KESAH.ID – Makanan bagi mahkluk hidup adalah kebutuhan biologis yang mesti dipenuhi untuk mempertahankan keberlanjutan hidupnya. Namun manusia kemudian melampaui batasan bilogis itu karena mampu menghasilkan bahan pangan diluar proses alamiahnya. Manusia bahkan mampu membangun peradaban dengan pondasi makanan, sebab makanan tidak hanya diperlakukan sebagai pemenuhan kebutuhan biologis, melainkan juga masuk dalam wilayah spiritual dalam bentuk meta kuliner.
Hanya manusia yang mempunyai peradaban, sebuah sistem kehidupan yang kompleks karena jauh melampaui pola dan model hidup alamiahnya.
Meski kini peradabannya telah begitu canggih, sebenarnya semua itu diawali dari kebetulan belaka, bukan karena kecerdasan manusia yang lebih dari mahkluk hidup lainnya. Sebab ada mahkluk yang lebih cerdas karena terbukti telah menghuni dunia jauh lebih lama sebelum manusia ada dan tetap bertahan hingga sekarang.
Kecoak, lipas, coro atau kakerlak adalah salah satu mahkluk tercerdas. Ada semenjak jaman Dinosaurus menguasai muka bumi, Kecoak tetap bertahan walau Dinosaurus punah ketika bumi dihantam oleh asteroid.
Terus bertahan hingga sekarang membuktikan bahwa Kecoak adalah mahkluk cerdas. Sebab yang disebut dengan kecerdasan adalah kemampuan untuk bertahan hidup, berkembang biak dan beranak pinak, tidak punah melewati berbagai jaman.
Telah hidup selama jutaan tahun di muka bumi, membawa kecoak mencapai evolusi biologis yang membuatnya tahan tidak makan selama sebulan dan tidak minum selama seminggu. Binatang yang sulit dilihat dimana tempat sembunyinya ini mampu menahan gencetan 900 kali lipat dari berat tubuhnya tanpa terluka.
Saat terancam, Kecoak bisa pura-pura mati dengan cara menahan nafas selama 40 menit. Dan yang paling ajaib meski kehilangan kepala kecoak masih bisa bertahan hidup selama seminggu. Kecoak mati bukan karena tidak punya kepala melainkan karena tidak bisa makan dan minum.
Bagi manusia, binatang kecil ini menjengkelkan sejak lama. Menganggu namun sulit untuk ditangkap karena Kecoak sangat gesit dan cepat dalam menyelinap. Kecepatan larinya 50 kali panjang badannya dalam sedetik dan mampu menyelinap diantara tumpukan dua uang logam.
Walau terbukti cerdas namun Kecoak tidak mampu membangun peradabannya. Cara hidupnya dari dulu begitu-begitu saja dan tetap menjengkelkan untuk manusia. Kegagalan Kecoak dan binatang-biantang lainnya bahkan yang hampir mirip manusia adalah ketakutannya pada api.
Manusia yang bersama Kecoak dan lainnya dalam kelompok Kerajaan Binatang, kemudian berkembang berbeda dengan keseluruhan binatang lainnya bermula dari penguasaan terhadap api.
Alih-alih takut pada api, manusia justru mempunyai kemampuan menguasai api, menyalakan dan memadamkan.
Dengan api, manusia kemudian mulai membangun peradabannya, mengembangkan hidup keluar dari ritus dan siklus alamiahnya.
Makanan misalnya tidak lagi dimakan apa adanya, melainkan diolah dengan cara dibakar, diasapi dan kemudian dimasak {rebus, tumis, kukus dan lain-lain}.
Dengan diolah makanan menjadi lebih enak, lebih lunak dan lebih mudah dicerna sehingga makan tidak lagi menghabiskan banyak energi bahkan cenderung menghasilkan kesenangan. Rasa senang, bukan hanya kenyang memicu munculnya inovasi dan imajinasi.
