Nyawa sesungguhnya adalah energi yang memungkinkan berbagai macam organ dalam tubuh bekerja sama sehingga menimbulkan gerak dan pertumbuhan. Energi itu berasal dari asupan makanan untuk memenuhi nutrisi dalam tubuh. Tanpa makanan sistem metabolisme tubuh tidak akan bekerja, terganggu dan pada akhirnya akan binasa.

Dibanding dengan mahkluk hidup lainnya manusia mempunyai budaya makan yang lebih evolutif. Evolusi cara makan binatang berhenti pada tingkat pemburu dan pengumpul, sementara manusia berhasil melakukan domestifikasi pangan dengan budidaya dan peternakan.

Dan evolusi produksi pangan manusia tidak berhenti hingga sekarang karena pangan kemudian menjadi sebuah komoditas baik untuk perdagangan maupun gaya hidup.

Makan bagi manusia bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan biokimia tubuh melainkan juga kebutuhan lain yang tak berhubungan dengan metabolisme tubuh.

Bagaimana sekelompok masyarakat merespon lingkungan dalam hubungan dengan makanan menumbuhkan apa yang disebut dengan budaya makan. Masyarakat sebagai sekelompok individu selalu mempunyai nilai tertentu yang kemudian akan dikaitkan dengan apa yang boleh dan tidak boleh dimakan, apa yang pantas dan tak pantas.

Nilai ini tidak selalu terkait dengan kandungan nutrisi dalam makanan.

Adalah normal menemukan daging anjing dan tikus {hutan} dijual di pasar Kota Tomohon atau pasar lain di wilayah Minahasa, provinsi Sulawesi Utara. Tapi jangan harap menemukan pemandangan yang sama pada pasar-pasar di pulau Jawa misalnya.

Meski sama-sama daging dan bisa dimakan namun tidak semua kelompok masyarakat mau atau bisa makan daging anjing, tikus, kucing dan lainnya. Pada tataran ini kita menemukan bukan hanya soal biokimia makanan melainkan juga aspek kultural yang khas pada masyarakat atau kelompok tertentu.

Pada perkembangannya budaya makan juga terus berkembang bukan hanya terkait nilai kultural dan religius, melainkan juga nilai kesehatan. Beberapa tahun belakangan ini mulai bertumbuh pembedaan atas makanan organik dan non organik.

Makanan organik dihargai cenderung lebih mahal karena diproduksi secara alamiah tanpa tambahan asupan pupuk atau bahan-bahan kimia lain buatan pabrik. Berbeda dengan makanan non organik yang dibudidayakan dengan asupan pupuk buatan serta bahan kimia pendukung lainnya sehingga dianggap berpotensi menimbulkan bahaya untuk tubuh.

BACA JUGA : Hemat Pangkal Kaya 

Di masa lalu, saat manusia mulai melakukan domestifikasi tumbuhan dan binatang liar menjadi tanaman serta ternak, kebutuhan pangan dipenuhi oleh mereka sendiri. Jaman itu secara individual manusia lebih cerdas dari manusia sekarang, setiap orang mempunyai kemampuan dan daya hidup masing-masing. Semua bisa bertanam dan semua bisa berburu.

Ketika kelompok masyarakat mulai berkembang, muncul berbagai profesi baru yang membuat tidak setiap orang bisa menyediakan pangannya sendiri. Pangan kemudian menjadi komoditas karena dipertukarkan dengan barang atau jasa lainnya.

Lama kelamaan pasokan makanan yang diproduksi secara subsiten tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan. Muncul tuan-tuan tanah yang kemudian mengusahakan lahan untuk tanaman pangan dengan cara mempekerjakan buruh.  Ada sistem sewa maupun upah bahkan juga cerita perbudakan.

Pengusahaan lahan dengan cara konvensional dikhawatirkan tak akan mencukupi kebutuhan sehingga muncul revolusi hijau. Makanan non organik yang diproduksi secara besar-besaran dalam skala internasional yang didukung oleh modal dari organisasi kelas kakap semacam Bank Dunia, PBB, Ford Foundation dan lain-lain.

Indonesia di masa pemerintah Presiden Suharto ikut dalam arus ini lewat program ektensifikasi dan intensifikasi pertanian. Pada era itu, Presiden Suharto pernah menerima penghargaan dari FAO organisasi pangan internasional karena pencapaian swasembada beras.

