Ada sesuatu perkembangan menarik di masa pandemi, kala banyak orang mesti beraktivitas di rumah saja. Lebih banyak berada di lingkungan rumah membuat banyak orang mempunyai banyak waktu untuk berpikir, lebih punya kesempatan untuk mempertanyakan atau memikirkan segala sesuatu.
Muncul banyak perbincangan atau percakapan tentang filsafat. Di media sosial dengan mudah ditemukan berbagai bentuk aktivitas yang berhubungan dengan filsafat entah dalam bentuk diskusi, kelas atau percakapan-percakapan.
27 tahun lalu, saya meninggalkan kelas tempat saya belajar filsafat selama kurang lebih 4 tahun. Gairah filsafat selama masa pandemi tentu mengembirakan buat saya yang pernah berkutat dengan filsafat. Hanya saja girah itu tak membuat saya ikut serta dalam hiruk pikuk filsafati tersebut.
Yang saya pegang ketika meninggalkan bangku kelas filsafat adalah pesan dari guru bahwa filsafat adalah sebuah cara untuk memahami segala sesuatu secara radikal, logis, sistematis dan koheren. Intinya kepada saya, guru berpesan agar lebih berfilsafat ketimbang fasih mengurai soal sejarah filsafat, pemikiran para filsuf dan lain sebagainya.
Maka berfilsafat tentu berbeda dengan bicara tentang filsafat. Dan buat saya sendiri apa yang diungkapkan oleh para filsuf sebagian besar sudah dijawab oleh ilmu pengetahuan lewat berbagai temuan yang sulit untuk diperdebatkan.
Ajaran atau pemikiran para filsuf banyak yang mestinya sudah dikubur mengikuti para pemikirnya yang sudah lama dikebumikan.
Namun sebagai sebuah metode berpikir, filsafat masih relevan dan tetap berhasil membuat perubahan dalam dinamika kehidupan sampai saat ini. Karenanya filsafat sering disebut sebagai ibu dari segala ilmu.
Dalam bidang bisnis dan teknologi, model berpikir yang diajarkan Aristoteles, filsuf Yunani kuno lebih dari 2000 tahun lalu ternyata relevan sampai saat ini dan menghasilkan inovasi yang mendistrupsi dalam berbagai bidang.
Saat itu Aristoteles mengungkapkan tentang First Principle Thinking atau prinsip pertama. Aristoteles percaya bahwa manusia belajar lebih banyak dengan memahami prinsip-prinsip dasar dari suatu subyek.
Aristoles menterjemahkan first principle sebagai basis dari mana sesuatu itu diketahui. Sebuah asumsi dasar yang tidak bisa dideduksi secara lebih jauh.
Seperti mengupas bawang merah, first principle akan membuka lapis demi lapis dari kulit bawang bombay hingga kemudian tersisa intinya yang tidak bisa dikupas lagi. Menggali dalam dan lebih dalam lagi sampai tersisa sebuah hal mendasar atau kebenaran yang ingin kita pahami.
Para inovator yang kemudian melahirkan entitas yang disebut dengan start up yang mendisrupsi umumnya berpikir dan menerapkan first principle ini. Mereka kemudian bisa melahirkan praktek, produk atau model baru yang mengubur hal lama yang umumnya memakai model berpikir analogi.
Model berpikir analogi akan mempertahankan asumsi-asumsi tertentu yang membuat mereka mapan. Mungkin tetap berkembang atau menjadi pemimpin di bidangnya namun dengan cepat akan digoyahkan atau bahkan ditumbangkan oleh mereka yang hadir kemudian dengan pola pikir fist principle.
BACA JUGA : Dramaturgi Sosial Kasus Baim Wong, Kakek Suhud dan Nikita Mirzani
Airbnb, Amazon, Uber, Tesla dan lain-lain dikenal sebagai sebuah bisnis yang kemudian mendisrupsi bidangnya masing-masing.
Bisnis akomodasi, perdagangan ritel, transportasi dan mobil hadir dengan cara yang baru mengeser model lama yang kemudian menjadi usang.
Founder Airbnb menjadi pemilik jaringan hotel besar, tersebar di seluruh penjuru dunia tanpa memiliki gedung dan pegawainya sendiri.
Sementara Amazon, pemiliknya berhasil menjadi salah satu orang terkaya di dunia karena berhasil menjual barang yang dibeli dari produsen untuk dijual langsung kepada konsumen.
Sedangkan Uber berhasil menjadi usaha jasa transportasi ternama tanpa mempunyai kendaraan dan mempekerjakan sopir.
