Tidur itu menyenangkan, apalagi ketika hari tengah diselimuti udara dingin, rasanya ingin meringkuk terus di dalam balutan selimut.

Orang tua dulu-dulu biasanya akan membangunkan anaknya yang malas bangun pagi dengan mengatakan “Bangun, nanti nasimu dipatuk ayam,” atau secara lebih ekplisit akan mengatakan “Bangun, nanti rejekimu lewat,”.

Meski sambil mengerutu yang dibangunkan biasanya akan segera mentas dari tempat tidurnya. Bukan karena percaya rejekinya bakal hilang kalau tak segera bangun melainkan karena tak ingin diomeli oleh ibunya atau disiram air oleh bapaknya.

Bangun pagi dalam sistem nilai masyarakat Indonesia pada umumnya memang dianggap penting. Sebab kebanyakan aktivitas dimulai dari pagi hari, saat orang cukup punya tenaga karena telah istirahat semalaman.

Anak yang selalu bangun pagi akan dipuji sebagai anak rajin, anak yang bersemangat untuk menjalani hari menyongsong masa depan.

Maka selalu membangunkan  pagi-pagi adalah bagian dari upaya pertama dan utama dari orang tua untuk mendisiplinkan anaknya.

Dan sungguh sial buat anak-anak yang malas bangun pagi. Orang tuanya sekalipun tak akan keberatan jika anak itu kemudian diberi julukan ‘kebo’ karena dianggap pemalas.

Padahal gagal bangun pagi tidak selalu karena malas.

Ada sebuah gejala atau kondisi medis tertentu yang disebut dengan dysania. Seseorang dengan kondisi itu akan terasa berat untuk bangun dan beranjak dari tempat tidur.

Jadi jangan buru-buru menghakimi yang enggan bangun pagi sebagai pemalas, sebab bisa jadi dia menderita dysania yang disebabkan oleh depresi, atau sindrome kelelahan kronis, anemia, sleep apnea atau gangguan pernafasan saat tidur dan penyakit jantung.

Bangun pagi menjadi salah satu nilai terpenting karena dihubungkan dengan kesuksesan. Masyarakat kita meyakini bahwa siapapun yang mau sukses harus bangun pagi agar bisa bekerja keras sepanjang hari. Tidak terlambat memulai aktivitas sehingga rejeki atau kesempatan telah  lewat.

Saking percayanya pada nilai itu tak sedikit yang ketika mendapat pertanyaan apa penyebab kemiskinan dengan segera dan gagah berani menjawab “Kemalasan,”. Orang miskin identik dengan orang malas.

Stigma kemiskinan identik dengan kemalasan sebenarnya merupakan model kesimpulan yang sesat pikir. Karena yang menyimpulkan malas berpikir.

Ada banyak contoh mereka yang bekerja keras sepanjang hari dari pagi sampai sore ternyata tetap miskin.

Soal yang ini kemudian muncul lagi argument untuk menangkisnya. “Jangan cuma kerja keras tapi juga kerja cerdas,” begitu biasa diucapkan oleh para pembicara publik yang kerap mengadakan seminar-seminar motivasi.

Memang begitu yang biasa kita baca dari buku otobiografi, biografi atau memoar orang-orang sukses. Kisah perjalanan mereka selalu diwarnai dengan cerita tentang kerja keras, tentang nobody yang kemudian menjadi somebody dengan berbagai kiat, tips dan strategi yang menunjukkan kecerdasan mereka untuk mengapai cita-cita.

Hanya yang kita lupa, buku-buku kisah sukses semacam itu jarang sekali mengungkap sisi kemudahan, dukungan katabeletje, kronisme, koncoisme dan lain-lain yang bernada keistimewaan atau privilege yang menyumbang jalan lempang untuk suksesnya.

BACA JUGA : Dari Jakarta Ke Nusantara, Agar Indonesia Tetap Relevan

Ryu Hasan, ahli bedah saraf dan neorusains mengatakan bahwa otak manusia didesain untuk membuat manusia hidup selama mungkin. Sedangkan salah satu energi yang kemudian mendorong orang untuk bersemangat melanjutkan hidup adalah tujuan.

Kesenangan kemudian menjadi salah satu tujuan utama dari hidup manusia.

Sayangnya selain mengejar kesenangan, manusia juga senang melakukannya dengan cara yang gampang. Otak manusia kemudian tidak suka cara yang rumit-rumit, sebab berpikir rumit akan menghabiskan energi.

