KESAH.ID – Delta Mahakam memanggungkan ironi yang kontras. Di Desa Sepatin, yang dikelilingi instalasi migas, warga seperti Pak Imran (63 tahun) terpaksa kembali ke dapur kayu bakar karena Gas Elpiji mahal dan sering langka. Keterbatasan ini diperparah rusaknya PLTS komunal yang kini hanya berfungsi dua jam sehari karena baterai menua. Alhasil, di wilayah yang udaranya berbau dolar dari kekayaan alam yang dieksploitasi, komunitas nelayan ini harus hidup dengan energi seadanya, mengandalkan matahari untuk mengeringkan udang dan berharap pada bantuan eksternal.
Desa Sepatin, di jantung Delta Mahakam, Kabupaten Kutai Kartanegara, adalah panggung kontradiksi yang getir. Di depannya, lautan lepas Selat Makassar menjanjikan aroma dolar dari kekayaan hasil laut dan—yang lebih besar lagi—kilang-kilang minyak dan gas (migas) yang berdiri kokoh. Namun, di salah satu sudut dusunnya, terkuak cerita tentang warga yang harus kembali ke tungku kayu bakar karena mahalnya sepotong energi modern.
Jurnalis Warga untuk Transisi Energi Berkeadilan, Windasari, membawa catatan dari permukiman tertua di Anggana ini. Desa Sepatin, yang konon sudah dihuni sejak tahun 1600-an oleh pendatang dari Sulawesi Selatan—berasal dari kata Salo Patin yang berarti sungai kaya ikan—kini dikenal sebagai penghasil kepiting, udang, dan ikan primadona. Sayangnya, keterpencilan lokasi telah menjadikannya etalase bagi ironi energi.

BACA JUGA : Nelayan Karangmumus
Gas Mahal di Negeri Sumber Energi
Potret paling mencolok terbentang di Dusun Sungai Banjar, bagian dari Desa Sepatin. Di sana, Pak Imran (63 tahun) membuka dapurnya yang sederhana. Di dalamnya, bertumpuk kayu-kayu kering, bukan tabung melon hijau.
“Gas mahal di sini,” ujarnya singkat.
Di seberang lautan depan dusunnya, tiang-tiang baja instalasi sumur-sumur migas milik konsesi global berdiri megah. Namun, bagi Pak Imran dan puluhan kepala keluarga lainnya di Sungai Banjar, akses terhadap Gas Elpiji 3 kg bukan hanya soal harga yang melambung tinggi, tapi juga ketersediaan yang seringkali lenyap ditelan gelombang.
Ironi ini bukan sekadar anekdot personal, melainkan cermin timpangnya distribusi energi di kawasan sumber. Berdasarkan catatan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), salah satu tantangan terbesar penyaluran Elpiji adalah kondisi geografis daerah kepulauan dan pesisir yang minim infrastruktur darat, membuat biaya logistik membengkak berkali lipat. Ketiadaan akses darat ke Sepatin membuat harga satu tabung Elpiji seringkali mencapai dua hingga tiga kali lipat dari harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.
Tak punya pilihan, Pak Imran kembali mengandalkan energi bio massa dari hutan mangrove di belakang permukiman. Transisi energi, baginya, hanyalah janji di atas kertas.

BACA JUGA : Kryptonite Marquez
PLTS Senja: Pembangkit yang Kehabisan Daya
Keterbatasan energi di Sungai Banjar tak berhenti di dapur. Di malam hari, impian warga untuk hidup terang benderang pun kian meredup.
Pada tahun 2016, Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara sempat membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) komunal di Sungai Banjar. Proyek ini sempat menjadi penopang hidup nelayan, memberikan cahaya di malam hari, alih-alih hanya memandang kerlap-kerlip lampu instalasi migas di kejauhan.
Namun, memasuki usia hampir sepuluh tahun, PLTS itu kian renta.
“Nyala di jam 6, dan jam 8 sudah mati,” keluh Inu Mariana (31 tahun).
Masalahnya terletak pada inti sistem: baterai lithium. Dalam kondisi normal, baterai pada PLTS komunal memiliki batas umur pakai 5 hingga 10 tahun. Setelahnya, kapasitas daya tahan dan daya simpan akan menurun drastis dan menuntut penggantian komponen.
Kini, PLTS yang tadinya mampu mencukupi catu daya nyaris 24 jam, hanya sanggup bertahan tak lebih dari seperempat hari.
Perawatan PLTS komunal di Sungai Banjar menghadapi dua persoalan utama: ketergantungan teknis pada pihak luar, seperti kontraktor Pemda atau sumbangan dari Pertamina Hulu Mahakam (PHM) selaku pemegang konsesi, serta keterbatasan dana iuran warga. Pengelola lokal hanya berfokus pada pengumpulan iuran, yang jumlahnya tak pernah cukup untuk membeli dan memperbaharui perkakas mahal seperti baterai atau inverter.
Jika ada pemeliharaan, menurut Ibu Mariana, listrik bisa menyala sekitar 12 jam. Tetapi karena pemeliharaan tak rutin, warga terpaksa kembali menyalakan generator diesel masing-masing—membutuhkan BBM, yang juga harus diangkut dengan biaya tinggi.

BACA JUGA : Samarinda – Gemerlap Kota Tepian Yang Menyimpan Luka Tersembunyi Di Balik Seragam Sekolah
Matahari dan Gerobak Salju
Minimnya akses energi paksa warga Sungai Banjar putar otak. Ibu Mariana adalah salah satu yang paling kreatif. Ia memanfaatkan energi matahari pesisir yang terik untuk mengeringkan udang papai dan ikan asin di para-para kayu dekat rumahnya.
“Menjual segar butuh biaya banyak. Pembeli tidak mampir setiap hari. Kalau dikeringkan, lebih awet,” jelasnya. Dengan dikeringkan, hasil tangkapan dapat bertahan lebih lama, dan dijual kepada “penyambang” (pembeli yang datang sesekali) yang menawar dengan harga yang lebih stabil.
Bahkan untuk urusan logistik harian, ketiadaan listrik mendorong inovasi sederhana yang bebas emisi. Warga meletakkan barang di wadah plastik atau jeriken belah, lalu menyeretnya layaknya kereta salju di atas jalanan kayu penghubung antar rumah. Alat angkut primitif tanpa roda ini membuktikan bahwa energi alam dan kearifan lokal masih menjadi patron utama dalam kehidupan sehari-hari.
Sambil menghela napas panjang, Ibu Mariana hanya bisa berharap. Ia tak yakin bisa membiayai perbaikan atau penggantian alat PLTS secara mandiri. Harapan kembali tertuju pada uluran tangan pemerintah dan PHM, entitas yang menghembuskan bau dolar di udara yang sama dengan asap tungku kayu Pak Imran.
Sungguh, tak mudah hidup di Delta Mahakam, wilayah yang terhimpit di antara kekayaan sumber daya alam global dan kerentaan infrastruktur lokal.
Penulis : Windasari
Editor : Yustinus Sapto Hardjanto
Sumber Gambar : Windasari








