KESAH.ID – Media sosial merupakan karya dari para ahli teknologi komunikasi. Sumbangsihnya sangat besar untuk kehidupan bersama. Namun pada sisi lainnya perusahaan penyedia atau pengembangkan tentu ingin beroleh untung. Dan keuntungan itu diperoleh dari iklan, maka dibalik teknologi yang mempermudah komunikasi antar orang itu dipasang fitur-fitur yang membuat pemakai kecanduan, ingin terus memakainya, makin hari makan panjang waktu aktifnya.

Tempo hari sekitar jam 9 pagi saya menumpang ojek online untuk pergi ngopi ke kawasan Kota Lama Semarang. Jalan MT. Haryono yang saya lalui mulai agak ramai. Dan di sebuah perempatan motor yang saya tumpangi berhenti, seperti ada kemacetan di depan.

Samar-samar saya mendengar suara teriakan perempuan, nadanya kesakitan. Ternyata ada seorang ibu yang mengendarai motor bongsor, kakinya terlindas oleh ban mobil disampingnya. Mungkin ketika motornya berhenti, kaki yang menapak untuk menahannya terlalu keluar karena jok motor yang lebar.

Sopir mobil yang melindasnya tidak sadar dengan apa yang terjadi.

Banyak motor lainnya berhenti, sebagian bertanya apa yang terjadi dengan ibu itu. Lalu ada yang turun dan mengedor kaca mobil yang melindas kaki sang ibu. Tapi dari beberapa pengendara lain yang berhenti ternyata lebih dahulu justru mengeluarkan smartphonenya, bukannya langsung menolong sang ibu yang kesakitan melainkan justru dengan tenang merekam kejadian itu.

Dan yang asyik merekam ternyata bukan hanya satu orang.

Driver ojek online yang saya tumpangi buka suara “Piye to, bukannya menolong malah merekam,”

“Potensi viral mas kalau diposting,” ujar saya.

Viralitas memang menjadi kanker di media sosial. Dan demi mengejarnya segala sesuatu dijadikan konten. Ukurannya bukan soal pantas atau tidak tapi seberapa besar peluang untuk mendapat reaksi berupa like, share atau comment dari yang melihatnya.

Dan kecelakaan di jalanan dalam bahasa para content creator di youtube termasuk pada kategori sumber adsense jumbo.

Jadi persetan dengan apa kata orang, begitu ada yang celaka di jalanan maka jangan sia-siakan kesempatan untuk menjadi yang pertama merekamnya.

Di banyak akun yang mendaku sebagai akun official perkotaan, peristiwa kecelakaan menjadi salah satu yang kerap menghiasi postingannya. Dan sumbernya tentu saja dari masyarakat yang sigap merekam bukan menolong orang yang celaka.

Informasi memang menjadi begitu penting sekarang ini dan karena media sosial semua orang bisa menjadi komunikator, penyampai informasi. Imbalan umumnya adalah kesenangan, senang karena apa yang disampaikan {diposting atau diunggah} ke media sosial kemudian mendapat banyak perhatian dari khalayak.

Secara biologis tanggapan berupa hujan like, comment dan share memang akan memicu produksi hormon dopamin Dopamin sendiri adalah senyawa dalam otak yang fungsinya erat kaitan dengan pengendalian emosi, sehingga produksi hormone ini dalam jumlah yang tepat akan membuat suasana hati menjadi senang, gembira , bersemangat dan lain-lain.

Media sosial sebagai hasil rekayasa dan pencapaian teknologi oleh para pengembangnya dibangun dalam konteks memicu atau menimbulkan kesenangan bagi para pemakainya. Rasa atau sensasi yang kemudian akan membuat pemakainya kecanduan, memakai terus menerus karena menimbulkan kesenangan.

Oleh karena itu media sosial dilengkapi dengan berbagai fitur yang mengekpresikan tanggapan atau reaksi {positif} dari orang lain.

Facebook misalnya mempunyai fitur suka, komentari dan bagikan, twitter mempunyai fitur suka, balas, retwet dan bagikan, sedangkan instagram mempunyai fitur suka, komentari dan bagikan. Media sosial ini tidak mempunyai fitur dislike seperti yang ada dalam youtube.

