KESAH.ID – Dulu nasehat yang populer adalah jangan memandang dunia sangat sempit, dunia ini maha luas maka jangan cepat putus asa. Namun kini ternyata dunia makin disempitkan, dari selebar layar PC, disempitkan ke selebar layar laptop hingga kemudian menjadi selebar layar smartphone. Dan kita masih gagap menghadapi realita dunia yang hanya sebesar 5 inchi ini.
Dunia tidak selebar daun kelor, peribahasa ini begitu populer dipakai untuk menyemangati mereka yang kendor semangatnya atau putus asa ketika berhadapan dengan kegagalan. Intinya ketika melakukan sesuatu lalu menemui kendala atau kegagalan tidak berarti dunia berakhir karena masih ada banyak kesempatan atau peluang lain.
Tapi kenapa dunia yang maha luas itu dikontrakan dengan daun kelor?. Bukankah banyak daun lainnya yang lebih kecil?.
Entahlah, barangkali karena daun kelor berbentuk bulat, seperti bumi yang juga berbentuk bundar.
Tapi kini peribahasa itu sepertinya kurang populer. Daun kelor lebih populer sebagai bahan sayur, teh dan lainnya yang dianggap penuh khasiat.
Dan sesuai dengan jaman dan teknologi, dunia tidak selebar daun kelor kini diganti menjadi dunia tidak selebar layar HP.
Walau begitu konteksnya memang agak berbeda. Kalau dulu orang tua mengajarkan kepada yang muda-muda untuk melihat dunia secara luas. Kini orang tua khawatir karena anak-anaknya hanya melihat dunia dari layar 5 inchi.
Tapi layar 5 inchi itu tidak mewakili sempitnya dunia, melainkan sikap atau perilaku yang kurang peduli pada kesekitaran, perilaku asyik dengan dunianya sendiri.
Bagaimana tidak asyik sendiri karena dalam dunia 5 inchi itu ada banyak dunia, dunia dengan warga dan hiruk pikuknya masing-masing.
Dan bagi sebagian orang-orang tua, generasi lampau, dunia itu adalah dunia yang asing.
Generasi lampau yang dekat dengan televisi, PC dan laptop mungkin memang shock melihat generasi terkini yang sama sekali tak tertarik menonton televisi dan menulis atau bekerja dengan PC dan laptop. Generasi kini melakukan semua yang dilakukan generasi terdahulu hanya dengan gadget yang lebarnya 5 inchi.
Apapun yang dilakukan oleh generasi terkini semua diabdikan untuk dunia 5 inchi. Mereka masih suka makan-makan dan nongkrong-nongkrong, tapi bukan untuk ngobrol melainkan memotret dan merekam untuk bikin konten.
Mereka juga suka piknik dan jalan-jalan, tapi bukan untuk menikmati alam, merasakan dunia yang berbeda dengan keseharian tapi lagi-lagi juga untuk memotret dan merekam sebagai bahan konten.
Meski hadir di sebuah tempat, berada dalam situasi atau kondisi tertentu yang bisa dilihat dengan mata, namun mereka lebih suka melihatnya dengan bantuan kamera. Apa yang terlihat di kamera itulah dunia mereka.
Asyik dengan gadget saat berada bersama atau berada dengan orang lain kemudian melahirkan istilah Phone Snubbing. Istilah ini merujuk pada sikap atau perilaku dimana seseorang mengabaikan orang lain karena terlalu terfokus pada layar smartphone-nya.
Fenomena phone snubbing dengan mudah dilihat di berbagai tempat, ambil contoh tempat-tempat nongkrong dimana sekelompok orang yang ada di meja yang sama ternyata tidak berinteraksi satu sama lain, mereka asyik dengan gadget masing-masing.
Saat bersama dengan keluarga, teman, sahabat atau situasi sosial lainnya, seseorang justru asyik memeriksa pesan teks, media sosial atau bahkan bermain game.
BACA JUGA : 300 T Untuk Masi Misu
Bagi generasi tertentu fenomena phone snubbing merupakan fenomena biasa, anak-anak millennial muda dan generasi Z terbiasa janjian bertemu disatu tempat untuk mabar, main bareng. Dan kemudian interaksi asyiknya bukan antar teman di dunia nyata tapi justru di dunia maya.
