Beringasnya netizen ternyata ada buah manisnya.

Salah satu yang merasakan buah manis itu adalah Juliari Peter Batubara, Menteri Sosial yang baru menjabat selama 14 bulan namun sudah ditangkap oleh Komisi Pemberantasan Korupsi karena menilep paket bantuan sosial Covid 19.

Saat membacakan  keputusan, hakim tipikor membacakan hal-hal yang memberatkan dan meringankan sebagai bahan untuk mengambil keputusan.

Salah satu yang meringankan dalam pandangan hakim adalah kenyataan bahwa sebelum divonis dan dinyatakan bersalah, Juliari sudah menderita karena tuduhan korupsi bansos Covid 19.

“Terdakwa sudah cukup menderita dicerca, dimaki, dihina oleh masyarakat. Terdakwa telah divonis oleh masyarakat telah bersalah padahal secara hukum terdakwa belum tentu bersalah sebelum adanya putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap,”

Darimana Juliari tahu kalau dirinya dihina dan dicerca oleh masyarakat sehingga dia merasa menderita karenanya?.

Hinaan, bully-an, cemooh dan cercaan masyarakat pasti diungkapkan lewat media sosial. itu berarti selama diperiksa, ditahan dan diadili, Juliari tetap aktif mengakses media sosial.

Atau bisa jadi keluarga, teman dekat dan para penasehat hukum yang bisa bertemu dengannya memantau dan mengumpulkan semua respon netizen dan kemudian memberitahukan pada Juliari.

Masalahnya semua pelaku kejahatan mengalami hal yang sama. Semua pasti dihajar oleh netizen Indonesia yang terkenal paling tidak sopan di sosial media.

Maka menjadi aneh jika kemudian hal itu menjadi pertimbangan bagi hakim untuk menjadi salah satu hal yang meringankan putusan.

Yang perlu diingat bahwa sebuah putusan akan menjadi preseden untuk keputusan-keputusan berikutnya. Kelak jika cercaan atau hinaan dari netizen sudah dianggap sebagai sebagian hukuman maka para perilaku kejahatan dengan segera begitu ditangkap akan meminta kepada koleganya untuk memprovokasi netizen agar mencela sehina-hinanya.

Tapi itulah hukum, bahwa masyarakat selalu meminta putusan yang seadil-adilnya namun para pengadil atau hakim tetap akan selalu memutuskan berdasarkan ‘rasa’.

Dan yang disebut rasa keadilan itu bisa jadi berbeda antara masyarakat dan penegak hukum.

Berharap hukum layaknya matematika selalu akan melahirkan rasa kecewa. Sebuah keputusan yang oleh hakim dikatakan sebagai menjunjung tinggi keadilan, bisa saja sama-sama tidak memuaskan untuk terdakwa dan masyarakat.

{ baca juga : Suami Istri Kompak Korupsi

Masyarakat Rasa

Sepajah sejarah homo sapiens, terutama ketika sudah menemukan bahasa, tulisan dan merumuskan pengetahuan, manusia selalu menganggap dirinya rasional.

Padahal berpikir dengan otak rasional lebih merupakan cita-cita ketimbang kenyataan harian.

Gerak, tingkah, polah dan perilaku manusia pada dasarnya lebih bersandar pada otak emosial, rasalah yang menguasai kehidupannya.

Ketika manusia bersandar pada otak rasional, segala sesuatu dipandang secara obyektif maka yang disebut hidup sungguh tidak akan berwarna.

Yang disebut warna-warni hidup manusia lebih dilukiskan oleh rasa atau emosi, sehingga dunia menyenangkan atau tidak menyenangkan, tumbuh rasa suka atau benci, bahagia atau sedih dan seterusnya.

Kalau tidak percaya mari kita buktikan.

Saat memilih untuk membeli baju, sepatu atau aksesories lainnya, apa yang mendasari keputusan untuk membelinya?.

Kebanyakan kita membeli karena suka dengan bentuk, warna, trend, harga dan lainnya. Bukan karena terbuat dari bahan apa, dibuat dengan cara bagaimana, materialnya cocok untuk tubuh kita dan seterusnya.

Pun ketika kita memilih seseorang dalam pemilihan umum, keputusan untuk memilih sering kali lebih karena kita suka ketimbang karena kita tahu apa visi dan misinya, program atau rencana yang ditawarkan olehnya ketika menjabat.

Alasan rasional hanya akan muncul ketika ditanya kenapa membeli atau memilih itu. Dan alasan yang rasional itu adalah alasan yang dicari-cari untuk membenarkan pilihannya.

Jarang orang mempunyai alasan terlebih dahulu baru melakukan sesuatu. Seperti sebuah kegiatan yang mesti ada kerangka acuan kerjanya terlebih dahulu sebelum dilaksanakan.

