Sejak tahun 1993 otoritas pendidikan Denmark mengembangkan kelas yang disebut kelas empati sebagai bagian dari kurikulum pendidikan nasionalnya.

Hal ini kemudian kerap dihubungkan dengan kenyataan Denmark yang kerap menempatkan negerinya sebagai negara paling berbahagia di dunia. Rangking tinggi itu terus ditempati oleh Denmark sekurangnya 7 hingga 8 tahun terakhir ini.

Dalam perbincangan kita sehari-hari amat kerap disebut kata simpati, namun jarang sekali kita menyebut empati dan psikopati.

Psikopati sejak tahun 1996 saat neurosciense mulai berkembang pesat dipahami sebagai seseorang yang tidak bisa merasakan emosi orang lain.

Nir emosi tidak berarti orang yang psikopat tidak punya emosi melainkan tidak bisa merasakan emosi orang lain terutama kesedihan. Seorang yang psikopat gagal merasakan penderitaan orang lain ketika dia melakukan aksi-aksinya.

Yang ada dalam otak seorang psikopat hanyalah rencana dan bagaimana melakukan rencananya itu. Dan sama sekali tidak ada pertimbangan perasaan individu lain yang terdampak oleh aksi atau rencananya.

Maka orang tersebut kemudian dikenal sebagai orang jahat, tanpa perasaan, pembunuh berdarah dingin, pembunuh berantai, pelaku kekerasan berkelanjutan dan lain sebagainya.

Darimana asal perilaku seperti itu?.

Di dalam otak ada sebuah struktur bernama amygdala, bagian ini berfungsi untuk mendorong survive atau bertahan hidup. Bagaimana kita bisa tetap hidup atau eksis tanpa memerdulikan orang atau pihak lain.

Namun dalam perkembangannya, manusia juga mahkluk lain seperti simpanse, lumba-lumba, bonobo dan orang utan, orbitalfrontal cortexnya berkembang. Pusat altruismenya yang memungkinkan untuk mendorong manusia dan lainnya menolong orang atau individu lain ketika ada dalam bahaya. Bahkan manusia dan lainnya bisa mengorbankan diri demi menolong orang atau individu lainnya.

Altruisme kemudian dipahami sebagai rela berkorban untuk kepentingan sendiri demi orang atau individu lainnya.

Dan sifat inilah yang kemudian bisa membuat manusia, simpanse, orang utan, bonobo dan juga lumba-lumba berempati.

Nah pada individu yang orbitalfrontal cortexnya gagal menghambat kecenderungan amygdala akan cenderung berkembang menjadi individu yang psikopat atau berempati rendah.

Hanya saja manusia tidak hitam putih, meski ada orang yang psikopat ekstrim atau empati ekstrim namun rata-rata kebanyakan manusia terombang-ambing antara dua kutub itu.

Karena setiap orang mempunyai bakal psikopat dan empati maka pendidikan memang bisa berperan serta. Pendidikan tepatnya kelas atau pelatihan bisa membuat orang mempunyai empati yang baik.

Kembali ke Denmark dengan rangking kebahagiaan, apa yang dicapai oleh negara itu dimungkinkan karena yang menjadi ukuran bukan lagi kesejahteraan melainkan kebahagiaan.

Orang bahagia karena dalam kehidupan bersama bisa saling berempati.

Dan inilah yang kemudian diajarkan dalam kelas, dilatih bersama. Apa yang mau dibangun adalah kecerdasan sosial yang diawali dengan kecerdasan emosional. Empati adalah bagian dari kecerdasan emosional.

Latihan empati yang paling sederhana misalnya adalah antri. Dalam antrian seorang yang berempati tidak akan memotong jalur atau tiba-tiba saja masuk di bagian depan. Dan tertib dalam antrian bisa dilatih sejak kecil.

Maka yang disebut dengan kelas empati bukanlah soal pengetahuan tentang apa dan bagaimana itu empati. Sebab pengetahuan tidak akan merubah perilaku. Kelas empati adalah pelatihan untuk mengasah ketrampilan berempati secara terus menerus sehingga menjadi kebiasaan.

Kelas empati adalah investasi, karena menanamkan sejak dini kecerdasan emosional yang diharapkan nanti akan dipanen ketika sudah dewasa, saat mulai terjun dalam kehidupan sosial bersama.

Latihan atau pendidikan empati biasanya dinikmati pada periode atau generasi berikutnya.

{ baca juga : Pilpres, Pilgub, Pilbup, Pilwakot dan Pil Pahit

Bertumbuh Dalam Contoh Busuk

Pandemi, saat sebuah penyakit menjadi wabah, mempengaruhi masyarakat luas dan membawa semua orang berada di bawah ancaman kematian menjadi cara terbaik untuk mengukur dan merefleksikan bandul antara psikopati dan empati.

Bentuk-bentuk sikap dan perilaku rendah empati ditunjukkan pada masa awal pandemi lewat perilaku memborong masker dan hand sanitizer sehingga langka di pasaran. Masker dan hand sanitizer itu kemudian dijual dengan harga yang jauh lebih tinggi dari harga awalnya.

