Lahir di jaman susah, saya semenjak sekolah tak dibiasakan untuk pintar jajan. Maka saat liburan tiba, ibu tak telalu suka jika saya berlama-lama liburan di rumah nenek dan kakek dari pihak ibu. Sebab kakek yang bekerja di PJKA, setiap kali pulang kerja selalu memberi uang jajan untuk cucunya.
Seingat saya, guru di sekolah juga tak suka muridnya rajin jajan. Bapak dan ibu guru selalu mengajarkan untuk menabung. Dan disekolah biasanya diselenggarakan tabungan kelas yang diurus oleh wali kelas.
Bank pada waktu itu memang belum banyak. Di desa saya yang sekarang jadi Ibu Kota Kecamatan Purworejo hanya ada satu, yakni Bank Rakyat Indonesia, itupun bukan kantor cabang melainkan ranting. Berkantor di bagian depan rumah seseorang yang kami kenal dengan sebutan Mbah Mantri Bank.
Seingat saya, pemerintah waktu itu juga menggiatkan masyarakat untuk menabung. Ada dua jenis tabungan yang disosialisasikan yakni Tabanas dan Taska. Tabanas adalah Tabungan Pembangunan Nasional dan Taska adalah Tabungan Asuransi Berjangka.
Untuk siswa dan pelajar, PT Pos Indonesia kemudian juga meluncurkan Tapelpram atau Tabungan Pelajar dan Pramuka.
Kampanye gerakan menabung ini dimulai oleh pemerintah pada sekitar tahun 1971. Berbagai bentuk kampanye dilakukan seperti bincang-bincang, pidato kepala daerah, berita yang disiarkan lewat radio, pemasangan poster, spanduk dan juga iklan. Bahkan sampai diselenggarakan lomba mengarang cerita anak yang dimenangkan oleh Jauhari Iskak pada tahun 1977 dengan judul buku Tabanas Membawa Bahagia.
Di radio juga terus menggema lagu mars Tabanas-Taska yang diciptakan oleh Adil Tampubolon untuk menggelorakan semangat menabung.
Pentingnya menabung juga disampaikan oleh Presiden Suharto dalam pidato kenegaraan di depan wakil rakyat pada tanggal 15 Agustus 1974.
“Suatu bagian sangat penting dalam rangkaian langkah-langkah untuk mengurangi kenaikan harga-harga adalah usaha untuk mengurangi laju pertambahan jumlah uang yang beredar. Untuk itu suku bunga deposito berjangka dan tabungan nasional dinaikkan …. ,” ujarnya.
Setelah satu dekade kehadiran Tabanas dan Taska, pada September 1986 dana yang berhasil dikumpulkan berjumlah kurang lebih Rp. 1.218,9 milyard dengan jumlah penabung sebanyak 15,6 juta orang.
Dan pada 28 Oktober 1988 pemerintah kemudian mengambil kebijakan untuk meliberalisasi sektor perbankan. Siapapun yang mempunyai modal Rp. 10 milyard bisa mendirikan bank. Jumlah bank baru melonjak. Bank kemudian mengembangkan cara-cara baru untuk meraup nasabah. Pelanggan baru diiming-imingi hadiah, pelanggan lama dan loyal dijaga dengan undian yang hadiahnya besar-besaran.
Bank bukan hanya rajin mengajak orang menabung atau menyimpan uang melainkan juga membujuk orang untuk rajin mengajukan pinjaman.
BACA JUGA : Biar Kaos Bekas Yang Penting Bermerek
Menabung itu keren, begitu yang digaungkan ketika pemerintah dan perbankan bergiat untuk mengajak masyarakat menabung lewat tabanas dan taska atau deposito.
Ketika bank-bank mulai berhasil meraup nasabah, banyak orang menabung atau menyimpan uang tentu saja timbul masalah. Uang yang disimpan harus diberi bunga sehingga orang tertarik untuk terus mempertahankan simpanan.
Giliran berikutnya Bank mulai merubah slogan, dari menabung itu keren menjadi meminjam itu hebat. Bank-bank mulai meluncurkan pinjaman untuk masyarakat, dengan berbagai iming-iming agar masyarakat tidak takut berhutang.
Entah ada konspirasi antara bank dan para motivator apa tidak, namun yang jelas ada banyak kelas motivasi yang mentornya mengajarkan untuk tidak takut memulai usaha dengan modal dengkul. Modal dengkul artinya bukan uang sendiri melainkan uang yang dipinjam dari bank.
Pinjaman yang berfokus pada usaha produktif, barang modal, investasi atau pembangunan membuat pasar bank sempit. Untuk memperluas pasar pinjaman kemudian bank melahirkan pinjaman konsumsi. Bentuknya adalah kartu kredit.
Entah persuasi semacam apa yang dipakai oleh industri bank dan keuangan, kartu kredit yang sesungguhnya adalah hutang kemudian menjadi penanda keren tidaknya seseorang. Biar punya tabungan atau deposito, namun jika di dompet tak ada kartu kredit maka bakal dianggap tak modern alias ketinggalan jaman.
