Dulu petuah itu sangat terkenal, bukan hanya karena dicatat di kertas lalu ditempel di dinding kamar melainkan juga dicatat di kepala dengan sederet petuah lainnya.

Bukan hanya guru yang sering memakai petuah itu kepada para muridnya melainkan juga petugas bank yang mempromosikan kegiatan gemar menabung.

Tak harus ke bank untuk menabung sebab buku Tabungan Nasional atau tabanas bisa diperoleh dan dipakai untuk menabung lewat guru-guru di sekolah.

Menabung diibaratkan sebagai sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit.

Tapi apa yang mau dihemat?. Kalau pergi ke sekolah saya tidak diberi uang jajan.

Bapak dan ibu saya adalah jenis orang tua yang tak suka anaknya memegang uang. Makanya saya tidak dibebaskan pergi ke rumah kakek {orang tua dari ibu} yang sore setiap pulang kerja di PJKA selalu membagi uang logam yang cukup untuk jajan ke cucu-cucunya.

Jadi yang sedikit aja tidak ada, bagaimana mau menjadi bukit?

Tapi saya tetap menabung meskipun bukan karena berhemat melainkan karena meminta uang untuk ditabung. Uang hasil tabungan itu nanti di akhir tahun akan dipakai untuk mengikuti piknik ke luar kota.

Bersenang-senang dengan uang hasil tabungan maka sepulang piknik angka di buku tabungan menjadi nol kembali.

Menabung ternyata tak membuat saya kaya karena tabungan dibelanjakan. Bahwa ada orang yang menabung lalu bisa membeli mobil. Terlihat seperti orang kaya, namun mobil tak membuatnya menjadi semakin kaya.

Malah sebaliknya mobil bisa membuatnya menjadi semakin miskin, karena dengan mempunyai mobil maka bisa piknik setiap saat. Bisa bepergian setiap waktu tak peduli hari sedang panas sekali atau hujan.

Karena punya mobil pengeluaran menjadi semakin banyak. Lain cerita kalau mobil bisa dikaryakan dan kemudian menghasilkan uang.

Entahlah apakah guru-guru di sekolah sekarang ini masih mengajarkan soal menabung. Rasanya tidak, kalaupun setiap murid diminta untuk membuka rekening di bank, tujuannya adalah agar segala sesuatu yang terkait dengan pembayaran disekolah dilakukan lewat bank, transfer bukan tunai.

Membawa uang tunai untuk anak-anak sekolah bisa berisiko, entah jatuh di jalan atau bisa jadi sasaran kejahatan. Belum lagi godaan lainnya seperti membelanjakan sehingga yang harusnya dibayarkan kepada sekolah malah dipakai untuk makan-makan atau nonton dengan teman-teman.

BACA JUGA : Please Eat Wildly

Di jaman ekonomi digital sedang menjadi panglima seperti saat ini nampaknya nasehat hemat pangkal kaya bukanlah nilai atau moralitas yang dikehendaki. Jaman sedang menghendaki bahwa uang mesti dibelanjakan maka muncul berbagai aplikasi yang memberi kemudahan untuk berbelanja.

Uang memang sebaiknya disimpan di bank baik konvensional maupun bank digital. Bukan untuk menabung melainkan untuk mempermudah melakukan transaksi.

Yang paling penting di masa ini justru tatakelola keuangan. Uang yang dipunya mesti dibagi-bagi, mana yang dibelanjakan dan mana yang disimpan sementara untuk jaga-jaga.

Nah, jika masih punya kelebihan dan ingin kaya maka uang jangan ditabung melainkan diinvestasikan.

Yang disebut dengan kekayaan adalah uang yang bisa membiakkan dirinya sendiri melalui instrument investasi.

Yang disebut instrument investasi tentu bermacam-macam. Ada investasi langsung atau mandiri, menyisihkan uang untuk membangun usaha atau bisnis untuk dikelola sendiri. Atau melakukan penyertaan modal, bermitra dengan mereka yang sudah mempunyai bisnis.

