KESAH.ID – Serikat Rakyat Independen adalah nama sebuah partai yang didirikan untuk memberi jalan bagi Sri Mulyani menjadi calon presiden. Sri Mulyani Indrawati, ekonom yang kemudian menjadi Menteri Keuangan pada kabinet SBY, Jokowi dan Prabowo waktu itu dipandang bisa menjadi calon alternatif di luar calon-calon lain yang telah malang melintang dalam politik di Indonesia. Namun nampaknya Sri Mulyani tak bergeming untuk berpaling dari jalan keilmuan ke jalan politik. Di luar deretan prestasi yang dicatatnya, bukti paling meyakinkan dari kompetensi dan integritasnya adalah jabatan menteri keuangan yang bertahan pada 3 presiden berturut-turut.
Sri adalah salah satu nama yang populer di Indonesia. Biasanya untuk menamakan anak perempuan, tetapi ada juga anak laki-laki yang dinamai Sri seperti Sri Edi Swasono dan Sri Bintang Pamungkas.
Nama yang berasal dari bahasa Sansekerta ini banyak dipilih karena mempunyai arti yang bagus. Sri berarti kemakmuran, kekayaan, kecantikan, dan keberuntungan. Tapi Sri juga bisa diartikan sebagai cahaya, kemegahan, keindahan, pangkat dan kekuasaan.
Dewi Laksmi yang digambarkan sebagai wanita cantik dengan pinggang yang ramping, leher yang jenjang dan mata kecoklatan laksana padma juga mempunyai nama lain Sri. Dewi Sri dihormati sebagai dewi kesuburan atau dewi padi.
Dari semua anak-anak perempuan Indonesia yang diberi nama Sri, yang paling populer hingga hari ini adalah Sri Mulyani Indrawati. Wanita yang akan berusia 63 tahun ini bukan hanya cantik dan pintar, tetapi juga berkuasa. Sri Mulyani menjabat sebagai Menteri Keuangan dalam kabinet 3 presiden.
Sri Mulyani pertama kali dilantik sebagai menteri keuangan pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Lalu diangkat kembali di jaman pemerintahan Presiden Joko Widodo sampai periode kedua. Dan ketika Prabowo Subianto terpilih sebagai presiden, Sri Mulyani kembali diangkat sebagai Menteri Keuangan.
Jarang ada menteri keuangan yang bisa bertahan sampai berganti-ganti presiden. Umumnya menteri keuangan hanya menjabat satu kali, bahkan lebih banyak lagi yang tak genap menduduki jabatannya. Ada banyak menteri keuangan yang jabatannya hanya satu atau dua tahun saja.
Sri Mulyani memang istimewa, mulai menduduki jabatan sebagai Menteri Keuangan mengantikan Jusuf Anwar yang direshufle oleh SBY. Sri berhasil menstabilkan ekonomi makro, mempertahankan kebijakan fiskal yang prudent, menurunkan biaya pinjaman dan mengelola utang serta menumbuhkan kepercayaan investor.
Karena prestasinya, Sri Mulyani mendapat penghargaan sebagai Menteri Keuangan terbaik di Asia.
Namun kasus penyelamatan Bank Century yang kemudian dipersoalkan oleh DPR lewat Hak Angket. Sri Mulyani tersangkut dengan Bank Century karena mengepalai Komite Stabilitas Sistem Keuangan {KSSK}.
Ada desas-desus Pansus Century dipakai oleh beberapa elit partai untuk mendongkel kedudukan Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan.
Pansus Century pada akhirnya dibubarkan dengan rekomandasi tetap dilanjutkan oleh aparat penegak hukum. Dua fraksi yakni Demokrat dan PKB menyatakan tidak ada pelanggaran prosedur dalam penyelamatan bank tersebut.
Namun Sri Mulyani sudah terlanjur kecewa dan memutuskan untuk mengundurkan diri sebagai Menteri Keuangan. Tak lama setelah mundur, Sri Mulyani mendapat tawaran dari Bank Dunia. Sri Mulyani kemudian ditunjuk oleh Presiden Bank Dunia, menjadi Direktur Pelaksana Bank Dunia.
