KESAH.ID – Indonesia kaya dengan ragam kopi yang walau berasal dari spesies yang sama namun rasanya akan berbeda-beda karena ditanam di daerah atau wilayah yang berbeda. Keragaman rasa, aroma dan sensasi kopi semakin lebar karena perlakuan yang berbeda, mulai dari pekebunnya, penyangrai hingga penyajinya. Menjelajahi pengalaman kopi adalah perjalanan yang tiada habis-habisnya.
Sebagai penyuka kopi, saya selalu berusaha untuk bersikap adil pada kopi. Artinya selama yang disajikan adalah hasil seduhan bubuk kopi maka saya tak akan menolaknya.
Dalam diri saya sama sekali tak ada hukum yang mengatakan bahwa kopi itu mesti arabika. Sebab ada banyak jenis kopi lainnya, seperti robusta, liberika, exelsa dan lainnya.
Dan kesukaan saya minum kopi bermula dari kopi robusta, kopi yang paling banyak dihasilkan oleh pekebun kopi di Indonesia. Gambaran rasa dari kopi itulah yang membentuk pengalaman tentang kopi dalam benak saya.
Saya masih ingat, kopi yang dulu sering diseduh di rumah adalah kopi giling yang dibeli dari warung. Bubuknya ditaruh dalam toples dan dijual eceran dalam wadah kertas. Ukurannya bukan timbangan tapi sendok.
Ada juga kopi kemasan, bungkusnya juga kertas. Merek yang ternama waktu itu adalah Kopi Muntu dan Kopi Cangkir. Merek itu masih bertahan sampai sekarang, kemasannya juga tidak banyak berubah.
Karena minum di rumah, cara seduhnya pun sederhana, kopi tubruk. Bubuk kopi disiram dengan air panas, kalau bisa air mendidih yang baru diangkat dari kompor atau tungku, katanya biar kopinya masak.
Konvensi umum soal kopi adalah panas, legi {manis} dan kentel atau nasgitel.
Kebiasaan ini kemudian menumbuhkan inovasi. Mulai ada pedagang yang menjual kopi yang sudah dicampur dengan gula dalam takaran sekali seduh.
Lama kelamaan inovasi ini diambil alih oleh industri dengan kemunculan kopi kemasan/sachetan yang sudah dicampur dengan gula. Sebutannya adalah kopi mix, kopi yang sudah dicampur bukan hanya dengan gula melainkan juga cream sehingga kalau diseduh berwarna kecoklatan.
Karena sudah dicampur dengan cream, rasanya kemudian lebih soft. Citarasa kopinya kurang menggigit.
Kopi mix kemudian populer, selain praktis dan murah, rasanya juga disukai oleh banyak orang.
Ada masanya saya suka juga kopi mix walau tetap juga meminum kopi hitam di warung.
Saya mulai terbiasa minum kopi di warung atau rumah kopi saat tinggal di Manado.
Ada satu jalan yang dikenal mempunyai banyak rumah kopi, namanya Jalan Roda atau lebih dikenal dengan singkatan Jarod.
Rumah kopi di Jarod menyajikan kopi yang diseduh dengan teknik saring, kopi yang disajikan dalam gelas tanpa ampas. Ada kopi keras dan ada kopi lombo untuk membedakan tingkat kekentalan kopi serta takaran gulanya.
Selain itu ada juga kopi susu. Namun sejak dahulu saya tidak suka dengan kopi susu, rasanya tak nyaman di perut.
Kelak ketika saya mulai sedikit mendalami kopi, saya baru tahu ternyata kopi yang biasa saya minum di Manado, kopi yang disebut dengan Kopi Kotamubago itu adalah jenis kopi arabika. Makanya sering kali akan terasa ada asam-asamnya.
Selain ngopi di Jarod, setiap kali ada undangan acara di hotel, saya juga akan selalu memilih kopi jika saat istirahat minum. Kopi di hotel selalu disajikan tanpa ampas karena dibuat dengan coffee maker.
Sampai dengan saat itu pengetahuan saya tentang kopi amat terbatas. Saya menganggap semua kopi sama saja, sama-sama hitam, sama-sama pahit. Kopi tidak enak apabila terasa apek, bubuknya sudah lama dan diseduh dengan air yang kurang panas atau kebanyakan air, terlalu encer sehingga lebih berasa air ketimbang kopi.
BACA JUGA : Meta Kuliner
Sekitar tahun 2000-an mulai ada kedai-kedai kopi non tradisional bermunculan di pusat perbelanjaan. Sebelumnya coffee shop memang sudah ada lebih dulu di hotel-hotel besar, tapi harga per gelasnya kelewat mahal.
