Kepedulian terhadap orang lain terutama yang miskin papa selalu menjadi cerita yang menarik sepanjang jaman.

Dunia memang selalu tak adil karena selalu ada sosok-sosok yang amat berkelebihan hingga harta tak akan habis sampai tujuh turunan, namun tak sedikit pula yang dibuat pusing tujuh keliling oleh pertanyaan “Besok bisa makan apa nggak?” atau “Besok makan apa?”

Berbaik hati kepada mereka yang berkekurangan dengan memberi apa-apa yang bisa membuat mereka tersenyum karena hari besok aman bakal menyentuh hati kebanyakan orang.

Kisah lama tentang memberi dan tak berharap kembali dapat ditemukan dalam cerita Sinterklas dan sepak terjang perampok bernama Robin Hood.

Dalam perkembangannya kisah kebaikan ini kemudian menjadi sebuah mata acara. Di layar televisi dalam negeri pernah ditemukan mata acara seperti Uang Kaget, Bedah Rumah dan lain sebagainya.

Dan ketika televisi mulai surut, acara semacam ini kemudian berpindah ke media sosial, terutama youtube.

Bagi-bagi uang, peduli kepada kaum miskin papa menjadi moda untuk membranding channel-channel youtube tertentu. Kemasannya tentu berbeda-beda.

Dari berbagai channel yang mengedepankan berbagi dan peduli pada sesama yang membutuhkan, BAPAU, channel yang dikembangkan oleh pasangan Baim Wong dan Paula Verhoeven menjadi yang paling ternama.

Bergabung dengan youtube mulai Juni 2016, saat ini Baim Paula telah mempunyai subscriber sebesar 19,4 juta dan ditonton lebih dari 3 milyard kali.

Atas capaiannya Baim Wong kemudian menjadi salah satu youtuber ternama di Indonesia bersanding dengan Atta Halilintar, Ria Ricis, Deddy Corbuzier dan Raffi Ahmad. Bukan hanya ternama namun juga mengelembung pundi-pundinya karena video-video yang diupload meraup banyak penonton.

Selama minggu pertama bulan Oktober 2021, Baim Wong kemudian menjadi perbincangan juga sasaran perundungan netizen karena tertangkap ‘memarahi’ seorang kakek yang menguntit dirinya saat menaiki sepeda motor bersama putranya.

Baim meradang karena dikuntit dan kemudian menegur Kakek Suhud yang menguntitnya agar tidak menggunakan cara yang dianggap membahayakan untuk meminta uang.

Aksi Baim memarahi dan menasehati Kakek Suhud menjadi kasus karena ternyata Kakek Suhud bukan mau mengemis melainkan mau meminta Baim Wong membantu dirinya dengan cara membeli buku yang dijual olehnya.

BACA JUGA : Kampanye Kreatif

Manusia dan mahkluk hidup lain yang berotak, dalam dirinya ada dua kecenderungan yang saling berlawanan. Kecenderungan memikirkan kepentingan diri sendiri {selfishness} dan kecenderungan memikirkan kepentingan orang lain {altruism}.

Altruis adalah kemampuan otak untuk merasakan empati, lebih memberi ketimbang meminta.

Altruisme tidak khas manusia, dalam kerajaan binatang {kingdom of animale} kelompok mamalia yang mempunyai sifat altruis.

Dalam kondisi paling ekstrim, altruisme terwujud dalam sikap mau mau demi individu lain. Seperti ditemukan dalam kisah orang yang tidak bisa berenang tapi menolong orang lain yang tenggelam di kolam, sungai atau badan air lainnya.

Tinggi rendahnya altruisme tergantung kepada kesadaran diri. Mahkluk yang mempunyai kesadaran diri, sadar akan keberadaanya akan mempunyai sifat altruis yang tinggi. Manusia, simpanse, orang utan, bonobo, gajah, lumba-lumba adalah contohnya.

Kesadaran diri membuatnya bisa merasakan apa yang dirasakan oleh yang lain, termasuk didalamnya adalah penderitaan.

Meski demikian amatlah jarang seseorang menjadi benar-benar altruis. Yang biasa terjadi adalah resiprokal altruisme. Altruisme yang milih-milih, kalau teman atau segolongan ditolong tapi kalau orang lain dihajar.

Altruisme semacam ini dengan amat mudah ditemukan dalam dunia politik. Sebuah altruisme yang sangat transaksional sebagaimana dengan sangat mudah dilihat saat tahapan elektoral memasuki masa kampanye.

Realitas semacam ini mesti dipahami agar kebaikan dari seseorang kepada orang lainnya bisa dimengerti secara mendalam.

Sama seperti halnya politik, dunia hiburan juga mengoperasikan bentuk kepedulian pada penderitaan orang lain sebagai daya tarik agar program atau mata acaranya disaksikan oleh banyak orang serta meraup banyak sponsor.

