KESAH.IDMeski terbuat dari bahan yang mirip dan cara pengolahan yang hampir sama, nama makanannya bisa berbeda-beda antara satu daerah dengan daerah lainnya. Perbedaan yang kemudian menghasilkan nama makanan yang unik dan lucu. Nama yang sering diasosiasikan dengan bagian tubuh tertentu, membuat beberapa nama makanan bisa membuat kita tertawa cekikikan karena menahan malu.

Waktu mungkin berjalan makin cepat hingga ketika meninggalkan sebuah tempat selama beberapa tahun kemudian kita pangling saat kembali kesana.

Kurang lebih 6 tahun meninggalkan Purworejo, sayapun pernah kebingungan ketika turun di terminal bus yang berada di persawahan antara Purworejo dan Kutoarjo. Daerah itu dulu setiap hari saya lalui ketika bersekolah di SMA yang terletak di Bayan.

Saya bingung karena di tengah malam itu melewati perempatan besar dengan lampu terang benderang. Nampak pula ada tugu baru entah apa persisnya karena hanya saya lihat sekelabat.

Hampir saya merasa tersesat terlebih ketika tukang becak yang menghampiri saya berlogal Sunda. Dalam hati saya bertanya “Ini Purworejo mana?”

Untung tukang becak itu melihat kebingungan saya dan kemudian mengatakan “Ini terminal baru mas, dan sebelah sana itu Tamam Makam Pahlawan yang baru juga,”

Perubahan memang berjalan cepat.

Dan sampai sekarang setiap kali pulang kampung saya selalu mengalami kekaguman yang sama karena kampung saya sudah sama sekali berbeda.

Sampai dengan SMA saya tinggal disana, selama itu tak banyak yang berubah. Jalanan belum seramai sekarang, masih banyak sepeda, dokar, gerobak dan simbok-simbok pedagang pasar yang berjalan kaki pagi-pagi.

Di kanan kiri jalan masih terlihat hamparan sawah dan pekarangan. Yang berjualan bisa dihitung dengan jari. Rasanya jajan bukan kebiasaan kami, bukan karena kami tak suka ngemil tapi memang tak banyak yang menjual jajanan sepanjang hari.

Lagi pula waktu itu ibu-ibu memang suka sibuk di dapur membuat pangganan untuk anak-anak dan keluarganya. Kadang juga diantar ke tetangga.

Seingat saya camilan yang ibu sering suruh untuk membeli adalah Geblek. Ini makanan yang sampai sekarang sering jadi rebutan antara orang Purworejo dan Kulon Progo dalam mengklaim sebagai makanan khasnya.

Terbuat dari pati singkong yang dibumbui garam, bawah dan kadang irisan kelapa. Rasanya kenyil-kenyil kalau dimakan sewaktu hangat, tapi kalau dingin jadi alot. Geblek sebenarnya sama saja dengan panganan yang sekarang populer dengan sebutan Cireng atau Aci Goreng.

Meski populer, rasanya di kampung saya hanya dua penjual geblek. Satu mangkal di lapangan, dibawah pohon asem dan satunya jualan di rumah yang letaknya di ujung kampung dekat persawahan. Yang jualan di lapangan ukuran Gebleknya kecil-kecil dan yang di ujung kampung ukurannya jumbo.

Yang bahannya kurang lebih sama dengan Geblek adalah Lanting atau Krimp{y}ing, tapi ada juga yang menamai dengan alen-alen.

Ini adalah versi Geblek yang ukurannya kecil-kecil dan digoreng kering. Keras tapi renyah sehingga kalau dijatuhkan diatas piring seng bunyinya kemrimping. Kalau nama Lanting konon muncul dari ucapan orang Belanda yang ketika melihat masyarakat pribumi membuat pangganan kemudian mengucapkan “Land Think”.

Konon orang Belanda itu kagum pada kemampuan masyarakat pribumi dalam mengolah makanan, sehingga dia mengatakan ternyata orang pribumi bisa kreatif atau berpikir. Dan ucapan land think dalam telinga masyarakat terdengar sebagai Lanting.

Camilan lain yang bersaudara dengan Geblek dan Lanting adalah Untu Buto. Adonan yang telah dipilin bulat-bulat tidak dibuat melingkar melainkan diiris-iris miring sehingga nampak seperti gigi tapi besar-besar. Digoreng sampai kering, Untu Buto terasa amat keras untuk digigit.

