KESAH.IDPeringatan HUT Kemerdekaan RI untuk pertama kalinya akan dilakukan di IKN Nusantara. Sebelumnya Presiden Joko Widodo direncanakan untuk berkantor disana. Namun rencana ini urung karena persiapan tidak berjalan sesuai dengan rencana. Persiapan yang dikebut sejatinya bisa berbahaya karena bangunan atau sarana yang dibangun dengan cepat-cepat justru bisa menimbulkan masalah di kemudian hari. Namun euforia upacara bendera di IKN telah merebak kemana-mana. Banyak kelompok ingin ikut serta dan meramaikannya disana.

Kalimantan Timur mempunyai banyak paguyuban. Presiden Joko Widodo tahu hal itu, makanya memberi jatah 1000 undangan bagi paguyuban suku-suku di Kalimantan Timur untuk mengikuti upacara peringatan HUT RI pertama kalinya di IKN.

Saya tak akan menceritakan soal paguyuban ini sebab tak satupun dari antaranya mencatat saya sebagai anggotanya. Padahal puluhan tahun lalu bersama beberapa teman saya sempat berbincang dalam soal mendirikan paguyuban bernama Pujakelantan, Putra Jawa Kelahiran Kalimantan. Mirip Pujakesuma, Putra Jawa Kelahiran Sumatera.

Rencananya paguyuban ini bukan untuk saya melainkan untuk anak saya yang bapak dan ibunya turunan Jawa namun dia terlahir di Samarinda. Yang mengajak mendirikan Pujakelantan adalah kawan yang bapak ibunya Jawa, kini tinggal di Samarinda namun kelahiran Kutai Barat.

Paguyuban ini urung berdiri, namun sampai sekarang saya tetap guyub dengan teman-teman yang merencanakannya.

Yang diundang ke IKN untuk ikut upacara pasti banyak. Yang ingin ikut lebih banyak lagi. Salah satu yang saya dengar adalah sebuah kelompok yang akan berangkat dari Kota Samarinda namun sebagian besar kelompoknya bukan berasal dari kota ini. Kelompok yang menamakan perjalanannya Trail to IKN ini berasal dari Sumatera hingga Papua.

Perjalanan napak tilas ke IKN ini diinisiasi oleh Don Harman yang sejak tahun 80-an menekuni dunia etnofotografi. Jenis fotografi yang membuatnya punya pengalaman panjang menelusuri berbagai wilayah di Indonesia dan dunia dengan jalan kaki.

Menurut rencana napak tilas ke IKN ini akan dimulai pada tanggal 10 Agustus 2024. Dari Samarinda ke IKN Nusantara jarak yang akan ditempuh kurang lebih 120-an kilo meter. Dengan rata-rata menempuh jarak 25 km per hari dengan jalan kaki, napak tilas ke IKN bisa ditempuh dalam waktu 5 hari.

Ketika ikut nimbrung cerita tentang rencana napak tilas ini, saya menduga Don Hasman terinspirasi oleh Camino, perjalanan ziarah ke makam St. James di Santiago, Spanyol.

Kisah Camino ini menjadi terkenal salah satunya lewat novel ziarah yang ditulis oleh Paulo Coelho, novelis terkemuka dari Brasil. Beberapa karyanya telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, seperti Sang Alkemis, Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Menangis, Veronica Memutuskan Mati, Sang Penyihir dari Portebello dan lain-lain.

Paulo Coelho menuliskan Camino dalam sebuah novel berjudul O Diario de Um Mago yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris menjadi Pilgrimage. Novel ini ditulis berdasarkan pengalamannya melakukan Camino sesaat setelah gagal masuk Regnus Agnum Mundi yang sangat ketat persyaratannya.

Don Hasman dan teman-temannya juga berencana menuliskan perjalanan napak tilas ke IKN menjadi sebuah buku, bukan buku novel tapi pengalaman perjalanan yang mungkin dilengkapi dengan foto-foto. Kabarnya buku itu nantinya akan diserahkan kepada Presiden Joko Widodo sebelum purna tugas sebagai presiden dua periode.

