KESAH.IDJika ingin menghafal dan mengenal ragam sepeda listrik bisa datang ke Muara Pantuan. Desa yang berada di wilayah Delta Mahakam ini jalanannya menjadi tempat hilir mudi beragam merek dan jenis sepeda listrik. Di desa ini listrik hanya tersedia selama 12 jam. Menjadi ironi tersendiri karena desa ini berhimpitan dengan ladang migas, sumberdaya alam yang membuat udara di Delta Mahakam berbau petro dollar.

Tak punya jalan darat, itu nasib 4 desa di Kecamatan Anggana jika ingin pergi ke Ibukota Kecamatan. Sepatin, Tanjung Berukang yang merupakan desa pemekaran dari Sepatin, Muara Pantuan dan Tani Baru memang terpisah dari daratan Kecamatan Anggana. Desa yang berada di Delta Mahakam wilayahnya terdiri dari pulau-pulau yang dikepung alur anak-anak sungai dan berhadapan dengan Laut Selat Makassar.

Perjalanan ke desa-desa ini dari Sungai Mariam mesti memakai alat transportasi air, entah perahu, long boat atau speed boat. Perjalanannya cukup menantang karena permukaan airnya kerap bergelombang.

Selain Nipah dan Bakau serta tumbuhan lainnya di pinggiran sungai, pemandangan sepanjang jalan yang menarik adalah instalasi penambangan migas dalam ukuran besar dan kecil yang beberapa kali ditemui berada di pinggiran anak sungai.

Kawasan Delta Mahakam dari masa kolonial memang dikenal sebagai kawasan ladang dan pertambangan migas.

Pengeboran eksplorasi migas pertama di blok Mahakam pertama kali dilakukan pada tahun 1897 di lapangan Louise 1. Lalu dilanjutkan dengan pengeboran ekplorasi tahap kedua pada tahun 1998 di lapangan Mathilde 1. Penemuan lapangan Louise-1 dan Mathilde-1 itu menjadi sejarah penemuan lapangan minyak pertama dalam sejarah Kalimantan Timur.

Setelah penemuan dua lapangan minyak itu, Penemuan lapangan minyak lainnya baru didapatkan selang 40 tahun kemudian atau pada 1938.

Bataafsche Petroleum Maatschappij atau BPM anak perusahaan Royal Ducth Shell yang didirikan pada awal abad ke 20 menjadi pelaku penambangan migas di Hindia Belanda termasuk Kalimantan Timur.

Paska kemerdekaan pada tahun 1967 ditandatangani KKS atau Kontrak Kerja Sama antara Pemerintah Indonesia dengan TOTAL E&P Indonesie dari Perancis dan Inpex Coorporation dari Jepang.

Ketika habis masa KKS pada tahun 2017, blok migas ini kemudian dikelola oleh Pertamina Hulu Mahakam anak perusahaan dari Pertamina Hulu Indonesia.

Di wilayah delta Sungai Mahakam yang dari atas kelihatan seperti kipas yang terbentuk dari pulau-pulau yang dipecah-pecah oleh anak-anak sungai, kapitalisme global dan kapitalisme lokal bertemu.

Bau dollar kapitalisme global diwakili oleh petro dollar dan bau dollar kapitalisme lokal yang diwakili oleh para punggawa diwakili oleh bau udang.

Selain ladang migas, setelah reformasi Delta Mahakam juga dikenal sebagai padang empang dengan hasil Udang Tiger yang laris manis untuk diekspor.

Dua komoditas penghasil dollar ini untuk masyarakat Delta Mahakam terkadang menyajikan paradoks tersendiri, ada kontras kehidupan disana.

Aneka jenis dan merek sepeda listrik yang penampilannya imut dan color way-nya yang keren

BACA JUGA : Subsistensi Energi Dan Bencana Ekologi Di Lanskap Mahakam

“Selamat datang di Desa Muara Pantuan”, menjadi pertanda perjalanan speed boat dari Sungai Mariam akan berakhir.  Permukiman di Desa Muara Pantuan berada di kanan kiri sungai, rumah menghadap sungai dan antara rumah serta sungai ada jalanan gang yang dibangun dari kayu berupa jembatan panjang.

Tak lama berada dengan akan menangkap realitas yang menonjol. Ada banyak sepeda listrik lalu lalang di gang. Mobilitas penduduk, berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain berpondasi pada kendaraan listrik.

