KESAH.ID – Pasar adalah ruang yang paling mumpuni untuk mewadahi semua kecenderungan manusiawi, baik untuk bersosialisasi, berekonomi maupun bersenang-senang. Meski tidak didesain menjadi tujuan wisata, beberapa pasar kemudian dengan sendirinya berkembang menjadi sebuah destinasi alternatif untuk para pelancong yang gemar blusukan dan merasakan denyut nadi yang sesungguhnya dari kota-kota yang dikunjungi olehnya.

Makin lama kita makin tak akrab dengan pasar, terlebih lagi pasar tradisional. Dalam benak kebanyakan kita, pasar tradisional identik dengan kesemrawutan, kotor, becek dan harga-harga yang tidak standar.

Walau ada banyak pasar tradisional yang dimodernkan gambaran miring tentang pasar tradisional tetap tak mudah dihilangkan.

Tak sedikit orang yang kemudian alergi dengan pasar tradisional, terlebih jika dihubungkan dengan keamanan. Pasar kerap menjadi sarang preman, copet dan kejahatan lainnya.

Kini pasar yang disukai dan digilai oleh banyak orang adalah market place. Sebuah platform di internet dimana penjual dan pembeli bertemu tanpa bertatap muka. Yang jualan bisa menawarkan dagangannya sambil tidur-tiduran, sedangkan pembelinya bisa berbelanja walau sedang berada di jalanan.

Meski saya sering berselancar di market place, membuka aplikasi bukalapak, tokopedia, bibli,, shopee dan juga lazada, namun sebagai bagian dari generasi lama tentu saja pasar tradisional tetap menarik untuk saya.

Dalam memori tersimpan kenangan dan kesukaan saya pergi ke pasar. Baik pasar yang buka reguler atau pasar yang buka berdasarkan hari pasaran.

Pergi ke pasar selain untuk membeli keperluan, buat saya dan teman-teman sebaya waktu itu jalan-jalan ke pasar bisa diibaratkan sebagai piknik.

Piknik kan artinya jalan-jalan keluar rumah, melihat tontontan lalu makan dan minum disana. Dan pasar tradisional adalah tempat piknik yang sempurna, karena mesti jalan kaki untuk mengelilinginya, ada banyak hal bisa ditonton termasuk salah satunya penjual obat yang pintar ngoceh, menunjukkan atraksi sulap dan permainan lainnya serta ada banyak kios atau penjual makanan dan minuman yang harganya ramah di kantong.

Kebiasaan jalan-jalan ke pasar terbawa sampai sekarang, kemana saja saya pergi akan saya luangkan waktu untuk menyusuri pasar tradisional yang ada di tempat itu.  Tentu saja bentuk pasarnya bermacam-macam, tetapi yang saya sukai adalah pasar yang tidak permanen, pasar kaget yang berada penjualnya mengelar dagangan di kanan kiri jalan atau gang.

Pasar semacam ini cenderung unik karena tidak tertata. Tidak seperti pasar tradisional yang sudah dipermodern yang blok-bloknya telah rapi ditata. Pemandangannya cenderung membosankan.

Belum lagi agresifitas pedagangnya dalam menawarkan barang, bisa bikin kaki pingin segera melangkahkan kaki dari situ.

Lain halnya dengan pasar kaget atau pasar tumpah, pedagangnya tidak terlalu agresif dalam menawarkan dagangannya. Sehingga lebih nyaman untuk pengunjung yang mau jalan-jalan, menikmati suasana dan pemandangan pasar.

Di banyak kota, pasar-pasar semacam ini telah menjadi ikonik walau keberadaannya semakin lama dianggap sebagai gangguan bagi mobilitas lalu lintas jalanan dan kebersihan lingkungan.

Pasar tumpah atau pasar kaget kemudian kerap dianggap sebagai komplikasi yang diresolusi dengan penggusuran atau pemindahan ke lokasi yang dianggap lebih layak.

Untung saja kebanyakan pasar kaget atau pasar tumpah itu beroperasi di pagi hari, sebagian bahkan disebut sebagai pasar subuh.

Namun berbeda dengan kebanyakan kota lainnya, yang disebut pasar tumpah atau pasar kaget di Kota Samarinda terjadinya justru di sore hari. Maka pasarnya kerap disebut sebagai pasar malam.

BACA JUGA : Doa Rosario, Citilink dan Tol Trans Jawa

Minggu lalu ketika berada di Kota Semarang, dari jendela kamar penginapan saya melihat pemandangan keramaian di pagi hari.

