KESAH.ID – Kelesuan ekonomi yang diprediksi oleh para ahli dan dikhawatirkan oleh para pembesar ternyata tak terlihat geliatnya dalam masyarakat. Ancaman gelap ekonomi hampir tak terlihat dengan gemerlap perkembangan bisnis jasa dan perdagangan yang berhubungan dengan kuliner, fashion, perjalanan dan wisata serta beberapa hal lainnya.
Sebagai masyarakat ekonomi, kita pantas khawatir dengan berbagai prediksi, proyeksi dan juga tenggara yang menyatakan ekonomi di tahun 2023 mendatang akan dipayungi mendung gelap resesi.
Hampir semua ekonom dan lembaga-lembaga internasional bicara tentang hal ini begitu juga dengan Presiden Jokowi yang terus mengulang-ulang peringatannya dalam berbagai kesempatan.
Saking gentingnya bukan hanya Menteri Keuangan yang cawe-cawe, kepolisian bahkan telah menyatakan diri siap untuk melakukan pemgamanan atas dampak resesi andai terjadi nanti.
Soal resesi semua itu adalah prediksi, ramalan berdasarkan data dan situasi yang saat ini tengah berkembang. Hanya saja ekonomi tidaklah hitam putih. Apa yang merugikan atau membuat menderita sekelompok masyarakat atau negara bisa jadi merupakan keuntungan bagi negara lainnya.
Perang antara Rusia dan Ukraina misalnya semestinya membuat masyarakat kedua negeri itu menderita, perekonomiannya terganggu. Namun ternyata perang justru menyebabkan sebagian besar warga Eropa yang menderita.
Berpihak pada Ukraina, negara-negara Eropa yang berafiliasi kepada NATO melakukan boikot pada Rusia. Padahal sebagian dari negeri itu bergantung pada pasokan energi dari Rusia. Akibatnya harga bahan bakar atau sumber energi di negara-negara itu menjadi melonjak tinggi.
Yang ikut untung tentu saja China. Karena tak bisa menjual langsung sumber energinya ke Eropa, Rusia menjual melalui China.
Dan yang melonjak bukan hanya produk energi melainkan juga produk bahan makanan pokok. Karena beberapa negara Eropa mempunyai ketergantungan yang tinggi pada pasokan dari Rusia.
Ekonomi memang semakin kompleks, meski secara obyektif ilmu ekonomi berkembang dengan pesat namun subyektifitas dalam ekonomi juga makin menguat. Ada banyak sentimen yang bisa menyebabkan ekonomi tumbuh atau runtuh.
Kita masih ingat diawal tahun lalu ketika tiba-tiba harga minyak goreng menjadi tinggi dan barangnya langka. Kenaikan dan kelangkaan yang sampai sekarang tak pernah terjawab dengan terang apa penyebabnya.
Sentimen apapun kini memang bisa mempengaruhi ekonomi. Membuat sebuah komoditas melambung tinggi atau sebaliknya anjlok tak tertahankan.
Kripto, NFT, Token, Trading, Investasi dan berbagai produk ikutannya yang sempat melambung terbang di atas awan dimasa pandemi dalam sekejap berguguran. Sebagian tak ada lagi kabarnya termasuk token artis salah satunya.
Apakah benar ekonomi melesu?.
Entahlah, hanya saja jika melihat geliat keramaian orang berbelanja dimana-mana, banyak orang inden motor, smartphone yang baru diluncurkan namun sudah habis di pasaran, tiket pesawat yang tidak turun-turun karena lebih banyak yang ingin berpergian daripada jumlah kursi yang tersedia tenggara kelesuan ekonomi menjadi penuh tanda tanya.
Bisa jadi bukan kelesuan, namun pertumbuhan ekonomi saat ini tidak cukup untuk membuat seluruh uang berputar sehingga banyak uang harus diparkir, nganggur dan jadi beban untuk yang menyimpannya.
Jika dulu para penyelenggara pemerintahan sudah senang dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 5 persen saja, nampaknya sekarang ini pertumbuhan ekonomi dibawah 10 persen belum akan membuat penyelenggara pemerintahan tersenyum. Ekonomi secara umum akan terasa lesu jika pertumbuhannya dibawah 10 persen.
