Konon di desa tempat saya dibesarkan pernah berdiri Volkschool dan Vervolgschool di masa kolonial Belanda. Bangunan sekolah rakyat pribumi dan sekolah lanjutan untuk siswa berprestasi di sekolah pribumi itu tak pernah saya lihat jejaknya sedari kecil. Tiada cerita dari sesiapapun tentangnya.

Padahal kedua sekolah itu melahirkan seorang tokoh filsafat dan pendidikan yang kemudian diabadikan sebagai nama salah satu sekolah tinggi filsafat.

Soehirman, yang biasa dipanggil sebagai Djenthu, julukan yang artinya kekar dan gemuk, kelak berganti nama menjadi Driyarkara.  Tahun 1952, Driyarkara menyelesaikan studi doktoral dalam bidang filsafat di Roma dan kemudian kembali ke Indonesia lalu mengajar di Kolese Ignatius {Kolsani}, Yogyakarta.

Driyarkara membangun jejak pemikirannya lewat pandangan tentang eksistensi manusia. Menurutnya manusia adalah siapa yang ber-apa dan apa yang bersiapa. Tentang sosialitas, Driyarkara menyebutkan manusia adalah teman bagai manusia lainnya {homo homini socius} melawan tesis manusia adalah serigala bagi manusia lainnya {homo homini lupus}.

Sepanjang perjalanan sejarah pemikiran, manusia memang menjadi obyek permenungan. Para pemikir berupaya merangkum siapa manusia, bagaimana manusia memanusia dalam sebuah istilah. Salah satu yang menarik disampaikan oleh seorang teoritisi budaya dan sejarah asal Belanda, Johan Huizinga pada tahun 1938, dia menyebut Homo Ludens. Lewat study terhadap elemen permainan dalam kebudayaan, Huizinga menyimpulkan salah satu sifat alami manusia adalah mahkluk yang gemar bermain.

Driyarkara pernah menuliskan catatan berjudul ‘Permainan sebagai aktivasi dinamika’, yakni untuk menuju pembebasan manusia. Berikut ini sedikit cuplikan dari yang disampaikan olehnya :

“Bermainlah dalam permainan tetapi janganlah main-main! Mainlah dengan sungguh-sungguh, tetapi permainan jangan dipersungguh. Kesungguhan permainan terletak dalam ketidaksungguhannya, sehingga permainan yang dipersungguh tidaklah sungguh lagi.”

Bagi Driyarkata aktiitas bermain telah ada seusia dengan umur manusia. Dan seiring berjalannya waktu aktivitas bermain menjadi kegiatan yang tak bisa lepas dari manusia, bermain telah menjadi bagian dari kebudayaan.

Permainan yang dimainkan dengan sungguh-sungguh kini kita kenal sebagai olahraga. Permainan yang bukan hanya untuk bersenang-senang, melainkan juga untuk mencapai prestasi hingga kemudian menjadi profesi karena bisa menghasilkan imbalan uang yang layak untuk hidup.

Bermain kemudian menjadi pekerjaan dan pemainnya disebut sebagai pemain profesional.

Dalam pandangan Diyarkara, bermain tidak hanya menyangkut aktivitas jasmani melainkan juga fantasi, logika dan bahasa. Bermain kemudian berkembang dengan pesat dan batasan bermain dalam permainan kemudian menjadi kabur.  Bermain tidak lagi main-main.

Di masa pemburu pengumpul, aktivitas permainan selain untuk bersenang-senang juga merupakan bentuk latihan ketrampilan untuk mempertahankan hidup. Lari, melompat, melempar batu, tombak dan lainnya amat berguna untuk membangun ketrampilan berburu. Kini ketrampilan seperti itu telah menjadi cabang olahraga yaitu atletik.

Ketika mulai mengenal perang, tumbuh permainan-permainan strategi. Seperti permainan petak umpet. Permainan yang kemudian disebut sebagai permainan tradisional ini ada di banyak daerah dengan sebutan dan variasi permainan yang berbeda-beda.

Jamam terus berkembang dan muncul permainan-permainan baru yang sengaja diciptakan seperti sepak bola, bola basket, kasti, baseball, bulu tangkis, volley dan lain-lain. Dan teknologi kemudian membawa permainan masuk dalam ruang lain. Permainan di dunia nyata yang dikemas dalam bentuk digital dan virtual.

