Benarkah orang Indonesia malas membaca seperti yang diungkap lewat survey Program for Internasional Student Assestment {PISA} rilisan Organization for Economic Co-operation and Development {OECD} pada tahun 2019.
Dalam survey itu Indonesia menempati peringkat ke 62 dari 70 negara yang disurvey, duduk di 10 negara terbawah yang memiliki tingkat literasi rendah.
Bukannya mau membela diri, namun peringkat itu tidak mencerminkan realitas soal membaca buku dalam arti seluas-luasnya. Masyarakat Indonesia sebenarnya gemar atau suka membaca, namun memang tak semua jenis buku bacaan.
Buku yang digemari dan laku di Indonesia adalah buku-buku yang sifatnya motivasional, buku yang bertabur dengan kutipan atau quote kata-kata yang indah.
Kenapa masyarakat Indonesia suka membaca buku-buku semacam itu? Karena kebanyakan masyarakat Indonesia ingin berubah.
Perubahan menjadi isu penting di Indonesia, berubah dari miskin menjadi kaya, maka yang dibaca adalah buku-buku dengan judul semacam Menjadi Kaya Tanpa Modal, Cara Jitu Menjadi Kaya, Rahasia Menjadi Kaya Ala Jack Ma dan seterusnya.
Selain ingin menjadi kaya dan sukses kebanyakan orang Indonesia juga bercita-cita menjadi orang baik, orang saleh dan bijaksana. Keinginan itu membuatnya jadi suka membaca buku dengan judul semacam 1001 jalan untuk kebaikan, Cara Cepat Menjadi Taat, Bimbingan Menjadi Bijaksana dan lain sebagainya.
Buku-buku sejenis ini pasti akan diletakkan di tumpukkan paling depan toko-toko buku ternama. Dan tak sedikit dari antara buku-buku itu yang disampul depannya ditempel label ‘best seller’.
Judul buku yang laku itu juga akan laris jika dijadikan judul seminar. Banyak orang berbondong-bondong mengikuti seminar yang bernada ‘how to’ dan berharap setelah mengikutinya kemudian menjadi sukses, bahagia, pintar dan seterusnya.
Adakah buku dan seminar-seminar itu membuat para pembaca serta pesertanya menjadi seperti judulnya?. Entahlah, sebab belum ada lembaga penelitian yang melakukan kajian. Yang ada hanyalah deret testimoni pembaca dan peserta seminar, 5 sampai 10 orang yang isinya memuji-muji keajaiban buku dan seminar dalam merubah hidupnya.
Dan yang kita semua tahu judul-judul semacam itu hanya akan bertahan 2 sampai 3 tahun, seminar hanya akan booming dalam waktu tertentu hingga kemudian tenggelam. Dan kemudian akan muncul lagi dengan judul lain meski isinya tak jauh berbeda. Mirip semua penipuan dalam bentuk money game atau skema ponzie yang selalu berhasil membuat orang kepincut namun menangis-nangis pada akhirnya.
Kisah yang sama terjadi pada fenomena dukun tiban, kisah Ponari yang tiba-tiba sakti karena batu yang diperoleh dari mimpi. Ribuan orang datang kepadanya menyodorkan air untuk dicelupi batu yang dipegangnya. Air yang kemudian akan menjadi penyembuh segala penyakit. Puluhan atau mungkin ratusan memberi testimoni sembuh, namun sekarang tak ada seorangpun yang datang pada Ponari.
BACA JUGA : Suku Tunduk Kepala
Menilik sejarah perkembangan manusia pada dasarnya yang disebut dengan perubahan tidak berlangsung dengan cepat. Manusia berubah secara evolutif, sedikit demi sedikit dalam rentang waktu ribuan tahun.
Menilik capaian perkembangan hingga sekarang, secara nalar dan intelektual {nalar} kemampuan manusia untuk menyerap pengetahuan memungkinkan untuk berubah dengan cepat secara pemikiran. Buku yang dibaca atau seminar yang diikuti dengan segera akan dicerna, dimengerti atau dipahami.
Namun dalam ruang otak manusia pengetahuan semacam itu adalah pengetahuan ekplisit, pengetahuan yang kemudian mesti di ‘call back’ untuk masuk dalam kesadaran. Sehingga tak selalu diingat sepanjang hari, tak selalu disadari dalam setiap langkah.
