Kemarin { Senin, 18 Oktober 2021} ketika melakukan city walking tour dengan teman-teman dari WAG Olimpa’de 2021 ketika melewati gerbang sebuah gang ditemboknya ada graffiti bertulis “tanpa kelas”.
Sontak kami semua yang membaca langsung mempunyai kesimpulan yang sama kalau graffiti itu bercorak Marxis banget. Rata kiri alias kiri abis.
Tapi sambil berjalan menyusuri gang yang kanan kirinya penuh dempetan rumah, tafsir dan dugaan atas graffiti itu mulai melebar. Ada yang menduga itu bentuk keresahan atas situasi belajar tanpa tatap muka alias online. Patut diduga yang menuliskan telah lama tidak masuk kelas, belajar sendiri tanpa kelas.
Mungkin saja dalam dirinya belum muncul kesadaran bahwa kelaspun bisa maya, kelas online.
Tanpa kelas juga bisa dimaknai tanpa sekolah, belajar sendiri bahkan tanpa guru atau otodidak.
Sambil menjaga nafas agar tak terlalu kelihatan terengah-engah saat menapaki tanjakan, saya mulai merenungi betapa istilah atau idiom yang bercorak Marxian dengan mudah memancing perhatian.
Komunisme memang dengan mudah memancing memori terutama untuk saya dan rekan segenerasi yang masa kecilnya selalu dilingkupi oleh peringatan-peringatan tentang bahaya komunisme.
Meski kelak kemudian saya sadar bahwa pelajaran di sekolah tentang ideologi terutama komunisme dan sosialisme sangat bias dengan ateisme serta peristiwa yang disebut sebagai G30S/PKI.
Kajian dan kritisisme kepada komunis kemudian miskin dialektika. Komunisme kemudian disamakan dengan PKI, dianggap tidak ber-Tuhan. Pembelajaran atas komunisme menjadi dangkal karena dikaitkan dengan hal yang transendental dan sakral.
Percakapan tentang ideologi kemudian menjadi sangat hitam putih. Mengkritik habis ideologi lain tapi memuja buta ideologinya sendiri. Padahal pengetahuan atas ideologi sendiri dan ideologi lain sama-sama terbatas. Alhasil belum terlalu lama berdebat yang muncul adalah argumen yang didasarkan atas pasal ‘Pokoknya”.
Sayangnya pokok pelajaran yang berisi tentang kritik ideologi baru saya terima ketika duduk di bangku sekolah tinggi. Sedangkan di tingkat sebelumnya pembelajaran terkait urusan ideologi tidak diberikan berdasarkan kaidah-kaidah keilmuan. Ideologi lebih dikaitkan dengan nilai baik terkait politik rezim maupun iman.
Andai sejak bangku sekolah dasar pelajaran tentang ideologi secara obyektif sebagai ilmu pengetahuan sebagaimana pelajaran matematika atau ilmu pengetahuan alam, mungkin saja banyak kebodohan dan ketololan unfaedah tidak akan tercatat serta mengotori memori otak saya.
BACA JUGA : Fast fashion : Tak Perlu Menunggu Hari Raya Untuk Beli Pakaian Baru
Revolusi industri membawa Eropa tumbuh dan berkembang jauh meninggalkan negara-negara di benua lainnya. Industri membawa dampak ekonomi dan kemajuan lain bagi sebagian besar negara-negara Eropa itu.
Karl Marx hidup di masa itu, masa kejayaan revolusi industri.
Namun selain kemajuan dampak buruk juga muncul akibat revolusi industri. Seperti angka kriminalitas yang tinggi, kekerasan, pelecehan dan ketimpangan gender serta disparitas atau kesenjangan ekonomi yang makin besar antara yang kaya dan yang miskin.
Masalahnya menjadi sangat kompleks, Marx prihatin dengan kondisi ini. Dan yang paling menyakitkan untuknya adalah kenyataan bahwa mereka-mereka yang paling kaya beroleh kekayaannya dengan cara ‘menjarah’ dan ‘memeras’ tenaga orang-orang miskin.