Bagi generasi lampau terutama kelompok digital migran, fenomena ini tentu dianggap sebagai fenomena negatif yang berdampak pada hubungan sosial. Atau dalam tata nilai tertentu asyik dengan gadget saat ada orang lain dianggap sebagai tidak sopan.
Phone snubbing dalam masyarakat feodal memang melahirkan masalah. Yang lebih tua, yang merasa lebih terhormat dengan mudah akan merasa diabaikan, tidak dihormati sehingga merasa tidak nyaman bahkan mungkin tersinggung.
Sementara pada generasi oral, gejala phone snubbing bisa membuat orang tersisih, merasa kesepian karena tidak dilibatkan dalam interaksi interpersonal. Berada bersama untuk masyarakat oral dianggap belum meng-ada tanpa interaksi wicara diantara mereka.
Masalahnya dunia berubah dengan cepat ketika generasi oral masih bertahan dengan norma dan nilai lama, generasi baru telah tumbuh dalam lingkungan digital. Lingkungan yang melahirkan generasi visual.
Meski sama-sama menyukai cerita atau kisah namun caranya sudah berbeda. Jika generasi sebelumnya bercerita atau menikmati cerita dengan berkumpul dan saling bertukar kata, generasi terkini asyik mengkonsumsi dan membagi cerita dengan media digital.
Mereka tetap hangat dan dekat dengan yang lainnya namun dengan cara berbeda dari generasi sebelumnya. Jika generasi sebelumnya tidak afdol kalau tak bertatap muka, generasi digital merasa sudah bertemu lewat platform streaming, video calling, chatting dan lain sebagainya.
Fokus pada layar yang lebarnya hanya lima inchi tidak bisa disamakan dengan ‘dunia tidak selebar daun kelor’. Sebab dalam layar 5 inchi itu ada dunia digital yang maha luas, dunia maya yang lebarnya berlipat-lipat dari sekedar kumpul-kumpul hangat satu kelompok di meja tempat tongkrongan.
Dunia sepertinya tak lagi pararel antara yang nyata dan maya. Banyak orang terkaget-kaget kalau seseorang yang dianggap biasa saja di lingkungan nyata, ternyata viral di dunia maya, banyak pengikut dan lain sebagainya.
Yang diam-diam di kamar, seperti tak pergi kemana-mana bukan berarti tidak gaul. Bisa jadi pergaulannya ada di ruang maya. Kondisi seperti ini hampir tak dipahami oleh generasi yang dulu menganggap diri gaptek, namun lama kelamaan mesti memakai gadget digital karena yang manual mulai menghilang.
Spektrum ruang digital yang maha luas, oleh generasi ‘tua’ kurang dipahami secara mendalam. Pemahaman terhadap apa yang bisa dilakukan di ruang digital juga terbatas. Dikira karena tidak membaca buku, koran atau majalah, generasi layar 5 inchi dianggap kurang pengetahuan, kurang informasi. Padahal jangan-jangan yang merasa bangga membaca buku dan merasa literer ternyata malah ketinggalan info-info terkini.
Benar layak 5 inchi tentu saja ada negatifnya, seperti banyak hal lainnya. namun menilai perkembangan dengan memori masa lampau dan semangat mengagungkan yang sudah-sudah juga tak terbukti benar. Toh pada akhirnya yang diagung-agungkan oleh generasi sebelumnya juga mengalami senja kala, gagal dipertahankan.
Yang mesti dipastikan justru dunia 5 inchi itu membawa kebaikan, kebaikan bersama. Dan bisa jadi ekpresi kebaikan itu berbeda dengan jaman-jaman sebelumnya. Yang disebut hangat dan akrab tidak selalu berarti ketawa-ketiwi bersama karena saling pandang satu sama lain di tempat tongkrongan.
BACA JUGA : Selera Saya Soal Capres Dan Cawapres
Isu perubahan menjadi isu abadi bagi politisi, pendidikan, aktifisme, religi dan lain-lain namun pada akhirnya tanpa gembar-gembor, kotbah, kelas, seminar motivator dan endorsement lainnya yang paling cepat merubah masyarakat adalah teknologi.
