KESAH.ID – Anjing sebenarnya lebih dikenal sebagai binatang peliharaan, baik untuk berjaga maupun sebagai teman tuannya. Namun kuliner yang berbahan daging anjing ternyata populer di beberapa daerah. Di Jawa dikenal Tongseng Asu {Sengsu}, Rica Rica Asu atau bahkan disebut sebagai Jamu. Di Batak ada Sangsang dan di Minahasa atau Manado dikenal sebagai RW. Pantas atau tidak pantas, tahun baru sering kali menjadi kesempatan para pemangsa anjing melakukan ritual jamuan untuk menyambut pergantian tahun.
Dulu setiap menjelang tahun baru, saya dan teman-teman sepergaulan sibuk mempersiapkan acara tahun baruan. Bisa dibilang perayaan tahun baru merupakan sebuah ritual, acara rutin yang wajib dilakukan atau tak bisa dilewatkan begitu saja.
Maklum saya dan teman sepermainan waktu itu adalah generasi kurang acara. Maka hari-hari besar atau hari Istimewa sebisa mungkin dirayakan, dijadikan acara.
Seingat saya hal-hal yang mestinya mudah kami buat jadi sulit biar lebih gayeng. Seperti ziarah pada bulan devosi Bunda Maria. Ziarah mestinya mudah saja, ngumpulin teman lalu naik bis ke Gua Maria di Sendang Sono.
Tapi ziarah dengan naik bisa nggak seru, maka kami buat ziarah dengan jalan kaki. Saya dan teman-teman yang mbeling biasanya pagi berangkat dari Purworejo jalan kaki ke Kaligesing tepatnya Kali Kotak untuk menunggu teman-teman lain yang akan datang sore hari.
Menjelang malam kami akan berangkat jalan kaki dari Kali Kotak menyusuri punggung perbukitan Menoreh menuju Boro, yang akan dicapai besok menjelang subuh. Dan begitu sampai di depan Gua Maria, Sendang Sono kami sudah lelah.
Tapi begitulah cara kami untuk mendapatkan cerita, kisah dan pengalaman hidup.
Dan bersama rekan-rekan mbeling itu pula menjelang Tahun Baru biasanya kami mencari anjing. Anjing yang akan dibunuh dan dimasak untuk merayakan tahun baru. Persiapannya sibuk sekali karena tak gampang untuk mencari tempat dimana anjing akan dimasak. Ibu-ibu kami biasanya tak sudi jika dapurnya dipakai untuk memasak anjing, “Ora ilok” kata mereka.
Jadi pada akhirnya kami biasa masak di pekarangan, di rumah teman yang jauh dari rumah tetangga lainnya.
Saya nggak tahu kenapa juga kami mesti memasak anjing, padahal bisa lebih mudah andai kami mau memasak ikan atau ayam. Ibu-ibu kami pasti mendukung bahkan mungkin akan memasakkan.
Tapi sekali lagi mungkin ini soal narasi, tahun baru menjadi lebih bermakna dan lebih punya memori karena ada cerita dibaliknya. Dan memasak anjing akan lebih punya cerita dibanding masakan-masakan lainnya.
Seingat saya waktu itu saya sebenarnya tak terlalu antusias untuk pingin makan masakan daging anjing. Sibuk bersama teman adalah bagian dari solidaritas, karena di jaman itu penting sekali untuk punya teman. Maka yang disebut tekanan kelompok menjadi sangat besar.
Ikut sibuk dan mendukung keputusan kelompok penuh dengan komitmen menjadi syarat untuk diterima penuh menjadi bagian sebuah kelompok, kalau tidak maka saya hanya akan dijadikan sebagai anak bawang.
Saya juga sudah lupa seperti apa rasa masakan kami waktu itu, mungkin enaknya karena makan ramai-ramai dalam situasi bersenang-senang. Bagaimana memasak daging anjing, kami tak punya referensi. Semua dilakukan berdasarkan cerita-cerita atau kisah-kisah para senior. Dan para tetua itu sudah punya kebiasaan dan acara sendiri sehingga tak mungkin mementori kami.
Jadilah kami hanya meraba-raba seperti apa resepnya. Dan bisa dipastikan hasilnya tidak akan senikmat Sengsu atau Tongseng Asu yang waktu itu populer di sekitar Muntilan atau Klaten.
