Francis Haugen menyerahkan ribuan dokumen internal facebook kepada anggota parlemen Amerika Serikat dan Wall Street Journal untuk membuktikan bahwa platform facebook telah menganggu kesehatan mental dan kesejahteraan penggunanya.

Termasuk dalam dokumen yang diserahkan adalah hasil penelitian internal yang menguraikan dampak aplikasi berbagi foto instagram terhadap kesehatan mental. Dokumen-dokumen ini kemudian dilaporkan oleh Wall Street Journal.

Haugen kemudian juga beraksi di depan Senat Amerika Serikat dengan fokus pada perhatian untuk melindungi anak-anak secara online.

Senator Richard Blumenthal, seorang Demokrat dari Connecticut juga mengatakan bahwa Facebook telah memilih pertumbuhan daripada kesehatan mental dan kesejahteraan anak-anak, keserakahan daripada mencegah penderitaan anak-anak.

Apa yang diungkapkan oleh Francis Haugen dan Senator Richard bisa jadi mewakili pandangan atau temuan banyak orang lainnya. Bukan hanya ke facebook atau instagram melainkan kombinasi antara internet dan pemakaian gadget seperti smartphone maupun tablet.

Intensitas pemakaian internet melalui gadget dengan cepat menimbulkan kebiasaan hingga ketergantungan. Pandemi Covid 19 yang membuat sebagian besar masyarakat mesti berdiam, bekerja dan belajar dari rumah membuat gadget yang tersambung ke internet terus menerus menjadi semakin akrab.

Kini apa-apa serba memakai gadget. Pesan makanan, pesan minuman, beli ini dan itu, pingin tahu ini dan itu, pingin pergi kemana yang dilihar pertama kali juga gadget.

Sebagian besar interaksi dan komunikasi harian juga terjadi dalam dan melalui gadget.

Sesungguhnya kehidupan banyak orang kini sudah dipengaruhi oleh dunia maya. Realitas dunianya adalah realitas di media sosial. Maka apa yang mengerakkan dirinya adalah apa yang ada di media sosial.

Ada banyak ‘tantangan’ di media sosial, tantangan yang diserukan oleh orang tertentu, sekelompok orang atau bahkan pengembang layanan. Tantangan kemudian viral diikuti banyak orang, silih berganti.

Ramainya reaksi terhadap tantangan tentu saja memancing siapa saja untuk ikut serta. Dan ternyata seru, karena mengikuti tantangan dengan cepat akan mendapat reaksi dari pemakai media sosial lainnya.

Terus menerus mengikuti berbagai tantangan yang ada di media sosial membuat diri merasa bahwa perilaku itulah yang disebut up to date. Akibatnya ketika ketinggalan atau dengan cepat mengikuti tantangan akan merasa ketinggalan.

Dan perasaan takut ketinggalan terhadap trend, informasi atau apapun di media sosial kemudian menimbulkan kekhawatiran. Inilah yang disebut sebagai Fear of Missing Out atau FoMO, takut ketinggalan.

FoMO adalah rasa takut ketinggalan yang mengacu pada perasaan bahwa orang lain bersenang-senang, menjalani kehidupan lebih baik, atau mengalami lebih dahulu hal-hal baik, terkini ketimbang kita. Perasaan itu menimbulkan rasa iri dan kemudian mempengaruhi harga diri dihadapan yang lain.

FoMO sebenarnya tidak hanya terjadi di ruang media sosial melainkan juga dalam kehidupan sehari-hari. Dan tidak menyangkut hanya perasaan belaka, melainkan juga tindakan. Kita bisa merasa ketinggalan jika orang lain melakukan sesuatu, mengikuti sesuatu yang jika kita tak melakukannya maka akan berpikir telah melewatkan sesuatu yang besar.

Gagasan merasa telah ketinggalan, melewatkan waktu dan membuang kesempatan adalah gagasan lama. Dipelajari sejak berpuluh-puluh tahun lalu, namun baru pada tahun 1996, istilah Fear of Missing Out dinyatakan oleh Dr. Dan Herman.

Dan perkembangan media sosial yang sangat cepat memasuki tahun 2000, membuat fenomena FoMO menjadi lebih jelas. Sebab media sosial adalah tempat paling ideal untuk membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain.

Tidak bisa dipungkiri, meski ditujukan untuk saling menghubungan satu sama lain, meningkatkan silaturahmi, efek lain dari media sosial adalah pamer atau menyombongkan diri. Media sosial terutama yang berbasis pada visual memang cenderung membuat orang ingin tampil lebih ketimbang orang lain, atau sekurangnya sama, rata-rata air.

BACA JUGA : Kalimantan Mulai Akrab Dengan Banjir

Terus berhubungan dengan media sosial melalui gadget juga akan membuat seseorang menjadi tergantung. Keasyikan di media sosial mengantikan keasyikan di dunia nyata. Di media sosial seseorang bisa menjadi apa dan siapa sesuai yang dikehendaki.

Media sosial kemudian menyediakan dunia lain, awalnya merupakan dunia alternativ namun lama kelamaan akan menjadi dunia utama. Hidup yang sesungguhnya kini ada di media sosial melalui gadget.

Keterikatan dan ketergantungan terhadap gadget menjadi sangat tinggi, yang namanya smartphone selalu harus ada di tangan atau paling tidak dalam jangkauan.

Oxford English Dictionary pada tahun 2019 secara resmi menambahkan entri nomophobia dalam kamusnya. Nomophobia diartikan sebagai “Kecemasan karena tidak memiliki akses ke ponsel atau layanan ponsel”

Rasa cemas berhubungan dengan ponsel atau sekarang lebih lazim disebut smartphone mulai dikenal sejak tahun 2008. Lewat sebuah survey yang dilakukan oleh UK Post Office. Separuh dari responden menyatakan stres saat tidak bersentuhan dengan ponsel mereka.

