KESAH.IDRumus kehidupan dalam dunia binatang sampai sekarang belum berubah. Binatang akan hidup dengan mengambil kehidupan lainnya. Manusia yang adalah binatang kemudian menjadi mahkluk tertinggi dalam piramida makanan, manusia adalah mahkluk omnivora atau pemakan segalanya. Sopan santun atau etiket, moralitas dan etika lahir sebagai tuntunan dan tuntutan agar saling makan berlangsung secara sukarela dan baik-baik saja, sesuai dengan keadaban dan kemanusiaan.

Untuk melanjutkan kehidupan, kita mesti mengambil kehidupan yang lainnya. Begitu kemestian soal hidup dan kehidupan dalam dunia binatang.

Cara hidup binatang memang berbeda dengan tumbuhan. Berbeda dengan binatang tumbuhan lebih pasif dalam mengekstraksi energi. Tumbuhan bisa menyerap energi secara langsung dari sinar matahari untuk melakukan fotosintesis.

Hanya sedikit tumbuhan yang untuk hidup harus mengambil kehidupan yang lainnya. Tumbuhan seperti ini disebut parasit, karena untuk kelangsungan hidupnya harus mengantungkan sebagian atau seluruh sumber energinya pada tumbuhan lain yang menjadi inangnya.

Ada juga tumbuhan carnivora, seperti Kantong Semar atau Nephentes yang memperoleh nutrien dengan cara menjebak dan menyantap binatang kecil dengan kantongnya. Tumbuhan karnivora biasanya tumbuh di lahan yang miskin nutrien atau tanah-tanah yang gersang.

Dengan demikian secara umum tumbuhan bukanlah mahkluk ‘pembunuh’. Walau demikian memang ada beberapa jenis tumbuhan yang bisa mematikan karena bagian-bagian tertentu entah daun, getah, batang, kulit, buah atau bunganya beracun.

Racun dalam batang tubuh menjadi senjata bagi tumbuhan itu untuk melindungi diri dari pemangsa atau perusak. Namun meski beberapa tumbuhan bisa mematikan, mereka bukanlah pembunuh yang aktif.

Lain halnya dengan binatang. Dengan kemampuan bergerak, berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya binatang mempunyai kemampuan untuk menjadi pembunuh secara aktif.

Dan salah satu binatang yang paling aktif adalah manusia. Kemampuan bergerak manusia telah melampaui segala jenis binatang lainnya karena manusia untuk bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya telah dibantu oleh teknologi transportasi.

Manusia yang sering menjuluki dirinya sendiri sebagai biofilia atau pecinta kehidupan kemudian menjadi pembunuh yang paling efektif diantara binatang-binatang lainnya. Manusia yang mengaku sebagai biofilia, ternyata hidup sebagai necrofilia atau pecinta kematian. Sebab kematian dari yang lainnya adalah kehidupan untuk manusia.

Manusia kemudian membunuh segala sesuatu yang ada dalam kerajaan kehidupan. Manusia membunuh tumbuhan, binatang, jamur, bakteri dan ganggang.

Semua yang masuk dalam klasifikasi mahkluk hidup dimakan atau diminum oleh manusia, maka manusia disebut sebagai pemakan segala atau omnivora.

Anehnya manusia tidak pernah menyebut dirinya buas. Yang disebut buas adalah macan, singa, srigala, cheetah, panther dan lain-lainnya.

Sampai sejauh ini evolusi nampaknya memang lebih berpihak kepada turunan homo sapiens. Dalam evolusinya manusia mengalami beberapa revolusi. Revolusi kognitif yang kemudian membuat manusia jauh meninggalkan binatang-binatang lainnya.

Revolusi kongitiflah yang membuat manusia menjadi mahkluk terkuat diantara mahkluk lainnya. Manusia semakin menjadi pembunuh yang efektif karena mempunyai teknologi.

Teknologi penguasaan pada api, konon merupakan teknologi pertama yang membuat manusia naik peringkat dari piramida tengah ke puncak dari kehidupan.

Penguasaan pada api membuka kotak pandora yang dilanjutkan dengan penemuan-penemuan teknologi lainnya, manusia semakin menjadi superior, penguasa kehidupan.

BACA JUGA : Politik Pajak

Watak manusia sebagai pembunuh atau pemangsa bagi mahkluk lainnya, bahkan juga sesamanya dijadikan sebagai sebuah pepatah. Mulanya yang mencetuskan adalah Titus Maccius Plautus, namun kemudian menjadi populer karena dipakai oleh Thomas Hobbes.

Pepatahnya adalah homo homini lupus, atau manusia menjadi srigala bagi manusia lainnya.

Dalam Leviathan, Hobbes mengambarkan manusia akan selalu berkonflik dengan satu sama lain untuk pemenuhan kepentingannya, bahkan kalau perlu dengan menumpahkan darah orang lainnya.

Thomas Hobbes menerangkan homo homini lupus dalam konteks teori politik, untuk menunjukkan politik secara tradisional dipenuhi dengan intrik demi meraih kepentingan dan kekuasaan.

Di suatu kesempatan, saya pernah tersesat pada program yang diselenggarakan oleh ICIP atau International Centre for Islam and Pluralism. Programnya bertajuk Pemimpin Muda Keagamaan, berisi serangkaian workshop dan kegiatan lainnya. Pada rangkaian program ini saya bertemu Gus Dur, pertemuan yang tentu saja tak membuat beliau kenal saya karena ada banyak orang.

Pada suatu workshop, Stanley nama lain dari Adi Prasetyo menerangkan soal piramida makan berdasarkan kelas. Setiap kelas sosial mempunyai cara atau kebiasaan makannya sendiri. Makin tinggi kelas sosial makin kejam cara makannya.