Meski manusia telah berhasil melahirkan teknologi yang begitu maju, namun kemajuan itu tidak dihasilkan oleh orang per orangan. Kehebatan manusia terletak pada kecerdasan komunal, kemampuan untuk bekerja sama dalam jumlah yang besar sekalipun tidak saling mengenal. Hasil dari kerjasama ini adalah berbagai bentuk teknologi yang dinikmati saat ini.
Jadi secara individu sebenarnya cara berpikir dan bagaimana manusia menggunakan otaknya tidak terlalu berkembang. Sejak homo menjadi bijaksana {berpengatehuan} sehingga menjadi homo sapiens, kecerdasan individual terbaik dicapai pada masa berburu dan pengumpul. Pada masa itu setiap orang harus mempunyai kecerdasan yang sama agar bisa tetap bertahan hidup. Sama-sama bisa berburu, sama-sama bisa membuat senjata, sama-sama bisa berlari mengejar dan mengepung buruan dan lain sebagainya.
Setelah memasuki fase menetap dan melakukan budidaya, kecerdasan individual berkembang tidak sama. Yang mulai berkembang adalah kecerdasan komunal. Dan secara individual manusia dalam menjalani kehidupan sehari-hari lebih menggunakan otak emosi ketimbang otak rasional.
Apa yang paling umum menjadi dasar penilaian manusia dalam berelasi dengan sesama maupun lingkungan dan hal yang lainnya adalah penilaian suka tidak suka, menyenangkan atau tidak menyenangkan, merasa cocok atau tidak, menarik atau tidak menarik dan seterusnya.
Jika ditanya alasannya maka baru dicari-cari alasan agar bisa membeber bukti yang diperoleh dari otak rasional.
Melihat kenyataan seperti ini kemudian muncul banyak pelatihan yang berjudul ‘memaksimalkan kerja otak’. Penyelenggara pelatihan itu berpikir bahwa selama ini kapasitas otak hanya dipakai sedikit saja. Ada yang menyebut hanya 10 persen, sehingga masih ada 90 persen potensi yang bisa dipakai untuk merubah hidup.
Padahal sejatinya otak manusia selalu bekerja 100 persen, sebab jika tidak seratus persen pasti ada fungsi-fungsi tubuh yang terganggu. Adalah salah menyamakan kepintaran orang, semangat menyala, rajin dan disiplin sebagai ukuran seberapa besar otak digunakan.
Adalah salah sangka yang umum namun terus dipercayai bahwa otak adalah rasional. Keyakinan bahwa otak adalah rasional merupakan keyakinan yang diwariskan oleh para filsuf karena obsesi mereka pada rasionalitas.
Otak manusia selalu merupakan perpaduan antara otak emosional dan otak rasional. Namun otak emosional yang lebih mempengaruhi perilaku manusia, sebab otak rasional menggunakan memori implisit, memori yang otomatis akan mengerakkan tanpa harus dipanggil.
Bayangkan andai manusia lebih banyak menggunakan otak rasional maka hidup menjadi tidak asyik. Untuk melangkah saja mesti dipikirkan kaki mana lebih dulu yang akan diayun. Atau ketika disuguhi minuman dan makanan yang terlihat nikmat, bukannya langsung disantap melainkan mesti didiskusikan dahulu bahan pembuatnya, apa pengaruh baik dan buruknya bagi tubuh.
Dengan lebih banyak menggunakan otak emosional hidup manusia jadi penuh warna. Yang tak kelihatan dan tidak ada bisa menjadi ada, ada hantu, ada pocong, ada suster ngesot ada orang tua yang bisa mengajak penjual bakso meninggalkan dagangannya untuk kemudian ikut serta berjalan agar bisa mendengar nasehat-nasehatnya.
Andai semua orang menjadi rasional maka tak akan ada vandal dengan tulisan “Aksi Kamisan Kaltim Ditunggangi Partai PPP, Partai Oligarki”.
Otokritik ini tentu saja baik hanya saja kalimat itu mempunyai kesalahan nalar atau bisa disebut para kaum rasionalis sebagai logical fallacy.
Adalah biasa sekali bahkan dalam perdebatan rasional mereka yang tengah berdialektika kemudian menyanggah atau mementahkan argument lawan dengan cara menolak argumen sebagai benar hanya karena diucapkan oleh orang yang dianggap ‘cacat moral’. Cacat nalar semacam ini disebut sebagai ad hominem.
