KESAH.IDSetelah reformasi muncul kecenderungan pembuatan patung-patung bercorak modern di berbagai kota. Patung yang berbeda dengan masa-masa orde lama dan orde baru yang bercorak monumental kemudian kerap menimbulkan masalah terutama bias pemahaman oleh masyarakat. Para inisiator yang mungkin tidak cukup punya pemahaman tentang seni di ruang publik acapkali abai untuk melibatkan pihak-pihak lain dalam proyek pembangunannya. Patung dibangun oleh kontraktor tanpa melibatkan pegiat seni rupa dan kurasi karya yang adekuat. Sehingga apa yang diterangkan oleh penanggungjawab justru bikin bingung warga kota.

Sebenarnya saya ingin menulis puisi pendek berjudul Malam Tahun Baru. Isinya hanya sebaris pendek yakni “api di atas kuburan’.

Malam tahun baru saya memang duduk-duduk disamping kuburan. Dan menjelang jam dua belas malam dari berbagai penjuru mulai terdengar bunyi letusan. Bunyinya makin intens begitu memasuki detik-detik pergantian tahun.

Pendar-pendar nyala berwarna-warni terlihat seperti pecah diatas kuburan.

Tapi puisi itu urung saya tuliskan. Saya tahu kalau kemudian puisi singkat itu diposting di media sosial pasti segera akan ada yang menuduh saya plagiat.

Puisi itu terasa mirip dengan karya Sitor Situmorang tentang Malam Lebaran. Puisinya berjudul Malam Lebaran hanya berisi sebaris pendek “bulan di atas kuburan”. Pun ketika diparafrase juga masih pendek “Pada malam lebaran, ada bulan diatas kuburan”

Puisi Sitor ini sempat menjadi perbincangan hangat. Ada yang menilai pendek tapi imajinatif. Tapi ada pula yang menilai Sitor menabrak logika. Tak mungkin bulan terlihat diatas kuburan pada malam lebaran, karena pada 1 syawal bulan belum muncul.

Walau terasa realis, bulan di atas kuburan pada malam lebaran adalah absurb.

Bagaimanapun juga puisi itu tetap dipuji. Sitor dianggap menghadirkan bulan diatas kuburan pada malam lebaran sebagai simbol.

Tapi sebenarnya bukan itu yang ingin saya ceritakan ketika melewati malam tahun baru di samping kuburan.

Setelah segala bunyi-bunyian lewat dan ikan yang dibakar beserta sambalnya habis. Seorang teman memberi pertanyaan reflektif “Setelah ini apa?”

Ah, kenapa juga dia bertanya seperti itu tatkala langit dan udara masih terharu biru oleh keriuhan perpindahan tahun.

Alih-alih menjawab, sayapun menambah pertanyaan “Adakah yang berubah?”

Walau tak ada yang menjawab, saya tahu dari raut wajahnya kebanyakan mengatakan tidak. Tahun baru seperti waktu biasanya, selalu akan berlalu.

Yang membedakan satu waktu dengan waktu lainnya hanyalah soal memaknainya.

Ketika jalanan mulai lengang, sayapun beranjak pulang.

Dan sisa anggur pink rose bermerek Atlas yang masih tersimpan di kulkas saya tuang dalam gelas. Anggur berkadar alkohol kurang lebih 19 persen itu membuat saya tertidur pulas.

Esok hari, tanggal 1 Januari 2025 ternyata Samarinda berubah.

Perubahan itu saya tangkap dari postingan seorang teman di media sosial. Dia menuliskan tentang icon baru Kota Samarinda yang dalam tafsirnya adalah sebentuk huruf V tiga dimensi berwarna pink.

Hampir-hampir pikiran saya melayang kearah seksis gegara V yang berwarna pink itu.

Untung ketupat diatas meja sisa hidangan untuk menyambut pergantian tahun lebih menggoda untuk disantap dengan kuah opor ayam yang dipanaskan ulang.

Dilihat dari dekat pada posisi tertentu memang seperti huruf V, atau bisa juga terlihat seperti huruf O dan mengingatkan kepada logo Opera.

BACA JUGA : Idealisme Muda Sekonyong-konyongnya

Ternyata perbincangan tentang icon baru Kota Samarinda itu sungguh ramai. Kata kunci yang banyak disebut-sebut adalah Cacing Alaska.

