Ingin merasakan tanah?. Pergilah ke Tuban. Disana ada kebiasaan membuat kerupuk dari tanah liat yang disebut Ampo.

Ampo terbuat dari adonan tanah liat, diserut dan kemudian dipanggang. Hasilnya mirip remahan astor untuk disajikan dengan ditemani teh hangat.

Sebenarnya merasakan tanah bisa lewat kopi. Kopi dikenal mempunyai kemampuan menyerap bau atau rasa sekitarnya.

Karena itu dalam pengolahannya kopi tidak boleh dijemur langsung diatas tanah karena akan semakin membawa bau dan rasa tanah.

Rasa tanah disebut earthy. Kopi dari Sumatera kerap dideskripsi berasa dan beraroma seperti aroma tanah setelah disiram hujan. 

Sedangkan kopi dari Toraja juga punya rasa.yang sama namun juga membawa aroma rempah seperti cengkeh dan kemudian coklat.

Sifat earthy yang sungguh menggodaj uga ditemukan pada kopi-kopi tanah Pasundan. Selain lembu dan segar, paroma manis nangka serta gula terasa didalamnya.

Dalam kopi dataran tinggi Pasundan bisa dibuktikan madah dari MAW. Broumer yang menyenandungkan pujian bahwa tanah Pasundan diciptakan saat Tuhan tersenyum.

Imaji tentang yang berasa tanah semakin melambung dengan sajian kopi Sumbing. Di tanam di lereng-lereng gunung berapi, kopi ini katanya membawa rasa magma. Entah siapa yang pernah menjilat magma sehingga mampu mendeskripsikan rasanya 

Ngomong omong soal menikmati kopi hingga bisa mendeskripsikan rasanya, kata mereka yang ahli ada empat tahap yang mesti dilalui.

Kopi mesti dihirup, kemudian diseruput, lalu biarkan dilidah dan rasakan adukan antara aroma di hidung serta rasa dilidah. apa.yang tertangkap itulah deskripsi rasanya.

Ada banyak deskripsi rasa kopi. Meski umumnya berjenis arabika dan robusta serta sedikit liberika dan ekselsa ini membuktikan rasa dan aroma kopi akan tergantung dimana kopi itu ditanam.

Keragaman rasa kopi adalah cermin dari keragaman tanah.

Keberagaman Tanah

Sebenarnya bukan hanya kopi yang akan membawa rasa tanah. Ada banyak jenis tanaman lain yang juga akan berlaku sama.

Apa yang disebut dengan tanaman langka lokal pasti akan membawa kekhasan masing-masing yang tidak akan ditemui andai ditanam di tempat lain.

Dalam skala yang lebih luas keragaman tanah akan tercermin dari kebudayaan masyarakat setempat. Budaya dalam arti seluas-luasnya selalu merupakan bentuk pengenalan dan adaptasi atas lingkungan setempat.

Bumi boleh satu tapi yang satu itu dibangun atas dasar keberagaman. 

Ragam tanah sendiri dipengaruhi oleh berbagai hal. Mulai dari bahan induk tanah yang berupa mineral, batuan dan bahan organik lainnya.

Bahkan dari bahan induk yang sama bisa jadi akan lahir jenis yang berbeda karena pengaruh unsur pembentuk dalam prosesnya.

Induk tanah kemudian berubah menjadi tanah karena pengaruh iklim, waktu, vegetasi dan tentu juga manusia serta mahkluk lainnya.

Proses pembentukan tanah sendiri juga mempunyai tahapan. Kecepatannya tidak sama.

Keragaman tanah menyangkut bentuk, warna, unsur didalamnya, kemampuan menyerap air, kemampuan menahan beban, potensi ekonomi,.resiko kebencanaan dan lain sebagainya.

Mengenali ragam tanah menjadi penting terutama agar pemanfaatannya tidak menimbulkan dampak buruk baik bagi tanah, lingkungan, masyarakat dan mahkluk lain yang tinggal didalamnya.

Banyaknya masalah kebencanaan terkait tanah pada saat ini merupakan alarm atas sikap kita yang mengabaikan keragaman tanah sehingga melakukan berbagai macam aplikasi teknis yang tidak berkesesuaian atasnya.

Karena standarisasi maka perlakuan atas tanah kerap kali sama meski berbeda tempat. Padahal apa yang berhasil dan baik di tempat tertentu belum tentu baik dan benar di tempat lainnya.

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita selalu menekan bhineka tunggal Ika, namun soal tanah ternyata kita mengabaikannya.

Banyak orang berkata dimana tanah diinjak disitu langit dijunjung.

Namun yang ditekankan adalah soal nilai, budaya atau adat istiadat bukan lingkungan alamnya.

Alhasil yang terjadi adalah dimana tanah diinjak disitu lahan ditajak.