KESAH.ID – Samarinda: Kota Tepian yang menyimpan rahasia kelam. Ketika iPhone dan skincare lebih berharga dari masa depan, siapa yang bertanggung jawab atas jerat eksploitasi remaja ini? Sebuah tantangan besar untuk kota yang mencita-citakan diri sebagai Pusat Peradaban.
Samarinda, kota yang akrab disapa “Kota Tepian” karena keindahan Sungai Mahakam yang membelahnya, menyimpan ribuan cerita. Di balik denyut pembangunan yang pesat dan tawa riang para remaja berseragam sekolah, tersimpan sebuah realitas yang memilukan: kasus eksploitasi remaja. Ini bukan sekadar isu moralitas, melainkan cerminan kompleksitas sosial yang menjerat anak-anak di bawah umur, yang seharusnya disibukkan dengan merajut asa dan cita-cita, namun justru terjerumus dalam gaya hidup hedonisme yang didukung oleh “investor” atau yang populer disebut sugar daddy.
Fenomena ini kian mengkhawatirkan. Menurut data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), kasus eksploitasi anak secara daring, termasuk yang mengarah pada prostitusi, menunjukkan tren peningkatan yang signifikan. Di era digital ini, validasi diri sering kali diukur dari kepemilikan materi. Ponsel pintar keluaran terbaru, rangkaian produk perawatan kulit mewah, pakaian bermerek, hingga rutinitas nongkrong di kafe-kafe hits menjadi “mata uang sosial” yang seolah wajib dimiliki. Bagi banyak pelajar, uang saku dari orang tua seringkali tidak cukup untuk memenuhi tuntutan gengsi dan nafsu hedonisme yang menggebu-gebu ini.
BACA JUGA : Go Green? Demam Sepeda Listrik Di Muara Pantuan
Jebakan Gaya Hidup dan “Investor” di Balik Layar Digital
Pintu masuk ke dunia kelam ini terbuka lebar, seringkali bermula dari lingkungan pertemanan dan media sosial. Remaja melihat teman sebaya yang tiba-tiba memiliki segala kemewahan tanpa harus bekerja keras. Di sinilah pria dewasa, dengan kemapanan finansial dan kekuasaan, hadir bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai “solusi instan” yang terlihat menggiurkan. Hubungan terlarang ini kemudian dibungkus rapi dengan eufemisme yang menyesatkan: mereka adalah “investor” masa depan, sedangkan para remaja hanyalah “pacar simpanan”. Dalam narasi yang bengkok ini, tubuh ditukar dengan modal, dan kehormatan dijual demi kesenangan sesaat.
Mari kita dengarkan kisah Sinta (bukan nama sebenarnya), seorang siswi SMA di Samarinda. Saat diwawancarai, ia mengaku tekanan untuk tampil “setara” dengan teman-temannya telah menjerumuskannya. “Awalnya karena teman-teman. Mereka sudah pakai iPhone 14 Pro, skincare yang harganya jutaan. Saya cuma bisa pinjam punya teman-teman untuk foto atau posting di media sosial. Itu malu banget,” aku Sinta dengan suara pelan, sorot matanya menyiratkan beban.
Ia melanjutkan, “Ada kenalan yang bilang dia bisa bantu, sebut saja investor. Saya cuma harus mau diajak jalan dan menemani. Imbalannya? Ponsel baru itu, dan uang mingguan yang lebih dari cukup untuk nongkrong di tempat mahal yang biasa jadi tujuan hangout sama teman-teman.” Pengakuan Sinta ini menyingkap fakta pahit: kebutuhan akan validasi sosial dan kepemilikan materi telah menjadi motivasi utama, bahkan mengalahkan rasa takut dan nilai-nilai moral. Gawai canggih dan merek-merek mewah telah menjadi kompensasi atas hilangnya martabat diri.
