KESAH.ID – Bisa jadi dianggap gurauan ketika ada yang mengaku sebagai nelayan di Sungai Karangmumus. Faktanya hampir setiap tahun masih saja ada bantuan untuk kelompok nelayan Karangmumus, tak perduli mereka mencari ikan atau tidak. Menjadi nelayan di Sungai Karangmumus memang tak ada harapan, mungkin hanya sekedar hiburan karena mencari seminggu belum tentu cukup untuk kebutuhan sehari.
“Sekarang nyari satu minggu gak cukup untuk makan sehari,” ujar Kai Nani sambil menghela nafas panjang membandingkan pencariannya di masa lalu dengan yang terjadi hari hari kini.
Kai Nani, sekarang ini dikenal oleh tetangganya sebagai lelaki tua yang gemar bolak-balik dari rumahnya di dalam gang ke tepian Karangmumus dekat jembatan kehewanan. Di sana perahu ketinting satu-satunya yang tersisa terus dirawat.
Sesekali jika ada waktu baik, Kai Nani akan pergi meunjun, memancing ikan ke arah Delta Mahakam.
“Untuk hiburan saja, kalau dapat banyak dibagi-bagi untuk tetangga,” katanya.
Sekarang jadi nelayan nggak ada harapan, kata itu terus diulangnya setiap kali bercerita tentang kehidupan nelayan di Sungai Karangmumus.
Nelayan di Sungai Karangmumus?. Mungkin profesi itu teramat asing untuk saat ini. Sungai sekotor itu ada ikannya?.
Realitasnya di Sungai Karangmumus memang ada nelayan, sampai sekarang masih ada kelompok nelayan yang terdaftar dan kadang mendapat bantuan dari pemerintah.
Tapi ya itu, mencari ikan di Sungai Karangmumus seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Sekali menebar jala yang tertangkap bukan ikan baung, biawan, lais atau senggiringan, tapi sampah. Kalau ada yang mengelepar, dipastikan dalam lemparan jala yang pertama adalah ikan cicak, atau ikan sapu-sapu.
Saat diminta menghitung berapa tahun menjadi nelayan Sungai Karangmumus, Kai Nani menyebut angka 43 tahun, lalu pensiun. Bukan karena tak mampu lagi membawa perahu, melempar jalan, menurunkan ancau atau menarik pancing, melainkan karena ikannya tiada.
Setrum, racun dan pencemaran air membuat ikan di Sungai Karangmumus menghilang. Juga vegetasi di kanan kiri sungai yang kini diganti dengan semen dan beton membuat ikan kehilangan rumahnya. Karangmumus bukan lagi menjadi habitat yang nyaman untuk komunitas ikan, udang dan sidat atau marsapi.
Memang masih sering dilihat orang merenung di tepi Sungai Karangmumus dengan pancing di tangan, terutama ketika air pasang sehingga ada ikan masuk dari Sungai Mahakam. Yang memancing biasanya bisa mendapat ikan patin.
Dulu bukan hanya ikan yang bersarang di Sungai Karangmumus tetapi juga udang. Tak perlu dipancing, cukup ditangguk.
“Di bawah ilung -enceng gondok – selalu ada udang,” kata Kai.
Yang paling dikenal tentu udang galah, namun ada juga udang hitam atau disebut udang capit.
“Udang galah bisa dipancing dengan sumbu kompor,” terang Kai.
Kaki-kaki udang galah bergerigi sehingga bisa terkait di sumbu kompor.
“Dulu mencari ikan, udang, atau belut sehari, bisa dimakan seminggu,” lanjut Kai Nani.
Masa-masa itu telah berlalu, jangankan ikan dan jenis tangkapan lainnya, air Sungai Karangmumus kini makin buruk. Sampai-sampai ada yang mengatakan kalau Sungai Karangmumus adalah tempat sampah terpanjang di Kota Samarinda.

BACA JUGA : Just Marquez
“Biawan, baung, lais, senggiringan, puyau, pipih, baung, marsapi, seluang,udang” ucap Kai Nani menjawab pertanyaan jenis ikan apa saja yang ada di Sungai Karangmumus waktu itu.
“Ada juga papuyu, keli dan haruan di rawa-rawa,” tambahnya.
Tak lama kemudian dia menyebut ikan bakut. “Ikan malas,” kata Kai Nani.
Katanya ikan ini sering dibuang karena cepat mati.
Kai Nani tahu kalau sekarang ikan itu diekspor dan mahal harganya.
Ya, ikan bakut atau lebih dikenal di restoran hotel berbintang sebagai ikan betutu memang mahal. Ikan yang dalam bahasa Inggris disebut marble sleeper atau marble goby ini dikenal lembut dagingnya dan hampir tanpa tulang.
Disebut ikan pemalas, bahkan ikan bodoh karena suka berdiam lama, tahan di satu tempat berjam-jam tanpa bergeser. Kalau sedang kenyang tak tertarik pada makanan yang lewat didepannya.
Kini ikan itu dipandang penuh khasiat, termasuk membuat awet muda dan awet stamina. Padahal dulu dibiarkan begitu saja di Sungai Karangmumus dan sekarang langka atau mungkin sudah punah.
Sebagai habitat Sungai Karangmumus memang sudah berubah banyak. Ada banyak komunitas tumbuhan dan binatang air yang hilang, punah.
