KESAH.IDSepanjang sejarah Indonesia setelah jaman merdeka dan menyatakan diri sebagai negara demokrasi ada beberapa sosok yang secara publik dikenali sebagai punya keinginan besar menjadi presiden. Dari sekian nama itu hanya beberapa yang bisa mewujudkan keinginan, sekurangnya terdaftar di KPU sebagai capres atau cawapres. Dan Prabowo Subianto menjadi satu yang paling punya potensi untuk mewujudkan cita-cita itu, sekurangnya sampai menjelang Pemilu 2024 ini.

Selain ingin jadi Guru,Dokter, Pilot, Polisi atau Tentara, banyak anak kecil di Indonesia kalau ditanya setelah besar ingin jadi apa biasanya akan menjawah jadi Presiden.

Teramat jarang anak-anak itu menjawab ingin jadi Petani, Tukang Bakso apalagi Tukang Sambal.

Mungkin generasi terkini berbeda lagi jawabannya karena patron profesi yang keren sudah berubah. Barangkali anak-anak sekarang lebih ingin jadi Influencer, Konten Kreator atau E-Sporter. Sedangkan dalam soal politik mungkin mereka lebih ingin Wakil Presiden atau Ketua Partai.

Namanya cita-cita ya bebas saja seorang anak mau bercita-cita sebagai apa. Toh salah satu nasehat mulia yang paling terkenal adalah ‘Gantungkan cita-citamu setinggi langit’.

Hingga kemudian mereka yang generalis kerap bercita-cita yang juga teramat mulia yakni “Menjadi orang yang berguna untuk Bangsa, Negara, Agama dan Keluarga”.

Cita-cita yang kalau dioperasionalkan bakal dicapai jika seseorang menjadi Presiden.

Meski harapan hidup meningkat dalam beberapa dekade terakhir ini, namun cita-cita sebagai Presiden walau dibangun sejak kecil tak banyak yang bakal terwujud. Pemilu hanya dilakukan setiap 5 tahun sekali. Dan yang terpilih sebagai presiden bisa menjabat selama dua periode.

Artinya kemungkinan untuk ganti presiden hanya 5  tahun sekali atau bahkan 10 tahun sekali. Belum lagi kalau ada kecelakaan sejarah, Presiden yang terpilih berhasil mengakali ‘konstitusi’ sehingga tak diganti-ganti sampai meninggal, bosan atau digulingkan.

Indonesia yang sudah merdeka selama 79 tahun di tahun 2024 ini sampai dengan pemilu nanti baru akan punya 8 Presiden.

Dengan begitu rata-rata rotasi kepemimpinan terjadi selama 10 tahun sekali.

Maka kita mencatat banyak orang yang secara publik dikenal ingin menjadi presiden namun tak pernah terwujud bahkan hingga akhir hayatnya.

Yang lebih sering terjadi justru seseorang yang tidak pernah bercita-cita jadi Presiden ternyata malah terpilih. Contohnya Gus Dur atau Abdurahman Wahid. Dari berbagai cerita dan tesminoni yang punya keinginan untuk menjadi pemimpin bangsa justru ayahandanya yakni KH. Wahid Hasyim.

Tak heran jika Muhaimin Iskandar kerap bercerita bahwa satu-satunya Presiden yang bermodalkan dengkul hanyalah Gus Dur.  “Dengkulnya Amien Rais,” begitu kata Cak Imin.

Mungkin nama lain yang bisa disebut adalah Joko Widodo.

Saat ditanya bagaimana perasaannya menjadi Presiden Indonesia, Jokowi secara blak-blakan menjelaskan tidak pernah bercita-cita atau bermimpi menjadi Walikota, Gubernur dan Presiden.

Dan nyatanya memang begitu. Lagi-lagi dari berbagai cerita atau testimoni, Joko Widodo menjadi Walikota, Gubernur dan Presiden semua karena ajakan atau lebih tepatnya bujukan.

Maka kalau dibandingkan dengan Gus Dur dalam versi Cak Imin, yang lebih tepat disebut bermodalkan dengkul adalah Joko Widodo.

