Sepanjang masa kanak-kanak dulu, hari-hari menjelang Natal dan Lebaran menjadi saat yang menyenangkan. Hari raya menjadi istimewa karena ditandai dengan pakaian baru.

Pakaian baru tidak selalu pakaian jadi yang dibeli di toko atau pasar, melainkan kain yang dijahit oleh tukang jahit langganan sehingga ukurannya pas di badan.

Kebiasaan membeli pakaian baru untuk merayakan hari raya masih berlangsung sampai sekarang. Namun sensasinya nampak berbeda dengan jaman di masa saya kecil dahulu sebab saat ini pakaian baru bisa dan biasa dibeli setiap waktu.

Dulu pakaian dipakai sampai rusak atau kekecilan. Sekarang dalam tumpukan pakaian di lemari masih ada yang label harga atau bungkus plastiknya belum dilepas. Yang namanya pakaian biasanya berlebih sehingga lemari pakaian tak cukup untuk menampungnya.

Sebab di dalam lemari tersimpan tumpukkan pakaian yang masih bagus namun sudah bertahun-tahun tak terpakai, karena rajin membeli pakaian baru akibat tak tahan melihat diskon dan pembukaan toko-toko yang menawarkan harga menarik saat peresmiannya.

Ekonomi yang membaik membuat industri pakaian bertumbuh menjadi industri gaya hidup. Fungsi pakaian bukan hanya untuk menutupi atau melindungi tubuh melainkan untuk bergaya, menandakan identitas dan kelas tertentu.

Ada banyak merek baik di tingkat lokal, nasional maupun internasional yang menjadi ukuran keren tidaknya pakaian yang menempel di badan.

Persaingan untuk merebut pelanggan atau pemakai membuat industri pakaian dalam waktu yang singkat menghadirkan model-model baru agar tetap up to date. Perilaku ini kemudian dikenal sebagai fast fashion.

Sebelum berkembang tren fast fashion, industri pakaian meluncurkan model-model baru setahun dua kali sebagai koleksi musim panas dan musim dingin. Per tahun rata-rata model yang diluncurkan sebanyak 42 buah. Dan model yang diluncurkan ini baru nanti satu atau dua tahun kemudian akan ditemukan di toko atau butik.

Kini, ada produsen pakaian yang meluncurkan model baru dua bulan sekali. Dan tak lama kemudian model itu bisa ditemukan di jaringan toko pakaiannya. Agar model menjadi tidak ‘pasaran’ apa yang dijual di satu toko akan berbeda dengan toko lainnya.

Tidak hanya produsen besar yang melayani pembuatan pakaian berdasarkan kebutuhan pelanggannya. Usaha-usaha kecil atau rumahan juga bisa melayani pembuatan pakaian dengan iklan “Desain sesukamu”.

BACA JUGA : Prinsip Pertama dan Berpikir Dengan Analogi

Putaran produksi dan konsumsi pakaian yang begitu cepat kemudian menimbulkan masalah tersendiri yakni meningkatkan jumlah limbah. Limbah yang pada akhirnya menjadi penyumbang yang significant terhadap kerusakan lingkungan, pencemaran air, pencemaran tanah dan emisi yang menyebabkan perubahan iklim.

Perkembangan fast fashion juga bertolak belakang dengan sustainable fashion, sebuah paradigma dalam industri fashion untuk menghasilkan produk-produk fashion yang menggunakan bahan ramah lingkungan, daur ulang serta bahan-bahan alami.

Fast fashion dengan tuntutan untuk segera bisa menghadirkan produk secara cepat juga ramah kantong akan mendorong penggunaan bahan yang tidak ramah lingkungan, cara produksi dan pengelolaan limbah yang tidak hati-hati, termasuk juga diantaranya mempekerjakan buruh dengan ongkos murah dan bekerja melebihi jam.

Sebuah film dokumenter berjudul “The True Cost” yang dirilis tahun 2015 dengan jelas menunjukkan hubungan antara fast fashion pada lingkungan hidup.

Tanpa merinci jenis pakaian apa yang dibuang, The Council for Textile Recycling memprediksi rata-rata orang Amerika membuang 31,7 kg tekstil dan pakaian setiap tahunnya.

Sebuah kenyataan yang berhubungan dengan laporan Ellen MacAthur Foundation tahun 2017 yang menyebutkan lebih dari 50 persen pakaian fast fashion dibuang satu tahun setelah diproduksi.

Erin Wallace dari ThredUp sebuah situs yang menjual pakaian bekas mengatakan secara keseluruhan, industri fesyen adalah salah satu sektor yang paling merusak lingkungan dalam ekonomi global, menggunakan energi dan air yang sangat besar serta mencemari planet bumi.

