesar, penyelenggara layanan kemudian mulai memikirkan fase mencari untung. Dan perlahan tarif normal mulai diberlakukan, termasuk juga pengenaan biaya untuk layanan tertentu.
Dan bagi kaum mendang-mending, harga yang kini dikenakan oleh layanan pesan antar misalnya mulai terasa mahal jika dilihat dari jarak tempuh. Namun konsumen yang mulai terbiasa dengan layanan pesan antar tetap ingin menikmati apa yang dibeli sambil istirahat di rumah.
Maka konsumen akan pergi membeli sendiri namun yang dibeli dibawa pulang atau take away.
Bisnis yang memberi layanan take away akan tetap kuat, namun layanan pesan antar kemungkinan akan melemah karena konsumen mulai sensitif pada harga yang ditetapkan oleh operator.
Konsumen akan lebih selektif memilih dan cenderung akan memesan yang sedang melakukan promosi baik promosi harga barang atau kebutuhan yang dipesan atau promosi biaya pengantaran.
Sesuatu yang dipromosikan bebas ongkir, biasanya akan lebih cepat laku.
Tantangan bagi penyelenggara layanan pesan antar adalah mempertahankan bukan hanya mencari pemakai jasa baru, menjadikannya sebagai pelanggan namun juga bagaimana menjadi mereka sebagai loyalis, pemakai yang fanatik.
Memakai layanan harus menjadi kebiasaan atau ritual, sesuatu yang oleh mereka dijadikan sebagai kebiasan yang tak bisa ditinggalkan.
Sayangnya proses branding semacam ini untuk produk consumer seperti makanan dan minuman tidaklah mudah. Persaingan antar produsen makanan dan minuman sangat ketat, produknya tidak beda-beda jauh, soal kualitas, rasa maupun harga. Jarang ada yang sangat Istimewa.
Butuh proses dan perjalanan panjang dari sesuatu yang butuhkan lalu menjadi sesuatu yang diinginkan. Teknik-teknik pemasaran tertentu yang mampu membuat layanan menjadi viral, lalu keras sampai ngantri meski memberikan keuntungan namun biasanya tak tahan lama karena akan ditimpa oleh viralitas lainnya.
Dan branding tidak mengejar viralitas. Tetapi loyalitas tanpa batas.
Jadi bisnis itu tidak gampang, maka banyak yang lebih memilih hanya menjadi pedagang agar cepat cuan dengan cara menjual yang sedang laku tak peduli mereknya apa.
note : sumber gambar – FROYONION.COM