Sebab kalau dilihat dari track records-nya modal Gus Dur jelas bukan cuma dengkul. Gus Dur telah membangun kompentensi dan integritas sebagai pemimpin sejak muda lewat berbagai aktivitas dalam bidang intelektual, budaya, religi dan sosial politik sebagai jalan ninjanya.

BACA JUGA : Take Away Masih Kuat, Pesan Antar Bakal Melemah

Sebagai bangsa yang mengklaim dirinya mempunyai adat ketimuran memperlihatkan ambisi memang bukan sesuatu yang disukai oleh kebanyakan masyarakat kita. Pemimpin yang dianggap ideal oleh masyarakat adalah yang low profile.

Mereka yang cenderung agresif menunjukkan ambisi menjadi tidak populer dan bakal dianggap ‘kelajuan’ hingga kemudian ditumpas.

Jika kita jeli sebenarnya ada beberapa orang yang terus terang ingin jadi presiden dan kemudian berusaha untuk mewujudkannya namun sebagian besar belum berhasil hingga sekarang.

Yusril Ihza Mahendra yang dalam masa transisi dari orde baru ke orde reformasi berada dalam sistem menjadi salah satu sosok yang ingin jadi presiden. Bahkan nyaris jadi presiden pada tahun 1999 karena dia menjadi satu-satunya orang yang menyerahkan berkas yang menjadi syarat kepada Sekretariat Jenderal MPR.

Hanya batas waktunya kemudian diulur-ulur dan saat sidang dibuka pada jam 10.00, pemimpin sidang mengumumkan 3 nama. Muncul nama lain yakni Abdurahman Wahid dan Megawati.

Dan oleh kelompok poros tengah, Yusril didesak untuk mundur karena dianggap masih terlalu muda dan belum berpengalaman. Dan manuver politik dari kelompok poros tengah yang dimotori oleh Amien Rais akhirnya berhasil mengegolkan pasangan Abdurahman Wahid dan Megawati sebagai Presiden dan Wakil Presiden Indonesia tahun 1999.

Namun cita-cita dan keinginan Yusril Ihza Mahendra untuk menjadi Presiden tidak padam. Pendiri Partai Bulan Bintang ini membuat surat keterangan untuk maju dalam Pilpres 2024. Katanya untuk berjaga-jaga, siapa tahun Gibran Rakabuming Raka tidak bersedia dipilih sebagai cawapresnya Prabowo Subianto.

Celi atau Rizal Malarangeng seorang intelektual muda, pengamat politik dan politikus menjelang pemilu 2009 juga rajin mengkampanyekan dirinya sebagai calon presiden dari jalur independen.

Bisa jadi gagasan ini terpengaruh dengan sistem di Amerika Serikat tempat Celi menyelesaikan studi S2 dan S3-nya. Jalur independen untuk pencalonan presiden tidak dikenal dalam Konstitusi dan UU Kepemiluan di Indonesia.

Rizal yang memasang iklan kampanye di berbagai media nasional itu kemudian menyatakan mundur dari pencalonan karena merasa elektabilitasnya tidak naik setelah diupayakan beberapa waktu. Penyataan mundurnya dilakukan dengan mengumumkan bahwa Sekretariat RM9 tidak akan beroperasi lagi untuk kampanye menuju Pemilu 2009.

Sosok muda lain yang lebih punya modal politik adalah Muhaimin Iskandar. Setelah berhasil menguasai PKB, Cak Imin selalu mewarnai konstestasi pemilu dengan mengungkapkan keinginannya jadi Presiden.

Sampai-sampai putri Gus Dur sering mengolok-olok Cak Imin dengan ungkapan “Nyapres kok jadi hobby”.

Dan setelah berkali-kali pemilu, sekurangnya cita-cita Cak Imin mulai tercapai karena dirinya telah didaftarkan ke KPU sebagai Cawapres dari Anies Baswedan. Pasangan yang cocok karena hastag atau tagline menjadi pas dengan masyarakat Indonesia yang religius yakni Amin.

Masih ada sosok muda lainnya yakni Agus Harimurti Yudhoyono yang juga punya modal politik karena merupakan Katua Partai Demokrat. Namun rasanya tak perlu dibahas karena masuknya AHY dalam politik lebih mencerminkan cita-cita atau keinginan orang tuanya.