Bahwa ruang komentar atau balasan di facebook, twitter atau instagram bisa dipakai untuk menyerang, ruang para pembenci mengobral caci maki, namun fitur ini bisa di-nonaktif-kan. Lagi pula serangan dari para haters kadang malah akan jadi berkah, karena akan memunculkan pembela-pembela loyal. Yang memposting tak perlu menanggapi, nanti akan ada pasukan pembela dengan sendirinya yang akan menghadang para penyerang.

Dan sahut menyahut antara yang suka dan yang benci akan berdampak positif pada algoritma postingan. Kontroversi justru meningkatkan engagement sebuah konten.

BACA JUGA : Saya Nggak Milih Milih Kopi

Dulu ketika internet masih lelet, bandwich-nya belum selebar sekarang, media sosial belum begitu marak dan komputasi awan belum tersedia secara luas, kendali pertukaran informasi ada di media massa.

Pada saat itu media massa berlomba-lomba untuk menjadi penyampai kabar yang pertama. Menjadi yang pertama artinya eklusif. Selalu terdepan berarti oplah atau jangkauan medianya akan menjadi yang paling luas.

Tujuannya tentu saja agar mendapat kapling iklan paling besar, sebab media mendapatkan uang dari pemasang iklan. Siapa yang paling banyak dibaca, didengar atau dilihat maka kapling iklannya akan paling mahal. Yang mau pasang iklan sampai rela mengantri.

Dengan kekuatan itu maka media mempunyai kuasa untuk menentukan apa yang layak dan pantas untuk dianggap sebagai berita atau informasi yang berguna untuk khalayak. Media massa mengembangkan parameternya sendiri-sendiri untuk menentukan apa yang layak dipublikasikan atau disampaikan kepada masyarakat.

Konstelasi arus informasi publik ini kemudian berubah ketika kecepatan meningkat dan jangkauan lebih luas. Muncul kecenderungan pemberitaan lewat oleh masyarakat non jurnalis yang kemudian lazim disebut sebagai jurnalisme warga.

Spektrum yang informasi yang disebut punya nilai berita menjadi semakin meluas tidak hanya bertumpu pada kota besar, orang besar, peristiwa besar dan lainnya, apa-apa yang berbau lokal dan non selebritas ternyata juga punya nilai berita.

Pada saat tumbuh kembangnya jurnalisme warga, para pewarta atau aktivis informasinya masih berusaha bekerja dalam batasan sebagaimana diterapkan dalam dunia jurnalistik. Meski tak seketat lembaga penerbitan profesional, para pelakunya tetap menyadari pentingnya menerapkan prinsip-prinsip jurnalistik dalam penyebaran informasi.

Dalam perkembangan selanjutnya ketika kecepatan internet semakin tinggi dan jangkauannya juga sudah semakin luas terlebih ketika smartphone mulai memasyarakat, media sosial kemudian melengkapi dirinya dengan fitur-fitur yang memungkinkan para penggunanya berlaku seperti halnya para jurnalis. Dalam satu platform, pengguna media sosial sekaligus bisa mempublikasikan informasi layaknya seorang yang punya penerbitan koran/majalah, radio dan televisi.

Dalam satu genggaman dan sekali pencet seorang pengguna media sosial bisa mempublikasikan informasi teks, gambar dan video dalam saat yang bersamaan.

Dulu siaran langsung menjadi kekuatan sebuah media. Kini live streaming bisa dilakukan oleh semua orang. Dan media massa akan kalah dengan pengguna media sosial, karena tak mungkin institusi media mengirimkan atau menempatkan repoternya dimana-mana sebanyak pemakai media sosial yang tersebar dimana-mana.

Tak mengherankan jika sekarang banyak media massa mengambil hasil karya para pemakai media sosial untuk dijadikan berita.

Ketika semua orang bisa menjadi pewarta, maka terjadi pergeseran dalam substansi informasi. Jika dulu informasi lebih dikenal sebagai kerja jurnalistik, maka sekarang informasi yang tersebar di internet lebih dikenal sebagai hasil kerja para pembuat konten {Content Creator}.

Akibatnya kontestasi informasi di ruang publik tidak lagi didasarkan pada obyektifitas, keseimbangan, check dan recheck, melainkan yang penting menyenangkan untuk banyak orang, sensansional, menarik perhatian dan lainnya. Berbagai macam bias dalam informasi menjadi tidak penting atau bahkan bias akan membuat sebuah informasi akan terus bergulir, terus diperbincangkan, dibagikan dan bertahan cukup lama di jagat maya.