Masyarakat Karangmumus dengan budaya airnya juga sudah punah. Yang tinggal adalah masyarakat tepian sungai yang tidak punya relasi lagi dengan sungai. Budaya air di seputar Sungai Karangmumus sudah arkaik. Jika diibaratkan sebagai kata, masih ada dalam kamus tapi tak terpakai lagi.
Warga tepian Sungai Karangmumus tak akrab lagi dengan kata ciruk, betajun, belarut, batang dan lain-lain.
Normalisasi, upaya membuat Sungai Karangmumus agar tak menyebabkan banjir telah menghilangkan bukan hanya pengetahuan lokal, tetapi juga spesies lokal, tumbuhan dan jenis ikan-ikanan yang dulu menghuni tepian serta badan Sungai Karangmumus.
Tinggal sedikit senior citizen yang bisa menceritakan dinamika Sungai Karangmumus dari masa bahari hingga hari kini.
Lebih sedikit lagi yang masih punya pengetahuan dan ketrampilan yang berhubungan dengan air. Seperti Kai Nani yang bisa membuat perahu ketinting atau jukung.
Samarinda, kota yang tumbuh di tepian aliran sungai, menjauh dari sungai. Meski taman-taman kota banyak yang dibangun di tepi sungai, dinamai teras atau bahkan para’an, tetap saja sungai tidak menjadi teras kota, hubungan masyarakat dengan sungai tidak juga para’.
Relasi atau interaksi masyarakat dengan sungai sudah berbatas. Berbatas tembok atau tanggul beton.
Tepian Sungai Karangmumus menjadi BP, Beton Panjang, tempat orang duduk-duduk bukan untuk merenungi nasib sungai, melainkan lebih merenungi nasibnya sendiri.
Normalisasi tidak membuat sungai menjadi normal. Walau mungkin membuat sungai menjadi rapi. Tapi sekali lagi normalisasi bukanlah revitalisasi, tak memicu kembali tumbuhnya budaya air. Di sepanjang Beton Panjang Sungai Karangmumus dengan mudah disaksikan bagaimana mereka yang duduk-duduk merenungi nasib berlaku biadab pada air karena tak ada rasa bersalah membuang aneka pencemar ke badan sungai.

BACA JUGA : Go Green? Demam Sepeda Listrik Di Muara Pantuan
Tanda-tanda pemerintah akan menyingkirkan semen dari sungai masih jauh. Kontaminasi Sungai Karangmumus oleh semen bahkan semakin massif. Semen terus merangsek hingga bagian tengah. Habitat flora dan fauna di sepanjang Sungai Karangmumus kian terdesak.
Masih ada nelayan di sepanjang Sungai Karangmumus, tapi cara penangkapannya makin destruktif karena hasil tangkapan makin langka.
Profesi nelayan di Sungai Karangmumus tinggal menunggu sedikit masa untuk hilang. Menangkap ikan di Sungai Karangmumus bakal tinggal menjadi hiburan, hiburan yang barangkali tak menghibur lagi.
Jelas lebih mudah menangkap biawak daripada ikan di Sungai Karangmumus.
Jangankan ikan, udang dan lainnya, Sungai Karangmumus sendiri tak lama lagi akan mati, mati fungsi.
Jika sepanjang Sungai Karangmumus berhasil dibeton, Karangmumus mungkin lebih layak disebut kanal ketimbang sungai. Kalaupun masih disebut sungai, itu hanya penamaan saja, karena sebagai sungai, Sungai Karangmumus sudah lama purna.
Sungai Karangmumus tak lama lagi akan sirna seperti halnya banyak anak sungainya. Anak sungai yang dulu ketika pasang dan akan surut kemudian dibendung. Di anak-anak sungai setelah pasang dari Mahakam akan menjadi jebakan untuk menangkap ikan dan udang.
Kini anak-anak Sungai Karangmumus itu telah menjadi parit atau got, sebagian masih terlibat tapi sebagian lagi tersembunyi dibalik gorong-gorong.
Padahal dulu, dia anak-anak sungai ini bocah tepian Karangmumus belajar berenang. Sebelum mereka berani berenang di Sungai Karangmumus yang waktu itu dipercaya punya Kerajaan Buaya Kuning, dan dihuni oleh Hantu Banyu.
Anak sungai dan Sungai Karangmumus dulu merupakan kolam renang pertama bocah Samarinda. Mereka bukan hanya merenang, karena Sungai Karangmumus juga dijadikan tempat untuk bermain petak umpet, sembunyi di bawah batang.
Tak nampak rasa sesal di wajah Kai Nani saat menceritakan perubahan Sungai Karangmumus dari waktu ke waktu. Di usianya yang terbilang senja lebih mudah baginya untuk menerima dunia memang berubah. Perubahan yang dianggap buruk oleh sebagian orang, namun sebagian lainnya menganggap sebagai kemajuan.
“Yang penting masih ada tempat untuk saya melihat dan merasakan Karangmumus,” ujar Kai Nani.
Tempat yang dimaksudkan olehnya adalah Pangkalan Pungut GMSS SKM, sepenggal ruang hijau yang turut dijaga oleh Kai Nani karena ada dermaga perahunya disana.
note : sumber gambar – NPJ