Ketika Joko Widodo menjadi Presiden, Sri Mulyani dipanggil pulang. Dia kemudian kembali menduduki kursi sebagai Menteri Keuangan. Sri Mulyani menjadi menteri keuangan sampai Presiden Joko Widodo lengser karena telah menjabat dua periode.
Menjelang akhir jabatannya, Presiden Joko Widodo melantik wakil menteri. Salah satunya adalah Thomas Djiwandono, sebagai wakil menteri keuangan. Thomas adalah kemenakan Prabowo, presiden terpilih.
Dugaannya Thomas Djiwandono yang akan menjadi Menteri Keuangan Prabowo. Dia dimagangkan terlebih dahulu agar transisi berjalan dengan mulus.
Namun ketika Prabowo mengumumkan deretan menterinya yang sangat panjang, ternyata Sri Mulyani tetap dipertahankan sebagai Menteri Keuangan.
BACA JUGA : Susur Gang Samarinda
Tak perlu diungkap bukti satu persatu keberhasilan Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan. Merujuk pada posisi yang sama lewat 3 presiden yang berbeda sudah dengan sendirinya membuktikan kemampuan Sri Mulyani.
Hebatnya, mesti menjadi pembantu dari satu presiden ke presiden lainnya Sri Mulyani masih kukuh di jalan keilmuannya sebagai ekonom. Dia tak bergenit-genit dengan politik praktis seperti kebanyakan menteri lainnya.
Sri teramat jarang atau bahkan tak pernah mengomentari hal-hal lain diluar bidang kerjanya. Dia juga jarang memuji-muji Presiden yang mengangkatnya. Sri Mulyani tak melatih lidahnya untuk terampil menjilat.
Padahal Sri Mulyani punya magnet politik. Buktinya pernah ada sekelompok orang yang berniat mendirikan Partai Serikat Rakyat Independen atau SRI. Partai ini berniat mencalonkan Sri Mulyani Indrawati sebagai presiden pada pemilu 2014.
Bagi Partai SRI, Sri Mulyani adalah harga mati. Arbi Sanit, anggota dewan pertimbangan Partai Sri mengatakan “Bubar partainya kalau Sri tidak mau,”
Hanya saja keinginan Partai SRI kemudian pupus jalan karena tidak lolos melewati verifikasi faktual dari KPU.
Menjelang Pemilihan Kepala Daerah serentak, saat transisi pemerintahan antara Jokowi ke Prabowo, nama Sri Mulyani juga disebut-sebut akan dicalonkan menjadi Gubernur Jakarta. Namun lagi-lagi tak ada komentar apapun dari Sri Mulyani.
Nampaknya Sri Mulyani menganggap perbincangan tentang dirinya dan posisi politik hanyalah bumbu-bumbu demokrasi. Apapun itu dia menghormati dan memberi aspirasi namun hanya untuk menjadi bahan diskusi publik, Sri Mulyani tak mau terlibat perbincangan baik langsung maupun tak langsung.
Mungkin tugasnya sebagai Menteri Keuangan membuat Sri Mulyani tahu betapa beratnya tugas seorang pemimpin pemerintahan jika mau bekerja dengan sungguh-sungguh.
Sri Mulyani tahu persis sentimen keuangan sekecil apapun bisa menguncang pemerintahan.
Tapi bisa jadi ketidaktertarikan Sri Mulyani pada politik praktis karena dirinya tak punya ‘gede rasa’. Walau menduduki jabatan sebagai Menteri Keuangan tiga presiden, Sri Mulyani tidak merasa punya bakat dan pengalaman lebih untuk memimpin pemerintahan.
Padahal sebagai Menteri Keuangan, Sri Mulyani bukan hanya mengatur uang negara tetapi juga mencari uang untuk negara.
Tugas untuk mencari uang bagi negara inilah yang kemudian membuat Sri Mulyani menjadi agak bopeng.