Karena tak ada yang bisa ditanyai perihal keramaian itu maka kepada google lah saya bertanya.

Dan sajian dari mesin pencari itu memberikan informasi bahwa keramaian di pagi hari itu adalah sebuah pasar namanya Pasar Peterongan.

Berbekal petunjuk dari google map sayapun melangkah kesana setelah memasukkan entri pasar pagi peterongan dalam tujuan. Berjalan tak begitu jauh dari tempat saya menginap, sayapun sudah sampai di keramaian pasar yang sebagian pedagangnya mulai berbenah untuk pulang.

Pasar Peterongan sendiri merupakan salah satu pasar rakyat tertua di Kota Semarang. Berkali-kali direnovasi, sebagian bangunan aslinya dipertahankan. Pasar ini bahkan telah ditetapkan menjadi cagar budaya, salah satu warisan budaya Kota Semarang.

Pasar ini berada di jalan MT. Haryono, tidak jauh dari Simpang Lima. Namun yang saya kunjungi pagi itu bukan Pasar Peterongan yang berada di ruas jalan MT. Haryono melainkan pasar paginya, pasar tumpah di bagian belakang yang pedagangnya mengelar lapak di kanan-kiri jalan Peterongan.

Yang dijual pada umumnya adalah sayur-sayuran dan bahan makanan lainnya termasuk yang siap makan.

Menyaksikan tumpukan berbagai macam daun dan umbian terasa ada keasyikan tersendiri. Ada memori yang terpanggil kembali karena menemukan pemandangan daun kacang panjang, daun ubi jalar, daun sintrong dan lain-lain, jenis sayuran yang tak saya temui di pasar malam yang ada di Kota Samarinda.

Untuk memenuhi kebutuhan dapur, apa yang dijual di Pasar Pagi Peterongan terbilang lengkap, karena selain sayur, bahan laukpun juga lengkap. Ada pedagang daging ayam, daging sapi dan ikan baik ikan segar maupun ikan asap. Lapak-lapak penjual ikan terutama ikan laut terlihat menarik hati karena ikan, udang, kerang dan kepitingnya terlihat masih segar-segar.

Yang senang makan dengan sensasi kriuk-kriuk pasti bakal bersuka karena di pasar ini ada pedagang kerupuk siap makan dengan bentuk dan ukuran kemasan aneka rupa.

Sedangkan untuk mereka yang mau sarapan namun malas masak, jalan-jalan ke Pasar Pagi Peterongan akan membuat sarapan menjadi menyenangkan karena ada banyak pilihan makanan dan cemilan siap saji yang bisa dipilih sebagai menu untuk pembuka hari.

Minuman yang menyehatkan juga tersedia. Ada penjual jamu yang tidak lagi menjajakan jamunya dengan digendong melainkan didorong dengan gerobak, sepeda engkol dan sepeda bermotor.

Oh, iya ditengah keramaian pasar ini nampak juga hilir mudik pengayuh becak. Moda transportasi yang sudah dilarang beroperasi di jalan raya.

Jadi yang rindu naik becak, bisa bernostalgia menaiki becak yang sekarang kebanyakan tidak lagi dikayuh karena sudah diberi pengerak motor. Lumayan jarak tempuhnya dari ujung ke ujung yang berada di ruas jalan Paterongan Raya dan Peterongan entah timur atau utara itu panjangnya mungkin hampir 1 kiloan.

Dari berbagai laman yang disajikan oleh mesin pencari google, pasar pagi {pasar tumpah/pasar kaget} ini sudah lama diupayakan untuk dipindah ke daerah Banyumanik. Lokasi yang sangat jauh yang tentu saja akan menyulitkan untuk para pedagang kecil mengikuti kebijakan itu.

Siangnya, masih dengan berjalan kaki saya menyusuri jalan MT. Haryono dan diantara deretan pertokoan saya menemukan pintu masuk ke Pasar Peterongan yang unik karena ditandai oleh Pohon Asam yang sangat besar.

BACA JUGA : Sastra Dan Kota 

Keesokan harinya saya masih akan punya waktu luang dari pagi hingga tengah hari. Waktu yang akan saya pergunakan untuk kembali menyusuri pasar tradisional di Kota Semarang. Dan lagi-lagi berbekal bantuan google akhirnya saya bisa menemukan destinasi untuk blusukan.