Dalam dunia jurnalistik dikenal bad news is good news dan kini keyakinan ini sadar atau tidak secara massif dipraktekkan oleh para pengguna dan aktivis media sosial. Semakin buruk kejadian akan semakin punya potensi untuk menjadi viral.

BACA JUGA : Meta Kuliner 

Dimensi viralitas kemudian menjadi lebih dalam karena mempengaruhi bukan hanya perilaku dalam bermedia sosial, melainkan juga perilaku konsumsi dan lainnya.

Pilihan orang untuk membeli buku, baju, makanan, minuman atau bahkan mengunjungi tempat untuk healing ditentukan oleh viralitasnya di media sosial.

Selera seseorang akan sesuatu ditentukan oleh hype-nya hal itu. Kalau yang lagi hype adalah es teh maka semua orang beli es teh. Sedangkan ketika yang lagu hype mie super pedas, walau mencret-mencret, semua rela antri untuk membeli.

Coba tanya pada mereka yang sedang antri, kenapa mau bersusah-susah untuk membeli makanan yang bikin perut bisa mules itu, pasti jawabannya hampir seragam “Lagi hype sih,”.

Sesuatu yang disebut lagi hype oleh anak-anak jaman sekarang artinya dianggap kekinian, wow, amazing, keren abis dan lainnya.

Dan trend menjadi penting, yang dianggap tidak ikut trend artinya ketinggalan jaman. Maka semua berlomba-lomba untuk menjadi first mover dengan memakai, mencicipi, mengunjungi sesegera mungkin agar termasuk dalam golongan orang yang mempunyai pengalaman awal akan sesuatu.

Padahal melakukan sesuatu dengan patokan yang lagi hype dalam artian tertentu sama maknanya dengan melakukan hal yang sebenarnya tidak diperlukan. Secara substasial tidak penting alias hanya mengejar sensasi.

Dan lagi-lagi media sosial memang didesain untuk memunculkan sensasi-sensasi agar yang hype slih berganti terus bermunculan hingga para pengguna media sosial tumbuh menjadi hypebeast.

Gejala hypebeast dengan terang bisa dilihat dibalik maraknya thrifshop atau thrifstore. Dulu pasar baju bekas ini disebut sebagai pasar awul-awul atau cakar bongkar. Kini karena nge-hype lewat media sosial pasar baju bekas ini punya sebutan keren dan juga dijual di outlet-uotlet keren kekinian dengan label secondbrand.

Apa maknanya?. Dalam dunia fashion kini banyak orang menjadi hypebeast karena doyan memakai baju-baju {sepatu, topi, kacamata, dll} yang bermerek. Gejala hypebeast ini ditandai dengan maraknya konten OOTD {outfit of the day}. Sebuah konten yang mau menunjukkan mulai dari ujung rambut sampai ujung kuku jari kaki semuanya bermerek.

Tentu saja memakai fashion bermerek yang baru tidak semua orang akan mampu. Maka biar tetap tampil keren dan kekinian, memakai yang bekaspun asal mereknya berkelas tidak apa-apa. Ibarat kata, kere sekalipun tetap punya hak untuk bergaya. Karena itulah thriftshop, secondstore atau prelovedshop kemudian menjadi marak dan jadi bisnis yang cuan.

Fenomena Citayam Fashion Street pada dasarnya menjadi cermin bahwa masyarakat kita dari kelas atas sampai kelas bawah sangat mementingkan item fashion. Semua ingin bergaya dan tak sedikit yang memaksakan diri untuk bergaya dengan mengorbankan hal-hal lainnya yang lebih penting.

Gejala hypebeast tidak hanya pada urusan kuliner atau fashion, tak sedikit yang komplikasinya sampai ke gadget atau tunggangan.  Apapun itu tak sedikit yang rela bersusah-susaha di satu hal demi tetap bisa memakai Iphone seri terbaru, atau kemana-mana naik NMax, Aerox atau Vespa Matic walau kerap terlambat atau bahkan menunggak bayar uang kos-kosan.

Dan terakhir gejala hypebeast yang paling umum adalah terobsesi pada like dan comment atas postingan mereka di media sosial. Jika postingan di media sosial sepi dari like dan comment maka seharian bisa murung. Dunia serasa runtuh jika wall media sosialnya sepi dari tanggapan dan reaksi khalayak.

Sebagai karya dari para ahli teknologi, ternyata media sosial berkembang menjadi kanker yang mengerogoti kecerdasan dan kesehatan sosial serta mental para pemakainya.

note : sumber gambar – HIPWEE.COM