Salah satu yang mudah dan ingin selalu diingat oleh seseorang adalah tempat. Maka ketika bepergian ke daerah tertentu, terutama tempat idaman dan dibanggakan seperti destinasi wisata atau kota besar, akan dibawa pulang oleh-oleh untuk memperkuat ingatan.
Memakai atau memberi kaos putih tipis bergambar arca Budha, tanpa mengatakan baru pulang darimana, orang lain akan tahu kalau Borobudur yang baru dikunjunginya.
Bergaya dengan kaos bergambar topeng barong akan menunjukkan kalau dirinya baru pulang dari Pulau Dewata.
Selain gantungan kunci, stiker dan lainnya, kaos memang menjadi penanda yang paling mencolok untuk mewartakan kita baru melancong kemana.
Kaos oleh-oleh kemudian menjadi bisnis besar. Di Yogyakarta, utamanya jalan Maliboro dari ujung ke ujung dipenuhi lapak yang berjualan kaos oleh-oleh dengan aneka gambar atau kata-kata yang menunjukkan ke-Yogya-an.
Dulu merek yang paling terkenal adalah Dagadu, berlambang mata karena arti dagadu adalah matamu. Sebuah umpatan dalam bahasa slank khas Gali atau Gabungan Anak Liar, yang berbasis pada aksara Jawa.
Tentu saja kaos Dagadu yang dijual di sepanjang Malioboro adalah Dagadu versi KW. Karena yang asli outletnya ada di lantai bawah Malioboro Mall. Kelak di Ambarukmo Plaza juga ada.
Dagadu asli maupun palsu kemudian jadi kaos legend di Yogyakarta. Di Bali juga ada, kaos yang selalu menjadi buruan wisatawan yakni kaos Joger. Kaos ini unik karena melabeli diri bukan sebagai penjual kaos melainkan pabrik kata-kata.
Nama Joger merupakan paduan nama antara sang pemilik yaitu Joseph dan Gerhard, sahabatnya.
Dan sejak tahun 80-an, baik Dagadu maupun Joger kemudian menjadi model yang diikuti oleh produsen kaos lainnya, kaos dengan gambar desain unik, lucu dan kata-kata yang mengelitik muncul di berbagai kota dan tempat wisata.
BACA JUGA : Aslinya Bangsa Kita Memang Suka Judi https://kesah.id/aslinya-bangsa-kita-memang-penyuka-judi/
Semakin kesini kaos sudah menjadi pakaian sehari-hari. Seingat saya sampai tahun 80-an kaos dianggap sebagai pakaian yang tidak sopan apabila dipakai untuk datang ke hajatan, kegiatan peribadatan dan lainnya.
Pakaian yang berbahan kaos kini juga semakin banyak ragamnya. Bisnis pembuatan kaos, cetak atau sablon kaos tumbuh dimana-mana.
Pada kelompok anak-anak muda, cetak atau sablon kaos menjadi titik awal untuk mengembangkan usaha clothing line dan juga mendorong munculnya distro.
Bandung kemudian dikenal menjadi kota tempat bertumbuhnya clothing line dan distro hingga kemudian menginspirasi banyak anak-anak muda di berbagai kota lainnya untuk menekuni bisnis yang sama.
Ada ratusan brand atau merek yang bersaing untuk merebut pasar terutama pasar anak muda. Nama-nama yang terkenal antara lain 3Second,Hijub,Erigo,Roughneck 1991,Maternal Disaster, Thanksimsomnia, This is April, Thenblank dan lain-lain.
Ada juga brand-brand lain yang menyasar komunitas tertentu, seperti pengemar musik atau band tertentu, kelompok pemancing, biker, pendaki gunung dan olah raga-olahraga ekstrim lainnya.
Sedangkan mereka yang tidak mengembangkan brand atau merek sendiri biasanya melayani kebutuhan event atau komunitas lain yang ingin membuat baju kaos yang unik serta tidak pasaran.
Dengan jumlah penduduk yang besar, Indonesia bukan hanya merupakan pasar yang gemuk untuk produsen pakaian lokal. Berbagai brand dari luar negeri juga menjadikan Indonesia sebagai pasar untuk meraup keuntungan.
Zara, Supreme, Uniglo, H&M, Pull & Bear adalah beberapa dari antara brand luar negeri yang outletnya mudah dijumpai di pusat-pusat perbelanjaan pada berbagai kota besar di Indonesia.
Perkembangan fesyen harian tak lepas dari kreatifitas para content creator di youtube. Ada banyak channel yang menyajikan video tentang outfit, agtau keseluruhan fesyen yang dipakai saat itu, mulai dari topi, kaos, ikat pinggang, sepatu, pakaian dalam dan luar. Videonya biasa dijuduli OOTD atau Outfit Of The Day.