Saat mulai terdengar akan diterapkan kebijakan pembatasan, juga mulai terjadi aksi borong bahan kebutuhan pokok. Mereka yang berpunya juga segera memborong dan menimbun kebutuhan hidup sehingga beberapa barang menjadi langka di pasaran.

Namun sikap atau perilaku yang tidak sensitif  terhadap penderitaan orang lain paling nyata ditunjukkan oleh mereka yang menyunat atau menilep bantuan sosial untuk masyarakat terdampak.

Yang kasus terbesarnya justru dilakukan oleh pemimpin departemen yang mempunyai mandat mengatasi masalah sosial.

Juliari Peter Batubara, Menteri Sosial yang baru menjabat 14 bulan dicokok KPK melalui Operasi Tangkap Tangan karena mengkorupsi anggaran Bansos Covid 19 yang ditujukan untuk masyarakat kecil.

Juliari kemudian digantikan oleh Tri Rismaharini yang sepanjang menduduki jabatannya diberitakan selalu murka dan marah-marah karena penyaluran bantuan sosial untuk masyarakat selalu tidak beres.

Pada intinya kepada berbagai pihak Risma selalu menyesalkan sikap dan perilaku mereka yang bertanggungjawab untuk menyalurkan bantuan kurang memiliki empati terhadap rakyat kecil yang menderita.

Ada bantuan yang lelet disalurkan, ada pula bantuan yang disunat atau dikurangi dengan berbagai alasan.

Bukan hanya penyimpangan yang membuat Risma geram. Dalam suatu kesempatan Risma juga marah-marah karena di masa pandemi, saat rakyat berada dalam penderitaan, kedatangan Risma disambut dengan hiburan organ tunggal. Sebuah sambutan yang lagi-lagi menurut Risma tidak menunjukkan sensitifitas pada penderitaan rakyat.

Contoh lain matinya empati yang paling parah adalah temuan Bupati Jember dan beberapa pejabat lainnya mendapat honor dari pemakaman Covid 19.

Bahwa benar sesuai dengan instruksi Menteri Dalam Negeri nomor 1 tahun 2020, insentif dapat diberikan kepada tenaga kesehatan atau medis, tenaga penyidik {investigator} korban terpapar Covid 19, tenaga relawan dan tenaga lainnya.

Tapi jelas tak masuk akal jika instruksi itu diterjemahkan untuk menjadi landas bagi Bupati, Sekda dan pejabat lainnya menerima honor sebesar 100 ribu rupiah setiap ada korban yang dimakamkan.

Ada kurang lebih 280 juta rupiah honor yang dialokasikan untuk Bupati dan pejabat lainnya di Jember. Dan ketika persoalan ini diributkan, Bupati Jember menyatakan dana tersebut telah dikembalikan kepada KAS daerah.

Terhadap penetapan kebijakan pemberian honor itu, Bupati beralasan bahwa hal itu legal dan dalam beberapa kesempatan selalu mengatakan bahwa honor itu tidak dipakai olehnya melainkan dikembalikan dalam bentuk bantuan kepada masyarakat.

Ketika aspek legal yang dikedepankan, maka kita kemudian menjadi tidak sensitif pada konteks dan keadaan. Bagaimana mungkin seorang bupati, sekretaris daerah dan pejabat lainnya menjadi tega, menerima uang dari kematian masyarakatnya?.

{ baca juga : Literasi Bacot }

Cahaya Terang Peduli

Di tengah contoh-contoh buruk dan busuk dari matinya empati, kabar baiknya disana-sini banyak orang yang masih peduli dengan cara masing-masing.

Yang perlu diacungi jempol adalah tenaga medis dan kesehatan yang terus berjibaku selama lebih dari satu setengah tahun ini berada di garis depan. Sebuah pengabdian yang telah memakan banyak korban jiwa.

Di sana-sini muncul individu dan kelompok yang mengalang bantuan serta menyalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Di berbagai kota mereka yang berkelebihan mulai memborong barang dagangan pedagang yang turun jauh omzetnya karena pandemi untuk kemudian dibagikan kepada masyarakat luas.

Tidak sedikit dapur umum yang didirikan untuk mendukung dan membantu memenuhi kebutuhan makanan bagi mereka yang sedang melakukan isolasi mandiri.

Ketika oksigen langka dan menjadi mahal ada banyak tempat pengisian tabung oksigen mengratiskan ongkos pengisian serta membuka layanan selama dua puluh empat jam.

Masyarakat petani sebagai salah satu kelompok yang paling lemah di negeri ini juga tak lepas ikut peduli. Ada banyak kisah mereka menyumbangkan bahan mentah, entah sayuran maupun empon-empon, seperti jahe yang kebutuhannya sangat meningkat karena dipercaya bisa meningkatkan imun.

Lewat channel video para youtuber ternama kita juga bisa menyaksikan mutiara empati yang terpendam. Ada kisah tentang dokter yang rela menjual mobilnya untuk membantu pengobatan pasien-pasiennya.

Dan ditengah aksi para crazy rich serta para sultan yang gemar pamer kekayaan di channel youtubenya, ada banyak sosialita dan pesohor yang menggunakan pengaruhnya untuk menggelorakan semangat berbagi.

note : sumber gambar – CNBC Indonesia 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here