KESAH.IDTanpa pengetahuan marketing modern, ternyata seiring dengan waktu Warung Daeng berhasil membranding dirinya secara kolektif. Militansinya melayani pelanggan hingga 24 jam membuat Warung Daeng menjadi tumpuan banyak orang untuk menjadi tujuan berbelanja kebutuhan sehari-hari. Trend downsizing Supermarket menjadi minimarket yang gerainya makin mendekatkan diri dengan konsumen ternyata tak mampu menghentikan laju dan posisi penting Warung Daeng di hadapan warga Kota Samarinda.

Sepuluh tahun lalu, awal tahun 2014 Samarinda pernah dikejutkan dengan konvoi kendaraan yang melakukan sweeping ke gerai jaringan waralaba minimarket untuk memaksa penutupan toko-tokonya.

Pemerintah Kota Samarinda waktu itu memang membuka lebar-lebar tumbuhnya gerai-gerai minimarket modern seperti Indomaret, Alfamart, Alfamidi dan lain-lainnya.

Kehadiran gerai toko swalayan yang di downsize ini dirasakan mengancam keberadaan warung-warung kelontong tradisional.

Sempat ada beberapa gerai yang dirusak hingga kaca etalasenya berantakan.

Konvoi warga yang memprotes maraknya gerai waralaba ini hampir setengah harian berkeliling Kota Samarinda dan kemudian akan mengakhiri dengan berkumpul di Balai Kota untuk melakukan protes pada pemerintah.

Aksi protes semacam ini tentu bukan merupakan sesuatu yang khas dari orang Samarinda. Dimanapun kejadian semacam ini selalu terjadi. Masyarakat setempat sering kali merasa terancam dengan kehadiran model bisnis baru yang berasal dari luar.

Dan merasa kepentingannya tak dibela oleh pemerintah, masyarakat kemudian sering merasa posisinya lemah, maka jalan yang ditempuh kemudian melakukan anarkisme dengan harapan ‘lawan’ menjadi takut.

Lihat saja ketika moda transportasi online mulai berkembang, butuh waktu satu tahun lebih agar bisa keluar dari intimidasi ‘Ojek Pengkolan’.

Sikap tidak ramah para transporter partikelir terjadi hampir di seluruh Indonesia. Bahkan hingga sekarang Bandar Udara masih menjadi tempat paling tidak ramah bagi para mitra transportasi online.

Kembali ke soal gerai jaringan waralaba minimart, kehadirannya yang marak di Kota Samarinda dianggap mengancam keberadaan warung kelontong tradisional yang sering disebut Warung Daeng.

Disebut Warung Daeng karena umumnya yang punya adalah warga keturunan dari Sulawesi Selatan. Meski begitu tidak semua warung yang disebut sebagai Warung Daeng adalah kepunyaan orang-orang dari Sulawesi Selatan.

Di Yogyakarta, warung-warung semacam ini disebut sebagai Warung Madura, karena yang berjualan kebanyakan orang Madura.

Pemilik warung kelontong ‘serba ada’ tradisional ini memang pantas was-was. Dari sisi tampilan dan lokasi memang kalah. Soal kenyamanan berbelanja tentu saja juga kalah jauh.

Dari banyak sisi jelas Indomaret, Alfamart, Alfamidi dan lainnya menang banyak. Gerainya lebih lega dan lebih terang benderang dibanding Warung Daeng yang umumnya ada di rumah-rumah atau kios yang kusam dan tua, barang ditumpuk begitu saja sehingga terasa sesak. Pendek kata kurang estetik displaynya.

Dan karena baru buka, umumnya gerai minimart masih berusaha mengakuisi pasar atau konsumen maka banyak promo-promonya. Harga-harga yang ditawarkan murah meriah. Kalaupun tidak lebih murah, konsumen diiming-imingi dengan bonus dan lain-lain.

Para pedagang tradisional memang pantas cemas, sebab pembukaan gerai jaringan minimart waralaba pakai acara. Dan begitu dibuka nampak ramai, antrian pembeli membludak.

Watak kebanyakan orang Indonesia memang begitu kalau ada yang baru semua pingin tahu sehingga berbondong-bondong menyerbu.

BACA JUGA : Logika Mistika Dan Politik Kita

Soal waktu ingatan saya memang tak terlalu baik. Tapi seingat saya awal-awal 2019 mulai muncul trend warung yang saya sebut sebagai “Warung Daeng Baru” atau sebut saja sebagai Warung Daeng 2.0.

Disaat pertumbuhan minimart waralaba mulai melambat, Warung Daeng mengalami kebangkitan.

Muncul warung-warung baru dengan tampilan baru hampir di semua penjuru Kota Samarinda.

Saya hanya mengamati sepintas di seputaran Jalan Pasundan, KS Tubun Dalam, Wijaya Kusuma dan Siradj Salman.

Jika sebelumnya seolah-seolah tak bisa dibiarkan ada ruang kosong tanpa kedai kopi, kemudian muncul kecenderungan tak akan dibiarkan ada ruko aau rumah kosong tanpa dijadikan Warung Daeng.

Saya menganggap ini sebagai trend baru karena Warung Daeng ini umumnya dikelola oleh pasangan muda atau orang-orang muda. Penampilannya juga baru karena dilengkapi dengan etalase yang membuat pembeli bisa mengambil sendiri barangnya, mirip di gerai-gerai minimart waralaba.

