KESAH.ID Dibandingkan dengan belajar sendiri, belajar di sekolah lebih memungkinkan seseorang untuk belajar secara aktif. Maksudnya apa yang dipelajari bisa didialogkan dengan guru dan teman-teman sekolahnya. Belajar secara aktif membuat seseorang mampu menerapkan atau menggunakan apa yang dia pelajari untuk menyelesaikan sebuah persoalan. Meski seseorang bisa belajar sendiri, namun umumnya orang lebih bisa belajar bersama dengan orang lain. Itulah kenapa sekolah menjadi penting.

“Ndak usah sekolah tinggi-tinggi, nanti juga kerjanya di dapur,” nasehat ini dulu sering disampaikan oleh orang tua pada anak perempuannya yang berniat sekolah sampai setinggi-tingginya. Tapi orang tuanya tak setuju, sekolah untuk perempuan dianggap tak berguna, buang waktu dan buang uang.

Di jaman lampau tentu saja sikap ini biasa saja, bukan hal yang salah. Tapi di jaman kini tentu ini bermasalah, orang tua dianggap tidak adil dan tak menghormati hak anak terutama anak perempuan untuk memperoleh pendidikan.

Tapi orang tua tetap tak kehilangan akal, nasehatnya kemudian diganti “Itu Bu Susi sekolahnya juga tidak tinggi dan ternyata bisa sukses,”

Makin tua seseorang memang makin pintar cari alasan.

Padahal apapun alasannya, yang namanya alasan selalu dicari-cari. Sebab alasan bukanlah bukti.

Lho memangnya Bu Susi nggak bisa dijadikan bukti?.

Ya bisa tapi tidak cukup untuk menarik kesimpulan bahwa perempuan yang tak sekolah tinggi pasti bisa sukses seperti dirinya. Bukti yang valid itu kalau ada 100 Susi dan sekurangnya 60 atau 70 diantaranya sukses seperti Susi yang punya Susi Air itu.

Kalau dari 100 kemudian yang sukses hanya satu ya itu kebetulan saja.

Tapi ya namanya alasan, pasti selalu ada. Nama Mark Zuckerberg, Bill Gate, dan lain-lain kerap juga dijadikan contoh untuk mengatakan sekolah tinggi itu tak penting. Mereka adalah para drop outer yang berhasil, bahkan berhasil sekali.

Padahal mereka berhasil bukan karena drop out.

Mereka keluar lalu mengembangkan inovasi karena sekolahnya tak mengajarkan hal itu. Jadi menurut mereka sia-sia saja meneruskan sekolahnya.

Kesimpulannya mereka bisa belajar sendiri, mempelajari yang tak didapat di sekolahnya dan karena berhasil menguasai hal yang dipelajari sendiri itu maka mereka berhasil.

Jadi silahkan memutuskan untuk tidak sekolah atau tak meneruskan sekolah selama kita benar-benar bisa belajar sendiri.

Nah yang tak bisa belajar sendiri, nasehatkanlah kepada diri sendiri untuk tetap sekolah. Perkara di sekolah rajin belajar atau tidak itu urusan nanti.

Jadi balik logika kita sebagai orang-orang biasa dalam memberi nasehat soal sekolah. Katakan “Yang sekolah saja belum tentu sukses, apalagi yang tidak bersekolah,”

Maka jangan sekali-sekali mengatakan pada orang lain sekolah itu tidak penting. Kalau mau mengatakan sekolah itu tidak penting katakan pada diri sendiri dengan syarat kita bisa belajar sendiri. Mengatakan sekolah nggak penting tapi tak rajin belajar sendiri itu artinya malas.

Tapi kan sekolah butuh biaya?. Tenang saja, bagi pemerintah Indonesia sekolah itu penting. Dan rata-rata calon pemimpin entah pemimpin nasional maupun daerah dalam kampanye selalu menjadikan program pendidikan gratis sebagai janji politiknya. Maka kalau kesulitan biaya pendidikan, tagih saja janji politik para pemimpin.