Tujuan sekolah adalah belajar agar pintar dan terampil atas bidang tertentu, namun kemudian disederhanakan menjadi mendapat nilai baik, lulus dan memperoleh gelar. Karena tujuannya memperoleh nilai baik dan dapat gelar maka saat ujian mencontek, membeli soal, membayar joki, skripsi dibuatkan dan lain-lain.

Seseorang berbisnis karena ingin memberikan layanan yang relevan dengan konsumen, menyediakan sesuatu yang bermutu dan melayani dengan baik sehingga laku. Namun semua itu butuh rencana yang matang. Maka daripada berkreasi dan melakukan inovasi sehingga punya daya saing, orang kemudian lebih memilih untuk meniru, ikut menjual atau berjualan apa saja yang sedang laku.

Memperoleh sesuatu atau mengatasi masalah dengan cara yang paling gampang kemudian menjadi kebiasaan.

Sejak kecil setiap orang suka membeli undian. Karena membeli undian seseorang bisa mendapatkan sesuatu yang harganya jauh diatas nilai uang yang dikeluarkan. Iming-iming mendapat sesuatu itu kemudian kerap kali membuat orang membeli apa yang tidak benar-benar diperlukan hanya karena ingin mengejar hadiahnya.

Ketika mengalami kesulitan uang, jarang orang yang berpikir untuk mencari pekerjaan atau hal lain yang akan memberi tambahan pendapatan. Kebanyakan justru memilih untuk berhutang, bukan ke bank karena syaratnya rumit.

Padahal orang tahu berhutang kepada rentenir, jasa keuangan non bank justru akan menambah beban masalah. Maka yang kemudian lazim terjadi adalah gali lubang tutup lubang.

Bertahun-tahun bekerja keras namun hasilnya tak seberapa membuat banyak orang sering silau pada keberhasilan orang lain. Berprinsip “Kalau orang lain bisa maka saya juga bisa’, banyak orang kemudian berspekulasi, pilihan yang hitam putih, untung atau buntung.

Maka dulu ketika pemerintah melegalkan berbagai jenis undian berhadiah yang banyak membeli adalah orang kebanyakan, masyarakat miskin.

Dan hasilnya bisa ditebak, tak banyak orang miskin yang kemudian menjadi kaya karena undian berhadiah. Yang terjadi justru orang-orang miskin menyumbangkan uangnya dan membuat penyelenggara menjadi kaya lalu menyumbangkan sebagian uangnya untuk kegiatan sosial dan olahraga.

Keinginan mendapat uang besar dengan cepat dan mudah, membuat undian menjadi magnet kuat untuk terus membeli. Selalu ada harapan untuk dapat meski harapan itu dibesar-besarkan oleh diri sendiri.

Yang selalu diingat adalah cerita orang yang dapat dan kemudian bersenang-senang dengan uangnya. Bisa membeli ini dan itu yang diinginkannya. Kisah atau cerita tentang keluarga yang berantakan, hubungan suami istri yang renggang, tunggakan tagihan listrik, kontrakan rumah dan lainnya karena uangnya dipakai beli undian dianggap sebagai cerita bohongan.

Berhadapan dengan pilihan hitam putih, pilihan bernada spekulasi atau judi, rasionalitas manusia biasanya memang mati atau ditekan.

BACA JUGA : Sri Mulyani Yang Pintar Jadi Bodoh Karena Ikut-Ikutan Mempermalukan Rokok

Beberapa saat terakhir ini ramai dibicarakan tentang binary option. Dibungkus dengan istilah trading dan robot investasi membuat sebagian besar orang menjadi tak sadar kalau beragam aplikasi online itu tak lebih dari judi.

Para pengembang aplikasi ini sadar persis tentang cara kerja otak manusia yang gemar mencari cara termudah untuk mendapat yang diinginkannya. Agar terlihat meyakinkan dan sesuai dengan ekonomi kekinian, pilihan a atau b kemudian dilabeli dengan istilah ekonomi yang biasa hanya dipraktekkan oleh perusahaan atau profesi khusus.

Cara kerjanya kemudian menjadi lebih canggih dan rapi dibandingkan dengan jaman undian SDSB atau Porkas.

