KESAH.ID – Banyak yang sinis pada janji kandidat capres dan cawapres yang akan memberi makan siang dan minum susu gratis untuk siswa jika mereka menang pemilu 2024. Padahal janji ini bagus saja dan makan siang serta minum susu gratis untuk para siswa adalah hal lazim di banyak negara, bahkan di negara-negara maju. Jadi tak perlu mengejek dengan mengatakan 300 T hanya untuk membuat toilet penuh. Makan siang dan minum susu diperlukan oleh siswa-siswa kita, maka siapapun yang nanti menjadi presiden baik berjanji atau tidak, program ini memang layak untuk dilakukan.
Ada dua masa dalam hidup saya dipaksa untuk makan teratur, 3 kali sehari. Bukan di rumah tetapi di asrama.
Di rumah tentu saja ibu dan bapak juga berusaha agar saya serta saudara lain tertib makan 3 kali sehari, namun banyak kali gagalnya. Saya bisa mangkir pagi dengan alasan mesti cepat-cepat berangkat ke sekolah, pun demikian juga ada banyak alasan untuk makan siang dan malam.
Tapi di asrama tidak bisa demikian, mangkir makan berarti bakal kelaparan.
Saya pertama tinggal di asrama saat SMA, ketika saya mengikuti Kelas Persiapan Akhir di Kolese Petrus Kanisius, Mertoyudan. Setahun saya tinggal di asrama, di sekolah yang tidak ada kantinnya.
Setamat asrama Mertoyudan, saya melanjutkan ke Sekolah Tinggi yang juga berasrama. Sama saja, sekolah yang juga tak ada kantinnya. Meski lebih longgar aturannya dibanding dengan asrama setingkat SMA, namun tetap saja kalau melewatkan jam makan bakal kelaparan.
Jika digabungkan antara tingkat SMA dan Pendidikan Tinggi maka saya berada di dalam asrama kurang lebih 5 tahunan.
Pengalaman sekolah dan diberi makan di sekolahan {asrama sekolah} membuat saya tak heran dengan salah satu program yang dijadikan unggulan oleh Prabowo – Gibran. Pasangan capres dan cawapres ini punya rencana jika menang pemilu akan memberikan makan siang gratis, kepada siswa baik di sekolah umum maupun sekolah keagamaan, juga kepada ibu-ibu hamil.
Program makan siang gratis plus pemberian susu kepada anak-anak sekolah bukanlah program yang Istimewa dan juga bukan program yang genuine lahir dari kecermelangan pemikiran mereka. Program seperti ini lazim di berbagai negara, ada ratusan negara telah menerapkannya.
Dan jangan mengira program makan siang dan minum susu gratis untuk pelajar itu hanya ada di negara-negara miskin atau berkembang, justru program semacam ini malah menjadi semacam keharusan di negara-negara maju.
Program semacam ini di banyak negara maju bukan bertujuan untuk mengatasi kelaparan, melainkan merupakan bagian dari pembangunan sumberdaya manusia agar generasi penerus sehat karena memperoleh asupan makanan yang bermutu.
Bahwa program semacam ini akan menguras uang negara memang benar. Andai dijalankan sehari mungkin dibutuhkan uang satu trilyun. Dengan demikian setahun akan diperlukan kurang lebih 300 trilyun.
Nah buat kaum mendang-mending, angka ini bisa dipakai untuk membangun Ibu Kota Negara setahun sekali. Sehingga semua daerah kelak akan merasakan pernah menjadi Ibu Kota Negara.
Tak usah heran jika kemudian ada yang sinis dan mengatakan “300 trilyun hanya untuk berakhir di toilet, jadi tai,”
Okelah, kritis boleh tapi sinis jangan.
Sebab memberi makan siang yang bermutu dan minum susu untuk anak-anak sekolah pasti baik. Jadi tidak usah disoal. Kalaupun ada yang perlu disoal adalah bagaimana mewujudkan program itu, seperti apa pelaksanaan, siapa yang melakukan dan dampak atau resiko apa yang mesti dimitigasi.