BACA JUGA : Merayakan Wedhus
Dari Bapak yang pernah tinggal di Samosir karena menjadi guru muda disana, saya mendengar cerita tentang orang-orang sana yang biasa memasak daging anjing. Nama masakannya Sangsang {dibaca : saksang}.
Saksang adalah cara masak atau nama masakan, dimana daging dicincang kecil-kecil dan kemudian dimasak dengan bumbu-bumbu dengan disertakan darah hasil sembelihan. Bahan saksang tidak hanya daging anjing, tetapi juga babi dan kerbau.
Maka secara populer kemudian muncul istilah B1 dan B2. Daging anjing disebut B1, berasal dari kata biang, yang dalam bahasa Batak artinya anjing. Sedang B2 merupakan sebutan untuk babi.
Meski mungkin bapak saya pernah menjadi pemakan anjing sewaktu tinggal di Samosir, namun kebiasaan itu tak ikut dibawa pulang ketika kembali ke Purworejo. Sejauh ingatan saya, bapak bahkan tidak termasuk pendukung ketika mendengar saya dan teman-teman akan memasak anjing.
Saya pernah sekali ke Medan dan Pematang Siantar, namun tak ingat cerita bapak saya sehingga tak mencari-cari B1 disana. Saya justru lebih menikmati jus terong Belanda ketika transit di Medan dan kemudian merasakan panas kemranyas di badan karena setelah menyantap durian di pinggir Danau Toba kemudian dilanjutkan dengan meneguk tuak yang dijual di Lapo pinggir jalan.
Masakan B1 justru saya nikmati ketika berada di Yogyakarta. Dulu di Malioboro ketika malam saat pedagang kain, kaos dan lain-lain kukut, di dekat ujung Malioboro dekat Stasiun Tugu ada lapak yang berjualan masakan Batak. Jika sedang di Yogya, saya biasa mengunjunginya memesan seporsi B1 yang ditemani dengan sayur daun singkong tumbuk. Bukan ‘Makan daging anjing dengan sayur kol’ sebagaimana yang dipopulerkan oleh Band Punxgoaran yang berasal dari Siantar itu.
Oh, iya saya jadi terbiasa memakan daging anjing ketika tinggal di Sulawesi Utara, tepatnya di Minahasa dan Manado.
Masakan daging anjing menjadi salah satu yang populer dalam khasanah kuliner Minahasa dan Manado, sebutannya RW.
RW adalah singkatan dari Rintek Wuuk dalam bahasa Minahasa yang artinya bulu halus.
Sejak jaman leluhur, masyarakat Minahasa memang sudah mengkonsumsi daging anjing, namun yang dimakan adalah daging anjing piaraan bukan anjing liar.
Namun karena daging anjing kemudian menjadi salah satu daging yang ekonomis, kemudian juga memunculkan pencuri anjing, sebutannya dogger. Malam-malam biasanya mereka akan melewati satu ruas jalan tertentu dan menebar racun yang disebut bola-bola. Bulatan yang dibuat dari bahan yang disukai oleh anjing itu sudah dicampur dengan potas.
Anjing yang memakannya akan sekarat. Dan karena racun ditebar di pinggir jalan biasanya anjing akan terkapar juga di dekat jalanan sehingga para dogger akan memunguti sambil berjalan pulang.
Tak sulit untuk menemukan menu RW di Minahasa dan Manado karena hampir setiap rumah makan Minahasa selalu menyajikan dalam daftar menunya. Rumah makan Minahasa memang terkenal dengan kuliner-kuliner ektrim, demikian sebutan ketika televisi mulai subur dengan acara variety show kuliner.
Dalam kehidupan sehari-hari di Minahasa dan Manado juga tak sulit menemukan RW, karena setiap acara Istimewa atau besar hampir dipastikan ada sajian itu. Bahkan kaum bapak-bapak juga sering bikin acara sendiri, acara piknik.
Biasanya bersama dengan teman-teman sepergaulan mereka berkumpul di kebun dan memasak-masak. Salah satu yang dimasak adalah anjing yang akan dipakai sebagai tola-tola atau peluncur saat minum saguer, cap tikur, saledo atau pinaraci.