Orang kaya yang disebut sebagai ‘pemilik modal’ dengan mudah mengintimidasi dan mengekploitasi orang miskin bahkan hingga turut mempekerjakan anak-anak demi memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya.
Struktur masyarakat yang terbelah antara yang kaya dan yang miskin, yang punya modal dan tak punya modal atau alat produksi membuat hati Marx teriris dan tak ingin keadaan seperti itu terus berlanjut.
Marx sesungguhnya seorang moralis yang kemudian berharap akan ada masyarakat yang hidup bersama tanpa kelas, tanpa stratifikasi, makan dan memenuhi kebutuhannya bersama, senasib sepenanggungan.
Salah satu gambaran masyarakat ideal dibaca oleh Marx dalam buku “History of Java” karya Thomas Stamford Raffles yang terbit di London tahun 1817. Dalam buku itu dituliskan tentang masyarakat Jawa yang sudah mengenal uang namun mekanisme kerja di unit-unit kecil terutama masyarakat desa bisa berjalan tanpa sirkulasi uang. Ada mekanisme gotong royong, sebuah kerja yang kemudian akan dibayar kembali dengan kerja.
Permenungan dan imajinasi Marx dengan semua pengetahuan termasuk telaahnya atas filsafat dialektika dari Hegel membawanya pada sebuah pemikiran, sintesa dan metodologi sebagai antitesis dari masyarakat yang terus menerus berkonflik karena kelas.
Sintesis itu adalah masyarakat tanpa kelas, yang olehnya disebut dengan masyarakat komunis. Masyarakat komunis adalah tujuan utama dari ideologi dan sistem ekonomi komunis. Yang ditandai dengan kepemilikan bersama alat-alat produksi dengan akses bebas pada barang jadi. Inilah wujud masyarakat tanpa kelas dan tanpa negara sebagai akhir dari perjuangan kelas.
Terpengaruh oleh Ludwig Feurbach, Marx kemudian memutuskan untuk menjadi ateis maka Karl Marx kemudian menempatkan agama sebagai sesuatu yang harus dihapuskan untuk mencapai masyarakat tanpa kelas itu.
Dalam pandangan Karl Marx, agama sama seperti negara yaitu milik dari kelas tertentu, bukan milik masyarakat. Sehingga sama seperti negara, agama juga menghegemoni atau mengekploitasi kelas-kelas yang ada di bawahnya.
Sebagai sebuah kritik atas model kekuasaan dan ekonomi yang sedang berkembang saat itu hingga sekarang, gagasan dunia tanpa kelas jelas sulit untuk diwujudkan. Negara-negara yang kemudian merasa dan sepakat dengan harapan Karl Marx serta kemudian menjadikan komunisme sebagai ideologinya sulit untuk menerapkannya secara konsisten.
Sebagai sebuah ideologi bernegara, masifnya pertumbuhan komunisme hanya sesaat. Ketika Uni Soviet runtuh, komunisme semakin meredup. Kini China tak benar-benar bisa dikatakan komunis, kecuali karena partai satu-satunya adalah komunis.
Pun demikian juga dengan Korea Utara, yang sejak semula tak bisa juga dikatakan komunis sebab negeri itu justru dipimpin oleh ‘monarki diktator absolut’. Pohon penguasanya dimulai dari Kim Il Sung, lalu dilanjutkan oleh putranya bernama Kim Jong Il. Setelah wafat kepemimpinan dilanjutkan lagi oleh Kim Jong Un, salah satu putra dari Kim Jong Il.
Tidak ada yang salah dengan harapan dan pemikiran dari Karl Marx serta modifikasi lanjutan oleh para penganutnya. Namun mewujudkan sebuah dunia tanpa kelas dalam masyarakat yang semakin plural dan menglobal jelas merupakan sebuah utopia.