Kenyang, senang, punya api, kelompok manusia kemudian punya waktu istirahat lebih panjang, punya waktu luang karena dimalam hari mereka tetap bisa bercengkrama walau lingkungan sekitar gelap dan dingin. Api bisa menghangatkan dan menghadirkan terang.
Kerap bersama menghabiskan dan mengisi waktu luang membuat kemampuan berkomunikasi manusia menjadi terasah, kosa kata dalam bahasanya bertumbuh dan bertambah. Dengan kemampuan berbahasa manusia kemudian menciptakan banyak cerita, kisah-kisah tentang kehidupan mereka.
Lompatan peradaban menjadi semakin cepat ketika manusia mulai menghasilkan pangan sendiri. Evolusi pertanian membuat manusia tidak lagi tergantung pada bahan pangan dari alam. Manusia mulai bercocok tanam, mendosmetifikasi berbagai tanaman dan hewan piaraan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Dengan budidaya manusia berhasil memproduksi pangan secara berlimpah. Pangan tersedia setiap saat dan tidak semua orang mesti bertanam. Kelimpahan pangan pada gilirannya mendorong munculnya diversifikasi profesi. Muncul banyak profesi dan keahlian diluar urusan menghasilkan pangan yang kemudian membuat manusia semakin menjauhi pola dan cara hidup alamiahnya. Itulah peradaban.
BACA JUGA : Blusukan Asyik Di Pasar Tradisional
Pondasi peradaban melalui makanan dimulai ketika manusia memandang makan bukan sekedar kenyang atau memenuhi kebutuhan fisik belaka. Masyarakat mulai beradab ketika memperlakukan makanan sebagai asupan energi untuk mengembangkan hidup, membuat hidup lebih bermakna. Mereka yang makan hanya untuk kenyang atau memuaskan perut kemudian dianggap serakah atau rakus.
Makanan kemudian memasuki dimensi spiritual, bukan sekedar materi melainkan juga mengandung simbol dan identitas. Satu ungkapan yang mewakili makna makanan adalah “Makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan,”
Dalam banyak kebudayaan, makanan kemudian menjadi pintu gerbang pertama dalam memasuki alam spiritual. Berbagai upacara adat atau ritual dalam agama-agama lokal, makanan menempati peran penting dalam rangkaian upacara yang berkaitan dengan daur hidup dan daur musim.
Yang perlu makan atau diberi makan bukan hanya mahkluk hidup yang kasat mata melainkan roh-roh, jiwa, para leluhur, dewa dan lainnya. Memberi makan atau sajian {sajen} adalah bentuk perhormatan, memelihara hubungan baik dan juga ketaatan kepada mereka agar tidak menganggu kehidupan manusia.
Spiritualitas terkait dengan makanan hanya khas milik manusia, dalam kehidupan binatang lainnya tidak ditemukan. Dunia binatang menempatkan makan hanya sebagai tuntutan biologis, makan ditujukan untuk mempertahankan hidup, tidak lebih dan tidak kurang.
Sedangkan pada manusia tidak demikian. Selain dimaknai secara spiritual, teknologi dan cara pengolahan makanan pada kelompok manusia juga terus berkembang. Makanan menjadi kompleks, mulai dari hilir hingga hulu.
Makanan kemudian juga tak lepas dari kelas-kelas. Mulai dari yang paling sederhana hingga yang paling rumit cara masak, penyajian dan juga tata cara menyantapnya.
Dunia makanan secara luas dikenal sebagai kuliner. Dalam ekonomi saat ini kuliner menempati peran yang sangat strategis dan mampu menjadi penggerak ekonomi dalam skala yang sangat luas.
Dalam hubungan dengan pariwisata dan ekonomi kreatif, kuliner oleh banyak kalangan ditempatkan sebagai salah satu sektor unggulan. Selain karena dibutuhkan, pemainnya juga banyak dan tetap terbuka untuk berbagai kreasi serta inovasi.