BACA JUGA : Jebakan ‘Kanker’ Media Sosial
Bukannya saya tak percaya apa yang disampaikan oleh Presiden Jokowi dan juga tak perduli kepada semua yang sudah diterankan oleh Ibu Menteri Sri Mulyani. Sebab yang namanya kesulitan ekonomi baik global, nasional, lokal hingga personal sudah saya alami berkali-kali.
Sayapun tahu diri tak punya kemampuan untuk berkontribusi memperbaiki keadaan seperti yang dilakukan oleh banyak orang yang bergiat untuk mengairahkan ekonomi lokal lewat aneka program pemberdayaan.
Melakukan antisipasi juga sulit, maka satu-satunya pilihan yang bisa dipersiapkan adalah “Apa yang terjadi terjadilah,”
Toh andai benar terjadi yang akan mengalami kesulitan adalah banyak orang. Sama-sama sulit pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan sama-sama senang.
Toh ketika ekonomi tumbuh moncer, yang sama-sama senang jumlahnya tak banyak. Jadi pada dasarnya sulit bukanlah sesuatu yang menyulitkan.
Tapi bukan kesiapan itu yang membuat saya cuek bebek. Apa yang terlihat berkembang dalam kehidupan sehari-hari saat ini sama sekali tidak menyiratkan pertanda bahwa akan ada gelap di hari-hari mendatang.
Ekonomi rakyat berjalan biasa-biasa saja, normal. Bahkan cenderung semarak jika itu dikaitkan dengan bisnis dan perdagangan terutama yang berkaitan produk fashion, kesehatan/perawatan tubuh, kuliner, pertunjukan dan piknik.
Ambil contoh soal kuliner, istilah ini kini menjadi sangat umum dalam semua kalangan. Kulineran menjadi perilaku yang mulai biasa, dilakukan bukan hanya oleh kalangan tertentu yang berkelebihan.
Sopir mobil sewaan yang menjemput saya di Surabaya dari Semarang mulai tersambung obrolan asyiknya saat temanya kuliner.
Bermula dari kebingungan saat hendak makan dimana, Sang Sopir menawarkan untuk mencicipi kuliner legendaris di Jalan Embong Malang, Surabaya. Dan semenjak dari warung Rawon Setan itu saya jadi akrab dan terus berbincang dengan setiap kali singgah di rest area sepanjang Tol Trans Jawa dari Surabaya ke Semarang.
Soal jalan tol, Mas Dion nama sopir mobil itu mengatakan keberadaan tol mampu memangkas waktu hingga separoh dari jalan biasa.
“Sekarang saya bisa pulang pergi Jakarta-Semarang,” ujarnya.
“Kalau ngantar, biasanya pulang kosongan tapi tetap diberi uang tol. Saya pilih jalan biasa dan uang tolnya saya pakai untuk kulineran,” lanjutnya.
Nah, dari tol berakhir ke kuliner lagi.
Dan benar jalan Tol Trans Jawa yang saya lintasi dari Surabaya ke Semarang ternyata mampu memupus ingatan bertahun lalu saat saya merasakan pegal-pegal dan bosan di dalam kendaraan karena tak sampai-sampai ke tujuan.
Sesampai di Semarang sebelum Mas Dion mengantar pulang kendaraannya, dia berpesan “Jangan lupa kulinerannya Mas. Bukan cuma Simpang Lima, Museum, Depan GOR dan Kota Lama tapi singahi juga Alun Alun Masjid Raya di Kauman dan Pasar Semawis di Pecinan,”
BACA JUGA : Saya Nggak Milih Milih Kopi
Setelah pengetatan mobilitas sosial karena pandemi dikendorkan, saya sempat mengunjungi beberapa daerah antara lain Jakarta, Depok, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Surabaya dan tentu saja Purworejo.
Nampak ada benang merah yang seragam soal pertumbuhan dan dinamika ekonomi. Di semua kota yang saya kunjungi dan juga Kota Samarinda ada gerak yang semarak dalam sektor bisnis jasa dan perdagangan yang berkaitan dengan kuliner, fashion dan wisata.
Bisnis thrifting yang mengacu pada prinsip slow fahion tumbuh bagaikan cendewan. Anak-anak mudanya kemudian terlihat fashionable. Pertunjukan gaya berbusana anak-anak muda bukan hanya milik Citayam Fashion Week.
Bisnis kuliner lebih semarak lagi. Muncul banyak pusat-pusat kulineran entah yang permanen, bongkar pasang maupun temporal. Ada banyak tempat yang sebelumnya terbengkali, kumuh, tidak tertata atau tidak dimanfaatkan secara maksimal kemudian disulap menjadi pusat kulineran dan kegiatan lain seperti M Bloc dan Pos Bloc di Jakarta.