Yuval Noah Harari dalam Sapiens menuliskan bahwa perubahan yang cepat dari komunitas manusia sehingga meninggalkan komunitas hewan adalah penemuan teknologi untuk menguasai api.
Setelah itu akselerasi kemudian terjadi karena kelompok manusia kemudian menguasai teknologi budidaya. Masyarakat jaman ‘mengitari api’ dengan cepat berubah ketika memasuki jaman bercocok tanam. Semua struktur dalam masyarakat berubah karena muncul diversifikasi profesi di jaman ini, yang kemudian disusul dengan munculnya pemerintahan.
Jaman bercocok tanam melahirkan feodalisme dan aristokrasi yang kemudian ditumbangkan oleh revolusi industri, penemuan teknologi mesin. Manusia kemudian memasuki masa modern dimana muncul penguasa-penguasa ekonomi atau kaum industrialis.
Temuan mesin semakin mempercepat perubahan dalam masyarakat, tidak perlu waktu ratusan tahun untuk terjadi perubahan massal. Terlebih ketika teknologi mesin kemudian mulai dilengkapi dengan kecerdasan buatan. Teknologi kemudian menjadi semakin terpesonalifikasi.
Salah satu puncak dari perkembangan teknologi adalah konvergensi, menyatukan berbagai alat dan fungsi hanya dalam satu genggaman, contohnya adalah smartphone.
Hampir semua fungsi produktifitas dan komunikasi ada di dalam smartphone. Alat dalam genggaman ini merubah dunia karena kemudian menghadirkan dunia baru yang disebut dunia maya, dunia digital atau virtual.
Dunia lama menyakini pergaulan adalah tatap muka, hadir bersama seperti orang Jawa kerap mengatakan ‘Mangan ora mangan sing penting kumpul,”.
Prinsip ini patah dengan hadirnya media sosial dimana orang bisa berinteraksi kapan saja, dengan siapa saja dan dimana saja tanpa kelihatan ngumpul. Bahkan mereka yang dikira penyendiri ternyata sedang asyik bersosialisasi dari dalam kamar.
Jika dijaman sebelumnya gambaran seorang pelajar atau pembelajar yang bakal sukses ialah seorang anak yang sekolah di sekolah favorit, rajin belajar di meja yang penuh buku, sering pergi ke perpustakaan dan lainnya, kini bahkan mereka yang sukses menjadi pembelajar jauh dari kesan itu. Mereka bisa jadi anak-anak yang dikira suka rebahan, berkutat dalam kamar dikira tidur-tiduran namun ternyata belajar sendiri dari berbagai platform dan mengikuti kelas-kelas terbaik melalui internet.
Pun demikian dengan orang sukses yang digambarkan sibuk kesana kemari, bertemu banyak orang, kerja di kantor mentereng. Kini bisa jadi orang sukses itu adalah orang yang tidak kemana-mana, seperti diam-diam di rumah, selalu melihat ke layar smartphone, bicara sendiri pada layar dan seterusnya namun ternyata jualannya beromzet milyardan.
Sekali lagi semua selalu ada positif dan negatifnya. Namun terkadang kita tak lagi bisa memilih di dunia mana dan seperti apa kita akan berada. Terutama jika kita berada di negara rata-rata, negara yang tidak punya kekuatan untuk menjadi pencipta teknologi hingga kemudian lebih berlaku sebagai pengkonsumsi teknologi.
Akibatnya selain kerap membanding antara yang hari ini dan yang lampau serta berandai-andai untuk terus bisa dalam kelampauan dengan semua nilai baiknya, kita juga sering membanding-bandingkan dengan bangsa lain dan ingin menjadi seperti bangsa lain.
Padahal orang Jepang menjadi begitu karena dididik dengan cara Jepang, demikian pula dengan orang Finlandia. Hanya meniru satu atau dua aspek saja tak akan membuat kita punya keutamaan-keutamaan ala mereka.
note : sumber gambar – OSC.MEDCOM.ID