Yang berada di piramida terbawah pada paradigma cara makan adalah kelompok yang punya pertanyaan ‘Besok bisa makan apa tidak?”. Kelompok ini mirip dengan kelompok yang masih berkebudayaan pemburu pengumpul. Cari makan hari ini untuk makan hari ini.

Kelompok ini punya daya bunuh yang sangat rendah. Jika tak punya makanan yang bisa dilakukan hanyalah mengambil. Pencuri kelas teri atau pencopet di pasar-pasar. Mereka tak mungkin berhutang karena tidak ada orang yang percaya untuk memberi hutang pada mereka.

Diatasnya adalah kelompok yang punya pertanyaan “Besok makan apa?”. Kelompok ini sudah punya kepastian besok bisa makan, yang diatur hanyalah pilihan makanan agar apa yang mereka punyai tidak habis sebelum siklus pendapatan berikutnya.

Salah mengatur menu makanan bisa-bisa selama setengah bulan hanya makan berlauk kerupuk dan kecap. Kelompok ini bisa berhutang atau ngebon duluan karena ada jaminan pendapatan bulan depan. Tapi lagi-lagi jika salah mengelola uang, mereka bakal menjadi pengemplang utang paling militan.

Kelompok berikutnya adalah yang punya pertanyaan “Besok makan dimana?”

Ini adalah kelompok yang secara pangan relatif sudah mapan dan bisa memilih makanan sesuai yang diinginkan. Mereka bahkan pusing memilih mau makan apa. Dasar dari kemapanan adalah network atau jejaring yang bisa memanfaatkan massa yang dipunyai oleh kelompok ini. Kelompok ini masih mengandalkan power tenaga atau otot.

Diatas kelompok ini adalah kumpulan orang yang punya pertanyaan “Besok makan dengan siapa?”

Mereka ini sudah tidak memikirkan makanan. Yang dipikirkan adalah narasi yang bisa dijual atau ditawarkan pada elit yang tertinggi. Mereka terbiasa mengklaim punya pengaruh dan massa yang besar dengan keutamaan yang mereka punyai. Mereka adalah orang berilmu, bermazhab atau mungkin bernasab.

Dan terakhir di puncak piramida paradigma cara makan adalah kelompok yang punya pertanyaan “Besok siapa yang kita makan,”.

Ini adalah kelompok yang tidak lagi bicara makan dalam arti yang sesungguhnya. Setiap hari mereka hanya merasa kenyang jika menahklukkan yang lain untuk memastikan mereka menguasai segalanya, bebas dari ancaman gerogotan atas kuasanya. Kelompok inilah yang kemudian membuat istilah oligarki ada dan bekerja.

BACA JUGA : Jalan Makan

Fakta saling makan kemudian mengelisahkan atau mencemaskan. Para cerdik cendekia dan kaum bijaksana kemudian mempunyai idealisasi. Mereka mengajarkan bagaimana kehidupan seharusnya dijalankan.

Muncul upaya untuk mengatur kehidupan bersama agar terhindar dari berbagai macam konflik karena masing-masing mengedepankan kepentingannya. Dari kelompok-kelompok kecil yang solid, kehidupan bersama diatur lewat sopan santun atau etiket.

Dan setelah muncul para pemikir dan perenung kemudian lahir ajaran yang lebih luas dengan basis kepercayaan tertentu, lahirlah moralitas.

Perenungan terdalam atas hakikat kemanusian kemudian melahirkan ajaran atau panduan perilaku yang general. Kemanusiaan kemudian dijaga dengan etika.

Etiket, moralitas dan etika mengajarkan bagaimana seharusnya kehidupan itu.

Homo homini lupus kemudian didorong bertransformasi menjadi si tou timou tumotou oleh Sam Ratulangi. Menurutnya manusia seharusnya hidup untuk menghidupkan manusia lainnya.

Manusia adalah homo socius, sahabat bagi manusia lainnya.

Masalahnya manusia tetap terikat pada hukum alam dunia binatang. Untuk hidup memang harus mengambil kehidupan lainnya.

Manusia memang bisa meng-hack hukum alam itu terutama agar tak membunuh kehidupan liar. Revolusi pertanian membuat manusia mampu membudidayakan pangan dengan pertanian dan peternakan, mendomestifikasi tumbuhan dan binatang.

Tapi ekstensifikasi dan intensifikasi pangan serta sumber energi lainnya juga tetap menyisakan penghancuran pada kehidupan yang lain. Biarpun dilabeli dengan tagline hijau, berkelanjutan dan lainnya tetap saja ada kehidupan yang dikorbankan untuk menopang kehidupan yang lainnya.

Meminimalisir korban kemudian menjadi prosedur tetap yang dikembangkan oleh manusia agar semakin beradab. Pendidikan direvolusi dari persaingan ke kolaborasi. Manusia didorong untuk mengembangkan kecerdasan bekerjasama, saling menguntungkan satu sama lain.

Dunia usaha yang dikenal dengan jargon dengan modal sekecil-kecilnya mencari untung sebesar-besarnya melakukan transformasi jargonnya menjadi 3 P. Profit, people dan planet adalah tanggungjawab dan kepedulian yang mesti melekat dalam dunia usaha.

Tapi bagaimanapun juga hukum alam tetap sulit untuk benar-benar dihapuskan.

Maka agar proses saling makan berada dalam koridor keadaban, mesti diciptakan narasi besar agar mereka yang dimakan harus merasa rela menjadi makanan, sementara mereka yang memakan harus memakan dengan baik-baik.

note : sumber gambar – SEDIKSI