BACA JUGA : Jangan Remehkan Kekuatan Sembako

Nama-nama diatas mewakili mereka-mereka yang bisa dianggap masih muda. Namun ada nama lain yang mewakili sosok yang sudah sepuh. Dari kelompok ini sekurangnya ada dua nama yang sama-sama populer, yakni Prabowo Subianto dan Rizal Ramli.

Dalam buku berjudul Pemimpin Amanah, dengan sub judul Seni Memimpin Rizal Ramli Membawa Perubahan akan ditemukan alasan kenapa Rizal Ramli ingin menjadi presiden sekaligus kenapa dia gagal untuk mencapai keinginan itu.

Kita akan mengerti meski Rizal tahu caranya memimpin, memajukan ekonomi Indonesia termasuk menghabisi korupsi dan nepotisme, namun Rizal Ramli tak akan bisa menjadi calon presiden karena tak punya partai.

Sudah tak punya partai, Rizal Ramli juga dikenal suka bicara keras tentang partai. Dia kerap mengatakan “Indonesia tidak akan pernah mendapat pemimpin yang baik. Partai politik telah memonopoli jalur kelahiran pemimpin bangsa. Apalagi ada batasan suara parlemen 20 persen.”

Rizal Ramli yang memperjuangkan kehidupan berbangsa dan bernegara agar lebih baik sejak mahasiswa serta sempat meringkuk di penjara, akhirnya harus membawa kekecewaan itu sampai liang kubur. Rizal Ramli wafat di usia 69 tahun tak lama setelah menghadiri ulang tahun Jenderal Luhut Binsar Panjaitan yang ke 76 tahun.

Rizal Ramli gagal menjadi calon presiden karena kerap bicara keras dan apa adanya.

Masih lebih muda dari Jenderal LBP, namun lebih tua dari RR, Prabowo Subianto berhasil menjadi calon presiden dengan usia tertua kedua setelah Suharto yang menjelang 1997 berusia 76 tahun.

Kalau Rizal Ramli suka bersuara keras, Prabowo Subianto dikenal juga suka bertindak keras untuk mencapai cita-citanya. Prabowo dikenal ingin menggantikan mertuanya sebagai Presiden Indonesia. Kesempatan itu ada di masa transisi kekuasaan dari Orde Baru ke Orde Reformasi.

Untuk mencegah reformasi dan mengamankan kedudukannya, Prabowo bertindak keras, bukan hanya lewat suara tapi juga tindakan melenyapkan para penentang Suharto.

Tapi reformasi tak bisa dicegah dan posisinya menjadi sulit hingga kemudian Prabowo Subianto menyingkir sejenak dari Indonesia. Almarhum Taufik Kiemas dan Gus Dur yang punya jasa ‘memulangkan’ Prabowo ke Indonesia.

Prabowo memulai jalan ninjanya dengan mengikuti konvensi Golkar, namun tak terpilih. Hingga kemudian mendirikan partai sendiri yang dinamai Gerakan Indonesia Raya. Prabowo selalu ingin tampil sebagai sosok nasionalis.

Dengan partainya, Prabowo selalu mengikuti kontestasi pemilu presiden. Pertama kali berpasangan dengan Megawati Sukarno Putri tapi kalah melawan Susilo Bambang Yudhono. Dan kemudian berpasangan dengan Hatta Rajasa, namun lagi-lagi kalah dengan Joko Widodo.

Masih belum kapok, Prabowo maju kembali melawan Joko Widodo dengan mengandeng Sandiaga Uno sebagai pasangannya. Namun Prabowo kembali kalah.

Tapi Prabowo tetap kukuh dan maju kembali dalam Pilpres 2024 lewat persekutuan dengan lawannya di dua pemilu terakhir ini.

Dan nampaknya di usia senjanya Prabowo Subianto menjadi salah satu yang bercita-cita ingin jadi presiden sejak kecil dan punya potensi untuk mewujudkannya.

Andai tidak terwujud, masih ada satu kids jaman now yang akan meneruskan cita-cita itu.

Sang bocah itu bernama Jan Ethes.

Bocah ini kalau ditanya ingin jadi apa kalau sudah besar, selalu menjawab “Kayak Mbah Jokowi,”

note : sumber gambar – CNNINDONESIA.COM