Awalnya berkembang dalam konsol tersendiri, permainan digital dan virtual ini disebut sebagai games. Temuan teknologi internet membuat games kembali melakukan loncatan besar, kini games bisa dimainkan secara online dan massal. Para pecinta games bisa memainkan permainannya secara bersama-sama alias mabar, main bareng.

Smartphone memungkinkan games dimainkan secara mobile, dimainkan dimana dan kapan saja selama terhubung dengan jaringan internet.

Migrasi permainan dari era tradisional ke virtual membawa watak baru. Permainan tradisional selalu dikaitkan dengan olah fisik atau gerak. Namun permainan virtual tidak, mereka yang malas gerak atau mager bisa tetap bermain. Permainan virtual bisa dimainkan sambil tidur-tiduran.

Namun tak berarti permainan virtual menjadi unfaedah sebagaimana anggapan kebanyakan orang tua-tua.

BACA JUGA : Nasehat Yang Tak Mengubah

Kini saya menemukan bahwa permainan sudah jauh melampaui apa yang saya mainkan pada masa kecil dan remaja dulu. Apa yang saya mainkan tak lagi dimainkan oleh anak saya. Jangankan dimainkan dikenali saja tidak.

Yang disebut dengan permainan kini dikenal sebagai games. Permainan yang tak lagi dibuat sendiri karena telah disediakan oleh pengembang dan kemudian bisa dimainkan kapan dan dimana saja karena wujudnya digital serta berada di alam virtual.

Dari dulu permainan memang bisa menghasilkan uang. Caranya dengan membuat mainan lalu menjualnya. Namun sekarang beda, uang bisa diperoleh lewat permainan itu sendiri. Cara dan strateginya bermacam-macam.

Salah satu cara yang populer dikalangan para gamer untuk membangun karir adalah dengan menjadi streamer. Game streamer adalah seseorang yang merekam permainan secara terus menerus dan kemudian menyiarkannya secara langsung melalui platform live streaming yang banyak tersedia di internet.

Untuk menjadi seorang games streamer diperlukan berbagai macam alat bantu seperti PC, headset, mic condenser, capture cards serta aksesories lain yang mendukung seperti kursi gaming, lampu studio, green screen dan lain-lain.

Seorang game streamer bisa memperoleh uang dari donasi, iklan, subscription dan sponsorship.

Yang diperlukan oleh seorang game streamer bukan hanya jago bermain melainkan juga jago membawakan permainan sehingga menjadi menarik dan interaktif. Maka penting untuk melakukan branding, menunjukkan orisinalitas dan ciri yang khas, termasuk gurauan yang lucu serta kreatif.

Cara lain untuk berkarir dalam dunia games adalah menjadi content creator, seseorang yang melahirkan karya dalam bentuk video yang kemudian diupload ke channel youtube agar ditonton oleh banyak orang.

Untuk menjadi content creator diperlukan ketrampilan lebih dalam melakukan editing video. Isi dari video yang diunggah umumnya tentang bagaimana memainkan sebuah games atau tutorial. Namun bisa juga berisi review tentang sebuah games atau reaction atas permainan para streamer.

Seorang content creator mendapatkan uang dari adsense yang disematkan pada channel youtubenya. Besar kecilnya akan tergantung dari jumlah viewer atau pemirsa video yang diupload olehnya.

Baik streamer maupun content creator bisa memperluas jaring pendapatan lewat media sosial lainnya seperti melalui instagram. Jika mampu meraup banyak pengikut hingga menjadi selebgram misalnya, seorang streamer atau content creator bisa menerima banyak endorse.

Andai pengaruhnya besar malah bisa menjadi brand ambassador produk-produk tertentu.

Masih ad acara lain untuk membangun karir dari games yakni dengan menjadi pemain games professional. Untuk menjadi pemain professional selain harus terus berlatih juga mesti rajin mengikuti turnamen.

Apabila dikenal sebagai pemain yang handal dan kerap memenangkan pertandingan kemungkinan besar akan dilirik dan kemudian direkrut oleh tim yang baik. Tim yang mempunyai fasilitas yang mumpuni serta kemampuan untuk membayar honor secara rutin.