Pengalaman perjalanan, terutama perjalanan peziarahan atau napak tilas selalu menarik untuk dituliskan. Kisah epik terbaru perjalanan peziarahan misalnya ditulis oleh Iqbal Aji Daryono dalam buku berjudul Lelaki Sunni di Kota Syiah.

Buku ini lahir setelah selama sembilan tahun Iqbal menimbang-nimbang untuk berangkat ke Karbala, melihat bagaimana masyarakat Muslim Syiah menjalankan ritualnya.

Lewat buku ini, Iqbal Aji Daryono yang dibesarkan dalam tradisi masyarakat Muslim Sunni dan Muhammadiyah berhasil menjawab berbagai pertanyaan yang biasa mengemuka diantara masyarakat Muslim Indonesia yang mayoritas bermazhab Sunni.

Melihat tanggapan pembaca, buku ini menjadi salah satu yang terbaik menuturkan tentang Karbala setelah yang dituliskan oleh Omar Hashem.

BACA JUGA : Emak Demo

Kembali ke Camino yang saya duga menjadi inspirasi perjalanan Trail to IKN, orang Spanyol tidak mengenal St. James salah satu dari duabelas murid Yesus. Di Spanyol St. James disebut sebagai Santiago, seperti Petrus disebut Pedro, Paulus atau Paul disebut Pablo, Matius atau Matthew disebut Matteo. Hanya Judas Iscariot yang disebut sama dengan ditambah e dibelakang menjadi Judas Iscariote.

Di Indonesia, walau banyak yang memakai nama James namun anak-anak sekolah minggu juga tak mengenalnya sebagai salah satu dari murid Yesus. Anak sekolah minggu lebih mengenalnya dengan nama Yakobus, dan ada dua Yakobus yang menjadi murid Yesus.

Santiago, yang dipercaya makamnya ada di Spanyol itu adalah Yakobus yang berbadan besar, Great James. Yakobus lainnya berbadan kecil dan tidak kekar.

Dibandingkan dengan Camino, napak tilas ke IKN merupakan rute terpendek atau minimal dari Camino yakni 100 kilo meter. Tapi bedanya, perjalanan Camino dipercaya akan menghapus dosa seumur hidup, sementara perjalanan napak tilas ke IKN mungkin bakal membongkar dosa pembangunan. Atau dalam konteks yang positif, barangkali bisa mencegah dosa pembangunan di masa depan.

Jalan kaki sepanjang 20 sampai 25 kilo meter sehari dengan sebisa mungkin menghindari jalan raya memungkinkan untuk bertemu dan berinteraksi dengan warga, mendengar kisah dan keluh kesah mereka tentang hidup dan kehidupan di tempat tertentu.

Perjalanan yang akan melewati wilayah Kota Samarinda, Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kota Balikpapan besar kemungkinan akan melewati bekas area pertambangan, perkebunan sawit dan bekas-bekas area konversi hutan lainnya.

Untuk sebagian besar orang bisa jadi realitas itu tak terbayangkan sebelumnya, bayangan mereka tentang ‘Kalimantan’ ternyata berlainan antara yang ada di memori dan yang ditemui dalam cakupan mata.

Dan yang paling penting, jalan kaki seharian akan membuat yang melakukannya merasakan dua kondisi ekstrim yang timbul dari kondisi hujan dan tak hujan. Jika hari tak hujan jalanan akan panas berdebu, namun jika hujan turun jalanan akan berlumpur dan genangan air ada di mana-mana.

Jika jeli mengamati, tak sulit untuk menemukan jejak-jejak genangan air yang meninggalkan bekas di dinding teras rumah. Atau tanda rumah yang lantainya ditinggikan, bahkan pondasinya agar tak dijangkau oleh genangan air. Rumah-rumah tua terasa dibenamkan oleh rumah-rumah terbaru atau dibangun kemudian.