Mungkin masyarakat terpancing dengan pemberitaan media yang menyebut obyek yang ditangkap oleh warga yang mempunyai memori film kartun Spongebob Squarepants itu sebagai landmark.

Landmark artinya objek atau monumen yang dibuat dengan ciri khas yang menggambarkan sebuah kawasan, kota, maupun negara. Jakarta punya Monas, Singapura punya Merlion, Malaysia punya Twins Tower, Semarang punya Tugu Muda, Yogyakarta punya Tugu Yogya, New York punya Patung Liberty, dan lain-lain.

Mungkin masyarakat Samarinda yang telah melewati Simpang Lembuswana tak terima kalau ‘Cacing Alaska’ itu dianggap sebagai landmark atau ikon Kota Samarinda.

Masyarakat, sekurangnya yang aktif di media sosial makin meradang ketika yang punya gawe menerangkan apa sebenarnya obyek 3 dimensi itu. Dalam keterangan yang disampaikan oleh yang bertanggungjawab atas proyek dekorasi kota ini, disebutkan kalau patung itu adalah wujud siluet Pesut.

Semua tahu kalau Pesut adalah mamalia air paling terkenal di Kalimantan Timur, atau paling tidak di wilayah yang dialiri oleh Sungai Mahakam. Jadi orang Samarinda yang merupakan hilir dari Sungai Mahakam pasti punya memori tentang Pesut. Entah karena pernah melihat langsung, melihat foto atau gambarnya, atau melihat patung yang dulu ada di beberapa tempat.

Penjelasan tentang siluet Pesut jelas tak memuaskan karena biarpun bukan seniman, kebanyakan orang akan tahu kalau siluet artinya bayangan. Bayangan memang bisa terdeformasi tapi wujud aslinya masih bisa dikenali.

Dan patung baru berwarna kemerahan di sudut perempatan Lembuswana itu sama sekali tak menyisakan jejak yang membawa orang kepada Pesut.

Apalagi kemudian yang punya gawe menerangkan lebih lanjut soal harapannya agar patung itu bisa memicu kesadaran warga Samarinda untuk menjaga kelestarian Pesut yang terancam punah. Narasi ini jelas Joko Sembung makan kedondong, nggak nyambung dong.

Tapi ya sudahlah, karya itu termasuk dalam jenis patung non figuratif, patung abstrak. Jadi mau diterangkan bagaimanapun juga yang paling paham tentu yang membuatnya. Yang paling tahu karya abstrak memang hanya pengkaryanya. Yang melihat mengiyakan saja kalau setuju, kalau nggak setuju ya sudah.

Hanya saja pada galibnya karya semacam itu biasa dipasang di Taman Seni, halaman rumah kolektor atau dipamerkan di galeri-galeri.

Keributan lain adalah soal biaya. Banyak yang menilai biayanya terlalu besar untuk sebuah karya seperti itu. Soal ini semestinya tak jadi masalah, walau termasuk dalam infrastruktur tentu hitungan pembuatan patung berbeda dengan jembatan, jalan, gedung atau taman. Patung adalah karya seni sehingga harganya kerap subyektif, tergantung pada kelas senimannya.

Angka 1,1 milyard jelas terbilang murah jika yang membuat patung itu adalah Nyoman Nuarta, Dorotea Sinaga, Gregorius Sidharta, Nyoman Cokot, Edhi Sunarso dan lain-lain.

Kalau hanya dilihat dari bahannya, lalu ongkos kerja ya bisa jadi angka 1,1 milyard terasa besar dan buang-buang uang. Tapi jelas cara kerja karya seni tidak seperti itu.

Maka menyoal biaya yang dikeluarkan lalu menyarankan lebih baik untuk membangun infrastruktur lainnya menjadi tidak tepat. Kesimpulan seperti itu yang sering keluar dari mulut seorang pengamat bisa dinilai sebagai jumping conclussion.

Dari atas jembatan penyeberangan, patung itu selintas seperti tongkat kakek-kakek dengan pegangan melengkung.

BACA JUGA : Susur Gang Samarinda

Karena menjadi perbincangan yang ramai, saya berniat untuk melihat dari dekat patung itu. Maka saya mengusulkan kepada teman-teman Sarekat Bakar Kalori untuk melakukan Susur Gang Samarinda dengan mengambil jalur yang menuju ke perempatan Lembuswana.