BACA JUGA : Warung Daeng Berani Head To Head Dengan Minimart

Jaman saya kecil makanan yang berasal dari singkong memang banyak. Sayangnya waktu itu makanan dari singkong sering dianggap sebagai lambang kemiskinan.

Dalam lingkungan pergaulan saya, Gunung Kidul sering dipakai sebagai olok-olok karena masyarakatnya waktu itu kerap mengkonsumsi gaplek.

Gaplek adalah singkong yang dijemur hingga kering. Dengan dijadikan gaplek, singkong atau ketela pohon bisa disimpan lama sebagai bahan makanan. Gaplek biasanya diolah menjadi Tiwul, dengan cara ditumbuk menjadi tepung lalu dikukus.

Jika tidak diberi tambahan apa-apa, Tiwul bisa menjadi penganti nasi. Konon cocok dimakan dengan urap dan lauk ikan asin. Gaplek yang tidak sempurna keringnya biasanya akan ditumbuhi jamur. Tapi tidak dibuang karena masih bisa diolah menjadi Gatot. Gaplek dicuil-cuil kemudian dikukus, karena ditumbuhi jamur atau terfermentasi setelah dikukus jadinya kenyal dan ada rasa manis-manis. Gatot ternyata singkatan dari Gagal Total.

Camilan atau nyamikan lain yang terbuat dari singkong adalah Getuk. Singkong yang masih segar direbus atau dikukus dan kemudian ditumbuk halus. Dinamai Getuk karena saat ditumbuk muncuk bunyi tuk-tuk. Tapi ada yang mengatakan Getuk merupakan singkatan dari Pas Digigit Mantuk Mantuk. Mantuk-mantuk atau mengangguk-angguk artinya merasa enak ketika merasakannya.

Singkong juga bisa diparut besar-besar lalu dikukus. Namanya Kokrok, mungkin nama itu berasal dari bunyi krok-krok sewaktu singkong.

Selain itu singkong juga bisa diparut halus lalu dibungkus dengan daun pisang lalu dikukus. Nama pangganannya Lemet. Disebut lemet karena teksturnya lembut dan lengket. Yang bahannya sama dengan lemet namun memasaknya dengan cara digoreng adalah Combro.

Combro adalah sebutan yang merupakan singkatan dari Oncom Mbek Jero atau Oncom di dalam. Jika lemet biasanya didalam diberi irisan gula merah, Combro biasanya didalam diisi sambel oncom atau sambel tempe.

Konon kreatifitas mengolah singkong atau ketela ini muncul di jaman susah. Saat warga kesulitan makanan di jaman penjajahan singkong yang gampang dan cocok ditanam di bumi Nusantara kemudian menjadi makanan andalan.

Ketika keadaan membaik, singkong yang awalnya merupakan makanan pokok kemudian banyak diolah menjadi panganan atau nyamikan.

Beberapa bertahan dan populer hingga sekarang. Seperti camilan yang berbahan pati singkong yakni Cireng atau Aci Goreng, Cilok atau Aci Dicolok, Cimol atau Aci Digemol, Bakso Aci dan lain-lain.

Ada banyak makanan yang dibuat dari tepung kanji, aci atau biasa dikenal dengan sebutan tepung tapioka.

Tepung ini dibuat dengan cara memarut singkong segar lalu diperas dan kemudian hasil perasannya diendapkan. Hasil endapan atau saripati inilah yang kemudian dijadikan bahan tepung, bisa dipakai secara langsung maupun dikeringkan. Setelah kering lalu ditumbuk atau dihaluskan menjadi tepung.

Tepung jenis tapioka ini yang umumnya dibuat baik oleh masyarakat maupun produsen tepung di Indonesia.

Namun sebenarnya singkong juga bisa dibuat menjadi tepung seperti tepung gandum. Sebutannya mocaf. Tepung ini dibuat dengan cara mengiris tipis-tipis umbi singkong, direndam selama kurang lebih 48 jam, dicuci lalu dijemur sampai kering. Setelah itu baru dihaluskan menjadi tepung. Hampir mirip seperti membuat tepung gaplek.

Tepung mocaf ini bisa dipakai sebagai penganti tepung terigu atau gandum. Namun di Indonesia harga tepung ini jauh lebih mahal daripada gandum.

BACA JUGA : Logika Mistika Dan Politik Kita

Kembali ke soal nama makanan, pada umumnya makanan dinamai dari bahan dan cara pembuatannya. Seperti Nasi Goreng, Ayam Bakar, Pisang Rebus, Cakalang Fufu {asap}, Dendeng Sapi dan lain-lain.

