KESAH.ID – Seperti banyak hal lainnya sastra mungkin meresahkan untuk banyak orang. Ada yang prihatin atas perkembangannya, ada yang skeptis dan tak sedikit yang mulai sinis. Tapi apapun itu, sastra tetap penting untuk kota terlebih kota yang menginginkan dirinya menjadi pusat peradaban.

Tanpa direncanakan, saya bertemu dengan beberapa anak muda yang diperkenalkan sebagai mahasiswa. Saya lupa persis fakultasnya entah bahasa atau budaya. Yang saya ingat mereka bicara keresahannya atas sastra dan budaya pada umumnya di Samarinda.

Sastra dan kebudayaan keduanya saya suka, tapi saya tak mengamati dengan tajam dinamikanya. Jadi ketika mereka bertanya bagaimana perkembangan dan wajah satra serta budaya di Kota Samarinda, saya tak bisa banyak mengudar kata.

Namun saya tergelitik ketika menangkap adanya rasa pesimis, perihal bagaimana sastra bisa memberi sumbangsih pada dinamika dan pergerakan budaya di Kota Samarinda.

Seingat saya salah satu dari antara mereka mengatakan “Puisi sepertinya sudah tak punya arti,”

Dalam hati saya setuju, menurut saya puisi nampaknya sudah mati.

Tapi saya tak mengatakan hal itu, sebab sesekali saya masih menulis puisi. Terlebih ketika ada bayarannya.

Maka saya mengatakan “Mungkin bukan mati, hanya langgam bahasa, diksi atau pilihan kata kita mungkin tak tepat lagi. Jadi puisinyai tak lagi dimengerti oleh orang-orang di jaman sekarang ini,”

Saya mengatakan begitu karena tahu ada beberapa orang yang berhasil membuat puisinya terkenal dan disukai lewat medium media sosial. Selain itu ada pula beberapa lagu yang mempunyai banyak pengemar karena syairnya puitis.

Rasanya sebutan anak senja berhubungan dengan hal itu.

Tapi rupanya yang dimaksud oleh teman-teman mahasiswa yang menjadi teman tongkrongan saya malam itu bukan seperti itu. Mereka mau lebih, sastra mesti punya dampak entah sosial, kultural, ekonomi bahkan paradigma.

Ah, berat.

Bisa jadi mereka punya idealisme, bahwa puisi itu mesti seperti karya-karya Wiji Tukul yang mampu mengerakkan para aktivis. Terus melawan, menolak lupa dan memelihara ingatan.

Atau novel harusnya bisa menginspirasi sebagaimana Filosofi Kopi karya Dee Lestari yang kemudian membuat kedai kopi manual brewing tumbuh dimana-mana.

Cantik Itu Luka, karya Eka Kurniawan juga bisa menjadi catatan karena menghadirkan perspektif lain tentang rupa cantik yang kemudian menjadi petaka, petaka yang berlarat-larat.

Apakah harus seperti itu agar kemudian sebuah karya fiksi menjadi layak disebut sastra?.

Sebenarnya tidak juga.

Tapi melihat perjalanan sastra, sejak semula memang dipenuhi dengan polemik.

Ada suatu masa dalam dunia sastra di Indonesia diisi oleh pengkarya yang tidak murni sebagai sastrawan. Selain piawai menulis fiksi beberapa diantaranya tumbuh dari seorang penulis esai karena mereka adalah jurnalis, memimpin sebuah penerbitan.

Sebagai esais mereka lebih akrab dengan polemik. Bukan rajin menulis puisi, novel, cerpen atau lainnya melainkan mengudar pemikiran apa itu sastra, apa itu puisi, bagaimana berkesenian dan berkebudayaan serta lainnya.

Sutan Takdir Alisjahbana yang menerbitkan Majalah Sastra Poejangga Baroe berpolemik sengit dengan Sanusi Pane pada tahun 1935 perihal mayarakat dan kebudayaan baru.

Sutan Takdir Alisjahbana berada dalam poros pemikiran masyarakat Indonesia yang terbuka pada nilai-nilai dan kemajuan ala barat. Sedangkan Sanusi Pane berada dalam poros kebudayaan yang melanjutkan nilai-nilai lokal terdahulu. Perdebatan ini melahirkan polemik kebudayaan ala barat atau ala timur.