Namun bisa juga membentuk dan membangun reputasi tim sendiri. Mengabungkan gamers yang berbakat dan berlatih bersama serta rajin mengikuti berbagai turnamen.

Pendapatan seorang gamers professional selain dari uang kontrak, bonus hadiah kemenangan dalam pertandingan juga berasal dari sponsorship atau iklan. Seorang gamers yang berprestasi dan mempunyai banyak pengemar tentu akan mempunyai nilai lebih bagi para sponsor.

BACA JUGA : Suku Tunduk Kepala

Awal tahun lalu ketika berkunjung ke Grogot, Kabupaten Paser, saya bertemu dengan seseorang yang gemar bermain games sedari kanak-kanak. Namun dia tidak memilih untuk menjadi seorang gamer profesional melainkan menceburkan diri untuk menjadi pengembang games.

Kini salah satu gamesnya sudah ada di situs marketplace PC game terbesar di dunia. Pendapatan dari gamesnya sudah mencapai angka ratusan juga.

Tak banyak pengemar games yang kemudian akan memilih jalan menjadi pengembang games. Kebanyakan lebih memilih untuk menjadi pemain games. Sehingga geliat olahraga elektronik atau esport ini menjadi sangat terasa di masyarakat.

Di Samarinda misalnya ada sebuah tim esport bernama Buah Bolo yang terbentuk dari sebuah komunitas mobile game pada tahun 2017.

Tim Buah Bolo ini mempunyai 8 divisi game dan beranggotakan kurang lebih 56 pemain. Games yang ditekuni meliputi :  PUBG Mobile, COD Mobile Multi Player, COD Mobile Battle Royale, FIFA/PES, Auto Chess/Magic Chess/Chess Rush, Free Fire, Mobile Legend dan AOV.

Di Balikapan juga ada time sport yang bernama K.O.K Squad yang berdiri semenjak tahun 2018. Tim yang mulai dibangun dengan 5 anggota ini kini telah mempunyai divisi Mobile Legend, PUBG Mobile dan Arena of Valor.

Pada tahun 2019 lalu, tim ini menjuarai Indonesia E-Sport National Championship Regional Samarinda yang diikuti oleh tim dari Kaltim, Kalsel dan Sulsel. Saat ini member dari K.O.K Squad kurang lebih 42 orang.

Dari antara anggota dari tim-tim esport ini beberapa telah berkembang menjadi pro player, pemain profesional yang mendedikasikan hampir seluruh waktunya untuk bermain games, baik untuk mengasah ketrampilan maupun bertanding mengikuti berbagai turnamen termasuk liga untuk mengumpulkan poin.

Poin artinya prestasi, semakin tinggi poin maka akan semakin tinggi nilai bayaran seorang pemain. Jumlah honor atau bonus yang diterima oleh pro player bisa mengejutkan. Mereka yang rata-rata masih berumur belasan itu bisa memperoleh milyardan rupiah dalam setahunnya.

Meski begitu orang-orang seumuran saya atau yang lebih tua banyak yang tidak mengerti dan memahami hal ini. Paradigma lama soal permainan yang tertanam dalam kepala kerap kali membuat stigma negatif terhadap anak-anak yang gemar main game tak mudah dihapuskan.

Menemui kenyataan bahwa bermain ternyata menjadi profesi menjadi mengejutkan. Dari seorang kawan saya mendengar ada anak Samarinda yang baru tamat SMA direkrut oleh sebuah tim di Bali.

Anak itu pergi dengan tangisan orang tua yang masih belum mengerti jalan yang dipilih olehnya. Sampai hari ini orang tuanya masih terus berharap anaknya kembali ke rumah saja, meski sudah mengikuti berbagai turnamen hingga ke luar negeri dan tentu saja mengirimkan uang yang cukup besar untuk orang tuanya.

Orang-orang tua masih beranggapan bahwa permainan hanyalah main-main. Ketika anaknya dengan sungguh-sungguh memainkan permainan dan memilihnya menjadi pekerjaan, pilihan itu masih belum bisa diterima, tidak masuk di akalnya.

Jaman dengan cepat berubah, namun pikiran dan pemikiran kita memang tidak selalu bisa move on dengan cepat.