Daerah yang dikampanyekan sebagai Paru Paru Dunia ini meski masih mempunyai tutupan hutan yang lumayan, sejatinya bermasalah dengan air. Air permukaannya berlimpah namun tak cukup menyimpan sumber-sumber air dalam tanah.

Kebutuhan air di Kalimantan Timur sebagian besar dipenuhi oleh sungai, bukan oleh mata air. Kualitas air bersih menjadi tantangan karena badan air yang terbuka mudah terpolusi. Dan karena sumber airnya adalah air hujan, beberapa daerah akan mengalami masalah air bersih jika kemarau panjang.

Kawasan IKN Nusantara termasuk salah satu daerah yang tak punya sungai besar. Aliran sungainya juga tergantung dari curah hujan. Tanpa bendungan, embung dan lainnya, wilayah IKN akan kesulitan sumber air bersih. Konsepsi sponge city tak mudah untuk diwujudkan.

BACA JUGA : Barang Tuhan

Terus terang saya belum pernah sampai ke wilayah IKN Nusantara. Sepaku satu-satunya kecamatan di Penajam Paser Utara yang belum saya singgahi.

Rencana Trail to IKN membuat saya tertarik untuk ikut pergi ke IKN dengan jalan kaki. Sayapun sempat ikut dalam obrolan pertama melalui zoom. Rencana awalnya perjalanan ke sana akan melalui Kutai Kartanegara, melewati jalan yang biasa dipakai warga Desa Long Anai pergi ke ladang mereka di dekat IKN.

Kabarnya jalanan itu mempunyai jarak tempuh tiga setengah jam jika menaiki kendaraan bermotor.

Jalanan ini jelas tidak akan melewati jalan raya, melainkan jalan kampung, jalan ladang dan jalan tambang serta mungkin juga perkebunan sawit.

Saya sudah membayangkan betapa asyiknya perjalanan ini dengan jarak tempuh kurang lebih 5 hari.

Sebagian wilayah yang akan dilewati adalah wilayah Kaltim di Kabupaten Kutai Kartanegara yang dihibahkan untuk menjadi wilayah IKN.

Melewati daerah-daerah ini penting untuk melihat dan membandingkan perkembangan pembangunan IKN terutama yang disebarkan oleh para buzzer dan influencer seputar daerah inti IKN dengan daerah IKN lainnya yang belum menjadi perhatian atau bahkan belum disentuh pembangunan.

Seperti diketahui, wilayah IKN terdiri dari wilayah yang sebelumnya merupakan bagian dari Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kabupaten Kutai Kartanegara. Dan selama ini berita tentang IKN hanya di seputar wilayah yang akan menjadi kantor presiden, kantor menteri dan lapangan untuk upacara HUT kemerdekaan RI.

Menemui warga yang sebelumnya merupakan warga Kaltim dan kemudian akan menjadi warga IKN menjadi penting. Mereka selama ini tidak pernah diperbincangkan. Padahal wilayahnya mungkin sudah dikeluarkan dari cakupan tata ruang wilayah Kaltim dan kemudian masuk dalam rencana tata ruang dan wilayah IKN.

Dan pemerintah mereka yakni Otorita IKN sampai saat ini masih bersifat sementara. Yang diurusi dan diutamakan oleh Otorita IKN adalah rencana presiden berkantor dan peringatan HUT Kemerdekaan.

Presiden yang bolak-balik ke IKN membawa aneka rombongan dan kemudian menebar kabar di media sosial sama sekali belum menyambangi wilayah ini, jangankan menyambangi lewat saja mungkin juga belum pernah.

Sepaku mungkin mulai Semoi, eh … gemoy. Tapi wilayah IKN lainnya barangkali malah dilanda kegalauan. Sebagian besar warganya merasa belum jelas mereka ini masyarakat mana.

Banyak yang bersuka ria dengan IKN Nusantara, namun untuk warganya sendiri justru sedang ‘berziarah’ kearah hidup dan kehidupan yang belum terang benar.

note : sumber gambar – CNNINDONESIA