Dalam skala yang lebih luas, bangsa kita juga sejak semula merasa kaya raya, subur makmur seperti yang dinyanyikan oleh Koes Plus. Tongkat kayu yang dilempar sekalipun bisa jadi tanaman.

Merasa kaya hingga akhirnya menjual kekayaan menjadi kebiasaan. Industri yang kemudian paling pesat berkembang dan besar adalah industri ekstraktif. Industri yang kelihatannya canggih, memobilisasi alat-alat yang padat dengan teknologi namun wataknya hanya memanen.

Masyarakat rasa menjadi semakin terlihat ketika kita dilanda pandemi. Cara menghadapi pandemi dihadapi dengan emosi. Pertama yakin bahwa pandemi adalah ciptaan, rekayasa oleh kelompok-kelompok tertentu yang ingin mengambil keuntungan.

SOP atau panduan untuk bertindak dalam pandemi tidak ditaati karena ada banyak yang merasa yakin tidak akan tertular. Namun jika tertular nanti bukannya sadar tidak mencegah malah menganggap sakit sebagai cobaan dari Yang Maha Kuasa.

Dalam menghadapi pandemi selain ada panduan perilaku atau prokes, dikenal pula metode pencegahan yang disebut vaksinasi. Namun banyak yang menolak untuk divaksin karena merasa dalam vaksin telah disusupi material tertentu yang membuat penerimanya akan berlaku atau menjadi sesuatu sesuai yang diingini pembuatnya.

Nanti ketika pemerintah menetapkan sertfikat vaksin sebagai prasyarat untuk bisa bepergian baru ramai-ramai berbondong-bondong mencari layanan vaksinasi. Masyarakat merasa perlu divaksin bukan karena ingin sehat melainkan karena ingin bisa bebas bepergian.

{ baca juga : Matinya Empati

Saya Pikir

Sepuluh tahun lalu kalau sesorang diberi pertanyaan, umumnya akan memberi jawaban dengan awalan “ Saya rasa …..,”

Tapi beberapa tahun terakhir ini ada banyak orang mulai memberi jawaban dengan awalan “Saya pikir …,”

Sebuah kecenderungan yang mengembirakan karena ini menunjukkan bangsa ini berkembang. Dan yang patut bangga atau dibanggakan adalah dunia pendidikan, sebab tugas dari institusi pendidikan dan para pendidik adalah membuat peserta didik aktif berpikir.

Tapi seperti biasa, kita tak boleh jumawa. Ucapan “Saya pikir ….,” adalah sebuah fenomena, sesuatu yang patut ditelisik lebih dalam.

Dan mengingat nasehat dari Gus Dur yang diberikan lewat sebuah gurauan. Kurang lebih Gus Dur mengatakan begini “ Bangsa kita ini terbiasa lain yang diomongkan lain pula yang dilakukan,”.

Maka dengan segala hormat, ucapan “Saya pikir …,” tidak selalu menunjukkan orang yang mengatakan tengah berpikir.

Lalu darimana asal kalimat “Saya pikir …,” yang kemudian menggusur “Saya rasa….,” itu?

Patut diduga muasalnya dari perkembangan kemampuan masyarakat kita berbahasa Inggris. Ucapan “Saya pikir …..,” berasal dari bahasa Inggris “I think …,”

Transliterasi percakapan dalam bahasa Inggris menjadi percakapan dalam bahasa Indonesia menjadi semakin biasa dengan perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi. Bahkan tak jarang kata-kata dalam bahasa Inggris langsung diucapkan dan dibaurkan dengan kata-kata dalam bahasa Indonesia.

Hingga kemudian lahirlah Indonenglish, sebuah komunikasi percakapan dengan bahasa campuran antara Indonesia dan Inggris.

Ada sebuah kecenderungan yang menunjukkan bahwa seseorang merasa intelek dan literer jika dalam percakapan menyelipkan banyak kata atau idiom dari bahasa Inggris atau bercakap dalam gaya berbahasa Inggris.

Pengaruh bahasa Inggris lainnya adalah pemakaian kata dimana bukan untuk mempertanyakan tempat melainkan untuk awalan dan penghubung. Kata dimana dalam hal ini adalah transliterasi dari kata “Which atau Which is”.

Jadi jangan buru-buru percaya pada orang yang mengatakan sesuatu dengan awalan “Saya pikir….,”. Sebab tak otomatis apa yang disampaikan adalah hasil pikiran.

Dan pada dasarnya berpikir tidak otomatis menjadi rasional, sebab yang disebut emosional atau rasa juga hasil dari pikiran.

Maka berpikir dengan patokan pikiran sendiri sebenarnya tak lebih dari merasa. Rasa itu emosi, tak heran jika hasil dari pikiran semacam itu terutama yang kemudian diungkapkan lewat media sosial bisa menyakiti banyak orang sehingga berakhir di meja laporan polisi.

note : sumber gambar – Unsplash

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here