Dan kini situasinya menjadi semakin memburuk. Ketergantungan terhadap smartphone semakin tinggi. Tanpa memegang smartphone seseorang akan gelisah, merasa sepi, separuh dunia hilang.

Sebuah studi yang dilakukan oleh jurnal Sleep dan dipublikasikan pada tahun 2020 menemukan ada gangguan tidur pada 90 persen dari 327 mahasiswa yang disurvey. Gangguan tidur ini dapat dikategori sebagai nomophobia sedang dan parah. Gangguan tidur ini berupa kantuk di siang hari dan kebiasaan tidur yang buruk.

Umumnya peserta yang disurvey tidak segera bisa tidur mesti sudah mematikan lampu. Selalu muncul godaan untuk mengecek smartphone, entah karena bunyi notifikasi atau karena ingin tahu ada pesan masuk atau tidak walau bunyi notifikasi dimatikan.

Dan ketika tidak segera bisa tidur maka lagi-lagi smartphone yang diraih.  Bahkan ketika sudah memutuskan untuk tidur, memutuskan diri dengan dunia sadar ternyata smartphone tetap menggoda, kekhawatiran akan ketinggalan atas segala sesuatu selama tidur masih menghantui.

Yang dulunya khawatir saat mulai kehabisan stok makanan, kehabisan bensin, kini cemas dan khawatir bisa baterai smartphone lowbatt, pulsa dan paket data habis serta signal buruk.

Di tengah keramaian sekalipun, dalam sebuah pertemuan yang hangat tanpa tangan memegang smartphone dunia akan terasa sepi dan kering.

Smartphone memang penting karena satu dalam satu genggaman ada banyak fungsi yang bisa dikerjakan, ada banyak layanan yang bisa dinikmati. Maka wajar seseorang akan membawa serta smartphone kemana saja, baik di dalam maupun di luar ruangan. Namun membawa smartphone saat mandi, saat nongkrong di toilet dan tetap memegang meski mata sudah berusaha dipejamkan menandakan bahwa seseorang mungkin terkena no mobile phone phobia.

BACA JUGA : Manusia Antara Alamiah dan Tidak Alamiah

Agensi periklanan McCann memperkenalkan istilah phubbing kependekan dari phone snubbing yang kemudian jadi perbincangan yang ramai hingga kemudian kata itu dimasukkan dalam kamus Macquire.

Phubbing digambarkan sebagai tidak ‘cuek’ seseorang dalam sebuah lingkungan karena lebih fokus pada gawainya ketimbang berinteraksi atau melakukan percakapan langsung.

Ada banyak kejadian dimana seseorang mengajak yang lainnya untuk bertemu, ramai dibincang dalam group perpesanan namun ketika bertemu di sebuah tempat keriuhan hanya sesaat, tak lama kemudian sepi karena masing-masing asyik dengan gadgetnya sendiri.

Percakapan menjadi sering terhenti karena ucapan atau percakapan dari seseorang tidak segera ditanggapi oleh yang lainnya. Mungkin saja didengarkan namun tak segera direspon sebab fokus yang lainnya ke layar smartphone.

Faktanya smartphone dengan sosial media memang menghubungkan orang di seluruh penjuru dunia. Satu sama lain bisa saling dan terus terhubung. Namun pada sisi lain hubungan yang luas dan terus menerus itu bisa menghilangkan hubungan yang hangat dalam percakapan di dunia nyata, keberadaan yang sama pada satu tempat malah menjadi sepi.

Fenomena ini sebenarnya sudah menjadi keprihatinan yang lama, dulu dikenal sebutan ‘autis’ untuk mereka yang asyik sendiri dengan smartphonenya kala berada atau asyik nongkrong dengan teman-temannya. Namun sebutan ini kemudian hilang karena dianggap tidak etis.

Bicara soal candu maka smartphone mestinya juga dimasukkan dalam kategori ‘candu’, sebab pemakaian smartphone bisa membuat kecanduan. Bagi kebanyakan orang kini smartphone ada fokus utama, mata bisa terus menatap layar selama berjam-jam salam satu hari.

Kecanduan pada smartphone membuat kata Smombie menjadi Youth World of The Year pada tahun 2015 di Jerman. Smombie merupakan perpaduan dari smartphone dan zombie, dimana pengguna smartphone berjalan dengan menatap layar dan berjalan pelan dengan arah tak beraturan layaknya zombie.

Di Jerman berkalikali terjadi seorang pejalan kaki karena terlalu sibuk dengan smartphone saat berjalan kemudian mengalami kecelakaan tersambar Trem. Pemerintah Kota Augsburg dan Cologne kemudian memasang lampu lalu lintas untuk pejalan kaki guna menghindarkan dari kecelakaan untuk pejalan kaki.

Pada bulan September 2014, sebuah kota di China yakni Chongqing membuat lajur terpisah di trotoar untuk pejalan kaki. Lajur itu terdiri dari lajur non smartphone dan lajur smartphone yang dibedakan dengan cat putih layaknya lajur di jalan raya.

Asyik dengan smartphone, meski di jalan raya atau ruang publiknya dan di Hongkong kemudian muncul frasa dalam bahasa Kanton, dai tau juk yang dalam bahasa Indonesia artinya adalah suku tunduk kepala.

Layar smartphone kini memang telah menjadi kiblat tempat kita menaruh perhatian dan hormat yang membuat kita abai pada lingkungan sekitar tempat kita berada atau mengada.