KESAH.IDApa yang dipunyai oleh anak muda?. Nalar dan semangat juang yang masih tinggi karena orang muda umumnya masih bisa menenggang kepentingan diri. Namun masihkah demikian?. Ini adalah catatan Muhammad Rifqi tentang kecenderungan orang muda yang makin terkikis idealismenya karena perilaku oportunistik.

“Idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki seorang pemuda,” begitulah ujar Tan Malaka. Ucapan itu sampai hari ini masih sering digunakan untuk memantik nalar juang pemuda. Idealisme sendiri bermula dari pemikiran Plato yang memandang pentingnya pikiran, ruh, dan ide. Gagasan Plato ini merupakan perkembangan dari pemikiran yang bersifat materiil pada abad ke 4 sebelum masehi.

Tak ada yang salah dengan menekankan idealisme sebagai acuan dalam genderang pantikan untuk kaum muda. Masalahnya idealisme tidak selalu berwatak altruis, karena apa yang digaungkan sebagai semangat bersama bisa jadi hanya sekadar menjadi alat untuk branding diri, sebuah laku untuk mencari keuntungan sendiri. Oportunistik telah menjadi wajah gerakan pemuda hari ini.

Ketika di banyak tongkrongan atau perkumpulan sayup idealisme terus ditanam pada kepala anak muda, begitu ciamik dan indah.  Hingga banyak yang tersungkur dan jatuh cinta dalamnya. Pemuda harus idealis!. Ujaran yang kerap terlontar  setiap lingkaran diskusi. Idealis karena arah perjuangan selalu digambarkan punya metode-metode pasti dalam memperjuangkan segala sesuatu yang menjadi permasalahan sosial.

Jangan menafikan diri jika memang nyatanya idealisme seperti hanya jadi alat untuk merusak istilah itu sendiri. Pantikan semangat dan romantisme sejarah demi harapan mencapai mimpi bersama dikhianati oleh mereka yang berujar dan mengutip ungkapan Tan Malaka tersebut untuk meyembunyikan niat yang berangkat dari kepentingan pribadi.

Nasbih rasanya, sedih, bahkan dilema kalau melihat pemuda itu hanya sok beridealisme agar mendapat materi lebih atau gerakan berfokus pada diri sendiri atau keuntungan kelompok. Padahal mereka terpelajar dan mengakuinya tetapi ag semua nilai dan tujuan idealisme yang mereka punya terus dikhianati.

Pramoedya sastrawan tersohor Nusantara berujar dalam buku tetralogi Pulau Buru Bumi Manusia “Kau terpelajar bersetialah pada kata hati.” Namun, adakah kesetian tersebut? Bahkan kata hati itu seperti tidak ada dan lebih fokus mengisi diri dalam jalan-jalan praktis.

Kebijaksanaan dan kesetiaan kata hati terkungkungi. Apalagi keinginan untuk dipuji banyak orang, …ahhh begitulah. Jiwa muda tanpa rasa revolusi yang dianggap kontradiksi biologis oleh Salvador Ellende hanya ujar belaka, tak berguna. Pada akhirnya istilah revolusi itu hanya main-main bagi mereka anak muda yang penduli keuntungan pribadi dalam jalan-jalan praktis sehingga “Idealisme” hanya jadi istilah tong kosong.

Memang tidak semua pemuda bersikap seperti itu. Tapi kritik itu harus tetap dapat disampaikan agar dapat menjadi penyadaran pada sisi perjuangan pemuda.

Jangan sampai gerakan pemuda menjadi alat bagi sekelompok oligarki yang menyamar dalam gerakan pemuda ataupun kelas bawah padahal sebenarnya itu hanya jadi alatnya menaikan nama dan memperluas jejaring dunia Kapitalisme yang ia jalankan. Bahkan bertujuan mengisi nafsu pujaan yang didambakan jiwanya. Anomali menjadi sebuah kenyataan dalam gerakan.

Sejarah hadir untuk menunjukan penyadaran pada setiap petunjuk perjuangan. Untuk menunjukan bahwa istilah “idealisme” hadir bukan sekedar jadi istilah yang sekonyong-konyongnya apalagi menjadi alat kapitalisme mengaleniasi massa.

Sejarah dimulai oleh anak muda, maka jangan mati oleh anak muda. Terkhusus muda yang disusupi jiwa kapitalisme yang peduli hanya pada keuntungan pribadi. Naudzubillah.

sumber gambar – KOMPASIANA

BACA JUGA : Jalan Makan

BACA JUGA : Saling Makan 

note : rubrik ini merupakan publikasi catatan hasil kerjasama dengan Tarekat Menulis Samarinda yang akan terbit setiap Sabtu dan Minggu.