Munculnya kedai kopi di pusat perbelanjaan walau relative juga mahal namun masih cukup terjangkau untuk minum sesekali. Sama seperti coffee shop di hotel, kedai kopi di pusat perbelanjaan menyajikan kopi espresso base, kopi yang diseduh dengan mesin.
Kopi original-nya tentu saja espresso tapi tak banyak yang berani meneguknya. Yang pingin kopi hitam akan lebih memilih long black atau americano, espresso yang ditambahi air panas. Namun di kedai seperti Excelso, Olala, Black Canyon dan lainnya yang umumnya dibeli adalah Cappucino, Latte dan minuman mix lainnya.
Jika ada yang mengajak ngopi di kedai-kedai modern, saya dulu cenderung memilih Excelso. Selain suka dengan Tuna Sandwich-nya, pilihan biji kopinya banyak. Di kedai ini saya mengenal berbagai kopi nusantara dan kopi dari luar negeri seperti Brasil, Ethiopia dan Columbia.
Karena belum punya teman ngobrol soal kopi dengan pengetahuan yang sahih, pengalaman akan rasa kopi yang berbeda-beda itu hanya saya deskrisikan sebagai kopi asli. Kopi asli Toraja, Gayo, Kintamani, Flores, Wamena, Mandailing dan lain-lain. Dan buat saya yang namanya kopi asli, otomatis saya anggap enak.
Kesukaan saya pada kopi makin meningkat. Kopi selalu menjadi minuman pilihan pertama bahkan saat makan bakso sekalipun. Saking doyannya pada kopi banyak yang menduga saya tak sudi minum es teh.
Meski suka kopi, perkembangan pengetahuan dan pemahaman saya terhadap kopi berjalan pelan. Baru pada sekitar tahun 2015 saya bertemu dengan orang-orang yang mengeluti dunia kopi, sesekali saya ikut ramai dalam sebuah komunitas kopi.
Pada saat itu saya diperkenalkan dengan cara seduh kopi yang disebut manual brewing, menyeduh kopi dengan seni dan berbagai aturan yang presisi.
Hasilnya memang sensansional, mulai saat itu saya mengerti kenapa minum kopi semestinya tanpa ditambahi dengan gula. Menikmati segelas kopi dari biji pilihan dan diseduh oleh peracik kopi yang terlatih memang terasa sayang jika rasanya menjadi rusak gara-gara ditambah gula.
Sayapun kemudian terbiasa meminum kopi tanpa gula, bukan hanya di kedai melainkan juga di rumah atau di warung pada umumnya.
Memang ada kecenderungan pada komunitas kopi yang diagungkan adalah kopi arabika dengan berbagai label seperti single origin atau specialty coffee. Dan saya tak memungkiri kopi jenis itu memang istimewa, kaya rasa dan juga aroma.
Meski begitu saya sekali lagi tak mau fanatik. Buat saya kopi robusta dan liberika juga tak kalah asyiknya. Toh sekarang ini dengan semakin berkembangnya pengetahuan para pekebu tentang cara mereka merawat, memanen, mengolah paska panen pada akhirnya juga bisa menghasilkan kopi robusta yang istimewa dan layak menyandang sebutan sebagai fine robusta.
Bahwa ada banyak coffee shop yang bersikukuh dengan arabika tentu saja tak masalah. Toh, di beberapa daerah juga berkembang kedai kopi yang dengan percaya diri menyajikan seduhan kopi robusta sebagai menu utamanya.
Oh, iya soal merasai kopi walau saya berusaha mengkalibrasi lidah namun ternyata tetap bermasalah. Kepekaan lidah saya untuk mendeteksi note sebuah kopi terasa rendah karena kebiasaan merokok yang sudah mandarah daging. Konon kabarnya lidah perokok memang kurang peka untuk merasa.
Jadi sampai sekarang saya selalu gugup bila setelah menyesap kopi lalu ditanya komentarnya.
Untung saja kebanyakan yang bertanya tak protes jika jawaban saya pendek dan tidak deskriptip semacam enak atau mantap.
BACAJUGA : Blusukan Asyik Di Pasar Tradisional
Kesukaan pada kopi membuat setiap kali pergi ke daerah lain maka saya mewajibkan kepada diri sendiri untuk merasakan atmosfir kedai kopi di daerah tersebut. Yang biasa saya cari adalah kedai kopi tradisional dan kedai yang menyajikan kopi manual brewing.
Kopi kekinian dan kedai semacam Starbuck, Excelso, Coffee Bean, Maxx Coffee serta lainnya sebisa mungkin dihindari jika tak terpaksa.
Untung saja beberapa tahun terakhir ini hampir seluruh kota di Indonesia mengalami booming kedai kopi. Sehingga dengan bekal google assistant atau google map tidaklah sulit untuk menemukan kedai kopi.