Adakah ini karena kesadaran atas transisi energi atau apa?.

Ternyata ada paradoks di daerah penghasil migas ini. Berlimpah dengan sumber energi fosil ternyata warga Desa Muara Pantuan minim akses energi. Harga gas dan BBM di Muara Pantuan yang bertetangga dengan sumur-sumur migas jauh lebih mahal dari harga gas dan BBM di Kota Samarinda.

Pun ketika wilayah mereka dilewati oleh tongkang-tongkang pengangkut batubara, ternyata listrik yang dibangkitkan dengan batubara tak sampai disana.

Sumberdaya wilayah ini telah menerangi bagian dunia lainnya, tapi daerah penghasilnya bertahan sebagai wilayah terpencil. Masyarakat mesti mengusahakan sendiri sumber energi listriknya dengan diesel, baik lewat diesel personal maupun diesel komunal.

Bisa jadi sepeda atau kendaraan listrik memang lebih mudah pengoperasiannya. Mengingat harga satu liter BBM berkisar 14 – 16 ribu, itupun tak selalu ada.

Jalanan berupa jembatan panjang dari kayu menjadi etalase bagi sepeda-sepeda listrik aneka bentuk yang kebanyakan buatan Tiongkok. Ada banyak merek seperti Ofero, U-Winfly, Saigem Pasificm Aima, Goda, Viar dan lain-lain. Salah satunya mempunyai label Go Green.

Maraknya pemakaian kendaraan listrik di Muara Pantuan memang bikin penasaran. Adakah hubungannya dengan semangat Go Green?.

Ibu Nani {43 tahun} tak menunjukkan hal itu. Dia mengatakan membeli sepeda listrik karena anaknya meminta, sebab teman-temannya sudah punya duluan.

“Sekitar tahun 2023 ke 2024 banyak yang membeli sepeda listrik disini,” ujarnya.

Bu Nani membeli sepeda listrik second. Harganya sekitar 6,5 juta, kalau baru bisa sampai 11 juta.

“Kalau pagi sepedanya dipakai anak ke sekolah, saya kadang-kadang juga memakai kalau beli sembako di hilir,” lanjutnya.

Menurut Bu Nani sepeda listrik terbilang irit dan cepat untuk mengisinya.

“Sekitar 3,5 jam sudah penuh baterainya,” katanya.

Bagi Bu Nani kehadiran sepeda listrik cukup menguntungkan untuknya. Sepeda listrik membantu mobilisasi dari bagian kampung di hulu ke arah hilir.

“Satu rumah di hulu sana umumnya punya satu sepeda listrik,” lanjut Bu Nani.

Ladang atau sumur migas yang bisa ditemui sepanjang perjalanan dari Sungai Mariam ke Muara Pantuan

BACA JUGA : Just Marquez

Saat ditanya apakah Bu Nani mengetahui kalau penggunaan kendaraan listrik dikampanyekan oleh pemerintah sebagai salah satu langkah pendukung transisi energi, Bu Nani sama sekali tak mengetahui.

Alasan Bu Nani membeli sepeda listrik adalah alasan praktis, juga karena desakan anaknya yang terus merengek-rengek karena sebagian temannya sudah mempunyai.

Akses pada bahan bakar minyak yang terbatas juga membuat sepeda listrik menjadi lebih populer.  Bentuk, warna dan model yang menarik juga jadi alasan tersendiri untuk segera membeli, apalagi harganya juga terbilang murah untuk daerah penghasil udang.

Populasi sepeda listrik di Muara Pantuan akan sangat kelihatan di pagi hari. Di jalanan yang menuju sekolah, lalu lalang sepeda listrik dari rumah ke sekolah, maupun sekolah kerumah kentara sekali.

Kesadaran untuk melakukan transisi energi bisa saja dimulai dari keterpaksaan. Akses pada energi mainstream yang rendah, sumber energi fosil yang mahal bisa menjadi jalan untuk mewujudkan kemandirian energi yang berbasis pada sumberdaya lokal, atau energi terbarukan yang diusahakan sendiri oleh masyarakat dengan daya yang disediakan oleh alam.

Andaikan masyarakat Muara Pantuan mengisi baterai sepeda listrik dengan listrik yang dihasilkan oleh panel surya, mungkin Muara Pantuan akan menjadi salah satu desa pelopor energi terbarukan.

Penulis : Windasari

Editor : Yustinus Sapto Hardjanto

Sumber Gambar : Windasari