Selain musim hujan dan musim kemarau serta sederet musim lainnya, orang Jawa juga mengenal musim paceklik.

Paceklik artinya langka atau keadaan sulit. Musim paceklik bisa berhubungan dengan pangan, keadaan dimana panenan menurun atau gagal dimana-mana akan menyebabkan pangan menjadi langka, masyarakat akan mengalami kesulitan karena pangan menjadi mahal.

Paceklik bisa disebabkan karena siklus alam, serangan hama dan juga spekulasi dari para penimbun bahan pangan.

Istilah paceklik sendiri bisa dihubungkan dengan banyak hal. Termasuk diantaranya adalah air. Jika kemarau panjang, hujan berbulan-bulan tak turun maka sumber-sumber air akan mengecil bahkan kering. Maka akan terjadi paceklik air karena air susah didapat.

Saya mengalami beberapa kali musim paceklik saat masih tinggal di kampung halaman dulu. Sumur tempat menimba air, tali dan timbanya akan menyentuh hingga dasar. Dan setelah beberapa kali ditimba airnya akan habis.

Pada saat seperti ini biasanya sumur akan digali lebih dalam, namun tak akan selalu berhasil memperoleh titik sumber air yang lebih besar.

Di musim sumur mulai mengering, saya dan teman-teman biasa mandi di mbelik atau mata air. Namun jika kemudian juga ikut mengering maka kami akan mandi di sungai yang airnya juga jauh menyusut menyisakan air yang mirip parit.

Namun biasanya sungai mempunyai kedung, bagian yang dalam sehingga ada cukup banyak air tertahan disana.

Jika paceklik bertahan lama, maka pinggiran di pinggiran sungai akan digali sumuran. Tak periu sebesar dan sedalam sumur di rumah-rumah, galian sedalam 1 hingga 1,5 saja sudah akan memunculkan air yang bening.

Dari sumuran di pinggir sungai ini, beberapa warga akan mengambil air dengan ember atau jerigen untuk kebutuhan air bersih di rumah.

Paceklik air tidak selalu terjadi karena musim kemarau yang panjang. Paceklik bisa terjadi karena kompetisi kepentingan seperti yang ditunjukkan dalam film dokumenter berjudul “Belakang Hotel”.

Film ini mengangkat kisah tentang sumur-sumur warga yang kering karena berkompetisi dengan sumur bor hotel-hotel yang banyak berdiri di kawasan perkampungan di tengah Kota Yogyakarta.

Warga yang secara tradisional memenuhi kebutuhan airnya dengan sumur bukan air PDAM, mengalami paceklik air karena mata air sumur mereka mengering akibat hotel-hotel yang mengebor sumur lebih dalam, untuk mengambil air tanah yang sumbernya dalam dan besar lebih besar.

Meski sudah dasar sumur sudah ‘disuntik’ tetap saja air yang didapat tidak mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari.

Sumur yang beberapa diantaranya sudah berumur ratusan tahun dan selalu ada airnya, kini kalah bersaing dengan sumur-sumur bor dari hotel-hotel yang setiap kamarnya membutuhkan ratusan liter air perhari dan kolam renangnya yang butuh air setara dengan jumlah air yang dipakai oleh seluruh warga kampung untuk mandi.

BACA JUGA : Hemat Pangkal Kaya 

Sampai dengan lima tahunan yang lalu, setiap kali menjelang tengah malam saya selalu pamit dari lingkaran tongkrongan. Bukan karena mendapat pesan yang mengingatkan untuk segera pulang melainkan karena itu adalah saat yang tepat untuk menyalakan pompa untuk menyedot air PDAM.

Hampir sepuluh tahun pertama tinggal di Kota Samarinda, tengah malam hingga dinihari adalah saat saya mengharap air mengalir. Di kepala saya PDAM artinya Perusahaan Daerah Angin Melulu. Tak sekalipun saya waktu itu menemui air mengalir sendiri di kran pada pagi, siang dan sore hari.

Baru pada tengah malam, setelah desah panjang angin terbuang, titik-titik air mulai menetes. Tanpa bantuan mesin penyedot air, kucuran air tak akan cukup untuk memenuhi bak.

Pada masa itu hujan adalah berkah, karena air hujan yang jatuh ke atas atap dan mengucur lewat talang akan saya tampung dalam drum, jumlahnya kurang lebih 6 buah. Hasil tampungan itu cukup membuat tandon air dan bak kamar mandi akan penuh terisi.

Memang ada sumur di pojokan depan rumah, namun airnya tidak bagus. Karena tak terlalu berguna pada akhirnya sumur itu ditutup.

Untungnya setelah ada pembaharuan pipa saluran air kini aliran air PDAM di rumah saya lancar jaya. Saya tak lagi perlu menulis status atau mencuit keluhan juga makian di media sosial.