BACA JUGA : Orang Mului Menjaga Hutan Dan Alam Untuk Kehidupan Lestari

Sekitar tahun 1950-an terjadi polemik baru antara Lembaga Kebudayaan Rakyat {Lekra} dengan kelompok Manifes Kebudayaan {Manikebu}. Lekra kemudian dikenal sebagai organ kebudayaan Partai Komunis Indonesia walau pada awal berdirinya tidaklah demikian.

Menjadi bagia dari PKI, kredo Lekra adalah ‘Seni Untuk Rakyat’. Kukuh dengan kredo ini Lekra akan menghantam kelompok yang berlainan pendapat dengan mereka. Manikebu diejek sebagai mani kebo {sperma kerbau}.

Untuk kelompok Manikebu, paham seni untuk rakyat dipahami sebagai cerminan paham sosialis. Sastra yang dikembangkan oleh Lekra adalah sastra politik, realisme sosialis atau realisme revolusioner. Manikebu sendiri mendasarkan pahamnya pada Humanisme Universal yang jelas bertentangan dengan Lekra.

Lekra dimotori oleh Pramoedya Ananta Toer, sedangkan Manikebu antara lain ditanda tangani oleh HB. Jassin, Wiranto Soekito, Soe Hoek Djin, Gunamawan Mohammad dan lainnya.

Orde baru memenangkan Manikebu, motor Lekra diasingkan di Pulau Buru dan buku-bukunya, bahkan yang dihasilkan sebelum periode Lekra dilarang.

Kelak permusuhan mandarah daging antara dua kelompok ini masih terasa sisanya saat Gunawan Mohammad menulis surat terbuka yang meminta Pramoedya Ananto Toer menjadi seperti Nelson Mandela, ketika Gus Dur menyampaikan permintaan maaf atas perilaku pemerintah dan masyarakat Indonesia atas peristiwa G30S.

Pram menolak untuk memaafkan, dia menyebut dirinya bukan Mandela dan tak ingin menjadi seperti Mandela yang mampu memaafkan praktek politik apartheid di Afrika Selatan.

Koran mempunyai jasa besar memelihara dan menjaga dinamika sastra termasuk polemiknya. Puisi, cerpen dan cerita bersambung mendapat ruang di dalam koran. Sampai sekarang walau koran sudah sekarat, sastra masih diberi tempat.

Di koran, sastra terus diperdebatkan, karya-karya diapresiasi dan juga dikritisi. Koran selain memperkenalkan pengkarya juga mengasah ketajaman para kritikus.

Di koran pernah diperdebatkan tentang sastra kontektual, puisi mbeling, roman picisan, puisi realis/lugas dan lain-lain.

Polemik yang membuat sastra menjadi tumbuh, walau sesekali mempunyai ekses panas memancing perseteruan antar orang maupun kelompok.

Dan polemik perihal sastra yang terbaru dipicu oleh kemunculan Denny JA. Denny yang selama ini dikenal sebagai ‘Raja Polling Politik’ tiba-tiba menjadi sastrawan. Dia mengusung genre puisi esai, puisi yang didalamnya mempunyai tokoh, berlatar peristiwa nyata, dilengkapi dengan catatan kaki dan lainnya.

Kekayaan yang berasal dari bisnis survey dan lainnya dipakai oleh Denny JA untuk berkarya dalam dunia sastra. Ada banyak buku dicetak, ada banyak penulis puisi yang karyanya dibukukan, sebagian dibuat menjadi film. Denny JA juga menyelenggarakan banyak acara untuk memasyarakatkan puisi esai.

Saya menulis dua puisi esai, keduanya dibukukan.

Apakah dengan menulis puisi esai saya kemudian pro terhadap kredo puisi Denny JA dan kontra terhadap lawannya. Tidak, saya tak peduli.

Yang penting saya menulis dan tak peduli mau dikategori sebagai apa. Saya menulis dan menganggapnya sebagai puisi, pun demikian anggapan sebagian orang. Bahwa ada yang menganggapnya bukan puisi atau tak memenuhi kaidah dan syarat sebagai puisi tidaklah mengapa.

Toh, memang benar saya menulisnya tanpa pengetahuan yang cukup dalam soal teori-teori dan hukum puisi. Saya paham menulis puisi, banyak puisi tidak sama artinya menjadi sastrawan.