Ada grand stategi yang dimainkan oleh mereka sehingga banyak orang tidak sadar kalau tengah tertipu. Strategi yang dimainkan membuat para pengembangnya tidak dikenal, yang dikenal oleh masyarakat adalah mereka yang disebut sebagai afiliator, leader, mentor, master dan lain sebagainya.

Para pengembang ‘judi online’ berbaju trading atau investasi ini biasanya akan merekrut sosok-sosok tertentu untuk melakukan sosialisasi atau bahkan lazim disebut sebagai edukasi. Mereka akan ditampilkan sebagai sosok-sosok sukses yang tak malu-malu menunjukkan kekayaan yang diklaim sebagai hasil trading atau investasinya.

Flexing atau pamer kekayaan dengan cara yang brutal merupakan cara untuk memancing atau menebar kail atau trolling.

Orang yang melihat pasti akan tertarik. Dibumbui dengan aneka cerita, kisah diri yang tak punya apa-apa dan kemudian dalam waktu tak lama bisa menjadi sultan atau crazy rich karena trading dan investasi, sosok tersebut kemudian menjadi patokan sebuah keberhasilan.

Dan orang-orang yang berhasil itu kemudian akan diikuti, dijadikan mentor, guru atau apapun yang bisa membantu orang untuk ikut mencapai kesuksesan.

Memang itulah yang dikehendaki oleh mereka. Begitu banyak orang terperangkap, mereka segera akan membuat group atau bahkan komunitas. Membangun channel di sosial media, tempat mereka bisa berbagi pengetahuan, tips dan trik namun terlebih lagi adalah semangat serta motivasi untuk bergabung, memulai trading dan gemar berinvestasi.

Orang-orang sukses yang kemudian diakui oleh para followernya sebagai suhu atau master bahkan kemudian bisa membuka kelas-kelas berbayar. Mereka mendapatkan uang tambahan selain fee dari para pengembang aplikasi.  Para suhu atau master ini kemudian jadi lebih kaya, dan semakin tampil tajir semakin menarik orang untuk mengikuti jejaknya.

Media sosial menjadi tempat yang mudah untuk menebar jala, sebab menampilkan diri sebagai orang kaya mudah dilakukan. Ada banyak penyedia jasa yang menawarkan fasilitas untuk berfoto ria, berlagak sebagai orang kaya. Mulai dari menyewakan mobil, menyewakan tempat dengan penampilan klub para sosialita, penyewaan tas, aksesories serta pakaian mahal.

Pamer atau flexing sendiri tidak merupakan masalah andai dirinya benar demikian. Dalam artian tertentu flexing adalah persuasi, untuk mempengaruhi orang lain agar percaya.

Dan menunjukkan atau memamerkan tidak selalu berupa kekayaan melainkan juga pengetahuan atau ketrampilan, kompetensi, profesionalitas dan lain sebagainya.

Yang menjadi masalah ketika flexing dipakai untuk tujuan tidak baik, melakukan penipuan atau mengajak orang untuk bergabung dalam sebuah bisnis atau apapun yang palsu.

Dan di tengah masyarakat yang berharap untuk mendapat sukses atau kekayaan yang cepat guna merubah nasib, tampilan mereka yang dibilang sukses dan kaya serta baik hati di media sosial bakal membuat gelap mata.

Deretan orang yang tertipu sudah sedemikian panjang, uang yang hilang juga sangat besar. Namun permainan uang atau bisnis dengan skema ponzi selalu hadir sesuai dengan jaman, berubah penampilan dari waktu ke waktu sehingga yang sempat tertipu bisa juga tertipu kembali.

Kini sebagian masyarakat mungkin sudah mulai sadar dengan tawaran trading dan robot investasi, namun belum tentu ketika money game dan ponzy kembali datang dengan modus baru di area koin kripto, token dan NFT.

Hadir dengan balutan metaverse, mereka yang gemar tergoda untuk kaya dengan cepat, membiakkan uang dengan gampang, beroleh passive income akan kembali terjerumus dalam lubang yang sama.

Scam yang direncanakan atau scam yang terjadi karena proses akan terus memakan korban karena sebagian besar masyarakat pada dasarnya suka berjudi dan mencari peruntungan.

“Kalau nggak dapat ya sudah tapi kalau dapat kan untung besar,kapan lagi kita bisa dapat sebesar itu” kilah semacam ini akan susah dilawan dengan penjelasan apapun. Dan nanti mereka akan sadar ketika sudah buntung.