Kreasi dan inovasi dalam bidang kuliner baik melalui teknologi, cara pengolahan maupun penyajian menjadi semakin luas karena perjumpaan berbagai kebudayaan dengan corak dan ragam kulinernya masing-masing.
Pertukaran, percampuran dan modifikasi berbagai resep atau cara pengolahan makanan melahirkan banyak varian makanan baru yang bersaing untuk memperebutkan pengemar.
Banyak yang kemudian menjadi viral, hype-nya dimana-mana. Pembukaan kedai atau konter barunya selalu ditandai dengan barisan orang mengantri karena tak ingin ketinggalan untuk menjadi yang pertama ikut mencicipi.
Mengikuti berbagai diskursus tentang makanan bisa-bisa membuat kebingungan saat hendak menentukan apa yang akan dimakan. Karena makan mempunyai banyak dimensi mulai dari rasa, prestise, gengsi, sehat, bersih, murni atau alami, keseimbangan dan lain-lain.
BACA JUGA : Doa Rosario, Citilink dan Tol Trans Jawa
Di berbagai kota kini tumbuh sentra-sentra kuliner, baik yang sifatnya permanen maupun temporer. Anak-anak muda di beberapa kota besar berhasil menyulap kawasan yang terbengkalai hingga kemudian kembali ramai dengan festival kuliner.
Geliat bisnis kuliner seperti tidak membiarkan ruang-ruang kosong tanpa keramaian. Trotoar, pinggiran jalan dan taman-taman tak lepas dari lirikan mereka. Geliat keramaiannya pada akhirnya kerap membuat pemerintah pusing, berada dalam dilema ketika hendak bertindak tegas.
Menariknya ternyata kuliner metafisik tak juga hilang ditelan gemuruh dan ramainya wisata atau piknik kulineran.
Bahkan di kota besar sekalipun, penyedia jasa perlengkapan untuk kuliner metafisik masih ada.
Di Kota Semarang, Ibukota Provinsi Jawa Tengah pada pojokan Pasar Rakyat Peterongan ada kios yang menjual berbagai macam perlengkapan untuk upacara-upacara adat. Kios itu menjual pohon pisang utuh dengan buah yang masih ada di tandan, padi, pohon tebu, janur baik yang utuh maupun yang sudah dirangkai, kelapa gading dan aneka bunga-bungaan serta barang-barang lainnya.
Kiosnya meski sederhana namun nampaknya serba ada.
Di Pasar Gang Baru hal yang sama juga bisa ditemukan. Disana ada kios yang menyediakan berbagai macam perlengkapan upacara yang berkaitan dengan spiritualitas masyarakat peranakan China.
Tentu saja tidak hanya di Kota Semarang, di banyak kota-kota lainnya kios yang menjual berbagai perlengkapan untuk kepentingan upacara atau ritual memberi ‘makan’ para leluhur atau roh-roh lain masih mudah ditemukan, terutama di pasar tradisional atau pasar rakyat.
Beberapa waktu terakhir ini kita ramai berbincang soal metaverse, sebuah dunia yang tidak nyata namun kita bisa berinteraksi didalamnya. Sekurangnya itulah yang digambarkan dan dicita-citakan oleh Mark Zuckerberg.
Kitapun antusias menyambutnya dan berlomba-lomba untuk menjadi yang pertama mengalaminya seolah yang namanya meta adalah sebuah gagasan baru, gagasan orisinil yang khas jaman internet.
Padahal dari makanan kita sebenarnya tahu bahwa meta adalah gagasan lama. Ruang interaksi antara manusia di dunia nyata dengan mereka yang hidup dalam dunia ‘maya’, mereka yang tak terlihat namun dipercayai ada telah dipraktekkan sejak jaman dulu lewat jamuan meta kuliner.
Makanan yang kita kenal dengan nama sajen, sesungguhnya merupakan penghubung atau platform layaknya metaverse dalam versi dunia teknologi informasi dan komunikasi.
note : sumber gambar – PUBLIKA.RMOL.ID