Channel Mundut Mustopa adalah salah satu yang mampu menarik perhatian karena membahas atau menyajikan OOTD dari kalangan orang biasa yang ingin bergaya. Berbeda dengan channel OOTD lainnya yang umumnya digawangi oleh fashionista, influencer atau selebritas. Mundut Mustopa tampil kocak.
Meski tak mampu meraih banyak subscriber dan viewer yang membuat Mundut Mustopa bersanding dengan Atta Halilintar, Raffi Ahmad, Baim Wong dan lainnya, namun Mundut punya jasa untuk memperkenalkan brand-brand clothing line lokal.
Kebanggaan pada lokalitas semacam ini kelak akan menginspirasi hastag #lokaltakgentar dan #banggalokal.
BACA JUGA : Dari Jakarta Ke Nusantara Agar Indonesia Tetap Relevanhttps://kesah.id/dari-jakarta-ke-nusantara-agar-indonesia-tetap-relevan/
Pendapatan per kapita yang membaik juga meningkatkan konsumsi pakaian per kapita yang terus meninggi. Pakaian tidak lagi dibeli pada saat tertentu, hari-hari besar atau menunggu pembagian sewaktu musim pemilu.
Bergaya telah berkembang menjadi kebutuhan pokok. Teknologi kamera yang kemudian menjadi gear sehari-hari karena terintegrasi dalam smartphone, membuat masyarakat bisa memotret diri dimana saja dan kapan saja.
Media sosial kemudian menjadi album besar, bukan hanya tempat menyimpan saja melainkan juga menunjukkannya kepada dunia luas.
Konsumsi pakaian yang makin meninggi kemudian menimbulkan masalah, bukan hanya sampah pakaian bekas melainkan juga limbah serta emisi saat produksi dan distribusi. Keprihatinan pada hal ini memunculkan gerakan slow fashion. Sebuah gerakan untuk mengurangi membeli pakaian baru, bergaya tak mesti harus dengan pakaian baru.
Gaya bisa diciptakan dengan memadupadankan pakaian lama atau saling tukar pakaian dan membeli pakaian bekas. Muncul istilah prelove, thrift dan second hand store.
Semua merujuk pada barang bekas yang dulunya disebut sebagai rombeng, dan tempat menjual pakaian bekas kerap disebut sebagai pasar rombeng, cakar, cakar bongkar dan awul-awul.
Ketika trend berburu barang bekas melanda kaum muda kemudian dikenal istilah thrift. Artinya barang bekas yang masih layak pakai atau secondhand. Barang ini bukan hanya baju melainkan juga sepatu, barang elektronik dan lainnya.
Selain barang bekas, thrift juga bisa berarti barang sisa ekport yang tidak laku atau sudah lewat masanya sehingga dijual sebagai barang vintage atau jadul.
Berbeda dengan pasar awul-awul, thrift shop atau thrift store tidak langsung menjual barang yang dibongkar dari bal-balan. Akan dilakukan sortir terlebih dahulu berdasarkan nilai tertentu yakni merek dan vintage.
Sebelum dipajang, barang akan dicuci terlebih dahulu dan kemudian dikategori berdasarkan jenis mulai dari kaos, outwear atau pakaian luaran yang umumnya oversize, hoddie, crewneck dan lain-lain.
Yang dijual umumnya berbagai jenis pakaian yang diproduksi oleh brand-brand ternama, baik yang ternama karena produk jersey olahraga, life style, pakaian kerja, perlengkapan outdoor dan adventure.
Nama brand yang terkenal antara lain Nike, Adidas, Reebok, New Balance, Puma, X Large, Champion,Obey, Dickies, Carhartt, Ben Davis, Patagonia, The North Face, Timberland, GAP, Guess, Tommy Hilfiger, Lacoste, Pancoat, Stone Island, Moncler, Gucci, Louis Vitton, Prada, Balenciaga dan masih banyak lagi.
Harga yang dipatok oleh Thrif Shop, Second Hand Store dan Second Brand Shop tentu lebih mahal dibanding dengan cakar, awul-awul atau pasar rombeng. Tapi biasanya masih terjangkau dan jauh dibawah harga barunya di official store masing-masing brand.
Dan yang terpenting dengan kondisi yang layak pakai, bahkan ada yang masih 90 persen baru tanpa cacat minor, para fashionista tetap bisa bergaya dengan harga yang sesuai kantong masing-masing.