Bagaimana kalau pemimpin ingkar janji?. Tenang saja, pakai piramida dasar hukum tertinggi di republik ini.

Maksudnya UUD 1945?. Bukan, dasar hukum tertinggi sekarang ini adalah viral.

Jadi apapun kesulitannya viralkan saja.

BACA JUGA : Mbak Sri

Saya sendiri termasuk rajin sekolah, paling tidak dari TK, SD, SMP dan SMA. Perjalanan pendidikan saya pada tingkatan itu lancar-lancar saja. Walau tak jadi siswa teladan, saya tak pernah sekalipun tinggal kelas padahal saya bukan termasuk yang rajin belajar.

Baru ketika sekolah tinggi saya tak selesai. Saya memutuskan untuk tidak melanjutkan karena merasa apa yang akan saya pelajari tidak relevan lagi dengan kehidupan saya ke depan. Dan saya juga merasa sudah bisa belajar sendiri.

Dan di luar sekolah kemudian saya belajar tentang pengorganisasian, komunikasi – informasi-edukasi, kesehatan masyarakat, advokasi, aksi tanpa kekerasan, restorasi ekosistem dan lain-lain.

Apakah kemudian saya sukses?. Nggak juga, saya tetap biasa-biasa saja.

Tidak apa-apa, pada dasarnya di dunia ini sebagian besar orang memang tak akan sukses. Tapi yang tidak sukses bukan berarti merana atau hidupnya sia-sia.

Ada data yang menyatakan hanya 4 sampai 5 persen dari populasi yang berhasil mencapai tujuan. Anggap saja tujuan sukses yang paling utama adalah kaya atau banyak uang. Sebuah survey mencatat 30 persen orang mampu merubah nasib, artinya ekonominya membaik pada suatu saat. Tapi hanya 4 persen yang benar-benar berubah artinya dari tak kaya kemudian menjadi kaya sekali. Dari naik sepeda lalu wara-wiri naik mercy.

Data ini relatif tidak berubah dari waktu ke waktu, artinya sudah layak untuk disebut sebagai hukum alam atau algoritma.

Maka manusia yang normal ya tidak sukses-sukses amat, biasa-biasa saja.

Tak usah menyesali diri atas ketidakmampuan ini. Toh agenda umat manusia sedunia juga sudah berubah. Index yang sekarang jadi ukuran untuk negara-negara bukan lagi index kesejahteraan tetapi index kebahagian.

Tidak sukses itu biasa, yang celaka itu sudah nggak sukses dan nggak mau belajar.

Maka belajar tetap penting, hidup itu adalah tentang belajar.

Masalahnya memang ketika belajar di sekolah banyak yang tujuannya bukan belajar. Rocky Gerung bilang ijazah hanya tanda pernah sekolah bukan tanda pernah mikir.

Padahal sekolah itu adalah belajar mikir dengan bimbingan.

Ada banyak bukti yang menunjukkan sekolah hanya untuk mencari ijazah. Sialnya ijazah bisa diperoleh tanpa belajar.

Hasilnya adalah orang-orang dengan ‘tanda’ kualifikasi tertentu tapi dalam dirinya tak punya kemampuan itu. Sarjana teknik tapi otaknya klenik dan doktor tapi otaknya kotor.

Memang ada pengandaian kalau telah memegang gelar maka otomatis menguasai perihal hal terrtentu. Ijazah adalah sertifikasi, tanda kompetensi.

Nyatanya ijazah hanya selembar kertas, bukan tanda yang menghadirkan. Ijazah masih harus dibuktikan, diuji lagi oleh peer group. Tapi apapun ujian atau validasi, yang disebut orang dalam selalu bisa memudahkan. Hasilnya banyak musang berbulu domba.