Pun demikian dengan Tesla, Elon Mask pendirinya kemudian menjadi manusia jenius ternama karena berhasil membuat demam mobil listrik di seluruh dunia.
Meski beroperasi pada sektor yang berbeda, para founder start up diatas mempunyai satu kesamaan ketika mengembangkan bisnisnya. Mereka menerapkan first principle thinking sebagai landasan untuk memulai bisnisnya.
Cara berpikir paling umum dari pengembang bisnis adalah thinking by analogi, mengambil sesuatu yang sudah dikenal dan kemudian memodifikasinya untuk membuatnya menjadi lebih baik. Seseorang yang ingin berbisnis hotel akan melihat hotel-hotel ternama di berbagai tempat, lalu memilih hotel terbaik sesuai level yang ingin dijadikan patokan dan kemudian mulai membangun dengan perbaikan disana sini atas hotel yang dijadikan referensi.
Pengembang bisnis lebih bertindak sebagai seorang juru masak ketimbang memilih menjadi chef.
Menjadi chef memang berat karena berarti menjadi pioner, perintis, orang yang menciptakan resep. Mengenal bahan mentah dan tahu cara mengabungkannya. Sedangkan juru masak adalah penguna resep walau mungkin melakukan variasi disana-sini. Namun tetap saja tidak akan menciptakan resep. Seorang juru masak bahkan bakal bingung kalau kehilangan atau lupa resep yang dihafalnya.
Seorang juru masak tidak akan berpikir seperti Chef yang memahami citarasa dan kombinasi bahan masakan sampai ke tingkat yang paling dasar, sehingga bisa menciptakan hidangan yang nikmat bahkan ketika tidak menggunakan resep.
Membangun bisnis dengan tipologi thingking by analogi berarti akan mencontek bisnis-bisnis yang sedang memimpin pasar, lalu melakukan modifikasi untuk menjadikannya lebih baik. Akibatnya ketika formula yang dicontek itu ternyata tidak bekerja dengan baik yang akan terjadi adalah kebingungan, tidak tahu mesti berbuat apa. Bisnis layu sebelum berkembang.
Elon Musk berhasil mem-booming-kan mobil listrik dengan melawan asumsi soal membuat baterei yang bisa mengerakkan mobil itu mahal. Memahami bahan-bahan pembuatnya dan bagaimana bisa mengumpulkannya dengan efektif membuat Elon Musk berhasil membuat Tesla moncer serta menjadi pioner mobil listrik yang tidak bertumbuh dari mobil berbahan bakar.
Pertanyaan dasar dari Elon Musk adalah Apa itu baterei dan apa bahan pembuatnya?.
Jawaban atas pertanyaan itu menghasilkan sebuah teknologi pembuatan baterei yang efesien dan semakin murah.
Pertanyaan serupa juga diajukan oleh founder Airbnb. Apa yang paling mendasar dari industri perhotelan?.
Yang paling umum akan menjawab fasilitas, bangunan dan kualitas layanannya. Sebuah jawaban yang tentu saja benar dan mewakili unsur-unsur esensial dari industri akomodasi.
Namun jika kembali kepada first principle maka hal paling mendasar dari industri perhotelan adalah menyediakan akokodasi yang nyaman untuk tamu.
Bagaimana bisa menyediakan akomodasi yang nyaman untuk tamu tanpa harus memiliki bangunan hotel?.
Dan Airbnb menjawab itu, sebuah start up yang kemudian mendisrupsi industri perhotelan di dunia.
Demikian juga dengan industri transportasi perkotaan, apa syarat yang harus dipenuhi untuk mengelutinya?. Tidak banyak yang berpikir untuk berbisnis transportasi perkotaan sebab butuh armada yang banyak dan mentereng, fasilitas perawatan dan sopir yang handal.
Uber yang kemudian ditiru oleh banyak operator ride hailing, bertanya “Apa hal yang paling fundamental dari bisnis transportasi?”
Jawabannya adalah memindahkan orang dari satu tempat ke tempat lainnya.
Bagaimana bisa memindahkan orang tanpa punya kendaraan dan sopir atau pengendara sendiri?. Uber dan start up ride hailing lain adalah jawabannya.
Jeff Bezos pendiri Amazon mempertanyakan apa yang paling fundamental dalam industry perdagangan. Jawabannya adalah menghubungkan antara produsen/pembuat atau suplier dengan pembeli.
Kenapa barang kemudian menjadi mahal dan penjual susah untuk menjualnya?. Ternyata ada jarak yang panjang antara pembuat dan pembeli, banyak perantara dalam distribusi sehingga membuat barang menjadi mahal harganya.
