KESAH.IDSeni patung merupakan salah satu seni tertua. Mulanya figur-figur patung baik berupa patung berdiri sendiri atau relief lebih bercorak religius. Patung merupakan representasi kepercayaan dan pengetahuan kosmologi maupun ketuhanan. Lalu berkembang menjadi patung figuratif bercorak politik kepahlawanan atau peristiwa sejarah nasionalisme. Namun kemudian seni patung juga berkembang menjadi seni, bahkan seni untuk seni. Corak patung modern menjadi lebih beragam, menjadi lebih stylish dan non figuratif. Bentuknya cenderung abstrak, deformatif, transformatif dan lainnya yang terkadang menjadi tak mudah untuk dipahami oleh kaum awam seni.

Saya pernah berkeinginan untuk menjadi seorang seniman, tepatnya seni rupa. Makanya ketika SMP kemudian ikut bergabung dengan sebuah sanggar seni. Setiap hari minggu sepulang gereja pagi, saya tak pulang ke rumah tetapi pergi ke sanggar untuk belajar.

Guru atau pengasuh sanggar itu lulusan dari ASRI, Akademi Seni Rupa Indonesia. Kelak ASRI digabung dengan akademi-akademi lain dan kemudian menjadi ISI atau Institute Seni Indonesia.

Yang saya pelajari di sanggar seni rupa bermacam-macam, bukan hanya mengambar, tetapi juga memotret, membatik, menyablon, membuat patung dan lain-lain.

Belajar memotret yang paling tidak memuaskan karena kameranya hanya satu, roll filmya juga terbatas. Sehingga yang dipelajari lebih banyak teori tentang asa film, kecepatan bukaan lensa, besaran lensa, sudut pandang atau sudut bidik, gerakan kamera, komposisi dan lain-lain.

Sedangkan materi yang menantang adalah pembuatan patung. Waktu itu yang diajarkan adalah membuat patung dari lilin. Kami membeli bahan lilin atau parafin di toko besi. Bongkahan itu kemudian dicairkan di panci lalu dicetak dengan batang bambu yang dibelah dua. Hasilnya sebatang lilin besar tanpa sumbu.

Di permukaan lilin itu kemudian diberi pola, lalu dicungkil-cungkil dengan pisau yang biasa dipakai untuk mengukir atau mencungkil tripleks. Bagian yang tidak ingin dipertahankan untuk membuat bentuk dibuang.

Seingat saya patung yang kami buat umumnya non figuratif. Mirip gambar-gambar yang biasa kami hasilkan dengan pastel atau crayon, gambar abstrak.

Pengasuh sanggar memang pelukis, namun bukan pelukis realis atau naturalis. Jadi kamipun terpengaruh olehnya.

Mencungkil media untuk mengurangi bidang yang tak perlu sebenarnya bukan pertama kali untuk saya. Di waktu Sekolah Dasar ada pelajaran Kerajinan Tangan. Memang tak membuat patung melainkan objek lainnya seperti asbak atau vas dengan bahan batu padas, tanah liat dan batang bambu.

Masa SMP berlalu, namun sebelum tamat sanggar yang saya ikuti memamerkan karya-karyanya. Kami berpameran di Gedung Wanita, dan saya memamerkan lukisan bercorak batik kontemporer. Waktu itu saya terpesona dengan karya-karya Amri Yahya.

Di SMA walau masih suka corat-coret namun tak lagi terlalu intens. Saya dan teman-teman lebih menyukai puisi. Wajar saja karena hormon cinta mulai melimpah, dan konon anak-anak remaja yang jatuh cinta menjadi piawai menulis puisi.

Saya tak lagi membaca puisi Chairil Anwar, karena puisi Rendra, Sapardi Joko Damono, Danarto, Sutaji Calzoum Bahri dan lainnya. Kadang-kadang saya juga membaca puisi atau karya sastra mbeling yang ditulis oleh Adhie Massardi dan Remmy Sylado.

Saking serius berpuisi, kami membuat kelompok bernama Kopi Sisa atau Kelompok Pengemar Puisi dan Sastra. Bukan sebuah gagasan yang orisinil, karena waktu itu ada juga kelompok bernama Kopi Basi atau Kelompok Pengemar Baca Puisi.

Yang lahir di jaman radio berjaya pasti tahu, sebuah kelompok jika ada kata pengemar pasti berbasis radio. Di radio memang ada acara ‘Pilihan Pendengar’, pendengar radio bisa membeli sebuah kartu yang dijual di stasiun radio untuk memilih lagu dan berkirim pesan.

Kopi Basi atau Kelompok Pengemar Baca Puisi memang didirikan oleh seorang penyiar radio di RSPD atau Radio Siaran Pemerintah Daerah.