Beberapa Warung Daeng ini merupakan hasil renovasi dari warung lama yang kemudian dibongkar dan didirikan bangunan baru serupa ruko-ruko.

Kekhawatiran bahwa kehadiran minimart jaringan akan mematikan warung-warung kelontong tradisional ternyata tak terbukti.

Saya yakin walau tak memastikan lewat riset, pertumbuhan Warung Daeng 2.0 dalam jangka waktu 3 tahun terakhir ini bisa berkali lipat dari pertumbuhan jejaring minimart waralaba.

Ada hal-hal dari Warung Daeng yang karena kesejarahannya tidak bisa dilawan oleh minimarket jaringan walau mereka mempunyai konsultan atau ahli pemasaran, selling dan branding.

Warung Daeng dengan interaksinya yang panjang bersama warga Samarinda telah berkembang menjadi brand tersendiri. Ada nilai dan identitas dari Warung Daeng yang tak bisa digantikan atau diambil alih begitu saja oleh jaringan minimart walau mempunyai sumberdaya dan sumberdana yang lebih besar serta sistem rantai pasok yang lebih baik.

Warung Daeng bagi masyarakat Samarinda sudah merupakan identitas lokal atau bahkan kebanggaan lokal. Meski masing-masing warung barangkali ada namanya tapi tetap saja sebutan universal atau organiknya yang kuat, yakni Warung Daeng.

Barangkali justru yang kini pening adalah para pengelola gerai minimart waralaba untuk tetap mempertahankan dan menumbuhkan pelanggannya. Keunggulan mereka dulu dalam teknologi sehingga menjadi tempat tujuan untuk top up, membeli voucer, membayar ini itu kini juga makin terancam dengan kehadiran platform-platform fintech yang bisa diakses melalui smartphone.

Kini kita tak sulit menemukan gerai-gerai minimart waralaba yang sepi pengunjung.

Untuk meningkatkan pengunjung, gerai minimart waralaba juga menyediakan tempat untuk menikmati makanan dan minuman siap saji. Tapi booth atau gerai makanan dan minuman di pinggir jalan yang juga menjamur kembali menjadi saingan.

Ada langkah lain yang dilakukan oleh beberapa gerai minimart dengan menambah etalase untuk menjual makanan segar atau bahan mentah, freshmart. Tapi tak semua gerai bisa dikembangkan seperti itu, sebab butuh ruang yang lebih luas.

Lagi pula kini hingga dalam gang, muncul pula warung atau kios yang khusus menjual sayur-sayuran, daging ayam dan ikan.

BACA JUGA : Pertanian TOT Dan Ketahanan Iklim 

Saya pernah bertanya kepada kawan yang mempunyai kedai kopi perihal ancaman terhadap bisnisnya karena kedai-kedai kopi baru terus bermunculan.

Dia mengatakan “Mereka bukan saingan saya, kita punya pasar masing-masing,”

Barangkali itu pula yang terjadi antara gerai minimart waralaba dengan Warung Daeng. Mesti membidik konsumen yang barangkali sama namun pada keperluan yang berbeda. Masing masing gerai punya kelebihan tersendiri untuk konsumennya.

Untuk saya dengan alasan personal lebih sering membeli di Warung Daeng karena belanja rutin saya adalah rokok. Harga rokok di Warung Daeng lebih murah dan rokoknya juga lebih lengkap terutama untuk jenis rokok-rokok murah.

Dan yang lebih penting jam berapapun saya butuh rokok, selalu ada Warung Daeng yang masih buka.

Jadi mungkin soal harga yang lebih murah dan waktu buka yang rata-rata 24 jam menjadi keunggulan tersendiri bagi Warung Daeng dibandingkan dengan Indomaret, Alfamart, Alfamidi dan lainnya.

Kelebihan lain adalah fleksibilitas walau sama-sama menjual ke end user atau eceran, jelas Warung Daeng lebih banyak yang bisa diecer. Rokok bisa dibeli batangan dan yang ada di dalam pak lainnya juga bisa dibeli bijian.

Fleksibelitas juga soal harga, terkadang kalau sudah akrab, kurang seribu atau dua ribu tidak masalah.

Sentuhan personal antara penjual dan pembeli lebih mungkin terjadi di Warung Daeng. Bisa jadi seseorang menjadi langganan Warung Daeng karena penjualnya ramah, suka ngobrol dan lain sebagainya.

Tapi ada satu lagi kelebihan yang tak mungkin dikalahkan oleh gerai minimart waralaba melawan Warung Daeng yakni bensin botolan atau sekarang pertamini. Indomaret, Alfamidi, Alfamart dan lain-lain tak bakal menjual bahan bakar untuk motor atau mobil.

Dengan kompartemen yang dikenal sebagai pertamini, kini membeli pertamax atau pertalite di Warung Daeng berasa mengisi BBM di SPBU tanpa mengantri.

Semua kelebihan ini membuat Warung Daeng yang tadinya merasa terancam dengan kehadiran berbagai gerai minimart waralaba kini menjadi lebih percaya diri dan membalikkan keadaan. Paling tidak di Samarinda, jelas pertumbuhan Warung Daeng 2.0 lebih pesat daripada berbagai mart-mart lainnya.

note : sumber gambar – NEWS.DETIK.COM