Dan buat saya, kalaupun Prabowo – Gibran tidak menang, dan pemilu presiden dimenangkan oleh Ganjar – Mahfud atau Anies – Muhaimin, program Makan Siang dan Minum Susu ini bisa tetap diwujudkan karena memang diperlukan oleh para pelajar kita dan juga ibu-ibu hamil.
BACA JUGA : Selera Saya Soal Capres Cawapres
Meski berpotensi membuat anak-anak menjadi gemoy dan ngantuk di siang hari karena kekenyangan, Program Makan Siang dan Minum Susu ini tak perlu dipuji tapi juga tak usah dicaci.
Di banyak tempat program semacam ini yang diistilah dengan MaMi {Makan Minum} memang sempat tidak terpuji. Pertama karena anggaran MaMi justru dialokasikan untuk pegawai dan wakil rakyat.
Ini agak aneh karena pegawai atau aparatur negara sudah digaji dan diberi aneka tunjangan, pun demikian dengan wakil rakyat. Maka program MaMi untuk mereka kemudian menjadi kontroversial. Dan lebih sialnya ternyata di beberapa daerah program ini justru dikorupsi oleh para pelaksananya.
Tahun 2017, kasus korupsi anggaran MaMi ini terjadi di Kabupaten Bangka Selatan. Sebelumnya kasus yang sama juga terjadi di Garut. Dan masih banyak kasus serupa yang terus terjadi hingga tahun 2023, seperti yang disidangkan di Kota Ambon, Indramayu, Papua Barat, Sibolga dan lain-lain.
Tapi kasus dana MaMi yang dikorupsi tidak berarti rencana program atau bantuan MaMi itu jadi buruk, yang buruk adalah pelaksanaannya.
Sebab ada juga program bantuan MaMi yang pelaksanaannya baik. Yang bisa dicontoh misalnya Banyuwangi. Program bantuan makan gratis untuk penduduk itu dilakukan di jaman Abdullah Azwar Anas masih menjabat sebagai bupati.
Meski sama-sama menjadi tai, namun bukan tai koruptor yang memenuhi toilet.
Bupati Azwar Anas waktu itu mengalokasikan puluhan milyard rupiah dana di APBD untuk memberi makan gratis penduduk miskin, janda, orang tua dan masyarakat yang tak berdaya lainnya.
Mereka yang menjadi sasaran bantuan didata, mulai dari tingkat RT, RW, kelurahan atau desa. Dan kemudian dikelompokkan dalam kluster-kluster yang terdiri dari 50 orang.
Selain untuk memberi bantuan makan yang layak, program ini juga digunakan untuk membangkitkan wirausaha setempat, khususnya wirausaha katering. Untuk satu kelompok yang terdiri dari 50 orang ditunjuk satu usaha katering.
Dengan begitu, program bantuan makan gratis ini kemudian memunculkan usaha-usaha katering di tingkat desa, masyarakat bukan hanya dapat makanan gratis tetapi juga ada uang yang berputar di desa.
Dengan keterbukaan informasi, masyarakat tahu berapa anggaran untuk program bantuan makanan gratis. Dengan begitu masyarakat bisa turut mengawasi mutu makanan yang disajikan. Apakah sesuai dengan harga yang ditentukan atau tidak.
Bahwa pengusaha katering cari untung tentu bisa dimaklumi, namun jika mengambil untungnya terlalu besar masyarakat akan tahu dan bisa saja diganti. Untung terlalu besar akan menjadi salah satu pertanda tidak beres, bisa jadi bukan pengusaha yang mengantongi semua melainkan ada unsur lain yang ingin kecipratan rejeki.
