Masa kecil saya dengan anak saya bedanya seperti bumi dan langit. Semenjak buka mata dan bisa melihat, dihadapan matanya sudah ada supermarket, mall, ruko dan lain sebagainya.

Tangan anak saya sejak bayi sudah memegang dan memainkan mainan yang diproduksi oleh industri. Mainan elektrik yang mulai diotaki oleh kecerdasan buatan meski masih sederhana. Mainan yang terdiri atas hardware dan software.

Sejak dari kandungan dia juga sudah merasakan pengalaman terbang naik pesawat.

Sementara saya setelah tamat SMA baru merasakan masuk ke restoran McDonald, mall dan pasar swalayan. Bepergian melintasi pulau bukan naik pesawat terbang melainkan Kapal Muatan Penumpang seperti Kambuna dan Umsini. Bahkan saya pernah menumpangi KM Siduarsi, kapal barang dari pelabuhan Bitung, Sulawesi Utara hingga pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.

Apa yang terjadi tak perlu disesali. Toh, apa yang dialami di jaman anak saya, apa yang dia lihat atau rasakan, saya lihat, alami dan rasakan juga.

Justru dialah yang rugi karena tak lagi bisa menemui pengalaman yang saya rasakan sewaktu kecil, jaman yang relatif susah segala-galanya.

Tanpa banyak mainan buatan dan jajanan di warung atau toko, mainan saya dan teman-teman sejaman adalah mainan buatan. Sementara kudapannya adalah daun, buah-buahan dan apapun yang ada di alam, di kebun atau pekarangan.

Kelakuan memakan segala sesuatu yang ditemui di lingkungan sekitar entah umbi, daun atau buah dari tumbuhan yang hidup liar atau terbiar kera disebut sebagai nggragas. Artinya bukan serakah atau rakus dalam nuansa yang negatif melainkan karena suka, doyan segala.

Waktu petani selesai mencabut kacang tanah, biasa saya dan teman-teman ikut nggasak, mengambil biji kacang tanah yang tersisa di tanah, bukan untuk dikumpulkan dan kemudian direbus melainkan langsung dimakan saat itu juga. Rasanya renyah dan ada manis-manisnya.

Dan tak lama kemudian di bekas lahan untuk menanam kacang akan tumbuh pohon ciplukan. Buahnya bulat kecil dan tertutup oleh kelopak bunga yang membesar. Ketika penutupnya mulai kecoklatan artinya buah sudah masak. Rasanya asam-asam manis.

Di semak-semak atau tegalan juga kerap tumbuh tanaman merambat yang buahnya juga unik karena tertutup jaring di luarnya. Buah ini sering disebut dengan nama ciplukan blungsun, nama umumnya adalah rambusa.

Bunganya cantik, agak besar berwarna putih dengan semburat ungu dan kelopaknya seperti rambut. Setelah penyerbukan bunga menjadi buah dan kelopaknya berkembang menjadi jaring yang menutupi buahnya.

Saat masak buahnya berwarna kuning orange. Daun dan buah rambusa mempunyai bau yang khas. Rasa buahnya manis-manis asam, mirip ciplukan. Tapi bau ciplukan lebih segar.

Nanti ketika hujan mulai turun dan padi yang ditanam di sawah mulai meninggi akan tiba saatnya untuk memancing belut. Andai belut tak didapat, batang dan daun genjer muda yang kemudian dipetik agar pulang membawa bawaan.

Genjer nyaman untuk disayur, entah ditumis atau direbus lalu disiram bumbu pecel atau dicampur dengan bumbu urap. Rasanya lembut-lembut licin di mulut.

BACA JUGA : Samarendah, Menangani atau Mengatasi Banjir?

Yang saya sukai dari nasi kuning di Manado adalah cara penyajiannya. Nasi kuning dibungkus dengan daun woka. Bentuknya mirip janur namun tersambung sehingga kalau dibuka mirip seperti kipas. Nasi kuning yang dibungkus dengan daun woka rasanya semakin nikmat.

Daun woka juga kerap dipakai untuk membuat ikan woku bakar. Tumbuhan yang bisa dipelihara sebagai tanaman hias ini hidup liar di seluruh penjuru Sulawesi Utara dan dijual di pasar-pasar setiap harinya. Sama seperti buluh nasi, atau bambu yang biasa dipakai untuk memasak nasa jaha dan masakan lain dengan cara di bakar.

Selain sebagai pembungkus, wadah untuk memasak, dikenal pula berbagai jenis masakan yang bahannya berasal dari tumbuhan yang liar atau tumbuh begitu saja. Salah satunya adalah sayur pangi yang bahan utamanya adalah daun muda dari pohon pangi atau keluwak.

Ada juga saut, sayur yang dimasak dalam buluh atau bambu dengan bahan utamanya adalah inti dari batang pisang yang diiris tipis-tipis.

Namun yang sungguh-sungguh berasal dari tanaman liar adalah sayur paku atau pakis. Tumbuhan yang cenderung hidup di daerah yang basah atau daerah marginal seperti lantai hutan yang lembab, lereng perbukitan atau menempel pada batang pohon serta bebatuan.

Yang dimasak adalah daun yang masih muda, tandanya ujung daun masih melingkar dan mudah dipatahkan. Sayur paku biaa ditumis atau dimasak dengan santan.

Ketika pindah ke Samarinda, perbendaharaan pengetahuan dan pengalaman menyantap berbagai makanan dengan bahan yang sebelumnya tak umum saya kenal makin meningkat. Di pasar malam saya menemui sayuran yang berasal dari aneka sulur tanaman.