Sedangkan di Bandung ada Hallway Space di Pasar Kosambi dan di Yogyakarta, bagian selatan Stasiun Tugu dirubah menjadi Selasar Malioboro.
Di Semarang, Kompleks Museum Perjuangan Mandala Bakti yang berada tak jauh dari Gedung Lawang Sewu, malam harinya menjadi semarak jauh dari keangkeran karena menjadi salah satu dari beberapa pusat kulineran di Semarang.
Samarinda juga tak jauh berbeda. Sebagai penghuni lama di sekitar Jalan KS. Tubun. Saya menyaksikan dalam 2 sampai 3 tahun ini terjadi perubahan besar di sepanjang jalan KS. Tubun Dalam. Penjual kini sambung menyambung dan sebagian besar berjualan produk makanan, produk perawatan dan kesehatan tubuh serta tempat thrifting yang cukup ramai.
Tak jauh dari jalan KS. Tubun yakni jalan Siradj Salman, pertumbuhannya jauh lebih luar biasa. Kompleks ruko yang dulu kosong kini ramai bukan hanya di rukonya melainkan di lahan parkiran depannya, ramai dengan kedai, warung, gerobak, tenda berjualan aneka makanan dan minuman.
Bahkan gerai kopi internasional sekelas Starbuck tak mau ketinggalan membuka store-nya disana, setelah sebelum beragam kedai kopi kekinian jaringan nasional dan regional memenuhi kanan kiri jalan.
Mangan ora mangan sing penting kumpul, pameo orang Jawad dulu tak lagi berlaku. Yang terjadi sekarang yang namanya ngumpul itu ya wajib hukumnya makan dan minum.
Makan dan minum di luar rumah ramai-ramai sudah jadi piknik, apalagi tempat untuk jagongannya kebanyakan didesain instagramable.
Jadi tak benar tenggara orang sekarang males kumpul-kumpul karena pertemuan dan hubungan dengan orang lain bisa dilakukan di aplikasi media sosial sambil rebahan.
Maraknya pertumbuhan warung, kedai, kafe yang bukan hanya di jalan-jalan besar melainkan hingga masuk dalam gang-gang di perumahan membuktikan kebutuhan akan jagongan ternyata tinggi. Dan karena tak mau jika kumpul-kumpul tak disertai dengan makan minum sesuai selera maka kedai, kopi, warung, food court, food festival dan lain kemudian menjadi pilihan untuk tempat jagogan.
Maka benar ketika Loco Café yang ada di dekat palang pintu kereta Stasiun Tugu Yogya menuliskan slogan Medang, Madhang dan Jagongan, duduk minum dan makan.
Jagongan dengan medang dan madhang akan membuat orang bukan hanya kenyang tapi juga senang. Orang yang kenyang dan senang biasanya tidak akan cari urusan.
Orang Manado bilang kalau kampung tengah sudah penuh biasanya orang akan mudah guyub dan rukun, tak cari persoalan.
Dengan demikian tumbuhnya industri jagongan, medang dan madhang ini mesti disambut positif, selain mampu mengairahkan sektor UMKM, dengan kumpul-kumpul, minum dan makan semoga masyarakat menjadi senang sehingga tak punya waktu mengembangkan ketrampilan jari untuk mewakili suara nyinyir mulut yang berasal dari hati dengki.
Ingat ya nyinyir itu tak sama dengan kritis. Sebab sikap atau suara kritis tetap perlu karena review atau kritik diperlukan sebagai energi atau bahan bakar untuk membuat pembaharuan dan kebaharuan bakal terjadi terus menerus. Masyarakat kita tak akan dinamis tanpa sikap kritis.
Sayangnya selain doyan jagongan, medang dan madhang, kitapun masih terus memelihara kesenangan mengobral omongan yang tak perlu. Dan lebih sayangnya lagi yang tak perlu itu membuat sibuk media pemberitaan dan kepolisian.
Karena diberitakan dan ditangani oleh polisi maka kita semua ikut-ikutan sibuk, sibuk membicarakannya.
Masyarakat kemudian lebih doyan sensasi ketimbang mencari substansi.
note : sumber gambar – SURABAYAONLINE.CO