BACA JUGA : Sang Brandal Telah Kembali 

Saya ikut gembira ketika di masa pandemi Covid 19 mulai terkendali ada anak-anak muda meluncurkan kegiatan bernama MANTRA {Malam Apresiasi Seni dan Sastra}.

Buat saya inisiatif ini menarik di tengah geliat kota yang anak-anak mudanya lebih tertarik main games, youtuber, influencer, movie maker, ngomongin start up, investasi dan financial freedom.

Saya memang hanya mengikuti kegiatan pertama yang kebetulan membahas seni dan sastra dalam hubungannya dengan lingkungan kota.

Adalah penting menghubungkan kota sebagai ruang dengan seni dan sastra. Terlebih kota yang memproklamirkan dirinya sebagai pusat peradaban.

Kota sebagai ruang peradaban tentu saja mempunyai banyak dimensi, bukan hanya sebagai ruang yang dipersepsikan, tetapi juga ruang yang dikonsepkan dan ruang yang dialami atau dihidupi.

Seni termasuk di dalamnya sastra menjadi relevan ketika kita memasuki ruang kota sebagai ruang yang dihidupi. Sastra misalnya akan menghadirkan ruang yang dihidupi dalam diri tokoh yang ada dalam karya. Dan apa yang dirasakan, dihidupi oleh tokoh itu akan dibaca, dilihat dan dirasakan oleh yang mengkonsumsi karya itu.

Bincang sastra menjadi penting pada sebuah kota agar yang hadir bisa turut menyelami apa yang dirasakan oleh para pengkarya atau coba dihidup olehnya dalam hubungannya dengan pengalaman tinggal di sebuah kota.

Dalam seni dan sastra pengalaman akan ruang kota menjadi lebih dalam jauh melebihi apa yang ada dalam dokumen-dokumen perencanaan pengembangan kota {kota yang dikonsepkan}. Tata ruang lebih pada hitungan-hitungan angka, luasan, peruntukkan dan lainnya, sama sekali tak bicara atau menangkap apa yang akan dirasakan atau dialami oleh warga.

Dalam konsepsi kota yang direncanakan, maka genangan air akan disebut banjir, atau bencana. Sedangkan dalam seni dan sastra, banjir mungkin akan dirasakan sebagai sarana untuk mempererat persaudaraan. Banyak orang mensyukuri banjir karena ketika banjir keluarganya akan berkumpul, tidak kemana-mana.

Hubungan sastra dan kota penting karena dalam karya sastra kita akan menemukan sudut pandang lain atas kota. Menikmati karya sastra akan membuat kita mempunyai pembanding, apa yang kita lihat tentang kota dan apa yang pengkarya katakan atau rasakan tentang kotanya.

Pada sebuah kota dimana seni dan sastra dihidupi akan menjadi penanda bahwa warganya terbuka terhadap penglihatan lain atas kotanya. Kota tidak dipandang dari sudut dan pikirannya sendiri, melainkan dirasakan dari sudut pandang banyak orang, penglihatan yang beragam.

Keterbukaan dalam ruang kota menjadi penting karena sebagai kumpulan banyak orang dan banyak kepentingan ruang kota selalu merupakan sebuah diskursus. Kukuh dan ngotot dengan pandangan sendiri akan membuat kita terjerumus, tertinggal dan tak bergerak kemana-mana.

Seni dan sastra adalah tentang berbagi, begitu juga dengan kota. Maka kota tanpa seni, kota tanpa sastra akan menjadi kota yang kering. Kota yang hanya mengejar pertumbuhan lewat indeks dan angka-angka.

Kota semacam ini meski mungkin ternama namun sesungguhnya akan menjadi kota yang dingin, kota yang tak mengairahkan kehidupan warganya.

Sehebat apapun sebuah kota dirancang dan dibangun, peradabannya tidak akan muncul selama warganya tidak membaca karya sastra, menonton film, mendengarkan musik, menikmati lukisan, menyaksikan tarian dan seterusnya maka segala ketertiban, keindahan dan kemegahan kota tak akan dirasakan oleh warganya secara terbuka.

Tanpa seni dan sastra, kota hanya akan menjadi ruang kompetisi individualistik dan ruang pamer bagi penguasa untuk menunjukkan kekuatan dan prestasinya. Prestasi yang mungkin saja tak dirasakan, apalagi membahagiakan untuk warganya.

note : sumber gambar – CELEBES.CO