Terhadap hal semacam ini kelompok kritis kemudian memberi istilah komodifikasi kemiskinan atau penderitaan.

Kemiskinan dijadikan jualan atau daya tarik untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu yang tidak berhubungan atau bahkan berlawanan dengan keadaan miskin atau menderita tersebut.

Baim Wong dalam video-videonya memang berbuat baik. Menolong banyak orang miskin namun Baim Wong tidak semata-mata ingin menolong namun juga ingin meraup banyak penonton karena aktivitas itu direkam dan kemudian diupload ke youtube.

Dengan banyaknya penonton maka video-videonya bisa dimonitize untuk kemudian menghasilkan pendapatan lewat adsense.

BACA JUGA : Menulis Kreatif 

Dalam konteks dramaturgi sosial, kehadiran sosial media memang memberikan bias yang semakin besar dalam memahami konteks hubungan sosial.

Di media sosial orang selalu berusaha membranding dirinya sehingga akan dikenali oleh masyarakat dengan citra tertentu. Citra yang kemudian dianggap absolut tanpa memperdulikan latar belakangnya. Seseorang kemudian dilihat lebih pada latar depannya, penampilan luar.

Baim Wong yang gemar membagi-bagi rejeki oleh masyarakat luas yang naif dianggap sebagai orang baik hati yang akan selalu menolong siapa saja yang membutuhkan. Citra baik hati itu seolah merepresentasikan sikap kesehariannya.

Maka ketika melihat Baim Wong yang tidak sedang shooting, seorang Kakek Suhud yang merasa butuh pertolongan kemudian ‘mengejar’ Baim Wong, membuntuti hingga kemudian bisa berinteraksi langsung untuk mengungkapkan keperluannya.

Baim Wong yang sedang punya keperluan lain, sedang tidak shooting acara bagi-bagi tentu terganggu sehingga bersikap sewajarnya sebagai orang yang terganggu.

Dan video atau rekaman reaksi Baim Wong atas Kakek Suhud yang kemudian tersebar luas mengagetkan banyak orang. Citra Baim Wong sebagai sosok yang pemurah dan baik hati kemudian runtuh. Mereka yang kecewa kemudian nyinyir dan bahkan mulai menyuarakan ‘cancel culture’ dengan cara meng-unsubcribe channel Baim Paula.

Kemunculan Baim Wong di youtube dengan branding kedermawanan sebenarnya telah mengusik Nikita Mirzani, yang juga seorang pesohor di dunia hiburan. Nikita dengan gayanya sendiri mengkritisi kedermawanan Baim Wong di channel youtubenya. Nikita keberatan dengan gaya Baim yang menjadikan kemiskinan sebagai komoditas untuk membuat dirinya terkenal.

Dan ketika Baim Wong tersandung kasus, Nikita kemudian menjadi yang pertama ‘menunggang angin’ kasus tersebut. Nikita bersuara keras seolah meneriakkan “Nah, itu kan aslinya,”

Seolah mau mengatakan bahwa Baim Wong sebenarnya risih dengan orang miskin, Nikita dengan cepat menemui Kakek Suhud untuk menunjukkan bahwa dirinya yang tidak bagi-bagi duit untuk orang miskin ternyata tidak canggung berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang miskin.

Nikita mau menunjukkan kalau dirinya juga membantu banyak orang miskin tapi tidak merekam dan menguploadnya di youtube untuk mengejar adsense.

Nikita Mirzani memang salah satu jagoan dalam ‘menunggang angin’ dengan tujuan untuk memperoleh recognisi atau pengakuan sosial. Bahwa dirinya yang kerap dicitrakan brengsek ternyata tidak sebrengsek mereka yang dicitrakan baik hati atau dermawan itu.

Antara Baim Wong, Kakek Suhud dan Nikita Mirzani terjadi relasi atau koneksi simbolik. Relasi yang mencampurkan antara ruang nyata dan ruang maya.

Di media sosial seseorang akan menampilkan citra terbaiknya untuk memperoleh pengakuan. Dan jatuhnya citra seseorang bisa menjadi kesempatan orang lainnya untuk mengangkat citranya sendiri. Menunggang angina tau gelombang untuk panjat sosial menjadi hal yang biasa di media sosial.

Apakah Baim Wong akan jatuh karena kasus ini?. Akankah cancel culture lewat ajakan men-unsubscribe channel Baim Paula akan diikuti oleh netizen?

Belum tentu, sebab buat Baim Wong kasus ini malah bisa jadi senjata untuk semakin meningkatkan citra dirinya. Dengan datang meminta maaf secara rendah hati, menunjukkan ketulusan yang dalam dengan menyesali apa yang dilakukan pada Kakek Suhud, Baim akan dengan mudah mendapat simpati kembali dari masyarakat Indonesia yang pemaaf.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here