Negeri-negeri komunis dulu kerap dikenal sebagai ‘negeri bertirai’ entah tirai bambu, besi maupun kaca. Ini dikarenakan marxisme memegang prinsip ‘homeo-statik’ atau mekanisme pertahanan diri dari pengaruh luar.
Maka atas salah satu cara apa yang dipraktekkan oleh masyarakat Baduy Dalam bisa disebut sebagai cara hidup masyarakat yang dibayangkan oleh Karl Marx. Dan cara hidup seperti itu hanya mungkin dilakukan oleh komune atau masyarakat dalam kelompok kecil.
Mempraktekkan komunisme dalam skala luas tak lebih dari sebuah propaganda. Propaganda yang tentu saja penting untuk mengkritik problematika kehidupan ekonomi dan politik masyarakat dunia yang masih terus diwarnai oleh ketimpangan ekonomi, ketidakadilan, kekerasan dan lain sebagainya.
BACA JUGA : Prinsip Pertama dan Berpikir Dengan Analogi
Sejak kecil sebagian besar dari kita dididik untuk menjadi manusia religius, beriman monoteistik dan berperilaku hidup pancasilais.
Memori dalam diri saya mencatat ajaran utama adalah dilarang menjadi ateis, komunis dan kapitalis.
Hanya saja dalam hidup selalu muncul paradoks. Tumbuh dalam atmosfir religius monoteistik ternyata masih banyak yang percaya pada keajaiban-keajaiban termasuk kekuatan atau apapun dalam benda yang disebut jimat, pusaka dan lain sebagainya.
Soal kapitalistik, dalam pelajaran bahasa Inggris idiom yang paling terkenal oleh pembelajar adalah Time Is Money. Dalam kalimat lain banyak orang mengajarkan atau mengatakan pada yang lainnya pepatah ‘Kesempatan tak akan datang dua kali’. Maka manfaatkan setiap kesempatan, jangan lewatkan kesempatan sekalipun itu ada dalam kesempitan.
Sepanjang hidup saya dari kecil hingga menu ini, yang jadi panglima adalah ekonomi. Meski tak secara tegas dinyatakan atau bahkan berusaha ditutup-tutupi lewat berbagai keutamaan, namun sesungguhnya yang dikejar adalah kekayaan, banyak uang.
Tapi tak usah kecil hati, sebagai sebuah sistem ekonomi atau bahkan kemudian dianggap ideologi, ternyata tak ada satupun negara didunia yang secara tegas menganut atau berideologi kapitalisme.
Sebagai sebuah praktek yang terjadi di belahan bumi manapun dan ideologi apapun, kapitalisme memang kerap disalahartikan.
Banyak yang menduga kapitalisme dipopulerkan oleh Adam Smith, bapak ekonomi yang kemudian dijuluki sebagai bapak kapitalisme dunia. Tentu saja ini tidak tepat karena yang pertama mempopulerkan istilah kapitalisme adalah Karl Marx dan Hegel dalam buku Das Kapital yang ditulis seratus tahun setelah Adam Smith wafat.
Adam Smith memang mengkritik monarki dan feodalisme. Sistem ini dipandang merugikan ekonomi masyarakat dan pasar, dia kemudian menghendaki kebebasan individu. Setiap orang berhak berdagang bebas, berpendapat dan peradilan yang tidak memihak serta diberi jaminan atas hak milik. Adam Smith menekankan pada kebebasan pasar dimana pemerintah tidak seharusnya campur tangan dalam mekanisme pasar.
Adam Smith menyakini bahwa setiap orang yang mengejar kepentingannya sendiri dalam nilai keadilan maka orang tersebut tengah mempromosikan kebaikan yang ada dalam masyarakat.
Bagi Adam Smith persaingan di pasar bebas akan memberi kemakmuran bagi semua orang. Kelas sosial masih tetap ada tapi commercial society akan membesar.