Dengan menaiki ojek online bertarif kurang lebih 13 ribu, menyusuri jalanan yang mulai ramai akhirnya saya sampai ke Pasar Gang Baru. Berhenti di depan sebuah kelenteng, pengemudi ojek online kemudian menunjukkan jalan masuk ke dalam pasar.

Pasar Gang Baru memang berada dalam gang, jalan yang menghubungkan antara ruas Jalan Krangan dan Jalan Warung. Pasar ini berada di Kawasan Kota Lama Semarang pada bagian permukiman masyarakat keturunan Thionghoa atau lazim dikenal sebagai Kawasan Pecinan.

Pada langkah pertama memasuki Pasar Gang Baru sudah terasa aura Semarang sebagai Kota Lumpia. Diujung gang masuk sudah ada pedagang rebung yang sibuk mengiris-iris lembaran rebung yang siap untuk dijadikan sayur atau isian lumpia.

Pedagang di pasar yang buka dari pagi hingga menjelang sore ini berjualan dijalanan yang dikanan kirinya berdiri aneka toko dan warung yang sangat terasa aroma pecinannya. Di depan warung dan toko-toko ini pedagang pasar meramaikan suasanya.

Dalam beberapa langkah saja, saya mulai teringat pada Pasar Subuh di Kota Samarinda. Karena di Pasar Gang Baru ini banyak lapak menjual daging babi dan makanan olahan lainnya yang mengandung babi.

Uniknya lapak-lapak ini tidak berada di blok tersendiri melainkan terselip diantara lapak-lapak lainnya.

Yang doyan kuliner hasil olahan masyarakat keturunan Thionghoa, pasar ini merupakan surganya. Selain produk kuliner untuk makan besar, banyak juga kue dan camilan lain khas pecinan di jual disini.

Bahan mentah untuk membuat makanan berdasarkan resep chinese food juga dijajakan disini mulai dari sayur asinan, aneka saos, bumbu, serta jamur-jamuran ada di lapak pasar maupun di toko dan warung yang ada di sepanjang gang.

Sama seperti Pasar Subuh di Samarinda, di Pasar Gang Baru Semarang ini juga banyak warga keturunan Thionghoa berbelanja.

Pasar ini menjadi menarik karena berada di kawasan Pecinan, namun ramai dengan pedagang dan pembeli yang bukan peranakan China.

Konon kabarnya cikal bakal Pasar Gang Baru bermula dari kebijakan kolonial Belanda yang memblokade kawasan permukiman masyarakat Thionghoa sehingga mereka kesulitan bahan pangan.

Untuk mengatasi hal itu masyarakat Tionghoa mengundang masyarakat pribumi untuk berdagang disana. Dengan cara itu masyarakat Pecinan bisa mengatasi kesulitan memperoleh bahan pangan.

Di ujung Pasar Gang Baru yakni ruas Jalan Warung pada akhir pekan akan digelar pasar sore, setiap hari Jum’at, Sabtu dan Minggu, Jalan Warung dari sore hingga tengah malam akan ditutup untuk berjualan produk kuliner yang disebut dengan Pasar Semawis.

Pasar ini menjadi salah satu destinasi wisata kuliner yang populer di kawasan Kota Lama. Kawasan kota lama yang sebelumnya direvitalisasi dan kemudian menjadi destinasi wisata unggulan adalah yang merupakan permukiman dan perkantoran kaum kolonial. Kawasan yang ditandai dengan ikon Gereja Blenduk dan Taman Srigunting.

Kini di kawasan kauman, permukiman masyarakat Keturunan Arab di masa kolonial dulu pada akhir pekan juga digelar festival kuliner di Alun-Alun Masjid Raya. Di Alun Alun yang basement-nya menjadi tempat parkir bagi pengunjung Pasar Johar ini pada malam hari akan dihiasi oleh tenda-tenda yang menjual berbagai macam makanan dan minuman, beberapa diantaranya viral di media sosial.

Menghabiskan malam di akhir pekan untuk berburu kuliner di Kawasan Kota Lama Semarang merupakan pilihan yang benar jika ingin merasakan makanan dan minuman dengan cita rasa Eropa, China, Arab, Nusantara dan tentu saja juga kuliner kekinian yang berbau Thailand, Jepang dan Korea.

Tapi ada harga yang harus dibayar untuk memperoleh pengalaman kuliner lintas budaya ini yakni kemacetan panjang terutama di malam Minggu.

note : sumber gambar – TRIBUNJATENGWIKI