Dan hadirlah Amazon, sebuah whole seller yang membeli langsung dari produsen dan kemudian menjual secara eceran kepada pelanggan.
Dan kemajuan dalam dunia internet membuat para disruptor ini menjadi pemimpin dalam dunia ecommerce karena internet mampu menghubungkan secara cepat manusia dari berbagai penjuru dunia.
BACA JUGA : Kampanye Kreatif
Berbandrol ekonomi kerakyatan, pemerintah orde baru getol melakukan pembangunan untuk mendorong tumbuhnya industri rakyat dalam bidang pertanian, peternakan, perkebunan, kerajinan dan lain-lain.
Di desa-desa didirikan koperasi unit desa untuk menopang upaya itu. Infrastuktur jalan, bendungan, irigasi dan lainnya juga dibangun dimana-mana yang dalam pidato sambutan peresmian selalu dikatakan sebagai sarana untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat.
Namun berbagai macam program dan bantuan dari pemerintah ternyata tak membuat kesenjangan antara ekonomi rakyat dan ekonomi korporat semakin menipis. Yang kaya makin kaya raya dan miskin makin menderita.
Apa yang dulu dilakukan oleh pemerintah orde baru untuk membangun ekonomi kerakyatan masih diteruskan oleh pemerintahan berikutnya hingga sekarang.
Masyarakat kecil, pengusaha ekonomi lemah terus menjadi sasaran program yang disebut dengan pemberdayaan. Berbagai macam pelatihan dan bimbingan teknis silih berganti dilakukan oleh berbagai organisasi pemerintah baik daerah maupun pusat.
Hasilnya kemudian dibangga-banggakan dalam pameran atau berbagai macam ekpo lainnya, namun sebagian besar yang menjadi sasaran kegiatan tidak berubah nasibnya.
Alih-alih menyelesaikan persoalan utama, pemerintah lebih senang mendorong masyarakat yang tengah atau sedang mau memulai usaha untuk thinking by analogi. Mengajak kelompok masyarakat studi banding ke daerah lain untuk mencontoh keberhasilan pelaku usaha di daerah itu.
Padahal situasi dan kondisinya tidak sama, sehingga keberhasilan di sebuah daerah tidak serta merta bisa ditiru oleh daerah lain. Kalaupun berhasil meniru maka kemudian akan terjadi persaingan yang berdarah-darah.
Apa yang tidak disentuh oleh kebanyakan lembaga atau instansi yang gemar menyebut kata pemberdayaan dan kemitraan adalah pengembangan model bisnis yang tepat. Model bisnis yang mengatasi persoalan utama industri atau usaha kecil.
Para pelaku usaha kecil seperti peternak, perajin, petani dan lainnya butuh uang cepat. Begitu produk diserahkan maka uang mesti segera diterima. Dan untuk itu dibutuhkan pembeli yang mau bersikap adil.
Namun institusi atau lembaga yang mestinya bertindak sebagai pembeli seperti koperasi unit desa atau bumdes misalnya tidak banyak yang melakukan hal itu. Alhasil para produsen kecil ini kemudian menjual pada para tengkulak. Dengan bahan yang dibeli dari para tengkulak dan kemudian hasil juga dibeli oleh tengkulak maka para produsen kecil hanya menerima remah-remah.
Rantai produksi dan rantai jual terlalu panjang. Dan yang mengambil untung serta punya kuasa untuk menentukan harga adalah mereka yang tidak berkeringat.
Sudah saatnya bagi siapapun yang punya tugas dan tanggungjawab serta mandat untuk membantu rakyat, masyarakat kecil untuk tidak mudah menyebut kata pemberdayaan dan kemitraan. Jangan sesekali berani menyebut kata itu andai cuma pintar memberi pelatihan kepada kelompok ibu-ibu namun setelah itu tak bisa menjual produk yang dihasilkan oleh mereka.
Adalah tidak adil untuk berharap kelompok ibu-ibu di perdesaan misalnya menjadi seorang jenius. Seorang yang bisa mencari bahan, mengolah bahan, menghasilkan produk dan kemudian memasarkannya sendiri.
Oleh sebab itu sudah saatnya bagi para pengembang masyarakat untuk belajar berpikir dengan metode first principle, sehingga rencana program atau kegiatan yang dilakukan benar-benar menjawab persoalan yang paling dasar. Sehingga bisnis atau usaha yang dikembangkan oleh masyarakat berdasarkan hal itu akan bertumbuh menjadi usaha yang terdepan dalam bidangnya.