Pondasi keuangan negara yang tidak kuat, sumber-sumber keuangan yang bergantung pada industri ekstraktif, membuat negara kerap kali harus berhutang. Sri Mulyani piawai mencari hutang, karena hubungannya dengan lembaga-lembaga keuangan internasional.
Sementara untuk sumber keuangan dalam negeri, Sri Mulyani kemudian lebih bertindak sebagai tukang pajak. Termasuk pajak rokok.
Di masa Sri Mulyani, harga rokok menjadi melambung tinggi.
Dan diluar perkiraan, kenaikan cukai dan harga rokok ternyata justru tidak membuat industri rokok surut. Rokok mahal justru memunculkan industri-industri rokok baru baik legal maupun ilegal yang menjual rokok murah.
BACA JUGA : Patung Bingung
Omon-omon soal cukai, saya jadi ingat jaman Sekolah Minggu. Salah satu cerita yang saya sukai dari Guru Sekolah Minggu adalah kisah pemungut cukai. Ada beberapa pemungut cukai yang dikisahkan di Kitab Suci, tapi yang paling saya ingat adalah Zakheus.
Di masyarakat waktu itu pemungut cukai adalah sosok yang dibenci. Mereka dianggap tidak adil dan suka memeras karena mengumpulkan uang dari bangsa sendiri untuk diserahkan kepada Kaisar Romawi.
Pemungut cukai kemudian dibenci karena tidak semua yang dipungut dari masyarakat diserahkan kepada kaisar, sebagian dikantongi sendiri.
Kisah Zakheus ditulis dalam Kitab Suci karena keinginannya untuk bertemu dengan Yesus. Tapi dia malu karena menganggap dirinya berdosa. Jadi dia hanya melihat Yesus dari kejauhan dengan memanjat pohon.
Tak diduga Yesus memintanya turun dan mengatakan akan singgah ke rumahnya. Zakheus terkejut, tidak menyangka Yesus akan bersikap baik padanya. Diapun berjanji akan membagikan harta kekayaannya untuk masyarakat.
Tentu Sri Mulyani bukan Zakheus, tapi dia membawahi banyak Zakheus-Zakheus lain.
Kelakuannya tak beda banyak karena ada banyak petugas pajak dan cukai yang kemudian ketahuan korupsi. Mengantongi uang yang seharusnya disetor ke negara ke kantongnya sendiri.
Banyak orang pajak dan cukai yang hidupnya bermewah-mewah. Anak dan istrinya suka pamer kekayaan.
Tapi belum ada berita dari mereka karena ingin membagikan seluruh harta kekayaannya untuk masyarakat.
Bahkan kini mereka bersemangat untuk menarik pajak dan cukai yang makin tinggi karena beban keuangan negara untuk mewujudkan janji politik Presiden Prabowo makin berat. Presiden ingin anak-anak mendapat makan siang gratis, program ini butuh biaya besar. Tambah lagi pembangunan IKN yang area intinya saja belum diselesaikan.
Pajak dan cukai mesti digenjot.
Dan Sri Mulyani semakin menjadi pendiam karena beban yang ditanggung dipundaknya.
Mestinya yang harus ditekan adalah orang-orang kaya yang uangnya berlebih. Namun kita tahu mereka punya saham pada kekuasaan sehingga mesti dijaga perasaannya.
Dan akhirnya tak ada pilihan lain, rakyat kebanyakan yang menjadi sasaran. Dan sektor yang bisa meraup pendapatan pajak atau cukai yang tinggi adalah konsumsi.
Di sektor inilah pajak dan cukai akan dikonsentrasikan.
Kabarnya Mbak Sri agak lega karena rencana kenaikan pajak dibatalkan. Tapi Mbak Sri nampaknya juga tahu bahwa mungkin itu hanya penundaan untuk menaikkan citra.
Dalam kampanye maupun sesudah menjabat, prioritas pertama pemimpin memang popularitas.
note : sumber gambar – KOMPAS