Tanpa membaca data atau pernyataan diatas andai jeli melihat kondisi lingkungan tempat tinggal kita, adalah mudah untuk menemukan jejak-jejak pakaian atau kain yang dibuang entah di tanah kosong, tempat sampah atau bahkan saluran air.

Ketika aktif ikut serta dalam kegiatan pungut sampah di sungai, saya berani mengatakan bahwa pakaian dan kain adalah salah satu jenis sampah terbanyak dari berkantong-kantong sampah lainnya yang berhasil di ambil dari sungai.

Memang ada banyak merek yang menjual pakaian dengan harga mahal, namun secara umum dari waktu ke waktu pakaian bermerek sekalipun mempunyai kecenderungan untuk menurun harganya, menjadi terjangkau oleh banyak kalangan.

Andai tidak terjangkau, model itu akan segera ditiru sehingga menunculkan pakaian sejenis yang disebut dengan pakaian KW, tiruan mulai dari yang bahan dan kualitasnya mirip sampai yang jauh dari aslinya.

Pendek kata bermerek atau tidak bermerek, trend fast fashion kemudian membuat produsen membuat lebih cepat dan lebih banyak, pelanggan membeli lebih banyak dari yang diperlukan sehingga mulai dari pra produksi, produksi hingga paska produksi, pakaian dan tektil kemudian menimbulkan masalah bagi lingkungan hidup.

BACA JUGA : Dramaturgi Sosial, Kasus Baim Wong, Kakek Suhud dan Nikita Mirzani

00-Seingat saya dulu di tiap pasar ada kios yang membeli dan menjual pakaian bekas serta kain bekas. Jika kiosnya banyak dan ada barang-barang bekas lainnya yang dijual maka akan disebut pasar rombeng. Namun kerap kali juga disebut dengan nama pasar maling, sebab barang-barang bekas yang dijual sebagian diantaranya adalah barang curian.

Karena yang dijual adalah benar-benar baju atau kain bekas maka yang membelinya adalah orang-orang yang tidak cukup punya uang untuk membeli pakaian atau kain baru.

Lalu setiap hari minggu di halaman susteran, para suster membuka bazaar. Salah satu yang sering dijual adalah pakaian bekas berbahan woll, pakaian itu sepertinya kiriman dari negeri Belanda.

Membeli pakaian itu dan memakainya tanpa pelapis badan seperti terasa sedikit gatal-gatal atau tak enak.

Menjelang tahun 2000-an, muncul kios-kios yang disebut dengan ‘cabo’ atau cakar bongkar. Kios atau lapak yang menjual pakaian bekas eks import dari luar negeri. Pakaian-pakaian yang sebagian besar masih layak pakai dan ada juga yang bermerk ini sebenarnya merupakan sampah dan limbah di negeri asalnya.

Lepas dari segala permasalahan, kehadiran lapak atau kios cakar bongkar ini kemudian menumbuhkan arus lain yang disebut dengan slow fashion. Kelompok masyarakat yang fashionable namun tidak membeli pakaian-pakaian baru. Mereka tetap bergaya dengan memperpanjang umur pakai sebuah pakaian dengan membeli pakaian bekas.

Beberapa pengemar pakaian bekas ini kemudian mengembangkan bisnis sendiri. Mereka membeli atau berburu pakaian bekas jenis tertentu di lapak-lapak yang sedang membongkar bal-bal pakaian yang baru datang.

Pakaian-pakaian terpilih itu kemudian dijual kembali lewat lapak yang berbeda, bahkan ada yang membuat kios atau lapak yang meski munggil namun representatif dengan label ‘second brand’.

Slow fashion selain sebagai model konsumsi juga berkembang menjadi mode berpakaian dengan berkesadaran terhadap keberlanjutan lingkungan, mengurangi sampah dan juga limbah.

Di tingkatan industri, slow fashion juga menjadi kesadaran dari berbagai merek yang kemudian menghasilkan produk dengan bahan dan metode yang berkualitas serta ramah lingkungan. Produk fashion yang memakai bahan daur ulang, bahan-bahan alami dan tidak cepat-cepatan meluncurkan model baru serta memproduksi secara besar-besaran.

Meski disana-sini masih ada yang berkekurangan, namun dunia sekarang ini sesungguhnya adalah dunia yang sungguh berkelebihan. Segala sesuatu sudah berlebih dari apa yang dibutuhkan.

Namun segala macam kelebihan termasuk pakaian kemudian menimbulkan resiko buruk pada bumi, lingkungan hidup.

Dan salah satu yang bisa kita lakukan untuk menahan laju kerusakan bumi dan lingkungan hidup adalah dengan tidak buru-buru membeli pakaian baru meski H&M, Uniglo, Zara, GAP, Tiffany & co, Burberry membuka outlet baru pada mall di kota kita dan menawarkan harga pembukaan yang menggiurkan hati serta kantong.