Keep it simple and short (KISS), itulah mantra jurnalisme (radio) yang saya dapat sewaktu ikut mencuri dengar saat ada pelatihan komunikasi untuk kemanusiaan yang diampu oleh internews.
Mengabarkan berita dan informasi harus singkat, padat dan jelas. Tujuannya agar mudah dicerna, diterima dan tidak menimbulkan bias.
Rumus menggambarkan sebuah fenomena, sikap,sifat dan perilaku sebenarnya kita temukan juga dalam peribahasa, perumpamaan atau julukan.
Seseorang yang dalam kehidupan sehari-hari ngeyelan, susah dinasehati, tidak mau mendengarkan, bikin orang tua ngomel-ngomel panjang karena menyebut semua isi kebun binatang, orang seperti ini akan dengan singkat disebut sebagai kepala batu.
Kata lainnya adalah keras kepala. Sebenarnya kepala memang keras karena ada tulang tengkorak yang diselimuti kulit. Makanya kepala bisa pecah karena keras.
Tapi karena kepala berisi otak maka realitas keras fisik tak seharusnya menjadi realitas keras non fisik. Karena otak maka kepala mestinya mengatur dan berisi norma maupun nilai-nilai kebaikan.
Maka orang yang mau menang sendiri, ngotot, tidak mau mendengarkan orang lain dianggap kepalanya sudah membatu.i
Pada tubuh bagian atas yang sering dihubungkan dengan batu bukan hanya kepala melainkan juga wajah.
Ada banyak orang menyebut orang lainnya sebagai muka batu karena dianggap tak tahu malu.
Selain itu sebutan muka batu biasa dikenakan juga kepada mereka yang ekpresinya datar. Atau mereka yang mukanya mulus halus. Yang disebutnya bagaikan batu pualam.
Apapun itu, manusia sejatinya memang punya hubungan dekat dengan batu. Hidup dan kehidupan manusia dibangun diatas pondasi batu.
Sejarah Tanah
Narasi penciptaan manusia berasal dari segenggam tanah yang kepadanya ditiupkan nafas.
Mungkin ada yang bertanya darimana asal.tanah itu?.
Ilmu pengetahuan menerangkan asal tanah adalah dari pelapukan batu.
Bumi lebih dari 4 milyard tahun lalu permukaannya kering dan berbatu. Hingga kemudian karena tubrukan dengan asteroid mulai muncul elemen air.
Adanya unsur air memicu munculnya kehidupan yang dimulai dari adanya mahkluk-mahkluk tak kelihatan baik yang bersifat hewani maupun tumbuhan. Mahkluk ber-sel atau mahkluk seluler.
Singkat cerita air kemudian menjadi salah satu unsur terbesar di permukaan bumi.
Paparan air mampu meluruhkan batuan menjadi partikel-partikel halus membentuk aneka jenis tanah.
Tumbuhan kecil.yaitu lumut kemudian juga membantu melapukkan permukaan batu hingga kemudian menjadi tanah.
Adanya tanah kemudian menumbuhkan semakin banyak tumbuhan dan juga binatang. Rantai makanan terbentuk.
Permukaan tanah juga bertambah dengan material organik baik dari tumbuhan maupun jasad mati yang didekomposisi oleh mikroorganisme.
Dan humus sebagai hasil dekomposisi, lapisan tanah dipermukaan pada area berhutan kemudian disebar oleh air permukaan, air hujan yang tidak terserap ke dalam tanah.
Selain mentransportasi, air permukaan juga mengerosi dan kemudian mengendapkan material tanah di lembah-lembah. Maka jadilah lembah-lembah lahan subur untuk bercocok tanam.
Di lahan endapan nan subur ini nenek moyang kita mulai membangun peradaban ketika berhasil menguasai api dan mendomestifikasi tumbuhan serta binatang tertentu sebagai tanaman dan hewan peliharaan atau budidaya.
Tanah itu hidup
Dari tanah kemudian kehidupan (peradaban) bermula. Maka tidak salah jika kemudian dikatakan tanah itu dinamis.
Tanah terus menerus terbentuk. Karena iklim, karena tumbuhan, karena organisme, karena kondisi geografi dan lain sebagainya. Terbentuk dalam siklus kimia, fisika dan biologi.
Menjaga tanah tetap menjadi tanah adalah penting. Sebab reaksi kimia bisa membawa tanah kembali menjadi batu.
Tanah yang terbuka, terpapar sinar matahari secara langsung tanpa tutupan vegetasi dan kelembaban yang terjaga akan kehilangan kesehatannya.
Tanah yang sakit perlahan akan mengalami proses pengayaan mineral tertentu yang menyebabkan tanah mengeras bahkan menjadi batu.
Andai makin banyak tanah membatu, maka kelak kita akan menyebut manusia berasal dari batu dan akan kembali menjadi batu.
Ada yang dari batu bara, batu gamping, batu akik, batu marmer dan lain sebagainya. Namun yang pasti kelak semua akan bersemat batu, yakni batu nisan.