Ada yang berasal dari tanaman liar, ada pula yang berasal dari tumbuhan yang ditanam dan dipelihara untuk diambil buahnya.

Pucuk dari tanaman sulur atau merambat yang biasa dijual di pasar malam adalah pucuk daun labu dan daun ketimun. Ada juga tebu salah atau tebu telur dan bunga kecombrang.

Ketika kerap beraktivitas di Muang Ilir, selain kembali menemukan ciplukan, rambusa dan daun sintrong yang tumbuh liar. Warga disana menyebut bahwa pucuk rambusa yang dikenal dengan nama kelubut itu bisa dan biasa dimasak.

Dan ternyata kelubut cukup enak ketika direbus dan disiram dengan bumbu pecel.

Daunan lain yang biasa dimasak adalah daun singkil. Pohon ini tumbuh sendiri dan jika dibiarkan bisa cukup tinggi dan besar. Konon daunnya enak untuk dimasak sayur asam. Namun saya belum mencoba untuk memasaknya.

Jenis sayuran lain yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat Kalimantan adalah umbut, atau bagian pucuk pohon yang masih muda dan lunak.

Umbut yang umum dikenal oleh masyarakat luas adalah umbut kelapa dan rebung bambu. Namun di Kalimantan ada banyak jenis umbut yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat.

Dari jenis palem-paleman, selain umbut kelapa ada juga umbut rumbia, umbut salak hutan, umbut wulang, umbut nange dan kini juga mulai terkenal umbut kelapa sawit.

Berbagai jenis rotan juga menghasilkan umbut yang enak untuk dimakan seperti umbul sakulu, umbut manau dan umbut rua.

Masih ada umbut lainnya yang diambil dari jenis perdu atau jahe-jahean.

BACA JUGA : Kalau Bisa Semua Pingin Jadi Kapitalis

Masyarakat tradisional sering kali menyebut hutan, rawa-rawa, semak dan kawasan lain yang tertutup vegetasi sebagai supermarket atau kulkas karena disana tersedia dan tersimpan kebutuhan hidup mereka utamanya pangan.

Relasi yang erat dengan lingkungan membuat masyarakat tradisional mempunyai pengetahuan tentang aneka tumbuhan, jamur, umbi, daun, pucuk, tunas dan apa saja yang tumbuh liar namun bisa dimakan.

Hanya saja perubahan tata guna lahan membuat hubungan masyarakat dengan lingkungan berubah. Lingkungan yang merupakan asset kemudian berubah menjadi kapital. Pemenuhan kebutuhan pangan perlahan-lahan mulai tergantung pada masyarakat lain.

Kini umumnya kebutuhan pangan sebagian besar dipenuhi dari luar. Kemandirian masyarakat setempat untuk menghasilkan pangannya sendiri semakin menurun. Akibatnya pengetahuan masyarakat setempat pada sumber-sumber pangan liar juga semakin berkurang.

Produksi pangan yang kemudian tumbuh sebagai industry juga diregulasi dengan berbagai aturan termasuk soal kesehatan. Pangan liar kemudian semakin terpinggirkan dan tidak layak. Apa yang layak disajikan di meja serta dikonsumsi adalah apa yang tersedia di pasar.

Ketergantungan terhadap pasar dan industri pangan bukan hanya dialami oleh masyarakat perkotaan, melainkan juga masyarakat perdesaan.

Di masa pandemi misalnya ada beberapa desa yang sangat terkenal karena keasrian wilayahnya, mempunyai hutan dengan segala kekayaan vegetasinya tiba-tiba kolaps karena serangan Covid 19.

Tidak bisa berhubungan dengan orang luar, masyarakat desa tersebut kemudian terancam kekurangan pangan.

Apakah mereka sungguh kekurangann pangan?. Sejatinya tidak, namun terbiasa mengkonsumsi pangan yang berasal dari pasar membuat mereka tidak lagi menganggap sumber daya yang ada disekitarnya sebagai sumber pangan.

Anggapan bahwa sumber pangan adalah segala sesuatu yang sudah didomestifikasi membuat apa saja yang liar dirasa tak lagi bisa diandalkan.

Ada ironi lain. Ditengah tumbuhnya trend tentang pangan organik, sumber-sumber pangan liar yang jelas-jelas organik justru tidak diperhatikan. Istilah organik malah menjadi komoditas, yang disebut pangan organik adalah sesuatu yang eklusif.

Harga yang mahal, jumlah yang terbatas membuat pangan organik tidak bisa diakses oleh semua orang. Bahan pangan organik kemudian menjadi konsumsi kelas menengah ke atas. Pangan organik adalah bisnis, bukan sesuatu yang langsung bisa diambil dari alam untuk dikonsumsi.

Berbagai bencana dan pandemi yang kerap memberi ancaman pada ketahanan pangan mestinya memberi pelajaran bahwa apa yang tumbuh di alam dan bisa dikonsumsi adalah pangan. Sama dengan sumber pangan lainnya yang tersedia di pasaran.

Apa yang tumbuh liar bahkan memenuhi aspek ketahanandan keamanan pangan karena tersedia, keterbukaan akses karena bisa diambil oleh siapa saja dan memiliki nutrisi yang memadai.

Sayangnya kecerdasan pangan kita cenderung menurun. Karena kita tak lagi mengenali sumber-sumber pangan di lingkungan kesekitaran kita. Tergantung kepada pasar dan distribusi pangan membuat kita kehilangan pengetahuan dan kesadaran atas sumber-sumber pangan yang disediakan oleh alam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here