BACA JUGA : Ragam Patung

Karena banyak kasus seperti itu orang dengan mudah mengambil kesimpulan, sekolah nggak penting. Sekolah dan tidak sekolah sama saja. Yang nggak sekolah bisa sukses dan yang sekolah juga bisa nggak sukses.

Maka ukurannya untuk menilai pentingnya sekolah atau tidak sekolah jangan soal kesuksesan. Ingat sekali lagi yang sukses di dunia ini hanya sebagian kecil. Urusan sekolah dan tidak sekolah harus dinilai dari kemampuan agar kita bisa hidup seperti kebanyakan orang, normalnya orang.

Dunia kita ini bergulir dan terus berjalan karena orang-orang biasa, orang rata-rata.

Dan yang disebut kesuksesan itu sempit. Dalam dunia politik misalnya, sukses seorang politisi adalah menjadi pemimpin. Berapa banyak politisi atau aktifis politik yang jadi pemimpin?. Sedikit sekali.

Menjadi pemimpin tertinggi sebut saja presiden, selama Indonesia merdeka yang berhasil menjadi presiden baru delapan orang. Artinya kemungkinan politisi sukses menjadi presiden hanya nol koma nol sekian persen. Jangankan presiden, yang menjadi bekas calon presiden saja tak banyak juga.

Melihat ruang sempitnya sukses ini maka sekolah menjadi penting.

Sekolah pada dasarnya menjadi agar potensi sukses tetap ada atau semakin besar.

Kebanyakan yang menyepelekan sekolah beranggapan tidak banyak hal praktis bisa dipelajari di sekolah. Atau ekpektasi terhadap sekolahan terlalu tinggi.

Kebanyakan yang pernah sekolah lupa kalau hal dasar membaca dan menulis diperoleh dari sekolah. Ada banyak pengetahuan umum yang juga diperoleh di masa sekolah, termasuk ketertarikan pada pengetahuan yang umumnya dipicu karena sekolah.

Memang sekarang ini yang disebut pengetahuan dan bahan bacaan tidak hanya di sekolah, di internet ada banyak sekali pengetahuan. Hanya saja pengetahuan di internet tidak terkurasi dengan baik, bercampur antara yang ilmu dan setengah ilmu.

Maka sekolah tetap penting karena sekolah adalah ruang belajar dengan pembimbing atau mentor.

Tapi untuk mereka yang mampu belajar sendiri, bolehlah tidak sekolah.

Dan saya yakin yang mampu belajar sendiri jumlahnya tak banyak.

Maka sekolahlah, manfaatkan semua janji politik yang serba gratis poll itu.

Kalaupun akhirnya tak sukses juga tak apa-apa, yang penting bisa menerima kenyataan bahwa kita adalah orang biasa, orang rata-rata. Dan bangsa yang berisi orang rata-rata tetap bisa maju asal otaknya tidak bengkok, tidak penuh dengan sesat pikir.

Adam Malik, Bob Sadino, Susi Pujiastuti, Andy F. Noya dan lain-lain memang tak sekolah tinggi dan sukses dalam bidangnya masing-masing. Tapi ingat mereka bukan contoh yang mudah ditiru, terutama kemauan dan kemampuannya dalam belajar sendiri.

Pun juga para penemu dan pesohor yang adalah orang-orang drop out seperti Bill Gates, Steve Jobs, Marc Zuckerberg dan Steve Wozniak. Mereka sukses dalam dunia teknologi, berhasil mengembangkan temuan, platform, sofware dan gadget yang sukses secara komersial.

Tapi jelas mereka bukan berhasil karena bermodal drop out, berhenti kuliah dan meninggalkan universitas. Mereka berhasil karena mau dan bisa belajar sendiri, serta berhenti kuliah untuk mengembangkan visi lewat perusahaan.

Memakai nama mereka sebagai contoh betapa tak pentingnya sekolah jelas sebuah kesimpulan yang cacat logika.

note : sumber gambar – KITONGBISA