KESAH.IDDunia politik kita erat dengan logika mistika. Ada banyak dari mereka yang akan mengikuti kontestasi politik menggunakan atau melakukan ritual-ritual yang berbau mistik, baik sendiri maupun dengan bantuan orang pintar, guru spiritual bahkan dukun.Fenomena ini membuktikan bahwa politik memang tidak rasional.  Jadi wajar saja kalau pemilih juga tak mudah ditarik untuk memilih berdasarkan track records, visi misi, program, kompetensi dan lain sebagainya. Pemilih lebih mudah dibujuk dengan hal-hal emosional.

Rutinitas saya dari hari Senin sampai Jum’at sudah jelas, pagi-pagi mesti ternak atau anter anak. Di pagi yang gerimis dan kendaraan tidak terlalu ramai membuat saya cukup punya kesempatan untuk memperhatikan segala sesuatu yang ada di sepanjang jalan.

Pagi itu sekelabat saya melihat spanduk kecil terpasang di jembatan penyeberangan depan SMPN 2. Di jembatan yang jarang diseberangi itu seseorang atau mungkin sekelompok orang memasang bentangan bertuliskan “Yang Menolak Bangun IKN Mau Ke Samarinda Wal ……,”

Yang menolak pembangunan IKN dengan berbagai alasan tentu saja banyak. Sebagian diantaranya tinggal atau berada di Samarinda. Tapi bukan orang atau kelompok ini yang disoal oleh spanduk mini itu.

Jelas spanduk ini muncul dalam konteks kontestasi pemilu 2024, pemilu presiden.

Yang akan datang ke Samarinda adalah Anies Baswedan, Capres yang diajukan oleh koalisi partai Nasdem, PKS dan PKB.

Entah apa maksud pemasangan spanduk itu, apakah itu ajakan untuk ‘menolak’ kedatangan Anies atau himbauan untuk ‘mengeruduk’ kegiatan selama di Samarinda.

Tapi saya tak hendak menyoal pernyataan atau pemikiran Anies Baswedan soal IKN. Toh setiap orang, setiap Capres bisa punya pikiran masing-masing tentang IKN. Dan masing-masing bisa menerangkan argumennya.

Lupakan dulu IKN dan kita lihat posisi Samarinda dalam kontestasi pemilu presiden.

Dari bisik-bisik yang tak berisik, Samarinda selalu memegang posisi penting dalam pemilu presiden. Dari pemilu ke pemilu selalu ada Capres atau Cawapres yang ‘sowan’ ke Samarinda diam-diam.

Anies Baswedan kabarnya salah satu yang cukup sering.

Para calon ini datang ke Samarinda, tepatnya Samarinda Seberang untuk menemui Guru Spiritual yang ampuh memberi ‘senjata metafisik’ untuk memenangkan kontestasi. Datang dan diterima oleh Sang Guru Spiritual merupakan tanda direstui. Restu akan semakin kuat ketika ‘dimandikan’ dan kemudian diberi pegangan, sesuatu yang muncul secara gaib.

Lagi-lagi dari bisik-bisik yang konon direstui oleh Sang Guru Spiritual adalah Anies Baswedan. Kabarnya ada ungkapan dan pertanda darinya bahwa Anies akan memenangkan kontestasi pemilu presiden 2024.

Setahu saya, Anies Baswedan adalah seorang intelektual, cendekiawan dan akademisi. Saya termasuk salah satu yang mengagumi kecerdasannya, cara berpikir dan bertutur ketika mengungkapkan sesuatu.

Maka saya masih agak-agak tidak percaya kalau Anies Baswedan, percaya pada logika mistika dalam perjalanan politiknya.

Tapi dari orang dalam Sang Guru Spiritual, saya ditunjukkan sebuah bukti yakni berupa foto dan video, yang menunjukkan kebenaran bahwa Anies Baswedan menjalani ritual tertentu.

Saya berharap gambar-gambar itu adalah editan.