Patung Blontang, dibuat untuk upacara adat kematian Dayak Benuaq atau Kwangkey. Biasa dipasang didepan lamin setelah upacara selesai. {foto : 1001.indonesia.net}

BACA JUGA : Patung Bingung

Walau bergelut dengan puisi, tapi di saat SMA lagi-lagi saya membuat patung. Ceritanya desa saya yang sekarang menjadi kelurahan kedatangan sekolompok mahasiswa KKN. Mereka dari ISI Yogyakarta.

ISI Yogyakarta waktu itu masih berusia muda, hasil pengabungan dari ASRI {Akademi Seni Rupa Indonesia}, ASTI {Akademi Seni Tari Indonesia}, dan AMI {Akademi Musik Indonesia}. Kalau tidak salah di Yogya atau Solo waktu itu ada ASKI {Akademi Seni Kerawitan Indonesia} dan ASDRAFI {Akademi Drama dan Film Indonesia}.

Yang datang ber-KKN di desa saya waktu itu kurang lebih 7 orang. Beberapa nama masih saya ingat, yakni Edi yang merupakan mahasiswa seni murni, Hamzah dan Wayan mahasiswa seni rupa, lalu satu lagi saya lupa namanya. Dia orang Kalimantan Barat, bukan Dayak tapi China yang belajar desain interior.

Hari-hari, selepas pulang sekolah saya selalu ke posko mereka.

Saya mengagumi Edi karena kemampuan membuat lukisan potret. Tapi karena saya tak cukup punya kemampuan melukis realis maka saya hanya sering duduk diam melihatnya melukis. Saya lebih sering ikut corat-coret dengan Hamzah dan Wayan Suardana. Karena coretannya lebih bebas, terlebih lagi Wayan kemudian mengajarkan corak ragam hias Bali.

Dan sayapun ikut berkarya dengan Wayan, ikut membuat kipas besar dengan hiasan lukisan ragam hias bergaya Bali. Tapi tak sempurna karena goresan cat perak dan emas di kain sering mblobor-mblobor.

Kemudian ketika para mahasiswa dan ibu-ibu PKK sepakat membuat taman, Hamzah kemudian membaut patung sebagai elemen hias untuk taman.

Saya bersemangat membantu Hamzah membuat patung semen, mulai dari membuat kerangka dari besi tulangan cor lalu membungkusnya dengan kawat kasa untuk menempelkan adonan semen.

Setelah KKN usai, dengan bekal yang saya peroleh waktu membantu Hamzah membuat patung sayapun berniat untuk membuat patung sendiri. Kebetulan di longkang atau halaman terbuka yang dikelilingi bangunan, bapak membuat kolam hias.

Saya berpikir bagus kalau ditengahnya diberi patung yang memancurkan air.

Jadi saya memutuskan membuat patung sesosok orang bersimpuh tengah menyembah dan ujung tangannya yang terkatup akan memancarkan air.

Hanya saja saya tak punya kemampuan untuk membuat patung dalam model figuratif yang realis. Maka saya mengambi inspirasi dari model patung tradisional orang-orang Asmat. Meski kelihatan ada bentuk tangan, tubuh, kepala, kaki dan lainnya namun tidak detail.

Berhari-hari saya bergulat membaut patung dengan bahan seadanya. Memang jadi namun tak sempurna. Bentuknya jelas namun finishing-nya kasar.

Patung itu kemudian saya pasang ditengah kolam, namun urung mengalirkan air. Karena pompa kecil yang dipakai untuk membantu sirkulasi air di kolam, ternyata rusak.

Rasanya patung itu tetap bertahan beberapa tahun kemudian dengan posisi berpindah-pindah hingga berakhir di bawah batang pohon nangka dengan wujud patah-patah.

Patung Gajah di Gresik ini pernah viral karena konon menelan biaya 1 milyard. {foto – idntimes.com{

BACA JUGA : Mbak Sri

Lulus SMA, saya melanjutkan ke sekolah berasrama. Hari-hari saya bertemu patung, tapi patung religius. Patung umumnya dibuat dengan cetakan, berbahan gip atau lainnya. Kalau sekarang kebanyakan berbahan resin.

Patung itu adalah figur-figur yang kelihatan nyata, sosok-sosok orang kudus. Selain itu saya juga sering berziarah ke Gua Maria. Entah kenapa patung Bunda Maria sering ditempatkan dalam gua. Mungkin lingkungan gua lebih khusyuk untuk berdoa.

Dalam tradisi Gereja Katolik memang ada devosi atau penghormatan kepada orang-orang kudus, orang suci. Salah satu ungkapan devosional yang terkenal adalah ‘per mariam ad iesum’ atau melalui Bunda Maria kita sampai kepada Yesus. Artinya penghormatan kepada Bunda Maria tak bisa dipisahkan dari penghormatan kepada Yesus.