Pun dengan kesimpulan bahwa Aksi Kamisan Kaltim ditunggangi PPP, kesimpulan yang mirip tuduhan ini mempunyai cacat nalar yang disebut sebagai jumping to conclusion. Tulisan itu pasti dihasilkan oleh orang yang melakukan observasi pada Aksi Kamisan Kaltim, namun kesimpulan yang ditarik kemudian gagal membedakan mana fakta observasi dan mana yang direka. Atau dengan kata lain kesimpulan itu gagal membedakan mana yang diamati dan mana yang disimpulkan. Hasilnya adalah sebuah kesimpulan yang tidak nyambung secara nalar.
Maka yang sebenarnya terjadi, seseorang yang punya niat mulia memurnikan Aksi Kamisan Kaltim itu adalah orang yang menyembunyikan ketidaksukaan pada orang tertentu yang ada di Aksi Kamisan, namun tak mau berterus terang. Otak emosilah yang mengerakkan tangan untuk memencet tombol cat semprot guna menghasilkan serangkaian kata di dinding bawah fly over itu.
Ada banyak kesalahan logika yang sejatinya menyembunyikan kebiasaan manusia yang lebih suka memakai otak emosionalnya. Dan bukti lain yang membuktikan kebiasaan itu adalah betapa sebuah nasehat tidak dengan cepat dituruti atau merubah sifat serta kelakuannya.
BACA JUGA : Kalimantan Mulai Akrab Dengan Banjir
Salah satu nasehat yang memegang rekor tidak ditaati adalah “Jangan Membuang Sampah Sembarangan, Sebab Sampah Menyebabkan Banjir,”
Sejak 30 tahun lalu nasehat itu telah disampaikan ke publik lewat berbagai medium. Ada dalam bentuk cetakan maupun berbagai iklan yang ditayangkan lewat aneka media. Kalau dikumpulkan ongkos untuk membuat dan menayangkannya barangkali bisa mencapai ratusan milyard rupiah.
Tapi yang namanya membuang sampah sembarang dan seenaknya ke sungai, parit, got, saluran air dan tanah kosong terus menjadi kebiasaan hingga sekarang.
Kenapa nasehat gagal ditaati atau tak berhasil merubah kelakuan orang?. Sebab nasehat tidak diikuti dengan langkah untuk membiasakan. Orang sebenarnya bukan berubah karena belajar namun karena berlatih. Belajar akan menghasilkan pengetahuan yang tidak selalu diikuti, namun berlatih akan menghasilkan kebiasaan yang sama artinya dengan diikuti.
Lembaga pendidikan yang siswanya di asrama biasanya akan lebih menghasilkan orang yang disiplin, terbiasa mencuci piring sendiri, membersihkan kamar sendiri dan lain sebagainya. Semua itu dihasilkan lewat latihan karena di asrama semua penghuni harus melakukan hal itu setiap hari. Dan setelah dua atau tiga tahun semua hal itu kemudian menjadi kebiasaan. Jadi ketika pulang ke rumah tanpa dinasehati atau disuruh sekalipun, akan otomatis mencuci piring dan gelasnya sendiri setelah selasai makan.
Pendidikan yang merubah sebenarnya berbasis pada latihan bukan pembelajaran. Jika kemudian pendidikan di Indonesia dianggap tidak berhasil itu karena cita-cita pendidikan yang terlalu tinggi, yaitu menghasilkan manusia Indonesia yang berahklak.
Nah sayangnya ahklak mau dicapai dengan cara memberi banyak nasehat. Bukan dengan cara berlatih secara rutin melakukan hal-hal yang membuat ahklak seseorang menjadi baik.
Jadi berhentilah memberi nasehat dan mulai ajak orang lain untuk berlatih, berlatih apa saja yang bisa membuatnya menjadi manusia yang lebih baik.
Dan tidak usah berpikir terlalu muluk-muluk, sebab urusan cuci tangan yang baik dan benar saja baru bisa dilakukan oleh masyarakat Indonesia bukan karena iklan dan program pendidikan dari salah satu produsen sabun, melainkan karena serangan pandemi Covid 19.
Masyarakat Indonesia berhasil rajin cuci tangan bukan karena nasehat, melainkan karena ketakutan. Orang akan berubah jika mengalami ketakutan apalagi ketakutan pada kematian. Sebab tujuan hidup manusia adalah hidup selama mungkin. Dan terbukti lebih mengedepankan otak emosional membuat manusia bisa hidup lebih lama dibanding kebanyakan mahkluk hidup lainnya.