Saya yang kala itu tinggal di asrama, pada kesempatan tertentu yakni hari komunitas {group} bersama dengan teman-teman satu kelompok diperbolehkan masak sendiri sambil outing. Dalam kesempatan itu biasanya menu masakan RW menjadi salah satu pilihan Istimewa.
Dan soal memasak RW, teman-teman yang berlatar etnis Minahasa tak perlu diragukan lagi kehandalannya.
BACA JUGA : Ibu Kota Yang Ditambang
Era menjadi pemakan anjing berlalu ketika saya pindah dari Manado ke Samarinda. Bukan karena tak ada, melainkan karena lingkungan pergaulan yang berubah dan jauh dari kebiasaan memakan daging anjing.
Bukan tak pernah makan sama sekali, tapi bisa dihitung dengan jari. Kalau tak salah waktu itu ada warung Minahasa di Jalan Flores. Dan satu kali ketika saya singgah disana terlihat ada menu yang tidak asing. Dan sayapun memesannya. Namun setelah itu saya lebih sering pesan Tinutuan {Bubur Manado} yang disiramkan ke mie basah {Midal}.
Dan nafsu memakan daging anjing makan lama makin hilang, sewaktu berjalan di Pasar Subuh dan melihat daging anjing siap masak yang dijajakan disana tak sebersit satu urat niatpun untuk membelinya.
Akhir tahun lalu saya diajak ke Solo dan tahu sendiri disana banyak penjual Sengsua tau Rica Rica Asu walau namanya disamarkan dengan tulisan Jamu. Sayapun tak berniat untuk singgah atau menyambangi lapaknya yang tidak jauh dari tempat saya menginap. Saya justru lebih memilih untuk menyinggahi Sei Babi yang lapaknya persis diseberang penginapan.
Sebagai orang yang memakan anjing karena pergaulan sosial dan pengaruh lingkungan, bagaimanapun dalam hati masih sering terbersit rasa ‘tidak pantas’ untuk mengunyahnya. Meski sekarang saya lebih memelihara kucing, namun masa kecil hingga remaja saya dekat dengan anjing peliharaan.
Dengan begitu malam tahun baru saya berlalu tanpa ditemani lagi daging asu, entah itu sengsu, rica-rica asu, saksang atau RW. Lagi pula saya juga tak punya lagi ritual tahun baru, keharusan merayakan dengan cara tertentu.
Ya cak saja saja, bahkan tahun ini saya merayakan tahun baru dengan menu ala-ala lebaran ketupat. Dan malam menjelang tahun baru, hanya membuat wedges kentang dan rebusan jagung karena malas membakar.
Ketika menjelang jam 12 malam, sayapun keliling kota. Perkiraan saya Tepian Mahakam mulai dari Teluk Lerong hingga Pelabuhan akan padat merayap, namun nyatanya tidak. Keramaian hanya ada di sekitar depan Lamin Etam hingga mendekati Kantor Pos.
Baru di Jalan Pangeran Hidayatullah tepatnya di ruas sekitar Hotel Aston jalanan macet. Sayapun berhenti dan mencari tempat strategis karena menurut pemberitaan media, Hotel Aston menjadi salah satu dari dua tempat yang mengajukan ijin secara resmi sebagai tempat pesta kembang api ke kepolisian.
Dan persis pada jam 12 malam, kembang api mulai meledak, memancarkan berbagai pendar warna dan formasi bentuk api serta bunyi. Kurang lebih setengah jam, Hotel Aston membakar dan meledakkan uang.
Setelah itu rasanya perlu kurang lebih 1 jam untuk mengurai kemacetan.
Sayapun berkendara pulang di jalan yang masih menampakkan sisa-sisa keramaian. Di jalan KS. Tubun tepatnya di area yang biasa dipakai sebagai Pasar Jum’at {Pasar Malam} ternyata masih ada pedagang yang mengemasi lapaknya. Tulisan di kardus “Obral 2000 Per Biji” ternyata tak membuat jagung dagangannya habis.
Selamat Tahun Baru, perbanyak makan jagung ketimbang mengunyah daging.
note : sumber gambar – WWW.HOPS.ID