Sosok-sosok kudus ini kemudian dipatungkan agar menjadi lebih nyata, lebih dekat. Maka dalam Katolik selalu ada patung Bunda Maria, Patung Keluarga Kudus, Patung Tubuh Yesus atau Corpus di salib.

Terkadang juga ada patung lain di halaman, seperti Patung Pieta, atau patung para santo-santa yang menjadi nama dari sebuah gereja.

Seni patung jika dilihat sejarahnya memang lekat dengan patung religius. Patung adalah ungkapan religius dan sejarah ini sudah bermula dari jaman turunan homo sapiens mulai percaya pada kekuatan di luar manusia yang mempengaruhi manusia dan dunia.

Patung religi bisa disebut sebagai  salah satu jenis patung tradisional.

Baik dalam bentuk zonde bosse atau berdiri sendiri tidak menempel pada bagian lain, atau dalam bentuk relief atau dimaksudkan untuk bisa menempel pada dinding, patung-patung religi banyak yang kemudian menjadi warisan sejarah dunia, menjadi patung legendaris dan tidak ternilai harganya.

Di Indonesia, warisan patung religi yang menyejarah itu salah satunya adalah candi-candi. Candi mempunyai banyak patung religius, baik yang berdiri sendiri atau menempel di dindingnya.

Masyarakat tradisional Kalimantan Timur juga mempunyai patung religi yang masih dibuat hingga sekarang. Orang Dayak Benuaq akan membuat Blontang pada setiap Upacara Kwangkey.

Blontang adalah patung ukir yang terbuat dari batang utuh kayu ulin yang berbentuk sosok manusia sebagai gambaran sosok yang meninggal dan diupacarakan.

Setelah era patung religi, yang kemudian berkembang di Indonesia adalah patung politik, berupa tugu, monumen dan diaroma.

Sukarno yang menyukai seni meninggalkan warisan patung dan tugu yang legendaris. Selain Tugu Monas, Jakarta dihiasi oleh Sukarno dengan patung-patung yang dilandasi visi dan ideologi nasionalis. Seperti Patung Selamat Datang, Patung Dirgantara, Patung Pembebasan Irian Barat dan Patung Pahlawan atau Tugu Tani.

Kebiasaan Sukarno diteruskan oleh Suharto. Namun ciri khas Suharto adalah membangun monumen baik dalam bentuk patung berdiri, relief, diaroma dan juga landmark untuk mengawetkan peristiwa sejarah berdasarkan versi regim. Patung pahlawan dan monumen peristiwa sejarah banyak didirikan pada masa Suharto. Salah satu yang terkenal adalah Monumen Lubang Buaya dan Monumen Yogya Kembali {Monjali}.

Setelah reformasi, ruang publik mulai dihiasi oleh patung-patung modern, patung yang lebih mengedepankan kebebasan para pengkaryanya. Nuansa patung seni mulai mendapat ruang, patung non figuratif, abstrak atau istilah-istilah lain mulai bermunculan.

Kemunculan patung kemudian menjadi perbincangan, menimbulkan keriuhan karena silang pendapat. Ini memang masanya bebas, setiap orang bisa mengutarakan pandangannya sendiri. Dan ada ruang untuk mengekpresikannya yakni media sosial.

Soal silang pendapat ini saya jadi ingat kisah murid yang mucil. Ketika guru kesenian memberi tugas mengambar, dia dengan cepat menyelesaikan. Si Mucil ini hanya menaruh titik kecil di kertas gambarnya dan kemudian mengumpulkannya di meja guru.

Sang guru yang heran hanya melihat titik hitam kecil kemudian bertanya “Kamu menggambar apa ini?”

Si Mucil menjawab “Kapal perang Belanda”

Gurunya langsung geram dan menghardik “Kapal perang bagaimana!”

Dengan tenang Si Mucil menjawab “Kapal perang dilihat dari jauh sekali, diseberang lautan,”

Untung Sang Guru punya kecerdasan emosional yang baik sehingga segera bisa menenangkan diri dan kemudian mengembalikan kertas gambar itu pada Si Mucil.

Tetapi tetap saja masih keluar gerutuan dari mulutnya “Terserah ikam haja,”

Mucil belum beranjak dan bertanya “Nilainya berapa guru?”

Takut tangannya ingin menempeleng Si Mucil, Sang Guru menjawab tanpa melihat muka Si Mucil yang menjengkelkan itu “Kamu beri nilai sendiri saja,”

Sambil tersenyum Si Mucil menggoreskan angka sembilan di kertas gambarnya.

note : sumber gambar – KOMPAS