Kurang lebih ber-enambelas orang kami mulai menaiki perbukitan di sekitar jalan KS. Tubun, menyeberang ke bukit sekitar jalan Anggur dan Delima turun di sekitar RS. Abdoel Wahab Sjahranie, lalu menyeberang jalan Sutomo masuk ke gang-gang di tepian Karang Mumus dan keluar di jalan S. Parman dekat Taman Cerdas.

Dan dari atas jembatan penyeberangan samping Mall Lembuswana, patung yang diributkan itu bisa terlihat cukup jelas. Jika dipandang lurus nampak seperti tongkat kakek-kakek yang ujungnya bengkok untuk pegangan.

Namun jika posisi pandang kita bergeser-geser, sepertinya benar kalau mata sebagai sensor akan mengirim gelombang ke otak yang kemudian membuka memori huruf V.

Dan ketika semakin dekat, nampak jelas bahwa badan patung itu menampakkan celah-celah yang ditembus cahaya. Penasaran itu terjawab ketika sungguh dekat. Badan patung itu ternyata berupa kerangka yang ditutupi dengan lembaran plastik berwarna. Bukan lembar penutup yang solid.

Kerangkanya berupa besi tabung bulat yang cukup besar, sehingga kokoh. Dan kemudian dibantu dengan besi tambahan untuk menempelkan lembar plastik untuk membalutnya sehingga tercipta bentuk yang oleh pengkaryanya dianggap mengintepretasi Pesut. Entah Pesut yang sedang apa, sedang menyembulkan kepala, melompat, terlentang, berbaring atau sedang mengejan karena hendak melahirkan.

Saya punya memori tampakan Pesut yang asli. Sebelum menemui di habitat aslinya, saya pernah menyaksikan pertunjukan Pesut di Taman Impian Jaya Ancol. Pesut Mahakam memang pernah ditangkap dan kemudian dibawa ke Taman Impian Jaya Ancol untuk dibiakkan, tapi gagal.

Dan sekitar tahun 2019 – 2021 saya berkali-kali ke Desa Pela, tempat Pesut sering bermain untuk singgah ke Danau Semayang dari Sungai Mahakam melewati Sungai Pela.

Dengan memori itu saya berusaha membuat koneksi dengan patung di Simpang Lembuswana tapi gagal. Mungkin saya kurang imajinatif dan kurang punya bakat berhalusinasi.

Tapi ya sudahlah, memang itu dilema memasang patung abstrak atau non fguratif di ruang publik. Setelah era orde lama dan orde baru memang ada kecenderungan pembuatan patung-patung yang non monumental. Patung modern mulai menghiasi kota-kota sebagai pemanis ruang.

Bandung dan Yogyakarta bisa disebut sebagai dua kota yang kerap menunjukkan citra sebagai kota kreatif dengan menempatkan patung-patung bercitra artistik di ruang publik.

Yogyakarta tak usah ditanya, disana memang banyak pengkarya seni rupa.

Mungkin Bandung yang bisa dicontoh, ketika kota itu dipimpin oleh pemimpin yang sadar akan pentingnya kehadiran seni di ruang publik.

Di masa kepemimpinan Ridwan Kamil, seorang arsitek desain urban; Bandung dibranding sebagai Bandung Creative City.  Di Bandung kemudian banyak muncul karya-karya patung di ruang publik, yang dibuat oleh mereka-mereka yang belum terkenal dalam khasanah sosial seni patung. Karya-karya itu memperkaya khazanah patung di Bandung yang sebelumnya terdiri dari karya-karya pematung ternama dan profesional seperti Nyoman Nuarta, Sunaryo, G. Sidharta dan lainnya.

Akan tetapi tetap saja ada beberapa karya yang memicu masalah, entah plagiasi atau ketidaklaziman dalam eksekusi menyangkut prinsip-prinsip dasar kualitas estetik, juga menyangkut material dan skala.

Membuat patung modern yang bercorak non figuratif, asbtrak, deformatif atau tranformasi bentuk memang butuh pihak lain, salah satunya adalah kurator. Sebab memberi informasi dan konteks mengapa karya itu dihadirkan di lokasi tertentu sungguh tidak mudah.

Patung siluet Pesut Pink yang malah diselorohi dengan sebutan ‘Patung Upil’ membuktikan bahwa merepresentasikan nilai-nilai ideal seni di ruang publik selalu tidak gampang.

note : sumber gambarSusur Gang Samarinda