Tapi mungkin memang benar, toh yang datang ke Guru Spiritual dan ngalap berkah bukan hanya Anies Baswedan. Ada banyak orang lainnya, orang yang sama-sama cerdas, pintar dan beriman seperti halnya Anies Baswedan.

Logika mistika memang tak berkaitan dengan tingkat kecerdasan, pendidikan, ekonomi, iman atau religi dan lainnya.

BACA JUGA : Pertanian TOT Untuk Ketahanan Iklim

Dulu saya punya kenalan yang dipanggil dengan nama Om Utu. Orangnya multitalent, mencangkul, menggali kolam, membuat pondok, batifar saguer {nderes nira}, menebang pohon, manjat kelapa, membuat kopra dan lain bisa dilakukan olehnya.

Om Utu ini kuat sekali, panas hujan tak dihiraukannya, padahal lebih banyak tidak pakai baju saat bekerja.

Yang mengherankan sesekali ada orang datang memakai mobil bagus dan baju bagus menemui atau menjemput Om Utu.

Dan setelah itu kalau bertemu Om Utu akan bercerita kalau yang datang itu orang-orang berpangkat, yang ingin naik jabatan atau tak ingin jabatannya digeser.

Awalnya saya tidak nggeh, kenapa mereka datang ke Om Utu yang sehari-hari berkutat di kampung, kebun dan hutan-hutan itu. Apa urusannya Om Utu dengan lobby-lobby jabatan?.

Usut punya usut ternyata Om Utu dianggap oleh banyak orang sebagai ‘Orang Pintar’ yang menguasai jampi-jampi dan mengenal dunia lain yang tidak kelihatan mata.

Selama saya mengenalnya, Om Utu menikah dua kali, namun kedua istrinya meninggal.

Dari bisik-bisik orang, saya mendengar “Depe bini selalu jadi tumbal,”

Maksudnya konsekwensi dari urusan Om Utu dengan dunia gaib itu selalu meminta ganti yakni istrinya.

Memang ada semacam kepercayaan, siapapun yang berurusan atau membuat perjanjian dengan yang tak kasat mata selalu ada harga yang dibayar. Harga itu adalah pengorbanan baik diri maupun orang-orang terdekatnya. Urusan dengan alam lain selalu bersifat transaksional.

Entahlah apakah mereka yang menggunakan jasa atau memakai Om Utu sebagai perantara itu terkabul keinginannya.

Tapi yang jelas Om Utu selalu mengklaim kalau orang ini dan orang itu bisa duduk di kursi empuknya karena ‘dimandikan’ olehnya.

Terkait dengan orang pintar yang ternyata tidak manjur, menurut dokter Ryu Hasan tidak membuat kliennya kapok atau tak percaya. Yang pergi ke orang pintar lalu tak terbukti bukannya tobat atau tak percaya pada yang gaib lagi melainkan pergi mencari yang dianggap lebih pintar, lebih sakti atau lebih manjur lagi.

Kepercayaan pada hal-hal gaib adalah bagian dari perilaku yang telah dipraktekkan oleh umat manusia dalam sepanjang peradabannya. Karena sedemikian mengakar, kebiasaan yang bermula dari praktek animisme dan dinamisme tak hilang ketika manusia telah beriman pada Tuhan Yang Esa.

Bukan hal yang aneh kalau seseorang yang begitu taat beribadah, menjalankan perintah agama ternyata percaya kalau jodohnya datang setelah cucu muka di sendang bawah pohon besar yang ada di puncak gunung.

Padahal bisa jadi itu hanya kebetulan. Setelah pulang dari cuci muka di sendang kemudian bertemu dengan orang yang tertarik dengannya. Atau yang sedang diincar ternyata memutuskan untuk menerima pinangannya.

Dan fakta itu kemudian diklaim sebagai hasil dari cuci muka di sendang yang oleh masyarakat sekitar dibranding sebagai sumur jodoh.

Sayangnya lembaga survey lebih tertarik untuk meneliti elektabilitas calon presiden ketimbang meneliti orang yang cuci muka di sumur jodoh, berapa yang ketemu belahan hati dan berapa yang tetap jomblo bahkan frustasi.