Adam Smith memakai istilah masyarakat komersial bukan kapitalis.
Pemikiran Adam Smith memberi perubahan besar, pasar bebas mulai bertumbuh, masyarakat punya hak berusaha dan menentukan keuntungan masing-masing serta membangun kesejahteraannya.
Nah dinamika pasar bebas ini ternyata menimbulkan berbagai kesenjangan yang mungkin tidak dibayangkan oleh Adam Smith. Dalam pandangan Karl Marx perkembangan pasar bebas lebih menguntungkan para borjuis, penguasa alat produksi. Pemilik modal menjadi lebih kaya dan kaya lagi.
Para pekerja dirugikan oleh pasar bebas. Sehingga gagasan tentang pasar bebas yang akan menguntungkan semua orang sebagaimana dipikirkan Adam Smith ternyata tidak demikian adanya.
Karl Marx menilai mekanisme pasar membuat pemilik modal dengan penguasaan terhadap alat produksi akan mengekplotasi kaum pekerja untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya. Dengan biaya seminim-minimnya para borjuis mencari untung sebesar-besarnya. Biaya minim diperoleh dengan cara menekan upah dan memeras tenaga para pekerja.
Fenomena inilah yang disebut oleh Karl Marx sebagai kapitalisme dan pelakunya sebagai kapitalis.
Jadi kapitalisme adalah mode produksi yang bertujuan untuk mendapat untung sebesar mungkin bagi pemilik modal. Keuntungan itu diperoleh dengan cara menekan biaya sekecil mungkin dalam proses produksi. Biaya minim proses produksi itu dilakukan dengan cara menekan upah pekerja.
Maka menjadi jelas bahwa kapitalisme bukanlah ideologi melainkan model produksi. Model produksi ini ada di mana-mana bukan hanya di negara berideologi liberal. Sebab seorang liberal tapi tak punya modal tentu saja tak bakal bisa jadi kapitalis.
Tapi seorang yang punya modal dan hidup di negara komunis tetap saja bisa menjadi seorang kapitalis, seperti Jack Ma dengan Alibaba-nya di China.
Kapitalisme memang lahir di iklim pasar bebas namun ternyata bisa hidup bukan hanya di pasar bebas. Kapitalisme sungguh adaptif, mempunyai banyak wajah sehingga diterima dimana-mana. Kapitalisme bisa hidup di mazhab apapun, sistem pemerintahan apapun dan ideologi apapun.
Sadar atau tidak, Indonesia pernah menjadi surga kapitalisme dengan memberi karpet merah pada para investor dengan iming-iming tenaga kerja murah.
Karl Marx berusaha melawan kapitalisme dengan komunisme, namun ternyata kapitalisme juga tumbuh di negara-negara komunis sekalipun.
Jadi apakah saya pendukung atau seorang kapitalis?. Tidak.
Tak mungkin saya mengatakan diri sebagai kapitalis karena selain tak punya kapital, saya seperti juga Karl Marx merasa kapitalisme itu jahat.
Masalahnya kebanyakan orang pasti ingin kaya, punya banyak uang. Meski banyak yang mengatakan bahwa uang bukan segala-galanya namun dengan uang segala-galanya bisa didapat.
Dan untuk memperoleh uang yang banyak, seseorang pasti akan mengerakkan uangnya dengan ditopang oleh banyak orang. Namun begitu keuntungan diperoleh hanya sedikit yang mau berbagai secara adil. Untung terbesar selalu lebih banyak masuk ke kantong sendiri.
Ngomong-omong soal mempunyai banyak uang, jalan atau cara yang dilakukan di negeri kita ini tidak selalu harus menjadi kapitalis. Membenci kapitalis dan berpidato dimana-mana sebagai seorang moralis tetap akan bisa menjadi seorang yang kaya dengan cara korupsi.
Apapun itu koruptor dan kapitalis tetap sama-sama jahatnya.








