KESAH.ID – Anggapan makanan Yogyakarta itu manis-manis tidak sepenuhnya salah. Hanya jika diselami lebih dalam ternyata ada juga yang serba pedas dari sana. Berkembang mulai akhir tahun 90-an, oseng mercon Bu Narti kemudian menjadi ikonik karena rasa pedasnya yang mengejutkan. Memunculkan banyak epigon, oseng mercon Yogya kini bisa ditemui di berbagai kota lainnya. Dari Yogya ternyata ada yang pedas-pedis.
Yogya itu manis, maksud saya makanannya. Sayapun selalu mengiyakan setiap kali mendengarnya, biar yang mengatakannya senang. Walau dalam hati saya mbatin “Perjalanan kulinermu di Yogya kurang jauh,”
Kebanyakan orang menganggap makanan Yogya bahkan Jawa itu manis tak lepas dari gudeg sebagai ikonnya. Gudeg memang manisnya keterlaluan, bisa bikin bibir bergidik.
Gudeg dan beberapa jenis makanan lainnya kemudian muanis tak lepas dari sejarah kolonial Belanda. Di era tanam paksa, Johannes Graaf van Den Bosch memaksa orang Jawa menanam tebu secara massal.
Dalam era itu di Yogyakarta ada 19 pabrik gula.
Kebanyakan orang kini hanya tahu PG. Madukismo, pabrik gula yang berada di Sleman, Yogyakarta. Padahal dulu ada juga PG Medari, PG Cebongan, PG Sewugalur, PG Gesikan, PG Bantul, PG Gondanglipuro, PG Barongan, PG Padokan, PG Demakijo, PG Rewulu, PG Sedayu, PG Klaci, PG Sendangpitu, PG Kedaton Plered, PG Pundong, PG Kalasan, PG Randugunting, PG Wonocatur, PG Beran.
Dengan pabrik gula sebanyak itu, Yogyakarta yang wilayahnya tak begitu luas wajar saja jika kemudian kelimpahan gula merembet dalam kulinernya.
Kenapa yang tersisa hanya PG Madukismo?.
Sekitar tahun 1930-an ekonomi dunia lesu. Badai krisis menghantam perekonomian dunia begitu hebat. Ekpor barang anjlok termasuk gula.
Mereka yang berinvestasi di pabrik gula tentu tak mau merugi dan kemudian menutup operasinya. Hanya beberapa saja yang masih bertahan hingga krisis lewat.
Jepang datang, Belanda hengkang. Dan setelah kemerdekaan beberapa pabrik gula diambil alih oleh republik muda. Tapi taktik bumi hangus kemudian membuat yang tersisa juga lenyap. Pabrik gula dihancurkan agar tidak dijadikan menjadi markas Belanda yang ingin kembali meneruskan penjajahan.
Eksistensi pabrik gula Belanda di Yogyakarta kemudian berakhir.
PG Madukismo bertahan karena pabrik ini didirikan oleh Sultan Hamengkubowono IX diatas puing PG Padokan pada tahun 1955. Karena Sultan, Yogya pun tetap manis.
Kebetulan sejarah Gudeg juga tak lepas dari keraton mataraman. Konon Gudeg mulai dimasak saat babat alas untuk membangun kerajaan. Di alas itu banyak pohon nangka dan kelapa. Nangka muda kemudian dimasak dalam kuali besar dan sesekali diaduk biar tidak gosong.
Gudek berasal dari kata hangudek atau ngudheg yang artinya diaduk.
Karena pasukan yang membuka alas jumlahnya besar, maka masakannya diusahakan agar tahan lama, bisa dipanaskan lagi untuk dimakan. Gula yang banyak kemungkinan besar selain sebagai penyedap juga dimaksudkan agar masakan jadi awet, tidak cepat basi.
Jadilah Gudeg yang manis dan kemudian menular ke masakan-masakan lainnya yang dimaksudkan tak cepat basi.
Memang benar ada kecenderungan masakan yang manis-manis di Yogyakarta dan sekitarnya. Tapi jangan salah Gudeg pun bisa pedas jika dicampur dengan krecek yang disertai cabe utuh.
BACA JUGA : Meneer Palsu
Saya lupa persis tahun berapa ketika mampir Yogya ada dua teman lama yang menghubungi untuk bertemu. Yang satu adalah adik kelas ketika di SMP namun hari-hari selalu bersama karena dia sering ikut kakaknya yang merupakan teman kelas saya.
Satu lagi teman sedari kecil, mulai dari TK, SD, SMP dan SMA selalu sekolah di sekolah yang sama. Rumahnya juga kelihatan dari rumah saya.
Teman kecil yang terpisah karena saya merantau setamat SMA ini yang kemudian mengajak saya untuk merasakan sensasi kuliner Yogyakarta yang lagi hype waktu itu. Namanya Oseng Mercon.
Dari namanya sudah bisa ditebak bahwa rasanya bakal meledak di mulut saking pedasnya.
Teman saya yang sudah jadi GM Hotel yang letaknya tak jauh dari Malioboro itu kemudian membonceng saya untuk pergi mencicipi oseng mercon di daerah kelahirannya. Jalanan tak jauh dari tempat kelahiran Ormas Muhammadiyah.
Saya yakin dia pasti punya mobil tapi lebih memilih naik motor agar sat set melewati jalanan sekitar Malioboro yang kerap macet.
Saya tak bisa membayangkan seperti apa wujud oseng mercon itu. Bayangan saya yang dioseng itu sayur kacang dan tempe kemudian diberi cabe utuh yang banyak.
Ternyata lain.