Dengan program bantuan makanan gratis kemudian ada ratusan perusahaan katering yang hidup. juga ada banyak tenaga kerja yang terlibat, termasuk vendor-vendor lainnya yang kecipratan rejeki atau omzet. Program ini kemudian turut mengerakkan ekonomi di masyarakat.
Dengan niat yang benar-benar ingin membantu dan bukan untuk cari untung dari alokasi dana bantuan, niscaya pemerintah dan aparaturnya bisa membuat ekonomi bergerak.
BACA JUGA : Tongseng Asu Dan Tahun Baru
Adalah salah jika kita mengira bahwa pemberian makan siang gratis di sekolah adalah ciri khas program negara miskin atau negara terbelakang. Sebab Finlandia yang jelas bukan merupakan negara miskin dan terbelakang telah menerapkannya sejak tahun 1948, program itu diatur dalam Akta Pendidikan Dasar.
Semua murid di Finlandia mulai dari siswa day care hingga sekolah upper secondary dan vokasi menerima makan siang gratis, makan yang disajikan selagi hangat bukan makanan yang diawetkan. Seporsi piring terdiri dari menu utama yang sehar, salad, susu atau minuman lain dan roti.
Program makan siang ini merupakan bagian dari kurikulum sekolah agar setiap siswa tetap bersemangat hingga jam pelajaran berakhir karena memperoleh asupan gisi yang cukup untuk energi belajar.
Lewat program ini siswa juga belajar mengenai kesehatan, nutrisi, sikap dan perilaku ketika makan serta budaya makanan.
Beberapa sekolah bahkan mengembangkan program makan siang gratis, mereka bahkan menawarkan makan malam gratis untuk pelajar-pelajar yang berasal dari keluarga yang tidak mampu.
Sekolah juga akan melayani siswa dengan kebutuhan khusus entah karena faktor kesehatan, agama maupun budaya sehingga memerlukan makanan yang khusus tanpa tambahan biaya.
Bagaimana program makan siang di sekolah-sekolah Finlandia mungkin bisa jadi bahan pelajaran, namun yang dilakukan di Banyuwangi juga tak kurang baiknya.
Sistem seperti apa untuk mewujudkannya menjadi penting agar program makan siang dan minum susu gratis ini punya dampak ikutan yang lebih luas, baik untuk pengembangan sumberdaya manusia, ekonomi lokal, lingkungan hidup dan lain-lain.
Ambil contoh soal ekonomi dan lingkungan hidup. Program ini bisa menumbuhkan ekonomi lokal, misalnya bahan yang dipakai untuk menyiapkan makan siang mesti berasal dari petani atau peternak lokal. Dengan demikian program ini akan memajukan pertanian dan peternakan setempat.
Dengan persyaratan tertentu misalnya soal kandungan residu dalam bahan makanan, maka petani dan peternak kemudian akan melakukan budidaya secara ramah lingkungan. Dengan model budidaya ini maka lingkungan yang berkelanjutan akan terjaga.
Masih banyak inovasi atau kreatifitas lain yang memungkinkan program makan siang dan minum susu ini melahirkan kebaikan-kebaikan yang menjadi dasar dari tugas dan tanggungjawab negara untuk mensejahterakan warga atau rakyatnya.
Satu yang perlu dijaga jangan sampai program yang bersifat populis ini dirumuskan oleh calon atau kandidat tertentu demi membalas jasa bagi pihak-pihak tertentu jika menang nanti.
Bayangkan jika program bernilai 300 T ini diserahkan pada pihak tertentu maka yang dapat seperti tengah kejatuhan rezeki nomplok. Usaha atau perusahaannya langsung menjadi perusahaan raksasa, yang punya tak butuh waktu lama untuk masuk dalam daftar orang kaya se Indonesia.
Jika ini terjadi maka terlalu mahal ongkos yang harus dikeluarkan untuk satu sampai dua septic tank saja.
note : sumber gambar – KEMENDIKBUD.GO.ID