Dengan sebutan seperti itu namanya menjadi mudah diterima dimana saja. Dan untuk pembeda atau untuk menunjuk kekhasannya biasa akan ditambahkan nama daerah dibelakangnya menjadi Nasi Goreng Betawi, Nasi Goreng Jawa dan lain-lain. Salah satu jenis makanan yang paling sering diberi tambahan nama daerah dibelakangnya adalah Pecel, Dawet, Sate dan Soto.

Meski begitu ada nama makanan yang kemudian menjadi unik atau lucu karena dinamai berdasarkan cara mengolahnya. Seperti Kue Pancong yang ternyata merupakan singkatan dari pantatnya dicongkel. Atau Ketoprak yang merupakan singkatan dari ketupat dan taoge digeprak.

Nama makanan juga bisa didasarkan pada bentuk atau tampilannya sekilas. Bentuk yang kemudian diasosiasikan dengan bagian-bagian tubuh atau hal-hal lain yang berhubungan dengan tubuh sehingga sering kali bikin kita tersenyum entah karena merasa lucu atau menganggapnya sebagai jorok.

Seperti untu buto, di Samarinda ada camilan yang dinamakan kuku macan,semacam kerupuk yang terbuat dari adonan tepung dan ikan berbentuk bulat runcing.

Makanan lain yang populer karena namanya diasosiakan dengan bagian tubuh adalah peler kambing. Makanan ini berasal dari pisang yang dihaluskan dan dicampur dengan tepung serta bahan lain lalu dibentuk bulat-bulat dengan tangan atau sendok dan digoreng.

Di Bantul ada juga pangganan yang dinamakan kontol kejepit.  Pangganan ini terbuat dari tepung beras dan gula.

Sedangkan di Aceh ada semacam bubur yang disebut Memek, sebutan yang mungkin akan membuat kita tersipu-sipu. Tapi nama itu bagi orang Aceh tidak saru atau jorok karena dalam salah satu bahasa daerah disana berarti menghasilkan suara gemeretak saat kita makan.

Kalau ke Semarang jangan sampai tersedak jika ditawari makan Ketupat Jembut. Jembut adalah bahasa Jawa untuk menyebut rambut yang tumbuh selain di kepala. Ketupat Jembut adalah ketupat yang diberi isian taoge dan sekilas bentuknya menyerupai kelamin wanita yang berambut.

Di Pulau Seribu dikenal pula makanan yang dinamai dengan kelamin laki-laki. Terbuat dari tepung sagu dan gula merah, Kontol Berdebu merupakan makanan khas yang populer di sana.

Masih ada deretan nama makanan yang unik-unik, lucu dan mungkin membuat wajah kita memerah saat menyebut atau mendengarnya.

Tapi begitulah cara kita menamakan makanan sehingga dekat dengan realitas kehidupan. Nama makanan juga bisa menjadi kenangan atau catatan sejarah untuk mengambarkan kehidupan di jaman susah atau saat berkekurangan.

Sebutan seperti Sate Kere, Krupuk Kere atau Nasi Kucing merupakan pengingat bahwa pada masa tertentu kehidupan terkadang susah sehingga kita memakan makanan yang diolah dari bahan seadanya atau dalam ukuran yang kecil.

Disebut Sate Kere karena satenya dibuat dari tempe, tahu atau gajih dan tetelan sehingga tidak seperti sate pada umumnya yang dibuat dari daging pilihan. Sedangkan Krupuk Melarat adalah kerupuk yang digoreng dengan pasir, karena minyak goreng waktu itu dianggap sebagai bahan mahal.

Pun demikian dengan Nasi Kucing, dinamakan demikian karena bungkusan nasinya kecil dengan lauk sedikit irisan telur dadar dan sayur oseng-oseng ditambah sambal.

Seingat saya di Purworejo populer dengan sebutan Sego Tumper, maknanya adalah sudah cukup untuk penganjal perut saat lapar, atau Sak Tum Memper. Satu bungkus cukup, sesuai nasehat “Makanlah sebelum lapar dan berhentilah sebelum kenyang,”.

Jika kita makan segala sesuatu sesuai dengan nasehat itu niscaya kita akan makan secukupnya dan menikmati makanan dengan penuh syukur dan kegembiraan.

note : sumber gambar – URBANASIA.COM