Untuk memaksimalkan pengalaman, kedai-kedai yang sekaligus merupakan roastery merupakan pilihan pertama. Kedai yang juga punya usaha mengoreng kopi biasanya menyajikan kopi dengan pilihan terbaik.
Pilihan lain yang saya sukai adalah kedai-kedai kopi yang bernuansa rumah tinggal. Suasanya cenderung lebih tenang, pengunjungnya tidak terlalu banyak dan biasa seduhannya juga mantap.
Ketika ke Kota Semarang baru-baru ini, di kawasan Kota Lama saya mampir ke Hero Coffee Indonesia. Berada di gedung tua yang besar dan didesain dengan gaya vintage, suasananya menjadi instagenic.
Pilihan biji kopinya banyak karena Hero Coffee juga merupakan coffee roastery.
Tak mengherankan jika sebagian yang datang bermaksud untuk membeli biji dan bubuk kopi untuk diseduh di rumahnya sendiri.
Selain Hero Coffee, saya juga sempat mampir ke Kedai Kopi Tatap Muka dan Kedai Kopi Anak Panah. Keduanya khas tempat ngopi anak-anak muda dengan desain minimalis industrial yang cozzy. Saya tak terlalu menikmati seduhan kopinya, namun terhibur dengan sajian live music di kedua tempat itu serta obrolan dengan anak-anak yang umurnya jauh lebih muda dari saya.
Di luar itu, karena kamar tempat menginap dilarang merokok, maka setiap malam sembari menunggu kantuk datang, saya mengepulkan asap sambil menyeruput kopi sachetan di warung pinggir jalan.
Dari Semarang saya ke Surabaya. Ketika menuju tempat menginap, sopir taxi bertanya kenapa memilih penginapan di daerah sini, menurutnya jauh dari keramaian kota dan jalan utama yang harus dilewati sering macet.
Hujan membuat saya tak bisa kemana-mana, untung di penginapan ada teras smoking area yang cukup luas. Malam pertama di Surabaya saya habiskan di teras penginapan, memandang jalan sambil menyeruput kopi sachetan dari kafetaria penginapan.
Bangun pagi-pagi sekali, sayapun berjalan kaki keliling disekitar kawasan penginapan yang merupakan daerah perumahan. Ternyata ada banyak rumah yang difungsikan sebagai kedai kopi. Dan salah satunya adalah kedai dan roastery ternama yakni Tana Merah.
Dalam bincang-bincang tentang kopi nama Tana Merah sering disebut maka saya tak menyia-nyiakan kesempatan untuk singgah. Siangnya menjelang tengah hari sayapun mampir untuk merasakan seduhan kopi ala tanah merah yang kedainya ternyata berada satu rumah dengan Konsulat Kehormatan Republik Kazakhtan.
Selain Tana Merah ada banyak kedai lainnya namun keesokan harinya saya memilih singgah di C 12. Suasananya hampir sama, tak seperti kedai kekinian yang mesti membayar lebih dahulu setelah pesan. Di kedua kedai ini yang melayani mengatakan payment-nya nanti saja.
Konon kalau ke Surabaya tak afdol jika tidak menjejakkan kaki di Tunjungan Plaza. Sayapun pergi cuci mata kesana, masuk lewat pintu TP 3. Pusat perbelanjaan itu ternyata besar sekali, hingga tak lama kemudian bukan hanya mata yang lelah melainkan juga kaki. Mulutpun terasa asam ingin segera mengepulkan asap.
Sayapun keluar dan jalan kaki menyusuri Jalan Embong Malang. Niatan saya ingin duduk-duduk merokok sambil ngopi di kedai sebelah Warung Rawon Setan. Namun ketika lewat didepannya terlihat panas mentari masih menyengat, sayapun meneruskan langkah hingga sampai ujung jalan.
Ternyata di pojokan ujung jalan itu ada kedai kopi di sebuah gedung tua, namanya Kota Lama Koffie. Tanpa pikir panjang sayapun mampir.
Ketika memesan kopi hitam, pembuat kopinya bertanya “Kopinya yang strong atau medium pak?”
Belum saya jawah dia melanjutkan “Kalau mau strong ada robusta tubruk,”
Sayapun segera menjawab “Iya itu saja,”.
Dan di tengah terik mentari sayapun menyesap kopi yang benar-benar strong sambil menghisap rokok kretek aroma yang saya beli di Semarang.
Lagi-lagi pada malam harinya menjelang tidur, saya kembali mengepulkan asap dengan menyeruput kopi sachetan yang oleh penjualnya dihargai 3 ribu rupiah.
Dan buat saya, kopi entah berharga 40, 15 atau 3 ribuan tetap saja sama nikmatnya selama diseruput dengan hati yang lapang dan mulut yang bebas mengepulkan asap.