Yang disajikan di piring adalah masakan dari daging campur dengan tetelan. Ditemani nasi dan rebusan daung singkong.
“Minumnya teh anget saja ya jangan es teh,” ujar teman saya.
Saya ingat dulu kalau makan bakso pedes, cara menghilangkan pedes dimulut justru dengan minum air hangat, bukan air es.
“Puedes to,” tanya teman saya ketika mulut mulai mengunyah oseng mercon beberapa suapan.
Saya hanya mengangguk. Dan berusaha menunjukkan wajah yang biasa saja.
Bukan sok kuat tapi sebagai orang yang cukup lama tinggal di Manado tentu saja gengsi kalau tak tahan makanan pedas.
Dia sadar soal hal itu lalu bertanya “Pedes mana dengan rica-rica,”
“Basudara,” jawab saya.
Sejatinya lidah saya serasa terbakar.
Maklum ketika pertama menyantap oseng mercon saya sebenarnya sudah beberapa tahun pindah ke Samarinda. Jadi mulai tak terbiasa dengan yang serba pedas-pedas kemranyas.
Setelah serangan panas di mulut, perlahan perut pun mulai perih-perih. Lama kelamaan terasa melilit, saya tak menduga orang Yogya sampai se-edan ini menumpahkan lombok dalam masakannya.
Jangankan saya, orang Yogya sendiri mungkin juga kaget.
Bukti kekagetan itu terasa dalam namanya, Oseng Mercon. Konon nama itu diberikan oleh Emha Ainum Najib, budayawan Yogya yang dulu suka jagongan di Malioboro.
BACA JUGA : Politik Kosong
Muka saya mulai gembrobyos, banjir keringat. Rasa basah yang mulai muncul dari ujung kepala itu mengingatkan saya pada gurauan umum di Manado sana. Mereka sering bilang ciri khas orang Manado itu keringatan kalau makan, bukan saat mencangkul.
Buat orang Manado, seseorang belum makan yang sesungguhnya jika tidak mandi keringat.
Makan pedas memang berefek keringatan. Sebab cabai, lada dan yang pedas lainnya mengandung capsaisin, zat yang memicu naiknya suhu panas dalam tubuh. Keringat akan muncul sebagai respon tubuh untuk mendinginkan suhu badan.
Popularitas oseng mercon kemudian melampaui wilayah Yogyakarta. Di Samarinda kemudian muncul warung tenda Gudeg dan Oseng Mercon Yogya. Awalnya di pojokan perempatan kearah Gereja Katedral Santa Maria, Samarinda.
Lalu pindah ke lapangan Kinabalu yang kini sudah jadi Masjid Pemprov. Setelah itu pindah ke kompleks sekolahan di Jalan Pahlawan dan kini sepertinya berada di Jalan Awang Long, sebelum lampu merah.
Ekspansi oseng mercon keluar pulau Jawa membawa misi untuk mengikis anggapan lawas bahwa makanan Yogya itu serba manis.
Sebenarnya di Yogya sendiri muncul beberapa tren serba pedas.
Salah satu yang sebutannya dahsyat selain oseng mercon adalah sate petir Pak Nano. Uniknya Pak Nano mengukur rasa pedas seperti level pendidikan. Mulai dari TK yang artinya tidak pedas, konon yang memesan ini sering ditertawakan oleh Pak Nano.
Setelah itu level SMP dan SMA, yang pemesannya juga tak akan membuat Pak Nano terkesan. Pak Nano baru tersenyum kalau ada yang pesan level Profesor. Di level ini yang disajikan adalah irisan cabe rawit yang ditaburi sate.
Di tahun 2002, tak jauh dari Graha Shaba Pramana, UGM berdiri warung tenda bernama Waroeng Sambal Spesial. Warung yang membidik mahasiswa sebagai pembelinya.
Warung yang menebar pedas itu kini telah mempunyai lebih dari 90 outlet tersebar di Jawa dan Luar Jawa bahkan ada satu di Kuala Lumpur. Warung perdananya masih dipertahankan untuk mengenang perjalanan menebar pedas dari Yogyakarta yang terbilang sukses.
Ada banyak makanan dari Yogya dan sekitar yang juga pedas. Meski begitu yang paling ikonik tetaplah oseng mercon.
Oseng mercon yang konon dimulai oleh Bu Narti di sekitar akhir tahun 90-an. Pedasnya khas karena tidak memakai merica. Dan Bu Narti bukan hanya sekedar ingin menyajikan makanan yang membakar mulut tetapi juga sedep di hati.
Karena populer kemudian epigon oseng mercon muncul dimana-mana. Sayangnya kebanyakan kemudian berfokus pada pedasnya saja, lupa bahwa pedes itu bisa juga sedep.
Entah kenapa kemudian tren pedes ini merajalela. Yang serba pedas bukan hanya makanan tapi juga camilan. Jangan-jangan bangsa kita makin hari makin masokis, suka menyiksa diri rasa pedas dan pedis untuk mendapatkan bahagia.
Perut saya meski terlatih dengan rica-rica, tapi ternyata makin tua makin tak tahan pedas. Sensasi pedas di badan bisa sampai esok harinya, melilit tiada henti sampai yang masuk ke mulut dituntaskan di tongkrongan pembuangan.
Tapi saya tetap bahagia dengan tren makanan pedas. Semoga dengan suka menyantap yang pedas dan pedis, kata-kata yang muncul dari kebanyakan mulut warga Indonesia tak lagi menusuk telinga dan membuat mata meleleh menahan luka.
note : sumber gambar – TRIPADVISOR