BACA JUGA : Yang Mengkhawatirkan Di Pemilu 2024

Mengkaitkan dua hal hal atau lebih yang tak berhubungan karena kehadiran unsur lain yang disebut sebagai kekuatan berupa roh, jin dan lain-lain memang merupakan kebiasaan yang sudah berurat berakar. Bisa jadi hampir semua manusia tak mungkin menghindar dari kebiasaan semacam ini karena dalam dirinya ada DNA logika mistika.

Meski demikian tidak semua bangsa atau kebudayaan {kelompok manusia} suka mempertontonkannya di muka publik. Ada banyak bangsa dalam kehidupan publik lebih mengedepankan perangai ilmiah ketimbang memelihara tahayul.

Sementara bangsa Indonesia pada umumnya walau sudah terdidik masih memelihara tahayul dalam banyak hal. Salah satu yang paling populer adalah mimpi yang sering ditafsir-tafsir sebagai ‘mengabarkan atau memberitahukan’ sesuatu.

Minimnya perangai ilmiah ini membuat dari tahun ke tahun masih banyak orang tertipu dan kembali tertipu oleh modus-modus pengadaan uang, penyembuhan, percintaan dan lain-lain. Dan yang terparah adalah mudah sekali percaya pada hoaks.

Tan Malaka adalah salah satu sosok yang prihatin pada kondisi semacam ini.

Dalam risalah yang berjudul Massa Actie {1926}, Tan Malaka menuliskan “Tetapi kamu orang Indonesia yang 55.000.000 tak akan merdeka selama kamu belum menghapuskan segala “kotoran kesaktian” itu dari kepalamu, selama kamu masih memuja kebudayaan kuno yang penuh kepasifan, membatu dan bersemangat budak belia,”

Yang dimaksud dengan “Kotoran Kesaktian” oleh Tan Malaka adalah berbagai macam tahayul dan kepercayaan kepada jin, kesaktian gaib, jimat, benda keramat dan lain-lain. Segala sesuatu yang berhubungan dengan mistik atau kelenik.

Tak akan merdeka dalam pengertian Tan Malaka bukan semata tetap dalam penjajahan Belanda melainkan juga terjajah oleh logika berpikir atau cara bernalar.

Bagi Tan Malaka mentalitas semacam ini amat berbahaya karena akan menyuburkan feodalisme dan takut berpikir kritis. Kepercayaan pada mistik dan klenik juga akan membuat masyarakat pada umumnya akan mudah dimanipulasi oleh mereka yang pintar dan rasional.

Di masa perjuangan membebaskan diri dari penjajahan Belanda ada semacam kepercayaan akan munculnya Ratu Adil, seorang pembebas yang akan datang. Kepercayaan itu terus berulang dan teresonansi kembali di tahun politik. Ada sosok-sosok tertentu yang kemudian digambarkan sebagai Ratu Adil itu, sang pembebas.

Tan Malaka sangat serius memerangi “Logika Mistika” ini sehingga hal itu menjadi judul dari bab pertama karya monumental Tan Malaka yang berjudul Madilog {1943}.

Dan nampaknya perjuangan Tan Malaka belum selesai, di tahun politik ini ada banyak calon yang akan bertarung dalam pemilu masih mengandrungi cara-cara mistik dan kelenik untuk memuluskan jalan agar terpilih menjadi pemimpin, wakil rakyat atau wakil daerah.

Di setiap daerah selalu ada Guru Spiritual, Orang Pintar, Dukun atau apapun yang populer dan didatangi banyak orang entah secara terus terang maupun diam-diam. Dari antara yang datang kemungkinan memang ada yang terpilih tapi itu bukan merupakan bukti bahwa ‘jampi-jampi’ nya manjur.

Sebab yang tak terpilih jauh lebih banyak dan beberapa diantaranya bahkan kemudian berakhir di Rumah Sakit Jiwa.

note : sumber gambar – KOMPASIANA.COM