Jika jumlah uang tak besar maka bisa memakai berbagai macam aplikasi untuk membeli sahan dan bentuk penyertaan modal lainnya. Atau kalau pintar melakukan analisa bisa juga bermain di pasar jual beli saham atau valuta asing.

Masih ada juga cara lain untuk membiakkan uang bagi mereka yang punya nyali dan mimpi besar untuk dapat uang gampang, gampang dapat dan gampang hilang. Caranya dengan memainkan berbagai moda ‘perjudian’ online.

Apapun itu menjadi jelas bahwa untuk kaya caranya bukan berhemat melainkan harus memutar uang. Uang tak boleh didiamkan mengendap di rekening bank dalam bentuk tabungan karena tabungan justru bisa membuat nilai uang yang diam jadi menurun termakan oleh inflasi.

Mengharap imbal balik dari bunga bank terhadap tabungan jelas tak bisa diharapkan. Nilai bunga bank tabungan sangat kecil. Untuk mendapat uang dalam jumlah cukup besar mesti punya tabungan yang nilainya besar sekali.

Yang diuntungkan karena banyak orang menabung adalah bank. Uang tabungan masyarakat itu oleh bank akan dipakai sebagai asset untuk memberi pinjaman. Dari pinjaman itu bank kemudian akan mengutip bunga yang jumlahnya jauh lebih besar dari bunga yang diberikan pada penabung.

Maka rajin menabung artinya rajin pula membuat orang lain menjadi lebih kaya.

BACA JUGA : Samarendah, Mengatasi atau Menangani Banjir?

Capaian vaksinasi Covid 19 tingkat nasional untuk dosis pertama setara dengan 53,91 persen. Sedangkan dosis kedua telah mencapai lebih dari 67 juta dosis atau 32,25 persen. Dengan capaian ini sebagian besar penduduk telah divaksinasi.

Di berbagai daerah ujicoba pembelajaran tatap muka untuk pelajar telah dilakukan, pusat-pusat ekonomi telah dibuka dan beroperasi mendekati sedia kala. Tempat wisata juga mulai bergeliat karena perjalanan antar wilayah telah dibuka meski dengan persyaratan tertentu.

Ekonomi mulai bangkit dan agar semakin lancar berputar maka yang diperlukan adalah belanja dan belanja. Yang punya uang diharapkan membelanjakan uangnya agar usaha-usaha yang lesu, setengah ditutup atau hampir bangkrut mulai bersemi kembali karena ada uang masuk.

Pandemi memang memprihatinkan dan ketika tanda-tanda keberhasilan untuk menangani mulai terlihat maka hidup prihatin bukan merupakan pilihan. Presiden sekalipun tidak akan berpidato untuk mengajak rakyat mengencangkan ikat pinggang alias berhemat.

Berbagai kegiatan untuk membangkitkan ekonomi dengan slogan bangga pada produk bangsa sendiri sesungguhnya merupakan sebuah ajakan untuk berbelanja, bukan berhemat.

Aplikasi-aplikasi marketplace juga berlomba untuk memberi tawaran yang menarik agar masyarakat membeli dan membeli.

Dengan belanja dan membeli maka ekonomi akan kembali bergerak untuk kemudian pulih.

Maka dalam situasi sekarang andaikan semua rajin menabung, menumpuk uang dalam rekening bank untuk didiamkan niscaya kelesuan ekonomi akan tetap berlanjut. Dan ketika roda ekonomi terus menerus lesu akan banyak orang terkena dampaknya.

Tentu saja yang diutamakan untuk dibeli adalah kebutuhan. Namun jika masih ada sisa uang tak ada salahnya juga membeli apa-apa yang mungkin saja tak terlalu diperlukan namun bisa menolong hidup dan ekonomi masyarakat lain.

Andai masih juga ada uang yang tersisa, gunakanlah untuk piknik. Segera kunjungi tempat-tempat wisata, bersenanglah disana dan jaga lupa belanja karena disana ada banyak jiwa-jiwa yang sungguh merana ketika pandemi Covid 19 melanda.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here