Kunci dari revolusi hijau adalah pembangunan sarana dan prasarana pengairan, penggunaan bibit unggul, pupuk pabrikan dan pestisida untuk mengusir hama.

Model pertanian alami kemudian tidak menjadi populer bahkan langka. Kelangkaan ini membuat harganya menjadi mahal. Akibatnya masyarakat lebih memilih pangan non organik karena aksesnya lebih mudah dan harganya lebih terjangkau.

Makanan non organik meski mengenyangkan mempunyai konsekwensi pada lingkungan dan kesehatan tubuh manusia. Bahan-bahan kimia buatan yang dipakai untuk mendukung pertumbuhan tanaman dan menghindarkan dari hama akan menghasilkan reaksi serta residu kimia yang berbahaya bagi tubuh.

Reaksi dan residu bahan kimia juga menyebar di alam, meracuni tanah, udara dan juga air. Tanah menjadi keras dan kehilangan kesuburan alami, air terpolusi dan menyebahkan hilangnya keseimbangan bahkan kepunahan berbagai organisme dalam air. Kualitas udara juga memburuk karena pencemaran atas penggunaan pestisida yang berlebihan. Dan ketika terpapar hujan, polutan akan hinggap dan menempel pada apapun yang awalnya tidak terpapar oleh pestisida namun kemudian akan mengandung unsur kimia karena paparan dari udara.

Akumulasi dari pestisida dan bahan kimia lainnya pada akhirnya akan mengenai apa saja yang ada di permukaan bumi. Dan segala sesuatu yang terpapar jika kemudian dikonsumsi oleh manusia maka kontaminasi yang bersifat akumulatif itu akan mempengaruhi kesehatan tubuh.

BACA JUGA : Please Eat Wildly

Revolusi hijau yang bertujuan melipat gandaan hasil pertanian tanaman pangan pada sisi lain juga membunuh kekayaan dan keragaman pangan lokal. Ada banyak tumbuhan pangan yang kemudian tersingkir dan tak dibudidayakan lagi karena model pertanian intensif sama artinya dengan monokultur.

Hamparan luas lahan pertanian tanaman pangan hanya ditanami jenis tanaman tertentu, utamanya adalah padi. Padi yang ditanam juga jenis tertentu, padi yang kemudian bijinya tidak bisa ditanam kembali atau fertil.

Intensifikasi juga membunuh petani subsisten, petani tradisional karena pertanian kemudian padat modal. Jika sebelumnya petani bisa memenuhi kebutuhannya sendiri dalam pertanian intensif petani membutuhkan bibit, pupuk dan peralatan lainnya yang mesti dibeli.

Akibatnya petani kemudian tergantung kepada pemodal karena pertanian kemudian bercorak industrial.

Kondisi petani kemudian diperburuk dengan krisis iklim. Pertanian alamiah menjadi penuh dengan resiko entah karena hujan, angin atau kekeringan.

Pemerintah yang sejak jaman revolusi hijau lebih berpihak kepada industri pertanian tentu saja tak bisa berbuat banyak untuk menolong petani. Meski mempunyai departemen pertanian, perkebunan dan peternakan, wataknya lebih mengabdi kepada industri ketimbang berpihak pada usaha-usaha rakyat.

Kalimantan Timur lebih parah lagi. Investasi di bidang pertanian yang dilakukan seiring dengan program transmigrasi ternyata tak bisa dipertahankan. Lahan-lahan pertanian produktif tak mampu dilindungi dari caplokan industri ekstratif.

Lahan yang dibangun dengan cucuran keringat rakyat yang ditopang oleh kucuran dana negara dimana sebagian diantaranya adalah dana pinjaman Bank Dunia, akhirnya berubah menjadi kubangan-kubangan raksasa dan hamparan lahan kritis.

Tambang batubara baik legal maupun illegal telah mencaplok sebagian lahan pertanian produktif yang membuat Kalimantan Timur semakin tergantung pada daerah lain untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam arti seluas-luasnya.

Politik ekonomi kaum industrial dan pemerintah bukan hanya racun bagi pangan melainkan juga racun kehidupan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here