Kasir-kasir di berbagai tempat perbenjaanpun lebih ramah melayani pelanggan yang menggunakan kartu kredit ketimbang kartu debet.
Bank begitu agresif meningkatkan jumlah pemegang kartu kredit. Mereka bukan hanya beriklan melainkan membentuk pasukan pembujuk yang siap merekrut penghutang baru baik lewat tele marketing maupun pertemuan langsung di mall-mall dan pusat keramaian lainnya.
Regim kartu kredit membuat mereka yang gemar pamer dompet tebal dan membayar di depan kasir sambil pamer uang menjadi mahkluk kuno dan ketinggalan jaman, norak.
Yang disebut sebagai bankable adalah orang-orang yang bertransaksi non tunai. Membayar dengan elegan meski nanti diakhir bulan bisa pusing tujuh keliling karena bank mengirimi tagihan yang harus dibayarkan cicilannya agar ketika nanti main gesek kartunya tak ditolak oleh EDC, Electronic Data Capture.
Sampai sekarang di dompet saya belum pernah bertahta satu kreditpun. Saya tak cukup punya keberanian untuk berhutang dengan cara keren itu . Lagipula kelas pergaulan saya memang tak menuntut model pembayaran cashless, kalaupun terpaksa mesti membayar dengan cara itu maka saya lebih memilih mengeluarkan kartu debet.
Dengan semua perkembangan teknologi perbankan, kemudahan yang saya pakai adalah sms banking. Dengan fasilitas ini saya jadi tahu kalau ada yang mengirim uang ke rekening asal jumlahnya satu juta keatas, atau bisa mencatat pengeluaran karena setiap kali mendebet akan mendapat pemberitahuan.
BACA JUGA : Aslinya Bangsa Kita Memang Penyuka Judi
Kehadiran teknologi informasi dan komunikasi yang berbasis internet membuat perbankan terdisrupsi. Muncul perusahaan-perusahaan financial techinology yang tidak berbasis pada bank.
Kini kemana-mana tak perlu membawa dompet yang berisi puluhan kartu. Cukup membawa smartphone yang terhubung dengan internet melalui paket data.
Uang kini bisa disimpan dalam dompet digital yang kemudian bisa terkoneksi dengan berbagai model pembayaran, baik lewat ekosistem mereka sendiri maupun melalui payment gateway. Dengan satu kali scan barcode lewat layanan QRIS atau Quick Response Indonesian Standard asalkan di dompet digital atau rekening bank ada isinya, berbagai hal bisa dibayarkan.
Untuk urusan fintech ini nampaknya saya tak mungkin lagi menghindar. Ekosistem cashless kini semakin luas. Transaksi uang elektronik baik untuk mengisi atau mengeluarkan tidak lagi rumit, tak perlu alat khusus, semua ada dalam genggaman tangan.
Sama seperti perbankan yang dulu mengeluarkan layanan kartu kredit, kini perusahaan fintech juga memberi layanan yang sama. Namanya lebih keren yakni pay later.
Nah dibanding dengan perbankan, layanan perusahaan fintech lebih terpersonalisasi. Akses data termasuk data transaksi lebih mudah, bukti dan lainnya juga akan dikirimkan secara elektronik. Sistem juga secara cerdas akan memberi rewards kepada yang rajin belanja, berhutang dan tidak telat membayar. Ada banyak kupon belanja atau discount diberikan dan pagu pinjaman juga dinaikkan.
Seperti halnya kartu kredit, saya juga enggan untuk mencoba layanan pay later. Selain lebih gampang cara ngutangnya bila dibandingkan dengan kartu kredit, sehingga berisiko tidak terkontrol, resiko yang bakal dihadapi bila nunggak akan lebih fatal.
Telat membayar kartu kredit paling akan ditelpon oleh tukang tagih. Tapi telat membayar layanan pay later berbagai macam fitur yang terhubung dengannya bakal diblok oleh pemberi layanan. Layanan seperti ride hailing, pesan antar makanan dan lain-lain menjadi tidak bisa diakses.
Dalam banyak kasus layanan pay later kerap dipinjam oleh teman yang perlu sesuatu namun pagunya belum cukup. Dan biasanya yang pinjam kerap khilaf, lupa mencicil. Pun ketika diingatkan tidak dengan segera membayarnya. Adalah biasa ketika yang diperlukan sudah didapat, ada banyak alasan untuk ingkar dari tanggungjawab.
Layanan fintech membuat segala macam transaksi menjadi lebih mudah. Sambil duduk-duduk di rumah segala sesuatu bisa dibereskan. Namun soal uang yang lebih kita pelajari adalah soal menghabiskan, bahkan ketika tak punya uang kita masih berusaha untuk menghabiskan dengan cara berhutang.
Dalam teori keuangan mainstream, setiap hutang harus ada jaminan realnya. Sehingga ketika tidak bisa mengembalikan hutang maka jaminan itu yang harus diuangkan. Tanpa jaminan, hutang akan menjadi lingkaran setan yang memunculkan pepatah “Gali lubang tutup lubang,”.