BACA JUGA : Nelayan Karangmumus
Pendidikan yang Hilang Arah dan Kekosongan Moral
Anak-anak ini, yang seharusnya mendapatkan pemahaman kesehatan seksual dan moral yang kuat di sekolah, justru tumbuh dalam kekosongan. Kurikulum pendidikan di Indonesia sering kali gagal membahas isu seksualitas dan moralitas secara terbuka dan kritis, cenderung menganggapnya tabu atau hanya menyisipkannya secara dangkal. Akibatnya, remaja mencari pengetahuan dari sumber-sumber yang tidak kredibel, membuat mereka rentan terhadap manipulasi dan eksploitasi. Ketika pendidikan moral hanya bersifat dogmatis tanpa disertai diskusi mendalam tentang bahaya eksploitasi dan komodifikasi diri, benteng pertahanan terakhir remaja itu pun runtuh.
Fenomena ini seolah menegaskan kutukan sejarah bahwa prostitusi adalah “pekerjaan tertua di dunia.” Di Samarinda hari ini, ketidaksetaraan itu termanifestasi dalam jurang antara remaja yang ingin hidup hedon dengan pria dewasa yang memiliki daya beli. Kisah klasik tentang yang lemah dimanfaatkan oleh yang kuat ini terus terulang, hanya saja aktornya kini adalah pelajar SMA yang bertransaksi via aplikasi digital. Tragisnya, beberapa remaja yang awalnya adalah korban, setelah terjerumus, justru berubah menjadi pelaku yang ikut “menjual” teman-teman mereka sendiri.
BACA JUGA : Kryptonite Marquez
Revolusi Pendidikan: Jalan Menuju Kesadaran Kritis sebagai Pembebasan ala Freire
Untuk memutus siklus penderitaan yang historis ini, kita perlu bergerak melampaui sekadar penangkapan dan penghukuman. Kita membutuhkan sebuah revolusi pendidikan, sebagaimana diyakini oleh filsuf Brasil, Paulo Freire.
Freire mengajarkan bahwa pendidikan adalah praktik kebebasan dan kunci bagi setiap perubahan sosial. Ia mengkritik keras pendidikan “gaya bank” yang hanya menimbun pengetahuan di kepala siswa tanpa memicu pemikiran kritis. Dalam kasus Samarinda, pendidikan yang bersifat “bank” hanya mengajarkan kepatuhan formal, tetapi gagal melahirkan Kesadaran Kritis (Conscientização).
Remaja-remaja ini perlu didorong untuk melihat diri mereka sebagai subjek yang berharga, bukan objek yang bisa dibeli dan dijual. Mereka harus diajak berdialog secara terbuka dan kritis di rumah, di sekolah, dan di komunitas tentang mengapa gaya hidup hedon itu menindas, bagaimana eksploitasi oleh sugar daddy adalah bentuk penindasan, dan bahwa nilai diri mereka jauh melampaui harga yang ditawarkan di pasar gelap. Pendidikan harus menjadi cermin bagi realitas mereka: diskusi tentang persetujuan seksual, bahaya grooming online, dan analisis kritis terhadap budaya yang mengagungkan uang instan. Hanya dengan kesadaran kritis inilah, mereka akan mampu melawan narasi palsu bahwa tubuh adalah komoditas dan memilih martabat di atas kesenangan sesaat.
Selama pendidikan di Samarinda masih menjinakkan, alih-alih membebaskan, maka setiap senja yang turun akan terus diwarnai oleh cahaya remang-remang yang mengintai, siap memangsa masa depan anak-anak di balik seragam sekolah. Tugas kita bersama adalah memastikan bahwa pena dan buku menjadi alat pembebasan sejati, bukan sekadar pelengkap seragam yang terkoyak.
Penulis : Muhammad Fathi Ramadhan
Editor : Yustinus Sapto Hardjanto
Sumber Gambar : Muhammad Fathi Ramadhan
Note : Tulisan ini merupakan hasil pengkaryaan dari Workshop Menulis Kreatif yang diselenggarakan oleh Bidang Pengembangan SDM Ekraf, Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Timur.