Namun saya tahu masih banyak wilayah lain di Kota Samarinda yang memang mengandalkan air PDAM untuk memenuhi kebutuhan air bersihnya sampai sekarang masih nelangsa. Entah karena airnya tak sampai atau kerap mota-moti seperti halnya pengalaman di rumah saya bertahun-tahun lampau.

Untuk memenuhi kebutuhan air bersih di Kota Samarinda memang tak terlalu banyak pilihan. Mengusahakan sendiri dengan membuat sumur entah sumur gali atau sumur bor rasanya sulit untuk mendapat air yang layak. Hanya sedikit daerah yang air tanahnya mempunyai kualitas yang baik.

Air hujan memang membantu, namun diperlukan ruang tampung yang besar agar air yang tertangkap di atap bisa disimpan untuk kebutuhan sehari-hari. Hanya saja umumnya ruang yang tersedia untuk membuat bak penampungan bawah tanah yang cukup besar tidak tersedia.

Memang ada banyak yang menjual air entah dengan mobil tanki atau tandon. Namun terus membeli air tanki atau tandon jelas-jelas akan menguras dompet.

Dan tak bisa dipungkiri, ternyata masih banyak juga warga yang memanfaatkan air sungai secara langsung untuk keperluan domestik.

Menjadi andalan untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga, PDAM ternyata belum bisa memenuhi ‘tugas’ itu. Ada banyak permukiman dimana jaringan air bersih sudah masuk namun kran airnya hanya akan mengalir di jam tertentu dan bahkan hanya pada hari tertentu.

BACA JUGA : Please Eat Wildly

Soal air di Kota Samarinda memang sungguh kontras. Di media sosial muncul keluhan yang agak bertentangan. DI satu pihak banyak warga merasa Samarinda kelebihan air, sehingga hujan sedikit saja sudah banjir.

Namun di pihak lainnya tak sedikit warga yang mengeluh tentang air bersih yang tak mengalir ketika kran dibuka selama berhari-hari. Atau andai mengalir ternyata airnya tidak jernih, air PDAM kerap kali berwarna kecoklatan seperti mengandung banyak lumpur.

Melihat realitas ini sepertinya tidak pas jika mengatakan Kota Samarinda kekurangan air atau mengalami krisis air.

Sumber air baku untuk bahan air bersih Kota Samarinda adalah air sungai. Dan sumber utamanya adalah air sungai Mahakam, salah satu dari sedikit sungai permanen di Indonesia. Air sungai Mahakam ada sepanjang waktu, kuantitas dan kontinuitasnya selalu terjaga sekurangnya hingga hari ini.

Selain sungai Mahakam, Kota Samarinda juga mempunyai puluhan anak sungai lainnya yang juga potensial sebagai sumber air bersih. Sungai Karang Mumus adalah salah satunya, dimana sekurangnya ada dua intake untuk mengambil airnya guna diolah sebagai air bersih.

Di luar sungai tentu saja air hujan. Kota Samarinda sebagian besar hari dalam satu tahun selalu diguyur hujan yang cukup deras. Air yang dicurahkan dari langit itu akan tertampung di badan-badan air terutama sungai, sehingga pasokan air ke sungai akan selalu terjaga.

Maka tak benar jika Kota Samarinda kekurangan atau krisis air bersih. Yang terjadi adalah manajemen atau tata kelola air hujan tidak maksimal. Sehingga air hujan tersia-siakan menjadi genangan yang kemudian disebut sebagai bencana karena mengenangi area-area yang dalam benak warga tidak selayaknya digenangi air.

Sementara soal air PDAM yang ternyata belum bisa diakses oleh semua warga dan kualitasnya kadang-kadang buruk persoalannya juga pada tata kelola. Sebagai kebutuhan utama warga yang seharusnya diprioritaskan, nampaknya perbaikan tata kelola di Perusahaan Air Minum Daerah ini belum menjadi prioritas.

Pemerintah sepertinya lupa bahwa akses dan pemenuhan kebutuhan air bersih untuk masyarakat adalah hak yang harus dipenuhi oleh penyelenggara pemerintahan.

Ketika mandat itu kemudian diserahkan kepada PDAM mestinya pemerintah harus memastikan bahwa PDAM dikelola oleh mereka yang punya kemampuan dan kemauan untuk bekerja sungguh-sungguh memenuhi hak masyarakat tersebut.

Entah bagaimana cara kerja PDAM dalam memenuhi kebutuhan masyarakat, namun yang pasti masih banyak orang berpikir dan mengalami bahwa PDAM adalah Perusahaan Daerah Angin Melulu atau bahkan Perusahaan Daerah Air Melumpur.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here